
Selanjutnya dia terduduk seperti dalam posisi bersujud. Tangan kanannya memegang dada kirinya. “Aaarrggghhh….”
“Papaaa!” seru Theresia seraya melepaskan pisaunya. Perempuan yang kondisi mentalnya kurang stabil itu langsung menghambur ke arah ayahnya dan memeluknya erat-erat. Simon segera memberi isyarat kepada istrinya untuk menyingkirkan pisau yang jatuh ke lantai. Mila mengangguk mengerti. Diambilnya benda tajam yang hampir menimbulkan malapetaka itu dan diberikannya pada Bi Sum yang berjalan mendekatinya.
“Mulai sekarang, simpan semua pisau baik-baik sehabis memasak. Jangan sampai ditemukan oleh Nyonya There,” pesannya kepada pembantu senior tersebut. Bi Sum menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan segera menghilang dari ruang keluarga itu bersama rekan-rekan sekerjanya.
“Bagaimana keadaan Papa? Jantung Papa sakit, ya?” tanya There dengan wajah bersimbah air mata.
Ayahnya mengangguk lemah. “Tolong bantu Papa berdiri. Papa mau duduk di sofa.”
Putri tunggal Simon itu mengangguk dan memapah ayahnya dengan bantuan Mila. Begitu laki-laki tua itu sudah duduk bersandar pada sofa dan bernapas dengan teratur, diajaknya anaknya itu berbicara dari hati ke hati.
“Nak, kamu sudah dewasa. Umur sudah tiga puluh tahun lebih dan mempunyai suami yang baik. Apalagi yang kamu inginkan?”
Sambil menangis tersedu-sedu, putrinya itu menjawab sedih, “There mau punya anak, Pa. Tapi mana mungkin. Semua dokter sudah memvonis There mandul dan terapi-terapi yang There jalani tak satu pun membuahkan hasil.”
“Kalau kamu memang tidak dianugerahi Tuhan untuk mempunyai keturunan, mengapa tidak mengadopsi anak saja? Suamimu sama sekali tidak keberatan.”
“There malu, Pa! Teman-teman There semuanya bisa punya anak. Mereka bahkan kalah cantik, pintar, maupun kaya dibandingkan There. Tapi kenapa justru There yang dibuat mandul oleh Tuhan? Sungguh tidak adil!”
“Justru karena Tuhan itu adil, Nak, makanya teman-temanmu itu dianugerahi anak untuk menutupi kekurangan-kekurangan mereka. Di dunia ini tak ada orang yang sempurna, There. Mengertilah, Nak. Belajarlah untuk menerima kenyataan!”
Theresia terdiam mendengar ucapan-ucapan keras ayahnya. Ibu tirinya tidak berani mengucapkan sepatah kata pun untuk membenarkan pendapat Simon. Ia kuatir There akan kembali emosional jika melihatnya turut campur.
“Kamu lihat Tante Mila ini,” kata laki-laki berkepala botak itu seraya mengarahkan dagunya pada istrinya. “Dia dulu menikah dua puluh tahun lebih dan tidak dikaruniai anak. Mila dan suami pertamanya menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Kehidupan rumah tangga mereka tetap bahagia sampai suaminya meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang. Bukankah begitu, Mila?”
__ADS_1
Istrinya mengangguk membenarkan. Selanjutnya dia tetap membungkam mulutnya rapat-rapat karena takut salah bicara.
“Ketahuilah, There. Jonathan tidak pergi kemana-mana. Dia kuminta tinggal di rumah Papa untuk sementara waktu sampai masalah rumah tangga kalian dapat diselesaikan dengan baik.”
Theresia mendelik. “Papa membela Mas Jon?” tanyanya tidak terima. Aku ini anak kandungnya, tapi yang dibelanya justru menantu yang sama sekali tidak memiliki pertalian darah dengannya! pikir perempuan itu gemas.
“Tenangkanlah dirimu, Anakku,” sahut Simon sambil kembali mengelus-elus dadanya. Theresia yang melihat hal itu langsung meredam amarahnya. Dia tidak ingin ayahnya kenapa-napa akibat ulahnya.
“Aku baru kali ini melihatmu begitu histeris dan bahkan berani mengancam suamimu dengan benda tajam, There. Tak kusangka mentalmu begitu tak stabil. Pantas suamimu tak tahan lagi tinggal seatap denganmu. Kalau saja Mila memperlakukanku sebagaimana kau memperlakukan Jonathan, kurasa sudah sejak lama aku pergi meninggalkannya!”
