Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Rosa Disudutkan


__ADS_3

"Nggak apa-apa kok, There. Sebenarnya nggak terlalu sibuk. Cuma Om Bernard saja yang nggak terlalu suka ninggalin kerjaan lama-lama. Lagipula usaha garmennya kan cuma bisnis kecil-kecilan. Nggak terlalu butuh melobi bos-bos besar di restoran mewah seperti ini. Biasanya tim marketing yang memasarkan jasa garmen kami di kantor-kantor maupun sekolah-sekolah. Om Bernard nggak terlalu turun tangan, kecuali kalau proyek besar," jelas Rosa agak mendetil.


Ditatapnya Theresia dengan perasaan sayang. Bagaimanapun juga wanita itu mengenal anak mantan bosnya ini sejak dia masih berumur tujuh tahun. Tak terasa, gadis kecil manis dan lucu itu kini telah tumbuh dewasa menjadi seorang wanita yang sangat cantik dan elegan. Mirip sekali dengan ibu kandungnya, puji Rosa dalam hati.


"Oh, begitu," jawab Theresia sambil tersenyum lega. Lalu dia menyodorkan buku menu yang besar dan tebal kepada tamunya. "Tante Rosa suka makan apa? Silakan dilihat-lihat menunya."


"Tante terserah saja, There. Kamu kan lebih paham hidangan apa yang enak di restoran ini. Hehehe...."


"Baiklah kalau begitu, Tante. Saya pilihkan, ya. Tante ada alergi makanan apa?"


Sang tamu menggeleng pelan. "Tante bisa makan apa aja, kok," jawabnya sambil tertawa renyah.


Theresia turut tertawa. Dia lalu menanyakan tamu spesialnya itu mau minum apa. Rosa menjawab teh tawar hangat. Jawaban wanita itu mengingatkannya pada Jonathan. Sudah lama sekali aku tidak membuatkan teh tawar hangat buat Mas Jon, batinnya pedih. Di awal-awal pernikahan aku rajin menyeduhkan buatnya tiap hari. Tapi lama-lama kuminta Bi Sum yang melakukannya. Oh, seandainya waktu dapat diulang kembali. Aku mau membuatkan minuman kesukaan suamiku itu setiap hari. Asalkan dia tetap setia berada di sisiku....


"Theresia," ucap Rosa membuyarkan lamunan wanita yang mengundangnya. "Itu mbak-nya sedang menunggu pesanan kamu."


Theresia tersentak. Dia lalu tersenyum dan menyebutkan nama-nama hidangan yang dipesannya pada pelayan perempuan yang sigap mencatat dalam perangkat digital-nya.


"Terima kasih, Bu Theresia. Silakan menunggu semuanya dihidangkan maksimal lima belas menit lagi," kata pelayan itu ramah.


Theresia mengangguk dan membiarkan perempuan itu berlalu meninggalkan ruangan VIP tersebut.


Selanjutnya kedua orang wanita berbeda generasi itu berbincang-bincang dengan akrab mengenai berbagai hal. Si pelayan masuk ke ruangan itu lagi menghidangkan minuman pesanan tamu-tamunya.

__ADS_1


Theresia masih bertahan mengajak Rosa mengobrol hal-hal umum sampai masakan-masakan yang dipesannya dihidangkan di atas meja.


"Wah, banyak sekali porsinya, There. Masa bisa kita menghabiskan semuanya?" komentar Rosa menyaksikan tiga menu masakan yang dipesan  ternyata porsinya luar biasa.


"Kalau  tidak habis, nanti saya minta dibungkus saja, ya. Buat Tante bawa pulang. Om Bernard  kan bisa makan juga."


Rosa serta-merta menolak dengan halus. Dia merasa sungkan menerima pemberian anak mantan bosnya itu. "Kamu bawa pulang saja, There. Tante lihat kamu kurusan. Harus banyak makan supaya seksi kembali seperti dulu. Hehehe...."


Theresia tergelak. Dia lalu menyeletuk, "Buat apa punya bodi seksi kalau nggak ada yang menikmati, Tante!"


Rosa terkesiap mendengarnya. Tiba-tiba dia merasakan sebuah firasat yang tidak enak. Theresia yang menyaksikan perubahan ekspresi wajahnya berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan mengambilkan nasi buat tamu istimewanya tersebut.


"Kalau begitu sekarang kita berdua makan yang banyak ya, Tante," katanya tenang. Lalu diambilkannya lauk dan sayur buat Rosa.


