
Satu tahun kemudian. Kedua kaki Valentina masih belum dapat digerakkan. Padahal fisioterapi telah dijalaninya secara rutin setiap hari. Tiga bulan terakhir anak perempuan itu bahkan menjalani terapi akupuntur sesuai anjuran dokter. Namun tak ada perkembangan sama sekali.
Theresia tidak putus asa. "Kurasa sebaiknya kita membawa Valen kontrol ke dokter rehab medik di Malaysia, Mas," katanya pada sang suami. "Aku telah mendapat informasi tentang dokter yang terbaik di bidang itu di sana. Kapan ya, kamu bisa menemaniku membawa Valen menemui dokter itu, Mas?"
"Kapanpun, Sayang," jawab Jonathan mesra. "Sekarang kan sudah ada Bastian di kantor. Dia sudah resmi mengundurkan diri dari pekerjaannya supaya bisa fokus mengembangkan bisnis properti kami. Mimin juga bisa membantunya selama aku tidak ada."
Sang istri bergelayut manja pada dada bidang laki-laki itu. "Kamu beruntung punya sahabat-sahabat yang baik dan berkenan menjadi rekan kerjamu. Sedangkan aku cuma punya Valentina dan kamu, Mas."
"Apakah itu belum cukup?" tanya Jonathan sembari mengecup ubun-ubun wanita itu. "Aku akan menjadi sahabatmu selama-lamanya. Sampai maut memisahkan kita."
"Nggak mau, ah!" sergah istrinya sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Wajahnya cemberut tanda merajuk. Suaminya menatapnya tak mengerti.
"Lho, kenapa? Kan enak punya sahabat suami sendiri. Bisa menemanimu sepanjang waktu."
"Kalau sahabat kan nggak bisa begini!" cetus wanita itu seraya mengulum bibir sang suami penuh gairah. Jonathan membalas tak kalah semangatnya. Bibir dan lidahnya menari-nari dengan lincahnya. Memberikan sensasi yang luar biasa pada sang istri.
Tak lama kemudian mereka selesai berciuman dan saling berpandangan mesra.
"I love you, Jonathan Aditya," ucap si wanita tulus. Matanya berbinar-binar menatap suaminya tercinta.
"I love you too, Theresia Hidayat," balas si pria sepenuh hati. "Kita tetap berjuang demi Valen, ya. Pantang menyerah."
Theresia mengangguk setuju. Bibirnya mengulas senyuman bahagia.
***
__ADS_1
Satu tahun berlalu. Sama sekali tidak ada perkembangan. Valentina masih lumpuh. Theresia mulai putus asa. Dia bahkan sudah menetap di Malaysia selama satu tahun. Rumah-rumah sakit ternama di negeri itu telah dijelajahinya, mulai dari Penang hingga Kuala Lumpur. Pengobatan medis dan terapi alternatif telah dicobakannya pada putri tercinta. Namun hasilnya nihil.
Jonathan terpaksa bolak-balik Indonesia-Malaysia demi menjenguk dan memberi semangat pada istri dan anaknya. Bi Sum menemani Theresia dan Valentina tinggal di negeri tersebut. Mereka tinggal berpindah-pindah apartemen tergantung kota mana yang dituju Theresia untuk menetap selama tiga-empat bulan demi menjalankan pengobatan medis bagi putri tercinta.
Theresia sampai jenuh menjelajahi rumah-rumah sakit maupun klinik-klinik pengobatan alternatif di negeri itu. Yang menjadi hiburan baginya adalah celotehan-celotehan buah hatinya yang lucu. Wanita itu masih bersyukur otak anaknya tidak mengalami gangguan. Kemampuan motorik halus dan bicaranya normal sebagaimana anak-anak seusianya. Jonathan pun selalu mengingatkannya akan hal itu setiap kali istrinya mulai terlihat lelah dan tak bersemangat.
"Sini, berbaring di pangkuanku, Sayang," kata suaminya lembut. "Kamu kelihatan capek sekali. Sudahlah. Besok libur dulu terapi Valen. Kita sekeluarga jalan-jalan saja."
Sang istri mengangguk setuju. Dia lalu berbaring di pangkuan Jonathan. Dipejamkannya matanya sejenak. Jonathan tersenyum melihatnya. Ekspresi Theresia tampak begitu damai dalam keadaan demikian. Dibelai-belainya rambut halus wanita yang dicintainya itu.