Lagi-lagi Simon mengelus-elus dadanya. Ia tahu itulah jurus yang ampuh untuk membuat anaknya yang manja ini patuh. There takut sekali kalau sampai terjadi hal buruk pada ayahnya. Siapa lagi yang akan menjadi bekingnya kalau orang tuanya itu sudah tidak ada?
Mila mengambilkan dua gelas air putih untuk suami dan anak tirinya. Disodorkannya pada Theresia terlebih dahulu. Wanita muda itu langsung menerimanya dan menenggak isinya sampai habis tak tersisa. Lalu Mila membantu suaminya minum dengan perlahan-lahan.
“Apa itu, Pa?”
“Pertama, dia ingin kamu kembali melakukan konseling secara rutin pada psikiater dan mengkonsumsi obat yang diberikan sesuai dosis yang dianjurkan.”
Tanpa perasaan keberatan, Theresia menggangukkan kepalanya. Rasanya aku memang membutuhkannya, akunya dalam hati.
“Baiklah, Pa. Lalu apa syarat yang kedua?”
“Dia ingin kau kembali menjalani terapi meditasi dan meninggalkan komunitas sosialita-mu.”
Heh?! Terapi meditasi itu masuk akal, tapi buat apa komunitas sosialitaku dibawa-bawa? pikir istri Jonathan itu tak mengerti.
__ADS_1
“Suamimu merasa kamu selalu menumpahkan kekesalanmu padanya jika kamu tidak berhasil mengungguli kelebihan-kelebihan yang dipamer-pamerkan kawan-kawan jetset-mu itu.”
Theresia tercenung sesaat. Yah, dia memang harus mengakui bahwa demikianlah keadaannya. Kedudukannya sebagai anak tunggal membuat egonya begitu tinggi dan tak suka diungguli orang lain. Siapa lagi yang bisa menjadi tempatnya menumpahkan kekesalan kalau bukan pasangan hidupnya sendiri?! Tapi sepertinya kini giliran dia yang harus mengalah. Daripada nanti penyakit ayahnya kambuh dan membuatnya semakin tidak punya pegangan, akhirnya wanita itu memutuskan untuk mengabulkan permintaan yang kedua itu.
“Baiklah, Pa. Syarat yang kedua akan There penuhi.”
“Selanjutnya syarat yang ketiga….”
“Banyak sekali syarat yang diajukan Mas Jon, Pa?!”
Simon mendelik tanda tidak suka kalimatnya disela begitu saja. Putrinya langsung menundukkan kepalanya dan meminta maaf.
“Syarat yang ketiga adalah Jonathan minta agar kamu bersikap mandiri dalam menjalani pengobatan dan terapi. Jangan mengusiknya pada jam kerja. Barangkali jika kau mengajaknya di luar jam kantor, dia masih bersedia menemanimu, Nak. Tapi aku setuju dengan pendapatnya bahwa kamu harus mandiri dalam mengobati penyakitmu sendiri. Jangan mengandalkan bantuan orang lain terus-menerus. Mengerti?”
Dengan ogah-ogahan Theresia terpaksa menganggukkan kepalanya. Dia tahu sudah tak ada pilihan lain selain mematuhi ucapan ayahnya, sang penguasa.
“Dan yang terakhir…ini bukan persyaratan yang diajukan suamimu, Anakku. Tapi sebuah peringatan….”
Suasana menjadi tegang seketika. Hati Theresia tiba-tiba dilanda perasaan tidak enak. Peringatan apa? Ada-ada saja Mas Jon ini. Dia sengaja memanfaatkan kesempatan di depan Papa, pikirrnya sebal.
“Suamimu menegaskan bahwa ini adalah untuk, terakhir kalinya dia memberikan kesempatan padamu. Apabila suatu saat kamu kembali berulah, maka semuanya benar-benar berakhir. Pada saat itu aku pun tidak dapat membantumu, There. Papa juga seorang laki-laki. Papa memahami perasaan Jonathan yang sakit hati akibat kamu injak-injak harkat dan martabatnya terus-terusan. Kamu mengerti, Anakku?”
Sekali lagi Theresia menganggukkan kepalanya. Namun kali ini raut wajahnya kelihatan gelisah dan agak takut. Bagaimana jika suatu saat kelak aku tanpa sengaja kembali membuat kesalahan? pikirnya cemas. Keringat dingin mengalir deras di wajahnya.
“Jangan kuatir, Anakku,” ucap ayahnya lembut seolah-olah dapat membaca isi hati putri kandungnya itu.
__ADS_1