
Akhirnya hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Theresia tampak mematut-matut dirinya di depan cermin besar di dalam kamar tidurnya. Gaun terusan berwarna merah jambu dengan hiasan brokat berwarna senada tampak begitu pas menempel di tubuhnya yang langsing dan berlekuk indah. Gaun yang kelihatan mewah itu panjangnya sedikit di atas lutut dan memperlihatkan sepasang kaki jenjangnya yang putih mulus tanpa cela. Wajahnya dirias dengan begitu cantiknya. Bibirnya pun dipoles lipstick berwarna merah jambu seperti gaun yang dipakainya.
“Kamu cantik sekali, Sayang,” puji sang suami melihat penampilan istrinya yang memang selalu istimewa setiap menghadiri acara penting. Sebaliknya Theresia memandang sang suami dengan keheranan.
“Kok nggak pakai jas, Mas?” tanyanya ketika melihat Jonathan hanya mengenakan kemeja berwarna biru navy dengan motif abstrak berwarna senada dan celana panjang kain berwarna hitam.
“Bu Rosa bilang nggak usah terlalu resmi karena acaranya cuma sederhana saja.”
“Tapi kamu kan bos-nya. Masa cuma pakai kemeja?”
“Papa juga nggak pakai jas kok, Sayang. Katanya nanti mau pakai batik kembaran sama Tante Mila.”
“Papa kan sudah nggak kerja lagi. Ya nggak masalah mau pakai baju apa. Tapi kamu kan orang nomor satu di perusahaan. Gimana kalau nanti anak-anak buahmu melihatmu berpenampilan seperti mereka? Nggak jelas kan, mana yang atasakan dan bawahan.”
Jonathan menghela napas panjang. Ini karakter istrinya yang belum berubah, suka gengsian. Merasa dirinya harus menunjukkan kasta yang lebih tinggi dibandingkan orang lain. Tapi yah, masa karakter orang bisa berubah seratus persen, batin laki-laki itu agak membela istrinya. Yang penting dia sekarang sudah nggak cemburuan dan merendahkanku lagi seperti dulu.
“Jadi menurutmu aku harus pakai jas ya, Sayang?” tanyanya meminta pendapat Theresia.
Sang istri jadi ragu-ragu. Kok seakan-akan Mas Jon jadi terpaksa ya menuruti kemauanku? tanyanya dalam hati. Seandainya Tante Mila yang menghadapi hal seperti ini, apa yang kira-kira akan dilakukannya, ya?
“Gimana, Sayang?” tanya Jonathan lagi menunggu kepastian. Lawan bicaranya menjadi gelagapan dan akhirnya bertanya balik, “Mas Jon lebih suka pakai baju ini?”
__ADS_1
Yang ditanya mengangguk pelan.
“Kenapa, Mas?” tanya Theresia ingin tahu.
“Yaaa…, aku bosan aja berpenampilan terlalu resmi. Apalagi setiap hari non stop pakai jas di kantor. Jenuh, Yang.”
“Tapi kalau aku minta Mas Jon pakai jas hari ini, gimana?”
“Ya udah. Kuturuti aja saranmu, Yang.”
“Kenapa begitu?”
Supaya kamu nggak marah dan membuat suasana jadi nggak enak, jawab sang suami jujur dalam hati. Tapi lidahnya terasa kelu untuk mengutarakannya.
Sang istri rupanya terbuai dengan kata-kata manis suami tercintanya. Ia lalu tersenyum dan berkata, “Ya sudahlah kalau begitu, Mas. Nggak usah pakai jas kalau kamu memang lebih nyaman dengan kemeja biru navy itu. Kamu cakep kok, pakai baju itu. Hehehe….”
Jonathan tersenyum dan berterima kasih pada istrinya. Tanpa sepengetahuan Theresia, suaminya itu diam-diam menarik napas lega akhirnya mereka berhasil mencapai kata sepakat tanpa terjadi keributan.
***
“Siapa itu, Mas? Cantik sekali,” ujar Theresia takjub melihat seorang gadis mengenakan gaun merah muda yang panjangnya hampir menyentuh lantai. Dia sedang berdiri di depan pintu masuk gereja dan menyambut tamu-tamu yang berdatangan.
