Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Pengampunan


__ADS_3

"Terimalah kenyataan, Bro," nasihat Mina. "Tuhan telah menempatkanmu bersama Theresia dan Valentina sekarang. Meskipun cara yang dilakukan istrimu itu tidak dapat dibenarkan, tapi buktinya kalian sekarang hidup bersama...."


Ucapan kawan baiknya itu seakan menohok ulu hati Jonathan. Pria itu diam terpaku. Sementara itu Mina semakin tak ragu meneruskan ucapannya, "Kisah indahmu dengan Karin telah berlalu. Relakanlah dia. Maafkanlah Theresia dan dirimu sendiri. Jangan biarkan pengorbanan Karin sia-sia. Bahagiakanlah istri dan anakmu...."


Jonathan mendesah. "Benarkah sudah tak ada harapan diriku bersama kembali dengan Karin, Min?" tanyanya pilu. Ditatapnya Mina dengan sorot mata penuh luka.


Wanita itu menghembuskan napas panjang. "Aku tidak tahu, Jon. Itu sudah menjadi wewenang Tuhan. Yang kutahu sekarang anakmu membutuhkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya. Yaitu kamu dan Theresia. Kalau kalian berdua masih belum bisa hidup secara harmonis, bagaimana mungkin dapat bersama-sama mencari kesembuhan buat Valentina?"


"Aku membenci wanita itu, Min!"


Mina menyeringai. "Aku tahu persis sifatmu, Bro. Kamu ini tidak mampu membenci orang lain.  Kamu hanya merasa marah pada dirimu sendiri karena bisa-bisanya dikibuli oleh dua orang wanita yang kau cintai dan mencintaimu!"


"Aku sudah tidak mencintai Theresia!"


"Oya?" komentar Mina seraya tersenyum sinis. "Kalau kau memang sudah tak mencintainya, kenapa masih membantunya mengurus pemakaman ayah kandung dan ibu tirinya? Juga begitu mudahnya jatuh ke dalam pelukannya kembali sepeninggal Karin! Memangnya itu apa kalau bukan cinta?!"


Sahabatnya kembali diam terpaku. Aku...benarkah aku masih mencintai There? batinnya tak percaya. Keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya. Dirinya mulai gelisah.


"Tahukah kamu? Aku dulu sempat bertanya pada Karin kenapa begitu mudahnya dia menuruti permintaan Theresia untuk melepaskan dirimu dan bayinya. Ternyata jawabannya adalah...karena dia sendiri merasa kamu masih terlalu memperhatikan istrimu padahal sedang dalam proses perceraian! Kamu tidak tega membiarkan dia mengalami kesulitan. Apa itu artinya kalau bukan cinta, Jonathan Aditya?"


"Omong kosong!"


"Tak perlu berkelit. Kalau Karin memang yakin hatimu seratus persen hanya untuknya, dia takkan pergi darimu!"

__ADS_1


"Kau...!"


Jonathan mengangkat tangannya mau menampar mulut Mina yang sejak tadi mengeluarkan kata-kata yang pedas sekali.


Wanita itu semakin sinis memandangnya. "Kamu salah kalau mau menamparku, Jon," katanya menyindir. "Lebih tepat kalau kau menampar dirimu sendiri. Kaulah yang bersalah atas semua kejadian buruk yang menimpamu. Segala hal yang terjadi di dunia ini merupakan tabur-tuai, Bro. Kamu juga berkontribusi terhadap nasibmu saat ini. Jadi jangan cuma menyalahkan orang lain saja."


Setelah mengatakan hal itu, Mina langsung beranjak keluar meninggalkan ruangan kerja sahabatnya. Hatinya merasa puas telah mengungkapkan semua isi hatinya selama ini. Sementara itu Jonathan hanya bisa terduduk lemas di kursinya.


***


"Masuk!" seru Jonathan ketika mendengar suara ketukan halus di pintu kamarnya.


Hari sudah malam. Dia tengah duduk di atas ranjang sambil menonton televisi. Pintu perlahan-lahan dibuka dari luar. Muncullah Theresia yang mengenakan piyama lengan panjang berbahan kain satin berwarna hijau muda. Sayang sekali ekspresi wajahnya tidak secerah pakaian yang dikenakannya.


Kedua matanya sembab, hidungnya merah, bawah matanya gelap seperti kurang tidur berhari-hari. Padahal baru kemarin dokter mendiagnosa Valentina lumpuh, pikir Jonathan iba. Tapi There seakan-akan telah berkabung berminggu-minggu lamanya!


Sang suami mengangguk mengiyakan. "Duduklah," sahutnya tenang. Setenang hatinya yang sudah mulai dapat menerima kenyataan sebagaimana nasihat Mina di kantor tadi siang. Menerima kenyataan bahwa saat ini dia telah hidup seatap lagi dengan Theresia. Istrinya yang sah. Bukan Karin....


