
"Terima kasih, Min," sahut Jonathan sembari menerima uluran tangan sahabatnya. Suasana mulai diliputi keharuan.
"Kudoakan Valentina segera memperoleh kesembuhan, Bro," kata Bastian sembari menepuk-nepuk bahu kawan baiknya itu. "Jadi kalian sekeluarga bisa cepat kembali ke negeri ini dan kita bersama-sama mengembangkan kantor ini lagi."
"Thanks a lot, Bro."
Begitulah ketiga orang itu kemudian saling berpelukan. Hati mereka terenyuh sekali. Mina sampai menitikkan air mata. Dia sangat menyayangi Jonathan layaknya saudara sendiri. Kepergiannya kali ini yang entah sampai kapan membuatnya merasa sangat kehilangan.
Keesokkan harinya Bastian dan Mina mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan di kantor. Mereka memesan sejumlah hidangan prasmanan untuk disantap bersama. Jonathan berpidato singkat di hadapan segenap anak buahnya. Dia mengucapkan terima kasih atas kerja keras mereka selama ini mengembangkan kantor pemasaran properti tersebut.
Segenap karyawan tetap dan tenaga pemasaran menyalami pimpinan mereka. Mereka mengucapkan selamat jalan berikut doa semoga tujuan yang hendak diraih Jonathan tercapai. Laki-laki itu mengangguk dan berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Keesokkan paginya Jonathan, Karin, dan Valentina meninggalkan hotel tempat mereka menginap untuk menuju ke bandara. Selama seminggu terakhir mereka tinggal di tempat itu karena rumah Jonathan telah laku terjual. Bi Sum dan pembantu-pembantu lainnya juga telah dipulangkan dengan uang pesangon yang besar.
"Semoga Valentina lekas sembuh ya, Pak Jon. Saya pamit dulu. Kalau kelak dibutuhkan lagi, saya siap bekerja kembali," ucap Bi Sum penuh haru. Dia merasa berat juga meninggalkan keluarga yang selama ini memperlakukannya dengan baik. Apalagi Valentina telah turut diasuhnya sejak kecil bersama-sama dengan Theresia. Rasa cintanya pada anak itu begitu besar layaknya cucu kandung sendiri.
"Terima kasih banyak, Bi, sudah membantu kami selama ini. Jasa-jasa Bi Sum takkan pernah kami lupakan," sahut bosnya sepenuh hati. Diantara para pembantunya, perempuan tua inilah yang bekerja paling lama padanya dan Theresia. Dia sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Seandainya Bi Sum masih muda, mungkin akan diajaknya pula ke Tiongkok.
Namun usianya yang sudah hampir menginjak enam puluh tahun membuatnya mengambil keputusan untuk memulangkannya saja. Biarlah dia menghabiskan sisa umurnya berkumpul bersama keluarganya di desa. Uang pesangon yang diberikan Jonathan padanya jauh melebihi rekan-rekannya sesama pembantu, mengingat dedikasi dan lamanya perempuan tua itu bekerja padanya.
Saat berada di dalam pesawat yang menerbangkannya meninggalkan Surabaya, hati Jonathan terasa ringan. Dia merasa lega semua urusannya sudah diselesaikan dengan baik di negeri tercinta. Kini dia dan Karin bisa berkonsentrasi penuh mengurus buah hati mereka.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Mas?" tanya istrinya itu sembari menyentuh punggung tangan suaminya.
Jonathan *******-***** jari-jemari wanita itu mesra. "Aku lega bisa meninggalkan Surabaya tanpa tanggungan apapun, Rin. Jadi kita bisa fokus mengurus Valentina," jawabnya lembut. "Tadinya Bastian dan Mimin menawarkan untuk mengantar kita ke bandara. Tapi kutolak dengan halus. Cukup sudah drama perpisahan kami di kantor kemarin. Jangan ditambahi lagi di airport."
