
“Iya, Pak.”
“Sekarang ayo kita pergi ke kantor pengacara yang kedua. Let’s go!”
Karin tersenyum melihat semangat sang atasan mencari pengacara untuk mengurus perceraiannya. Pak Jon sepertinya sudah benar-benar move on dari perpisahannya dengan Bu Theresia. Lalu bagaimana dengan Bu Theresia sendiri, ya? tanyanya dalam hati ingin tahu.
***
Semenjak ditinggalkan Jonathan di acara prasmanan pernikahan Rosa, Theresia luar biasa frustasi. Sepanjang hari dihabiskannya dengan menangis, menelepon, hingga mengirimkan puluhan chat WA kepada suaminya. Tak satupun yang ditanggapi apalagi dibalas oleh Jonathan. Simon yang merasa kuatir dengan kondisi kejiwaan sang putri, akhirnya membawa Theresia pulang ke rumah yang ditempatinya bersama Mila.
Laki-laki itu sendiri merasa enggan memohon-mohon lagi pada menantunya untuk bersatu kembali dengan anaknya. Harga dirinya sebagai seorang ayah melarangnya melakukan hal itu untuk kedua kalinya. There bisa-bisa tak dipandang sebelah mata oleh suaminya kalau aku lagi-lagi memohon padanya untuk kembali pada anakku, gumamnya dalam hati. Ya sudahlah, kalau mau cerai ya cerai. There masih muda, cantik, dan bergelimang harta. Tak sulit baginya mencari laki-laki lain yang mau menerima dirinya apa adanya.
“Papa, kenapa kita tidak pulang ke rumahku saja? Kita kejar Mas Jon, supaya tidak pergi lagi!” seru wanita itu begitu melihat mobil yang ditumpangi mereka berhenti di depan rumah ayah kandungnya.
“Diamlah, There. Buat apa kamu merendahkan dirimu untuk mengejar-ngejar suami yang sudah tak menginginkanmu?! Kamu ini anak Simon Hidayat. Banyak pria yang bersedia menjadi pasangan hidupmu kalau kamu mau!” tegur laki-laki tua itu jengkel. Ia sebenarnya merasa malu masalah keluarganya ini dibahas di depan sopir pribadinya yang sedang mengemudi. Namun tuan besar itu sudah tak tahan melihat sikap anak perempuannya yang dianggapnya tak punya harga diri mengemis cinta pria yang sudah tak menginginkan dirinya.
“Tapi Mas Jon itu suami There, Pa. Kami sudah menikah selama sepuluh tahun! Tega sekali dia meninggalkan There lagi. Di depan umum pula!”
Tangis wanita cantik itu semakin menjadi-jadi. Mila yang duduk di sampingnya akhirnya berkata menghiburnya, “Sudahlah, There. Kamu beristirahat saja dulu di rumah kami. Nanti kalau sudah tenang, barulah kamu telepon suamimu dan bicara baik-baik….”
Theresia mengangguk-anggukkan kepalanya lalu bersandar pada bahu ibu tirinya itu. Mila mengelus-elus punggungnya berusaha menenangkan perasaannya. Sementara itu Simon dengan geram berusaha menelepon menantunya, namun tidak diangkat. Dicobanya mengirim pesan WA, tapi tidak dibaca.
__ADS_1
Biar nanti sore kucoba lagi, tekadnya dalam hati. Lalu dahinya mengernyit seolah-olah sedang berpikir keras. Seandainya perkawinan mereka memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi, ya sudahlah. Aku sama sekali takkan menghalang-halangi anak itu menceraikan There. Bukan cuma mulut Jonathan tadi yang bilang bahwa perkawinan mereka sudah selesai, gumamnya ngeri dalam hati. Sorot matanya juga mengatakan hal yang sama….
***
Hari sudah mulai sore. Jonathan menyetir mobilnya dengan kecepatan standar di keramaian jalanan kota Surabaya. Raut wajahnya tampak kecewa. Dia tadi sudah menemui dua pengacara lainnnya. Yang satu terang-terangan menolak menangani kasus perceraiannya begitu tahu akan berhadapan dengan putri Simon Hidayat, konglomerat ternama di kota ini. Yang lainnya bertele-tele dan ujung-ujungnya mengatakan bahwa sudah tidak menangani kasus perceraian.
