Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Jonathan Penasaran Siapa Pacar Mimin


__ADS_3

Dilihatnya Mina yang tengah menatapnya dengan ekspresi datar. Laki-laki itu tersenyum dan menyapanya ceria, "Hai, Min. Lama nggak kelihatan. Apa kabarmu? Tumben nggak ganti model rambut lagi."


Mina yang rambutnya kini berwarna hitam alami dan lurus sebahu itu menggeleng. "Bosan," jawabnya singkat. Lalu diulurkannya tangannya pada Jonathan sambil berkata, "Selamat, ya. Udah jadi Papa. Kedengarannya tadi kamu sama istrimu heboh banget mengurus anak kalian."


"Iya, nih. Hehehe...," sahut Jonatahan membenarkan. "Melelahkan, tapi asyik juga. So fun. Kamu sendiri gimana? Kata Bastian, kamu juga jarang nge-gym akhir-akhir ini. Asyik pacaran terus, ya? Hahaha...."


"Heh, kamu!" seru perempuan itu sembari berpura-pura memelototi Bastian. "Jangan bikin gosip sembarangan, ya."


"Hush! Galak bener," tukas Bastian tidak mau kalah. "Entar kalau ketahuan siapa cowokmu sama si Jon, baru tahu rasa! Hehehe...."


"Emang siapa cowok baru Mimin, Bas?" tanya Jonathan penasaran. "Aku kenal?"


"Nggak tahu, Bro," jawab laki-laki itu jujur. "Cuma pekerjaannya sebagai marketing properti kan, Min? Seharusnya Jonathan kenal. Atau setidaknya kamu pernah melihat dia di pameran atau acara product knowledge properti. Orangnya masih muda banget, cakep, tinggi...."


"What?!" seru Jonathan tak percaya. Dia terbelalak menatap Mina yang diam tak berkutik. "Kamu pacaran sama berondong, Min? Hebat! Beda berapa tahun?"


"Dikit aja," sahut perempuan itu singkat. "Dia marketing dari kantor properti kecil, kok. Kamu nggak bakalan kenal. Udah dulu, ya. Aku mau pulang."


"Cieee.... Yang mau dijemput sama cowok tercintaaa...," ledek Bastian iseng.


"Jahil banget, sih! Udah, ah. See you next time, guys!"


Tanpa ba bi bu lagi, Mina langsung cabut meninggalkan kedua sahabatnya yang masih asyik berolahraga.


"Kamu udah dikenalin sama pacarnya Mimin, Bas?" tanya Jonathan heran. "Kok kayaknya dia nggak suka cowoknya itu diekspos. Memangnya mereka udah pacaran berapa lama, sih?"


"Nggak jelas juga. Baru minggu lalu aku mergokin dia jalan bareng sama cowoknya itu di mal. Waktu itu aku juga nggak ngeh. Istriku yang melihat mereka duluan. Terus aku diajak nyamperin dan menyapa. Mimin sih, waktu itu biasa-biasa aja. Dia langsung ngenalin pacarnya. Namanya Eric."


"Hah, Eric? Yang benar!" seru Jonathan tak percaya. Masa Eric yang itu? pikirnya curiga.

__ADS_1


"Iya, Eric," sahut Bastian menegaskan. Kini dia yang balik keheranan menatap Jonathan. "Kenapa? Kamu kenal? Ya wajar, sih. Kan sama-sama orang properti."


"Aku cuma kenal satu Eric yang berprofesi sebagai marketing properti. Umurnya memang jauh lebih muda dariku. Sekitar dua puluh lima tahunan. Orangnya tinggi, cakep, badannya gede. Tapi..., dia itu pacarnya Karin!"


"Hah?! Apa katamu, Jon?"


Jonathan mengangguk tegas. Kini hatinya menjadi tidak tenang. Masa iya, ini kebetulan biasa? Pacar Karin dan Mina sama-sama bernama Eric dan berprofesi sebagai marketing properti di kota ini? Ia bertekad akan mencari tahu siapa Eric yang menjadi kekasih Mina itu sebenarnya.


***


Jonathan tidak tahu harus menyelidiki dari mana tentang siapa kekasih Mina yang sesungguhnya. Masa aku harus seperti adegan di film-film membuntuti Mimin seharian sampai dia bertemu dengan pacarnya? pikir laki-laki itu ogah-ogahan. Ah, malasnya.