Karin tersenyum. "Aku juga sudah berjanji akan selalu mengabari keadaan kita pada Mbak Mina. Seperti dulu ketika aku masih tinggal di Beijing," ujarnya lirih. "Lihatlah, Mas. Anak kita sudah tidur pulas di sana."
Jonathan mengalihkan pandangannya pada putrinya yang tengah berbaring telentang ditutupi selimut. Dia memang memilih kelas bisnis sehingga Valentina bisa beristirahat dan tidak duduk berhimpitan dengan penumpang lain. Gadis kecil itu memilih tempat di samping jendela agar bisa leluasa melihat langit dan awan yang menurutnya sangat indah.
"Perjalanan kita ini akan panjang sekali, Karin," ujar suaminya lirih. "Aku takkan pulang ke Indonesia sebelum kondisi Valentina membaik. Akan kubuat Theresia bangga dengan membawa pulang anak kita dengan keadaan kakinya sudah bisa digerakkan. Selama di Tiongkok, aku akan menulis artikel-artikel berbahasa Indonesia tentang bisnis properti di internet. Sudah kutemukan platform-platform yang bersedia menerima karya penulis freelance. Lalu aku juga akan mengambil kursus bahasa Mandarin. Siapa tahu kalau sudah mahir, aku bisa menjadi penerjemah bagi orang-orang Indonesia yang mau travelling ke Tiongkok."
Karin tersenyum mendengar rencana laki-laki yang dicintainya itu. "Apapun yang kau lakukan, akan kudukung sepenuhnya, Mas. Karena aku tahu, kamu pasti akan melakukan yang terbaik bagi keluarga kita."
"Terima kasih, Sayang. Lalu bagaimana dengan rencanamu untuk menulis novel?"
"Oh, itu. Aku masih bingung dengan judulnya. Cinta Yang Terkoyak atau Hati Yang Terluka?"
__ADS_1
"Memangnya kisahnya tentang apa?"
"Kisahnya tentang...," jawab Karin sambil bergelayut mesra pada pundak suaminya. "Cinta segitiga antara aku, kamu, dan Mbak Theresia. Hehehe...."
Jonathan terkesiap. "Kamu bermaksud menulis tentang lika-liku cinta kita bertiga, Sayang? Wow!"
"Boleh, nggak?" tanya istrinya manja.
"Yah...boleh-boleh aja, sih. Tapi nama-namanya jangan sama, ya."
"Pasti pakai nama fiktif dong, Mas."
"Memangnya bakalan ada yang baca, Rin?" tanya sang suami penasaran. "Apa sih, istimewanya kisah kita bertiga?"
Sang istri mengangkat bahunya. "Entahlah, Mas. Aku cuma tergerak untuk menuliskannya saja. Barangkali bisa berguna bagi orang yang membacanya. Laku atau nggak, itu urusan belakang. Yang penting aku mencoba untuk menulisnya. Nanti akan kuterjemahkan ke bahasa Mandarin dan Inggris juga. Lumayan kan, bisa dapat kontrak tiga bahasa sekaligus untuk cerita yang sama. Hehehe...."
"Istriku memang luar biasa!" puji Jonathan seraya mengecup pipi Karin mesra. Wanita itu tersenyum bahagia. Terima kasih banyak, Mbak There, batinnya penuh rasa syukur. Kau telah mengembalikan cintaku yang terenggut bertahun-tahun yang lalu.
Tiba-tiba wanita itu terkesiap. Tanpa sadar dia telah menemukan judul yang pas bagi novelnya nanti. Cinta Yang Terenggut, cetusnya dalam hati. Ya, cocok sekali. Novel itu akan menjadi persembahan dan ucapan terima kasihku pada Mbak Theresia. Wanita luar biasa yang telah menjadikanku lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.
