
Beberapa saat kemudian terlontarlah berita duka dari mulut laki-laki itu. Karin amat terkejut mendengarnya. “Kasihan sekali,” cetusnya turut berduka. Meskipun dia baru sekali bertatap muka dengan Simon Hidayat dan langsung di-PHK oleh orang tua itu, namun dalam hatinya tak sedikit pun tersimpan perasaan dendam. Jonathan sudah bercerita bahwa sang ayah mertua rupanya mencium gelagat tak biasa dari hubungan menantunya dengan Karin.
“Bukankah Pak Simon dulu sudah pernah melakukan operasi bypass jantung, Mas? Menurut Tante Rosa, beliau dirawat dengan baik oleh istri barunya. Kenapa sampai bisa terkena serangan lagi? Apakah ada kejadian luar biasa yang memicunya?” tanya gadis itu penasaran.
Sang kekasih lalu menceritakan tentang asal-muasal kejadian naas tersebut. Bahwa Theresia semula bermaksud datang menemui Lusia di kantornya dengan tujuan meminta pengacara itu mundur dari kasus perceraiannya. Hal itu rupanya membuat Simon naik darah hingga memukuli anaknya itu. Akibatnya pria yang memiliki riwayat penyakit jantung itu pun terkena serangan yang menyebabkan dirinya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit.
“Tragis sekali nasibnya, Mas. Aku turut berduka. Oya, apakah Tante Rosa sudah tahu? Coba kutelepon dia,” kata Karin sembari meraih ponselnya dan menelepon tantenya.
Terdengar nada sambung beberapa kali sebelum akhirnya suara Rosa menyapa, “Halo, Karin.”
“Tante Rosa, apakah Tante sudah tahu bahwa Pak Simon baru saja meninggal dunia?”
“Apa? Ya, Tuhan! Apa penyebabnya, Rin?”
Sang keponakan lalu memberitahu bahwa mantan atasan tantenya itu mengalami serangan jantung di rumahnya. Dia sempat dibawa ke rumah sakit namun dokter sudah angkat tangan karena kondisinya sudah parah.
“Kasihan sekali, Pak Simon. Aku akan mengajak Om Bernard melayatnya. Oya, bagaimana kamu bisa tahu, Rin?”
Gadis itu terdiam. Dia merasa canggung sekali, tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan tantenya. Rosa yang tidak mendengar jawaban dari keponakannya merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Jangan-jangan….
“Apa kamu diberitahu Pak Jonathan, Rin? Kamu sedang bersama dia sekarang?” tanya sang tante menyudutkan. Firasatnya mengatakan bahwa gadis yang menjadi tanggung jawabnya sejak orang tuanya meninggal dunia itu sedang berduaan dengan laki-laki yang masih berstatus suami orang itu.
“I…iya, Tante,” jawab Karin gugup. Dia tak sanggup berbohong pada orang yang telah berjasa membesarkannya sejak dia berusia lima belas tahun.
__ADS_1
“Kalian berdua saja?” cecar Rosa lagi.
“Iya, Tante,” sahut si gadis pasrah. Pelipisnya mulai berkeringat. Dia tidak berani menjawab terlalu panjang karena kuatir Jonathan mendengarnya.
“Di rumah?”
“Bukan.”
“Lalu di mana?”
Karin terdiam lagi. Hati Rosa hancur seketika. Perempuan setengah baya itu menghela napas panjang. Dengan perasaan kecewa ia berkata, “Kamu berada di tempat tinggal Pak Jon? Di apartemen barunya?”
“Betul, Tante.”
Sang keponakan menggigit bibirnya. Dia benar-benar cemas akan reaksi bibinya. Bagaimanapun juga Rosa sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.
“Terima kasih, Tante,” ucap Karin bersyukur Rosa tidak memarahinya. Diliriknya Jonathan yang masih duduk melamun di sisinya. Seperti masih tidak percaya bahwa sang ayah mertua yang bijaksana telah tiada.
“Mungkin besok atau lusa Tante akan mengajak Om Bernard melayat Pak Simon. Apakah kamu mau pergi bersama kami atau dengan Pak Jonathan?” tanya Rosa bijak. Dia tahu keponakannya itu pasti akan merasa risih kalau melayat bersama kekasihnya. Bagaimanapun di sana ada Theresia, wanita yang secara hukum masih berstatus istri sah laki-laki itu.