Kedua wanita itu lalu menikmati makan siang dengan lahapnya. Rosa mengakui bahwa ketiga hidangan pesanan Theresia benar-benar lezat. "Kamu sering makan di sini ya, There?" tanyanya ingin tahu.


Lawan bicaranya mengangguk. "Dulu saya dan Mas Jon suka makan di sini. Setidaknya sebulan dua kali. Menunya rata-rata enak. Hampir semuanya sudah kami coba," jawabnya enteng. Dilihatnya Rosa menunduk mendengar perkataannya. Wanita itu pura-pura berkonsentrasi menghabiskan makanannya.


Theresia tersenyum dalam hati. Makanlah sampai kenyang, Tante Rosa Sayang. Setelah itu dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan, cetusnya sinis dalam hati.


Setelah keduanya selesai makan, Theresia menekan bel untuk memanggil pelayan tadi. Dengan lugas dia meminta tolong agar masakan yang tersisa dibungkus saja untuk dibawa pulang. Sang pelayan mengangguk lalu membawa keluar sisa hidangan yang dimaksud.


Kini tinggallah Theresia berdua saja dengan Rosa. Diteguknya air mineralnya sejenak sebelum mengutarakan keperluannya mengundang wanita itu makan siang.

__ADS_1


"Tante Rosa, kemarin Mas Jon bercerita kalau Karin sedang hamil. Benarkah demikian?" tanya wanita itu terus terang. Sudah cukup basa-basiku selama hampir empat puluh menit tadi. Sekarang waktunya to the point pada pokok permasalahan, batinnya memutuskan.


Tak disangkanya perempuan setengah baya di hadapannya terkesima mendengar penuturannya barusan.


"There..., apa katamu? Karin hamil?" tanya Rosa dengan suara bergetar. Tatapan matanya tampak tak percaya.


Theresia menatapnya keheranan. Dia lalu berkata sinis, "Jangan berpura-pura tidak tahu, Tante. Mas Jon yang mengatakannya sendiri pada saya kemarin. Dia bahkan meminta bantuan saya agar mempercepat proses perceraian kami supaya  bisa segera menikahi Karin. Dengan demikian Tante Rosa tentunya dapat menebak siapa ayah dari janin yang dikandung keponakan Tante itu, kan?" cetus Theresia diplomatis namun sangat menyudutkan.


"There, aku...."


"Yang tidak saya mengerti, mengapa Tante membiarkan saja keponakan Tante berpacaran dengan Mas Jon yang  masih berstatus sah suami saya? Dan yang paling menyakitkan, kalian semua di depan saya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa! Tapi Tuhan tidak tidur, Tante. Dia memberi saya jalan untuk mengetahui semuanya tanpa harus bersusah payah mencari tahu."


"Tante sebenarnya tidak bermaksud...."


"Dan yang paling menyedihkan, Tante Rosa-lah yang memperkenalkan Karin pada suami saya. Tante yang menjembatani terjadinya hubungan terlarang mereka!"


"Theresia, tolong dengarkan Tante dulu...."


"Sudah terlambat. Tante Rosa-lah yang harus mendengarkan saya! Selama ini keluarga saya sudah bersikap sangat baik terhadap Tante. Saya masih ingat sewaktu orang tua Karin dulu meninggal dunia, Papa memberikan santunan yang tidak sedikit  demi membantu biaya hidup dan pendidikan keponakan Tante itu! Tapi sekarang apa timbal-balik yang Papa saya peroleh? Anak gadis yang dibantunya malah merebut menantunya sendiri!"


Suasana tegang semakin didramatisir Theresia dengan tersenyum sinis dan bertepuk tangan keras sekali. "Luar biasa! Begini rupanya caranya Tante Rosa dan keluarga membalas budi. Dengan menjadi musang berbulu domba! Berpura-pura baik dengan merekomendasikan keponakan sendiri sebagai sekretaris pengganti. Padahal tujuannya untuk menghancurkan rumah tangga pimpinannya sendiri!"


Wanita itu akhirnya menghentikan ucapan-ucapannya yang sangat menyudutkan. Bukan karena sudah puas. Namun tiba-tiba rasa pening di kepalanya muncul lagi. Diambilnya obat di dalam tasnya. Ditenggaknya dengan air mineralnya yang masih tersisa di meja. Lalu dia mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Dilakukannya berulang kali sesuai petunjuk terapis meditasinya dulu.

__ADS_1


Rosa memperhatikannya dengan tatapan penuh rasa iba.


__ADS_2