
Theresia terperangah. Jadi akulah penyebab cacatnya kaki Valentina, batinnya tak percaya. Aku yang memaksakan kehendakku pada ibu kandungnya. Membuatnya tertekan hingga mengalami pendarahan dan mengakibatkan janin yang dikandungnya tumbuh tak sempurna!
Dirinya jatuh terduduk. Berteriak melolong-lolong, menangis-nangis histeris. Memohon ampun pada Yang Maha Kuasa. Betapa dirinya sangat menyesali perbuatannya memisahkan Karin dengan darah dagingnya. Betapa dirinya merasa sangat berdosa atas kelumpuhan yang dialami Valentina....
Jonathan diam saja memperhatikannya. Hatinya tak kalah terluka. Dia turut merasa bersalah atas keadaan putri kandungnya. Seandainya saja dirinya mampu menahan hawa nafsu dan tak berhubungan intim dengan Karin. Seandainya saja dia bersabar menunggu hingga resmi bercerai dengan Theresia. Seandainya saja....
Demikianlah pasangan suami istri itu meratapi nasib bayi malang mereka. Bayi yang diharapkan Theresia akan membuat hubungannya dengan sang suami harmonis. Bayi yang dianggap Jonathan sebagai kenang-kenangan yang berharga dari Karin, wanita yang dicintainya dengan setulus hati.
***
Malam itu Theresia tidur di dalam kamarnya dengan perasaan kacau-balau. Kepalanya pening sekali seperti mau pecah. Matanya sembab. Hidungnya merah. Suaranya sudah hampir tak jelas terdengar. Dadanya terasa sesak sekali.
Wanita itu merasa sangat bersalah terhadap Valentina. Seandainya aku tidak memaksa Karin menyerahkan anaknya padaku, dia tidak akan stres dan mengalami pendarahan. Valentina akan tumbuh normal sebagaimana bayi-bayi lainnya. Aku telah berdosa sekali pada Valentina! batinnya berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri.
Dipandanginya sang putri yang telah tidur nyenyak di sampingnya.
"Maafkan Mama, Nak," bisiknya penuh penyesalan. Dia menangis tanpa mengeluarkan suara. "Gara-gara Mama, kamu sampai menderita seperti ini. Maafkan Mama. Mama benar-benar menyesal...."
Dikecupnya dahi dan pipi anak itu berulang-kali. Lalu didekatkannya kepalanya di samping kepala mungil Valentina. Dirangkulnya bayi itu dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Mama akan berjuang sekuatnya untuk memulihkan kondisimu, Nak, janjinya dalam hati. Apapun akan Mama lakukan demi membuat kedua kakimu berfungsi. Apapun....
Sementara itu Jonathan di kamar yang lain berbaring di atas ranjang dengan mata masih terbuka lebar.
Karin, jeritnya dalam hati. Anak kita cacat, Sayang. Apakah ini hukuman Tuhan karena Valentina adalah buah dari hubungan terlarang? Mengapa Tuhan sekejam ini? Kita berdua sudah dipisahkan. Masa Valentina yang bayi tak bersalah juga memikul dosa-dosa orang tuanya? Tuhan tidak adil. Benar-benar tidak adil!
Matanya berkaca-kaca. Semakin lama semakin basah. Hingga akhirnya terdengar sedu-sedannya yang begitu memilukan.
***
Keesokkan harinya Jonathan menceritakan kondisi Valentina pada Mina. Sahabatnya itu tercengang. Bagaimana perasaan Karin jika mengetahui hal ini? pikirnya iba. Dia pasti sedih sekali. Anak yang diserahkannya pada Theresia agar hidup bahagia dalam ikatan pernikahan yang sah justru menderita kelumpuhan!
"Aku ingin membawa anakku bertemu ibu kandungnya, Min. Agar kami berdua dapat bahu-membahu mencari pengobatan yang terbaik bagi Valentina. Maukah kau membantuku mencari tahu keberadaan Karin di Beijing? Nomor teleponnya, alamat lengkapnya, apapun itu. Akan kucari dia sampai ketemu," kata pria itu serius. Tatapannya terlihat begitu memohon. Mina sampai tak tega melihatnya.
"Tapi ini berkaitan dengan anak kandungnya!" seru laki-laki itu berkeras. "Masa dia sedikitpun tak peduli dengan nasib darah dagingnya sendiri?"
"Justru karena dia begitu peduli dengan nasib Valentina, makanya dia rela menyerahkannya pada Theresia!" sergah Mina jengkel. Dia tak suka mendengar gadis yang sudah dianggapnya seeprti adik kandungnya sendiri itu dijelek-jelekkan. "Kamu jangan egois, Jon. Sudah cukup kamu membuat kekacauan!"