Dan laki-laki itu tercengang saat Theresia duduk di atas ranjang dan kemudian membungkuk menciumi kakinya!


"Aku minta maaf atas perbuatanku menyakitimu, Karin, dan Valentina, Mas Jon," ucap wanita itu dengan bersimbah air mata. "Aku memang wanita yang egois. Meraih keinginanku dengan menghalalkan segala cara. Tak peduli itu berarti berbahagia di atas penderitaan orang lain. Sekarang Valentina-lah yang menjadi korban! Aku benar-benar menyesal, Mas. Kalau kau mau, aku akan mencari Karin supaya kalian dapat bersatu kembali...."


Hati Jonathan benar-benar tersentuh mendengar pernyataan istrinya. Ketika Theresia hendak menciumi kakinya lagi, dia mencegahnya.

__ADS_1


Istrinya itu terkejut sekali tatkala sang suami justu merengkuh tubuhnya erat-erat. Dia merasa bagaikan sedang bermimpi.


"There, aku juga minta maaf telah membuatmu menderita selama ini. Kamu ibu yang baik bagi Valentina. Sudahlah. Kita lupakan saja hal-hal yang menyakitkan. Marilah kita bersama-sama menjalani hidup baru. Demi Valentina...."


Theresia ternganga. Benarkah apa yang kudengar ini? Mas Jon memintaku bersamanya menjalani hidup baru? Bukan Karin....


Perlahan dilepaskannya dirinya dari pelukan sang suami. Kini di hadapannya tampak seorang pria yang wajahnya basah oleh air mata dan menatapnya penuh haru.


"Kau...kau tidak ingin mencari Karin lagi, Mas?" tanyanya terbata-bata. "Aku...aku akan membantumu mencarinya. Kali ini dengan setulus hati. Biarlah Valentina hidup bahagia bersama kedua orang tua kandungnya. Barangkali kasih sayang dan sentuhan ibu yang melahirkannya akan meluluhkan hati Tuhan untuk memulihkan kedua kakinya...."


Jonathan menggeleng kuat-kuat. Disentuhnya kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya.


"Kamulah ibu yang dibutuhkan Valentina, There!" ucapnya tegas. "Ibu yang selalu bersamanya sepanjang waktu. Menangis kala dia terluka. Tertawa jika dia bahagia. Valentina tidak membutuhkan ibu yang lain. Kecuali kalau kau keberatan merawatnya karena kakinya lumpuh...."


Dengan segera tangan Theresia menutup mulut suaminya. "Jangan katakan itu, Mas Jon. Kau tahu sendiri betapa besarnya kasih sayangku pada Valen. Dia sudah kuanggap bagaikan anak kandungku sendiri. Hati kecilmu pun mengetahuinya. Aku hanya merasa diri ini begitu rendah dan tak pantas menjadi ibunya. Karena kelumpuhannya disebabkan olehku...."


"Bukan kamu yang salah!" seru Jonathan sambil menggelengkan kepalanya. Air matanya mengalir semakin deras. "Akulah yang bersalah. Menjalin hubungan dengan perempuan lain sebelum kita resmi bercerai. Aku yang lemah, tak mampu menahan hawa nafsu. Akulah yang bersalah padamu, Karin, dan Valentina. Aku!"


Sontak Jonathan mendekatkan wajahnya pada sang istri. Diciuminya bibir basah Theresia dengan penuh kehangatan. Wanita itu membalasnya dengan perasaan cinta yang membuncah dalam dadanya. Lenyap sudah dinding tebal yang selama ini memisahkan mereka berdua. Segala kebencian dalam hati Jonathan pun sirna. Dia telah menyadari kesalahannya sendiri. Juga mengampuni dosa-dosa istrinya di masa lalu.


Theresia merasa bahagia kehidupan perkawinannya terselamatkan. Dia berjanji dalam hati akan bersama-sama dengan suaminya ini mengupayakan segala hal yang terbaik demi kesembuhan putri mereka tercinta.


Demikianlah suami istri itu akhirnya hidup secara harmonis dan saling mengasihi. Saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangan dengan rendah hati dan tulus ikhlas. Hari demi hari mereka bergumul dengan fisioterapi yang harus dijalani sang buah hati agar kedua kakinya berfungsi sebagaimana mestinya.

__ADS_1


Keduanya saling menghibur dan menguatkan di kala salah satu merasa lelah dan putus asa. Demikian pula tatkala sang buah hati rewel karena harus rutin melakukan latihan yang sama berulang-kali, Jonathan dan Theresia kompak menyemangatinya. Mereka bertiga benar-benar menjadi keluarga kecil yang bahagia.


***


__ADS_2