Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Lusia Ternyata....


__ADS_3

Lalu dituangkannya air panas ke dalam teko pada masing-masing mie instan tersebut. Dia memang rajin merebus air panas di dalam teko elektrik yang disediakan hotel agar sewaktu-waktu dapat langsung digunakan jika membutuhkan.


Sambil menunggu kedua mie instannya matang, lelaki itu memeriksa pesan-pesan dalam ponselnya. Tiba-tiba perangkat komunikasinya itu berbunyi. Tertera nama Mimin pada layarnya. “Lho, tumben Mimin nelepon aku di malam hari?” tanyanya pada diri sendiri. Diterimanya telepon sahabat perempuannya yang nyentrik itu dan berkata riang, “Halo, Min. Tumben jam segini nelepon?”


Terdengar suara di seberang sana terkekeh geli. Jujur Jonathan bersyukur sekali mempunyai sahabat seperti Mina. Teman SMA-nya  itu selalu membuat suasana menjadi ceria. Sejak dulu selalu begitu. Untung kami bisa bertemu kembali setelah lama sekali kehilangan kontak, gumamnya bersyukur dalam hati.


“Kamu kan udah pisah sama istri, Bro. Jadi aku nggak sungkan-sungkan mengganggumu jam segini. Belum tidur, kan?”


“Belumlah. Masih jam sembilan ini. Aku lagi nungguin makan malam.”


“Lho, kok baru mau makan? Sedari tadi ngapain aja? Lembur di kantor?”


“Hehehe…, kagak. Tadi aku nonton bioskop sama Karin, eh pulangnya lupa ngajak dia makan. Jadinya aku sekarang di kamar hotel bikin mie instan, deh.”


“What? Apa kamu bilang? Nonton sama siapa?”


“Karin.”


“Aduh, Bapak Direktur yang terhormat. Akhirnya kau kencani juga sekretarismu yang cantik jelita itu. Ccck, ccck, ccck….”


Jonathan menyeringai. Dia sudah tak malu-malu lagi mengakui sedang mengejar gadis yang telah menawan hatinya sejak pertama kali bertemu itu.


“Udah, ah. Nggak perlu dibahas. Ada perlu apa kamu nelepon?”


“Hadeh, baru sekali kutelepon malam gini udah bingung. Aku mau nanya. Kamu ngomong apa aja tadi waktu ketemu sama Lusia, si pengacara itu?”


“Ya ngomongin kasusku, dong.”


“Dia mau handle kasus perceraianmu?”


“Yes. Thank to you. Orangnya ramah, sopan, dan kelihatan berpengalaman sekali. Aku percaya dia bisa menangani kasusku dengan baik.”


“Cuma itu? Nomongin hal lain?”


Dahi Jonathan berkerut seperti sedang berpikir. “Ngomongin apa, ya?” gumamnya berusaha mengingat-ingat percakapannya dengan Lusia.


“Barangkali dia menanyakan sesuatu tentang diriku?” pancing Mina serius.


Jonathan lalu teringat kembali. “Oh iya, dia nanya apa kita sering ketemu.”


“Terus?”


“Ya kujawab tergantung aku lagi rajin nge-gym atau nggak. Hehehe….”

__ADS_1


“Dasar! Hihihi…. Udah, itu aja?”


“Sama…ehm…ya, aku ingat. Dia nanya apa kita ada hubungan spesial.”


“What? Apa urusannya nanya itu?”


“Mana kutahu, Min. Aku kan baru pertama kali ketemu dia.”


“Terus kamu jawab apa?”


“Ya kujawab nggak. Kubilang kita ini teman satu SMA. Tapi udah lama kehilangan kontak. Terus baru-baru aja ketemu lagi.”


“Oh, gitu.”


Tiba-tiba sebersit kecurigaan singgah di hati Jonathan. “Memangnya hubungan kalian sedekat apa sih, Min? Kok dia nanya-nanya hal pribadi seperti itu? Bukankah kalian juga baru kenal pas dia ngurusin perceraianmu?” cecarnya bertubi-tubi. Rasa penasaran mulai merasuki hatinya.


Mina diam saja tak menjawab. Hanya ******* panjangnya yang terdengar di telepon.


“Bro…,” katanya beberapa saat kemudian. “Sebenarnya di hari pertama aku resmi menjadi janda, aku mengajak Lusia merayakannya dengan minum-minum di rumahku. Lalu dia…dia….”


“Dia kenapa? Kok bicaramu terbata-bata gitu. Emangnya kamu diapain? Dicium?” sela Jonathan tak sabaran.


“Hampir saja…,” jawab Mina lirih.


“What? Jangan bercanda!” seru Jonathan tak percaya. Ternyata ucapan ngawurnya tadi sungguhan terjadi.