Tiba-tiba sepasang mata berbulu lentik itu terbuka. Lalu terdengar suara Theresia berkata lantang, "Aku mau ganti haluan, Mas. Kita pindah ke Singapore saja! Aku akan cari klinik yang terbaik untuk menangani masalah Valentina. Pengobatan di negeri ini tidak membawa hasil sama sekali buat putri kita. Dia sudah berusia dua setengah tahun. Kita harus mengejar umurnya sebelum saraf-sarafnya semakin matang dan tambah sulit dibenahi."
Jonathan mendesah. Dia sebenarnya merasa kasihan mendengar harapan istrinya yang melambung tinggi. Dirinya sendiri sudah pasrah. Barangkali memang nasib putri mereka dianugerahi dua buah kaki yang sama sekali tak berfungsi.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu, Sayang?" tanyanya sendu. Sang istri mengangguk penuh keyakinan.
Jonathan terpaksa mengangguk. Dia tak ingin menjatuhkan harapan sang istri. Valentina adalah permata hatinya. Apapun akan dilakukannya demi kebaikan anak itu.
"Terima kasih, Sayang," ucap laki-laki itu seraya menunduk dan mencumbu bibir wanita itu. Selama beberapa saat pasangan suami istri itu berciuman dengan mesra. Lalu Theresia melepaskan bibirnya dan menatap suaminya lekat-lekat.
"Terima kasih buat apa?" tanyanya ingin tahu. Dahinya berkerut tanda penasaran.
Suaminya tersenyum hangat. "Terima kasih sudah berjuang untuk anak kita. Valentina beruntung sekali mempunyai ibu yang pantang menyerah seperti dirimu."
"Oh, itu," sahut Theresia sembari tersenyum lebar. "Kalau begitu, aku minta dihibur," ucapnya manja. "Disenang-senangin, dipuas-puasin...."
__ADS_1
"Siap, Madam!" seru Jonathan.
Dicumbunya bibir sang istri dengan buas, sementara tangannya dengan lincah masuk ke dalam blus wanita itu. Theresia merasakan jari-jari suaminya dengan mahir melepaskan pakaian dalamnya. Sentuhan-sentuhan pria itu pada sepasang bukit kembar ranumnya membuat hasratnya bergelora.
Dilepaskannya kancing blusnya satu-persatu. Jonathan membantunya melucuti rok dan panty-nya. Beberapa saat kemudian tubuh sintal wanita itu sudah polos tanpa sehelai benang pun. Giliran dia yang membantu suaminya melepaskan kaos oblong dan celana pendeknya.
Demikianlah sepasang suami-istri yang semakin saling mencintai itu meluapkan hasrat masing-masing sekaligus berupaya memuaskan pasangannya. Sentuhan, belaian, ciuman, maupun sedikit gigitan membuat keduanya larut dalam keintiman yang seksi, menggairahkan, dan menyatukan batin mereka sebagai pasangan yang tak lekang oleh waktu.
***
"Aku lelah, Mas," keluh Theresia pada suaminya. Sudah satu tahun dia menetap di Singapore demi melakukan program perawatan kaki Valentina. Hasilnya tetap nihil. Bocah berusia tiga setengah tahun itu masih lumpuh.
Ibunya benar-benar putus asa kali ini. Rasa pening di kepalanya kumat lagi. Hampir setiap hari dia minum obat pereda rasa sakit. Seperti kali ini. Jonathan tampak cemas.
"Sayang," ucapnya hati-hati. "Kurasa kamu sebaiknya berhenti minum obat itu. Tidak baik bagi kesehatanmu."
"Bukankah ini sesuai resep dokter spesialis saraf yang tempo hari kudatangi, Mas?"
"Iya. Tapi bukankah dokter itu juga menganjurkan supaya dirimu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh? MRI, Citi Scan, atau apalah yang tertera dalam surat pengantar yang diberikannya padamu."
"Nggak, ah. Aku nggak apa-apa, kok. Cuma pusing biasa."
"Pusing biasa kok setiap hari?"
"Karena...ehm...aku terlalu tegang kali," jawab Theresia asal-asalan. Dia lalu memejamkan mata dan menarik napas panjang. Lalu dihembuskannya pelan-pelan hingga merasa lega. Dilakukannya berulang-ulang sampai dirinya merasa tenang.
__ADS_1
Jonathan memperhatikan istrinya dengan perasaan iba. Dia telah berjuang banyak untuk anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Betapa mulianya hatimu, Istriku, puji laki-laki itu dalam hati.