__ADS_1
“Itu Karin, keponakan Bu Rosa,” jawab Jonathan datar. Ia berusaha menyembunyikan debaran dadanya menyaksikan kecantikan dan keanggunan yang terpancar dari sekretarisnya itu. Karin bagaikan seorang putri, pujinya dalam hati. Pintar juga Mimin mendandaninya. Kelihatan elegan. Sama sekali tidak menor seperti dandanan Mimin sendiri.
“Oh!” sahut Theresia singkat. Tiba-tiba sebuah perasaan tidak enak singgah dalam hatinya. Tak kusangka keponakan Tante Rosa secantik itu, pikirnya agak cemburu. Selama ini Mas Jon selalu bilang dia gadis yang penampilannya sederhana saja dengan make-up tipis. Tak ada bedanya dengan tantenya.
“Halo, Pak Jon, Bu Theresia. Terima kasih atas kehadirannya,” sapa Karin sambil menyalami tamu-tamu spesial tersebut. Jonathan tersenyum dan menerima uluran tangan gadis itu. Masih sehalus ketika aku pertama kali mengenalnya, komentar laki-laki itu dalam hati. Kemudian dia menjadi salah tingkah sendiri dan segera melepaskan tangan Karin.
Gadis yang tak menyadari kekikukkan bosnya itu segera beralih mengulurkan tangannya pada Theresia yang menatapnya dengan muka masam. Demi etika kesopanan, istri Jonathan itu menjabat tangan Karin dan memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Sesaat kemudian dilepaskannya tangan mungil itu.
“Silakan diisi buku tamunya di sana, Bu,” ujar Karin seraya memberi tanda dengan tangannya meja berisi buku tamu dan souvenir yang dijaga oleh dua orang kerabat wanita pengantin.
“O iya, terima kasih,” jawab Theresia singkat lalu menggamit suaminya meninggalkan gadis itu. Setelah mengisi buku tamu, memasukkan amplop ke dalam kotak sumbangan, dan menerima souvenir, pasangan suami istri itu lalu melangkah ke arah pihak keluarga mempelai pria dan wanita yang berdiri berdampingan menerima jabat tangan dari para tamu yang hadir.
Tiba-tiba Theresia melihat sosok orang-orang yang dikenalnya duduk di barisan bangku agak depan. “Mas, bukankah itu Papa dan Tante Mila yang duduk di barisan ketiga dari depan? Kembaran bakai paju batik, kan?” tanyanya sambil mengacungkan telunjuknya ke arah dua orang itu supaya sang suami dapat melihatnya.
“Iya, betul,” jawab Jonathan yakin. “Kita langsung ke sana aja, yuk.”
Istrinya mengangguk setuju. Beberapa saat kemudian tibalah mereka di tempat duduk Simon dan Mila. Pasangan suami-istri tua itu tampak senang melihat kehadiran anak dan menantu mereka. Lalu dipersilakannya Jonathan dan Theresia duduk di bangku sebelah mereka. Di depan keduanya tampak duduk seorang wanita muda berambut hitam panjang sepunggung.
Tak lama kemudian lonceng gereja berdentang menandakan upacara pernikahan dimulai. Semua tamu berdiri dan membalikkan badan untuk menyambut kedatangan mempelai pria dan wanita. Jonathan yang baru berdiri seketika terbelalak melihat wanita yang duduk di depannya turut berdiri dan menghadap ke arahnya. Mimin! serunya dalam hati.
Mina yang tampil anggun dengan gaun tanpa lengan berwarna putih dan riasan wajah natural tersenyum lebar memamerkan sederetan giginya yang putih tanpa cela. Jonathan sampai bengong melihatnya. Mimin berdandan elegan seperti Karin! Kok bisa? pikirnya keheranan. Tiba-tiba dia tersadar dengan kebodohannya sendiri. Bego banget sih kamu, Jon, batinnya menyalahkan dirinya sendiri. Kan Mimin make-up artist-nya! Yah, pasti dia bisa-bisa aja mau berdandan seperti apa.
__ADS_1
Diliriknya Theresia yang sudah berdiri menghadap ke belakang memperhatikan kedatangan Rosa dan suaminya. Syukurlah dia tidak menyadari kekagetanku melihat Mimin, gumam sang suami dalam hati. Laki-laki itu langsung mengikuti istrinya berdiri menghadap belakang menyambut kedatangan calon mempelai yang bergandengan tangan dan berjalan perlahan-lahan menuju ke altar. Seorang pastur berusia sekitar lima puluhan sudah berdiri menanti di depan altar untuk menjalankan sakramen pernikahan yang kudus.
***