"Aku membuat kekacauan?" balas laki-laki itu tak terima. "Kenapa justru aku yang kau salahkan? Ini sepenuhnya salah There! Kalau dia tidak memaksakan kehendaknya pada Karin, maka tidak akan terjadi pendarahan yang menyebabkan Valentina sekarang lumpuh!"
__ADS_1
"Dan kalau kau tidak meniduri Karin sebelum resmi bercerai dengan istrimu, kehamilan itu takkan pernah terjadi. Theresia jadi tidak punya alasan untuk memaksakan kehendaknya pada Karin!" seru Mina tak mau kalah.
Jonathan terduduk lemas. Pemikiran itu sempat singgah dalam benaknya kemarin. Jadi dialah yang sebenarnya bersalah. Berasyik-masyuk dengan seorang gadis yang masih perawan hingga hamil di saat proses perceraiannya dengan Theresia belum usai.
Matanya berkaca-kaca. "Kau benar," akunya menyetujui pernyataan Mina. "Akulah yang bersalah. Akulah yang tidak bisa menahan hawa nafsu sehingga membuat Karin hamil. Akibatnya Theresia mempunyai celah untuk memaksakan kehendaknya. Akulah yang bersalah. Aku!"
Laki-laki itu menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia menangis sesenggukan. Mina menatapnya prihatin. Disentuhnya bahu Jonathan lembut.
Lalu dengan hati-hati perempuan itu berkata, "Semuanya sudah berlalu, Jon. Tak ada gunanya disesali. Karin juga nggak akan senang kalau mengetahui kamu dan istrimu bertengkar terus gara-gara ini. Sudah cukup kau menyudutkan Theresia. Dia selama ini sudah berusaha menjadi istri yang baik bagimu dan ibu yang luar biasa bagi anakmu. Tanpa kau salah-salahkan, dia pasti sudah merasa sangat menderita."
Jonathan mengangguk berulang-kali. Terlintas dalam benaknya betapa sang istri kemarin malam begitu terpukul dengan kondisi Valentina yang disebabkan oleh dirinya. Dia bisa merasakan betapa wanita itu menyayangi bayi itu sepenuh hati bagaikan darah dagingnya sendiri. Semua makian dan celaan yang dilontarkan Jonathan saat mereka sedang berdua atau bahkan di depan pembantu diterimanya dengan besar hati.
"Jangan kau sia-siakan pengorbanan Karin, Jon," cetus Mina selanjutnya. "Dia benar-benar tulus menginginkanmu hidup bahagia dengan Theresia dan Valentina. Kalau Karin mengetahui keadaan rumah tangga kalian sekarang, dia pasti sedih sekali."
Sahabatnya ternganga. "Apa yang kamu tahu tentang keadaan rumah tanggaku?" tanyanya keheranan. Dia tak pernah menceritakan pada siapapun mengenai sikapnya yang kasar pada istrinya.
"Bi Sum pernah menceritakannya sewaktu aku datang ke rumahmu untuk mengunjungi Valentina. Waktu itu Theresia sedang mandi, sedangkan kamu belum pulang karena masih nge-gym. Terus kamu datang pas aku sudah mau pulang. Ingat?"
Jonathan mengangguk. Ia ingat peristiwa itu terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Dia memang mengizinkan Mina untuk sesekali datang menjenguk anaknya di rumah. Bagaimanapun juga Mina-lah yang sering menemani ibu kandung Valentina di masa-masa sulitnya. Wanita itu sedikit-banyak juga mempunyai rasa sayang pada bayi tersebut.
__ADS_1
"Waktu itu Theresia ramah dan baik sekali padaku. Jauh berbeda dengan sikapnya dulu sebelum ada Valentina. Aku sampai berpikir menjadi seorang ibu itu ternyata mampu melembutkan hati seorang wanita. Bisa kulihat istrimu itu menyayangi anakmu dengan setulus hati. Di mana lagi bisa kau dapatkan perempuan seperti itu, Jon?"
Sahabatnya terdiam. Hatinya mulai tergugah mendengar pernyataan Mina barusan. Dalam hati diakuinya bahwa Theresia memang telah menjalankan perannya sebagai seorang ibu dengan sangat baik. Mengasuh anak di luar nikah suaminya dengan perempuan lain itu tidaklah mudah. Membutuhkan kebesaran hati yang luar biasa. Dan Theresia mampu melakukannya dengan tulus.