Sepuluh tahun kemudian. Di sebuah komplek pemakaman eksklusif tampak sepasang suami istri tengah berjalan bersama kedua anak mereka. Orang-orang itu lalu berhenti di depan empat buah nisan yang bentuknya sama dan berdiri berdampingan. Keempat nisan itu letaknya agak jauh dan letaknya paling tinggi dibanding nisan-nisan lainnya.
"Anak-anak, mari kita bersama-sama menaburkan bunga-bunga di tanah makam Opa, Oma, Oma Mila, dan Mama Theresia. Terus kita siram dengan air mineral," ajak pria separuh baya yang masih kelihatan gagah itu.
Kedua anaknya mengangguk. Saat melakukan ritual tersebut, tiba-tiba si anak lelaki yang berusia delapan tahun itu menyeletuk, "Opa Simon ganteng sekali ya, Pa. Juga kelihatan berwibawa."
"Betul, Nak," jawab ayahnya setuju. "Namamu diambil dari nama Opa Simon ini. Harapannya supaya kamu kelak menjadi orang yang baik, cerdas, dan berwibawa seperti beliau. Papa sangat mengagumi opamu ini."
"Kok ada dua oma, Pa?" tanya Simon kecil itu kritis. "Memangnya di Indonesia boleh punya dua istri?"
Ayahnya terkekeh. Dia lalu menjelaskan, "Oma yang ini adalah istri pertama Opa Simon. Beliau ibu kandung Mama Theresia. Setelah beliau meninggal dunia, Opa Simon lalu menikah dengan Oma Mila."
"Oh, begitu. Jadi seperti Papa, ya? Menikah dulu dengan Mama Theresia. Setelah beliau meninggal dunia, barulah Papa menikah dengan Mama Karin," kata si bocah menegaskan.
Ibunya kali ini yang menyahut, "Betul, Simon. Sekarang mari kita sama-sama mendoakan Opa, Oma, Oma Mila, dan Mama Theresia. Valentina juga. Kamu kan sudah lama sekali tidak mengunjungi makam Mama There. Pasti sudah sangat kangen."
"Iya, Ma," jawab putrinya yang ternyata adalah Valentina. Gadis itu sekarang sudah berusia enam belas tahun. Dia kini dapat berjalan sendiri dengan menggunakan alat bantu jalan, yaitu tongkat kruk yang menempel pada sikunya.
__ADS_1
Itulah hasil terbaik yang diperolehnya dari berjibaku selama sepuluh tahun dengan aneka pengobatan di negeri Tirai Bambu. Jonathan dan Karin tak kenal lelah mendampinginya menjalani masa-masa sulitnya agar kedua kakinya dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Di negeri itu juga dia menjalani homeschooling dan sempat menyelesaikan pendidikan setara SMP. Sekarang Valentina telah mahir berbahasa Mandarin, Inggris, dan memainkan berbagai alat musik tradisional Tiongkok.
Sehari-hari dia dan Simon, adik kandungnya yang lahir di Tiongkok, menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang tua mereka. Jonathan dan Karin juga selalu mengingatkan bahwa mereka adalah warga negara Indonesia yang kelak akan kembali ke kampung halaman.
"Mama There, Valen sudah pulang. Apa kabar, Ma? Sekarang Valen sudah bisa berjalan sendiri. Meskipun harus menggunakan kruk. Tapi Valen sudah amat bersyukur...."
Air mata gadis cantik itu menitik saat berbicara di depan nisan Theresia. Dia mencurahkan isi hatinya saat melalui suka-duka di negeri yang jauh. Untungnya Jonathan dan Karin selalu men-support dirinya di kala letih ataupun merasa putus asa.
"Terima kasih atas doa dan dukungan Mama There juga," tambah Valentina terharu. "Kalau bukan karena dukungan Mama, Valentina takkan bisa memperoleh kemajuan sebesar ini. Semoga Mama kini tenang di surga. Impian Mama sudah tercapai. Valen akan sering-sering mengunjungi Mama di sini. Karena kami semua sudah memutuskan untuk kembali menetap di negeri ini."