“Lalu bagaimana rencana Pak Jon selanjutnya?” tanya Karin dengan hati-hati. Ia sebenarnya agak takut melihat ekspresi bosnya yang begitu tegang. Namun rasa penasaran yang begitu besar dalam hatinya membuatnya nekad bertanya.
“Abis ini kita nggak ada meeting, kan?” balas sang pimpinan balik bertanya.
“Nggak ada, Pak.”
“Kalau begitu kita pergi ke D-Mall sebentar.”
“Aku mau menyewa apartemen di atas D-Mall. One bedroom aja. Toh, cuma buatku tinggal sendirian.”
“Oh, gitu. Supaya bisa setiap hari nge-gym di sana juga ya, Pak?”
“Yes. Cari makan juga gampang.”
“Betul, Pak.”
__ADS_1
Lalu sang bos mengemudikan mobilnya ke arah mal yang dimaksud. Sesampainya di sana, ia langsung mengajak Karin menuju ke property management mal tersebut untuk mencari informasi tentang apartemen yang disewakan.
Mereka disambut dengan ramah oleh seorang karyawati. Perempuan muda itu mendengarkan dengan seksama permintaan Jonathan untuk menyewa sebuah unit apartemen yang terdiri atas sebuah kamar tidur dan terletak di lantai yang tidak terlalu tinggi.
“Sebentar ya, Bapak dan Ibu. Saya check list-nya dulu,” ujar sang karyawati sopan.
“Baik. Terima kasih,” jawab Jonathan sembari duduk menunggu dengan Karin.
Tak lama kemudian pasangan bos dan sekretaris itu diantar melihat-lihat beberapa unit apartemen yang spesifikasinya sesuai dengan permintaan Jonathan. Apartemen yang pertama tidak disukai oleh si bos karena interiornya bernuansa coklat tua, membuat ruangan yang pada dasarnya tidak begitu besar jadi kelihatan semakin sempit. Unit yang kedua juga tidak cocok karena view-nya menghadap ke kolam renang yang bentuknya dianggap kurang bagus oleh pria tersebut. Lalu giliran unit yang ketiga agak lumayan, tapi Jonathan masih ragu-ragu. Ia meminta ditunjukkan alternatif lain.
“Memangnya unit yang ini kenapa, Pak?” tanya Karin heran. Menurutnya apartemen ini yang paling mending karena interiornya bernuansa putih dan minimalis sehingga ruangan kelihatan luas.
“Aku nggak sreg sama banyaknya cermin di sana-sini. Kok seakan-akan bayanganku ada di mana-mana,” jawab Jonathan terus terang.
Sontak Karin dan sang karyawati tertawa geli mendengar penuturan laki-laki itu. “Interior apartemen ini meniru show unit kami yang terdiri dari banyak cermin, Pak. Tujuannya supaya ruangan terlihat lebih luas dan elegan,”ulas karyawati tersebut dengan detil. “Tapi kalau Pak Jonathan masih kurang sreg, nggak apa-apa. Ini masih ada satu unit lagi yang mau saya tunjukkan. Mudah-mudahan yang terakhir ini sesuai dengan selera Bapak.”
“Semoga saja. Terima kasih banyak ya, Mbak,” ujar Jonathan sungkan.
“Sama-sama. Mari Pak, Bu, ikuti saya.”
Ketiga orang itu lalu beranjak meninggalkan unit apartemen yang interiornya dipenuhi aneka cermin itu. Mereka masuk ke dalam lift menuruni dua lantai lalu keluar dan belok kiri menyusuri lorong hingga berhenti di depan unit yang letaknya paling ujung.
__ADS_1
“Karena unit ini terletak paling ujung, maka ada kelebihan beberapa meter untuk luasnya, Pak. Jadi bisa Bapak bandingkan sendiri dengan tiga unit sebelumnya, bahwa unit yang ini terasa lebih luas meskipun sama-sama one bedroom.”
Jonathan manggut-manggut sambil melangkah pelan-pelan memperhatikan segenap penjuru apartemen tersebut. Interiornya aku suka, gumamnya dalam hati. Bernuansa krem, terasa menyejukkan hati. Selain sebuah kamar tidur dan kamar mandi di luar, juga ada kitchen set dan meja makan mungil dengan dua buah kursi. Selain itu terdapat sebuah sofa yang cukup diduduki dua orang serta sebuah TV LED berukuran 42 inch. Cukuplah tempat ini kutinggali seorang diri, putusnya dalam hati. Tiba-tiba ada sebuah pertanyaan terbersit dalam benaknya.