Tiba-tiba sebuah gagasan cemerlang singgah dalam benak laki-laki itu. Dia tersenyum cerah. Diraihnya ponsel di atas meja untuk menelepon Mina. Begitu mendengar cempreng sahabatnya itu, segera diutarakannya maksudnya untuk mengajak perempuan itu dan kekasihnya makan siang bersama.


"Hah? Dalam rangka apa memangnya?" tanya perempuan itu tak mengerti. Dia masih berada di tempat kerjanya mengurus laporan akunting.


Dia sungguh berharap sahabatnya itu akan menerima ajakannya, agar perasaannya tak lagi bertanya-tanya siapakah kekasih Mina yang sebenarnya.


"Ya udah. Terserah," jawab Mina singkat.


Hati Jonathan bersorak-sorai kegirangan. Setelah berhasil menenangkan diri, laki-laki itu berkomentar, "Sip deh, kalau gitu. Besok siang bisa? Jam setengah satu di...."


Disebutkannya nama restoran masakan Jepang yang letaknya di tengah-tengah antara kantornya dengan kantor Mina. Tujuannya supaya tidak kejauhan bagi mereka berdua.


"Beres, Bro," jawab perempuan itu singkat. "Sampai ketemu besok di sana."


"Ok, Min. Thank you. Bye."


Jonathan lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Hatinya merasa agak lega. Besok dirinya takkan bertanya-tanya lagi siapakah pacar Mina yang sesungguhnya.

__ADS_1


***


"Lho, kamu kok datang sendirian, Min?" tanya Jonathan keesokkan harinya di restoran masakan Jepang. Ia merasa kecewa sahabatnya tidak mengajak kekasihnya yang bernama Eric.


"Cowokku tiba-tiba ditelepon kliennya. Dia minta maaf tidak bisa datang hari ini. Sori, ya," jawab Mina menjelaskan.


"Kalau begitu, kita atur waktu lagi aja. Gimana?" tanya pria di depannya menawarkan.


Mina mengernyitkan dahi. "Kenapa kamu ingin sekali bertemu pacarku, Jon?" tanyanya ingin tahu. Ditatapnya tajam sahabatnya. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Jon mengajakku dan Eric makan bersama bukan untuk mengajaknya bergabung sebagai marketing di kantor kami, batinnya curiga. Dia mempunyai maksud lain.


Teman SMA Jonathan itu menghela napas panjang. Sepertinya semuanya sudah tak bisa lagi disembunyikan. Bangkai busuk ditutupi bagaimanapun caranya tetap akan tercium juga baunya.


"Jon," ucapnya lirih. "Apa tujuanmu sebenarnya mengundangku dan Eric makan siang? Aku merasa maksudmu bukan sekadar mengajar pacarku itu bergabung dengan kantor kita."


Pria di hadapannya tercenung selama beberapa saat. Mimin sudah curiga, cetusnya dalam hati. Baiklah, akan kukatakan saja maksudku yang sebenarnya.


"Kamu benar, Min," akunya kemudian. "Aku sebenarnya ingin tahu apakah kekasihmu orangnya sama dengan Eric yang kukenal. Karena deskripsinya mirip. Lebih muda dari kita, tinggi, cakep...."


"Dan pernah menjalin hubungan dengan Karin," sela Mina tiba-tiba memotong ucapan sahabatnya.


Jonathan terkesiap. "Karin? Kenapa kamu menyebut-nyebut nama perempuan murahan itu? Kamu tahu kan, aku sangat membencinya!" semprotnya tidak terima.


"Kalau begitu buat apa kamu mencari-cari tahu tentang Eric-ku?" sergah Mina tak mau kalah. "Ngaku saja kamu mau memastikan bahwa Eric-ku dan Eric-nya Karin adalah orang yang berbeda! Jadi kamu benar-benar bisa melupakan perempuan yang katamu murahan itu."


"Kamu...kamu...."


"Memangnya aku kenapa, John? Dengar, ya. Mau pacaran sama siapapun, itu urusanku. Yang penting aku tidak berbahagia di atas penderitaan orang lain! Aku dan Eric sama-sama lajang dan tidak terikat hubungan percintaan dengan siapapun. Beda sama kamu yang memacari Karin padahal belum resmi bercerai dengan Theresia. Pantas saja istrimu itu naik pitam dan mengintimidasi pacarmu yang malang!"


Kerongkongan Jonathan tercekat. Dia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Theresia mengintimidasi Karin? Yang benar saja!

__ADS_1


__ADS_2