“Wow!”


Laki-laki itu berusaha membayangkan adegan pengacara keren itu mendekatkan wajahnya berusaha mencium Mina yang notabene adalah kliennya sendiri. Tiba-tiba bayangan itu menghilang dan bulu kuduknya serasa berdiri. Memang dia pernah melihat beberapa perempuan di kota metropolitan ini menjalin hubungan percintaan sesama jenis. Namun tak satu pun dari mereka yang kenal dekat dengannya. Membayangkan sahabat wanitanya didekati oleh salah seorang dari kaum penyuka sesama jenis menimbulkan perasaan tak nyaman dalam hatinya.


“Bro, kamu masih hidup, kan?” tanya Mina cemas di seberang sana. “Kamu shock berat, ya? Habis komentar wow terus langsung diem nggak keluar suara lagi.”


Orang yang ditanya menghela napas panjang. “Aku bingung mesti ngomong apa, Min,” aku laki-laki itu jujur.


“Kamu nggak nyangka ya, Lusia penyuka sesama jenis?”


“Iya. Memang kelihatannya dia tomboy. Tapi kan banyak perempuan sukses seperti itu penampilannya. Terus reaksimu gimana mau dicium waktu itu? Untung kamu masih sadar, belum mabuk.”


“Hehehe…, aku orangnya kuat minum, Bro. Malah dia yang agak mabuk, karena itu mau nyium aku.”


"Terus?” tanya Jonathan penasaran.


“Aku refleks menampar wajahnya,” jawab Mina mantap.

__ADS_1


“Wuih!” sahut sahabatnya seraya geleng-geleng kepala. Jangan berani macam-macam sama cewek nyentrik kayak Mimin, batinnya geli. Bisa jadi sansak nanti!


“Dia langsung sadar, Bro. Dan segera meminta maaf.”


“Terus?”


“Kumaafin.”


“Syukurlah.”


“Tapi terus kusuruh pergi dari rumahku.”


“Hah?! Langsung kamu usir?”


“Lha, habis mau gimana lagi? Aku dalam keadaan sangat rapuh waktu itu karena bercerai. Kalau dekat-dekat orang yang memberiku kasih sayang, takutnya lama-lama nyantol. Bahaya, kan? Padahal aku bukan penyuka sesama jenis.”


“Benar juga, sih.”


“Sejak itu aku nggak pernah mau ketemu dia lagi. Teleponnya nggak pernah kuterima. Cuma pesan WA-nya yang masih kubalas, itu pun singkat-singkat saja. Waktu dia mau mengantarkan surat keputusan cerai, kutolak dengan halus. Kubilang titipin saja pada asistennya di kantor. Jadi aku datang pagi untuk mengambil surat itu dari sang asisten, terus cepat-cepat cabut. Si asisten sampai heran melihatku pergi buru-buru.”


“Huahaha….”


“Kok ketawa, sih?” tanya Mina sewot.


“Aku lagi bayangin kamu datang ambil surat ceraimu terus lari terbirit-birit karena takut dikejar sang pengacara! Hahaha….”


“Terusin…terusin ngejeknya. Nanti kubalas waktu perasaanmu galau ditolak sama Karin!”


Jonathan berhenti tertawa seketika. “Kok bawa-bawa Karin, sih?” protesnya sebal. Giliran Mina yang kini terbahak-bahak.


“Hahaha…, rasain! Kamu kan tahu aku sekarang dekat sama Karin. Kalau sikapmu menyebalkan, dia akan kupengaruhi untuk menolak cintamu. Hahaha….”


“Udahan bercandanya, ya. Nggak lucu! Terus gimana sekarang? Kalau Lusia nanya-nanya lagi tentang kamu, aku mesti jawab apa?”


“Bilang aja aku lagi menjalin hubungan dekat dengan seorang pria.”


“Ok. Terus kalau dia nanya tentang pria itu gimana? Misalnya apa pekerjaannya, statusnya bujangan atau duda, kenal kamu dari mana, bla-bla-bla….”


“Masa sih, dia bakal menginterogasimu kayak gitu?”


“Yah, siapa tau. Dia kan pengacara. Udah biasa mancing-mancing orang, pintar diplomasi.”


“Ya kamu jawab sekenanya aja, deh. Kamu kan juga pintar diplomasi. Direktur utama dua perusahaan, dong! Hehehe….”

__ADS_1


Tiba-tiba Jonathan berkata serius, “Beberapa hari lagi  udah nggak, Min. Mau kuserahterimakan jabatanku pada papanya There.”


“Oh,” sahut Mina berempati. “Kamu udah siap kehilangan segalanya, Jon?”


__ADS_2