“Saya…saya pergi sama Tante dan Om saja,” putus Karin lega. “Besok Karin kontak Tante lagi, ya.”
“Baiklah kalau begitu,” pungkas tantenya mengakhiri obrolan. Namun kemudian tercetus kalimat-kalimat yang membuat hati sang keponakan bergetar, “Hati-hati ya, Karin. Tuhan memberkatimu.”
__ADS_1
“Te…terima kasih, Tante,” jawabnya terbata-bata. Lalu segera dimatikannya sambungan teleponnya. Gadis itu langsung menyandarkan kepalanya pada dada bidang Jonathan. “Mas Jon benar-benar nggak akan ninggalin Karin, kan?” tanyanya gelisah. Dipeluknya tubuh kekar sang kekasih erat-erat.
Dirasakannya pria itu mencium ubun-ubunnya, rambut, lalu turun ke lehernya yang jenjang. Karin terkekeh geli. Dia bisa merasakan bahwa Jonathan benar-benar mencintainya.
“Karin, aku ini sudah nggak muda lagi. Sebentar lagi menjadi duda pula. Justru aku yang seharusnya takut kau tinggalkan. Kamu masih muda, segar, cantik, dan pintar. Pria mana yang takkan terpesona padamu, Sayang,” puji Jonathan bertubi-tubi. Apa yang dikatakannya memang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ada kalanya dia justru merasa kuatir gadis ini akan meninggalkannya karena tak sabar menunggu proses perceraian yang tak kunjung selesai.
Karin tersenyum lega. Maafkan Karin, Tante. Sudah mengecewakan sekali, sesalnya dalam hati. Tapi cinta datang begitu saja di antara Karin dan Mas Jon. Kami tak sanggup menolaknya….
“Besok Mas Jon melayat Pak Simon sendirian, ya. Aku akan datang bersama Tante Rosa dan Om Bernard. Nggak enak dilihat Bu Theresia kalau kita berangkat berdua ke sana,” ujarnya terus terang.
Sang kekasih mengangguk mengiyakan. Lebih baik begitu, pikir pria itu setuju. Daripada nanti There curiga kalau aku dan Karin berpacaran, dia malah semakin mengulur-ulur proses perceraian.
Tiba-tiba terdengar suara perutnya berbunyi. “Udah lapar ya, Mas?” tanya Karin sambil tersenyum. “Ayo makan sekarang. Sudah siap tuh, rawonnya. Ada sambal pedas kesukaanmu juga, lho.”
“Terima kasih banyak, Rin,” sahut Jonathan sembari mengecup dahi gadis itu lembut. “Kamu selalu mendampingiku di saat-saat sulit. Kalau tidak ada kamu, entah bagaimana aku bisa bangkit kembali seperti sekarang.”
“Itu karena…I love you so much!” cetus Karin seraya mengecup bibir pria itu sepenuh hati.
“I love you so much, too,” balas sang pria lalu memeluknya erat-erat seakan-akan tak hendak dilepaskannya lagi. Hatinya yang berduka akibat kepergian sang ayah mertua untuk selamanya sedikit terobati dengan kasih sayang gadis yang tak pernah lepas dari sisinya ini.
Seandainya Tante Rosa berada di sini, jerit Karin dalam hati. Tante bisa melihat betapa kami berdua saling mencintai. Tolong restui kami ya, Tante. Karin mohon….
***
__ADS_1
Hari-hari berikutnya Jonathan sibuk membantu di tempat persemayaman jenazah ayah mertuanya. Walaupun desas-desus perceraiannya dengan putri sang konglomerat sudah tersebar, namun pria yang sudah berpengalaman dalam bisnis itu tidak canggung menyapa dan melayani mantan klien perusahaan-perusahaan yang dulu pernah dipimpinnya, pejabat, maupun orang-orang penting yang datang untuk menunjukkan bela sungkawa.
Bastian datang melayat bersama istrinya. Sedangkan Mina tidak kelihatan batang hidungnya. “Dia takut There nggak suka melihatnya datang,” kata Bastian memberitahu sahabatnya.