Isak tangis Valentina semakin keras. Dia teringat akan Theresia yang selalu menyayanginya semasa kecil dulu. Karin memeluk putrinya penuh haru. Matanya berkaca-kaca.
"Mbak There, inilah hasil terbaik yang bisa kami peroleh selama sepuluh tahun mengobati Valentina di negeri seberang. Saya percaya Mbak There puas melihat anak kita sudah bisa mandiri sekarang. Terima kasih atas semuanya ya, Mbak...."
Jonathan memeluk kedua perempuan yang bertangis-tangisan itu. "Sudahlah, There tidak akan suka melihat kita bersedih. Marilah kita tersenyum supaya dia merasa bahagia."
Istri dan putrinya mengangguk-angguk mengiyakan. Sementara Simon kecil memandang orang tua dan kakaknya bergantian tanda tak mengerti. Tapi bocah itu memutuskan untuk diam saja.
Beberapa saat kemudian mereka mendoakan Theresia dan ketiga orang tuanya. Lalu Jonathan meminta Karin untuk mengajak anak-anak mereka masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Dia masih ingin bicara di depan batu nisan mendiang istrinya. Karin mengangguk tanda mengerti. Dia mengajak Valentina dan Simon kecil untuk meninggalkan tempat itu.
Jonathan berjongkok di depan nisan Theresia. Diusapnya foto almarhumah istrinya dengan penuh kasih sayang.
"There, Sayangku," ucapnya sambil tersenyum. "Aku dan Karin sudah berupaya semaksimal mungkin bagi anak kita. Semoga kamu puas, ya. Bagaimana kabarmu, Sayang? Aku tahu kamu selalu menemani perjalanan kami selama sepuluh tahun ini. Sekarang giliran kami yang datang kemari mengunjungimu. Kelak kami akan sering-sering datang, There. Karin sekarang sudah menjadi penulis novel online ternama. Novelnya yang berjudul Cinta Yang Terenggut laris manis. Dibuat dalam versi bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Bahkan sampai diadaptasi menjadi film layar lebar di Tiongkok! Novel itu menceritakan tentang kisah cinta kita bertiga, Sayang."
Laki-laki itu berhenti sejenak. Ia menghela napas panjang. Betapa dirinya sangat merindukan mendiang istrinya yang berhati mulia.
Lalu dia mulai bercerita kembali, "Aku sudah mahir berbahasa Mandarin sekarang, There. Di Tiongkok aku menjadi penerjemah orang-orang Indonesia yang datang untuk rekreasi maupun urusan bisnis. Penghasilanku dan Karin cukup untuk menopang biaya hidup kami sehari-hari meskipun secara sederhana. Juga untuk biaya sekolah Simon. Harta warisan darimu kami gunakan untuk keperluan pengobatan dan pendidikan Valentina. Masih banyak berlebih, Sayang. Rencananya aku dan Karin akan memakainya untuk membangun yayasan sosial bagi anak-anak yang mengalami gangguan saraf tulang belakang seperti anak kita. Semoga kamu merestui keinginan kami ini...."
Seketika angin sepoi-sepoi berhembus di sisi telinga Jonathan. Pria itu terkejut. Dia seakan-akan mendengar bisikan Theresia yang berkata, "Iya."
Matanya berkaca-kaca. "Hatimu sungguh mulia, There. Terima kasih...," ucapnya lirih.
Ditangkupkannya kedua tangannya mengambil sikap berdoa. Dia memejamkan mata dan menunduk. Mendoakan semoga istrinya tercinta hidup dalam kedamaian di surga.
Beberapa saat kemudian Jonathan bangkit berdiri dan berbalik meninggalkan makam tersebut. Angin sepoi-sepoi kembali berhembus. Seolah-seolah berterima kasih atas kedatangannya dan mengantarkannya kembali pada keluarga tercinta.
TAMAT
__ADS_1