
"Itu dia kan pakai anting-anting," sahut Jonathan seraya menunjuk ke arah sepasang perhiasan emas mungil berbentuk lingkaran yang melekat pada masing-masing telinga bayi tersebut.
Theresia terkekeh geli. "Oh, iya. Aku sampai lupa. Saking terpesonanya dengan bayi manis ini," katanya sambil menicum pipi si bayi berulang-kali.
"Boleh aku menggendongnya?" tanya sang suami menawarkan diri. Istrinya mengangguk.
"Hati-hati ya, Mas," pesannya. "Anak ini masih rapuh sekali."
Jonathan mengangguk. Theresia lalu memindahkan putri kecil itu pelan-pelan ke dalam gendongan suaminya. Entah kenapa dada laki-laki itu berdesir halus saat berada begitu dekat dengan bayi yang masih merah itu. Seperti ada ikatan batin yang sanga kuat antara mereka berdua.
"Wow, kamu luwes sekali menggendongnya, Mas. Seakan-akan sudah biasa melakukannya," komentar sang istri menyaksikan suaminya menimang-nimang si bayi sambil bergerak-gerak pelan.
Sang suami nyengir mendengar pujian itu. "Akan kita namakan siapa anak ini, Sayang? Apakah kamu sudah menyiapkannya?" tanyanya pada Theresia.
Wanita itu menatapnya serius. "Ibu kandung anak itu menitip pesan untuk memberinya nama Valentina, yang artinya kasih sayang. Bagaimana menurutmu, Mas Jon? Terus terang aku sudah menyetujui demi membuatnya tenang memberikan anaknya pada kita. Cuma kalau kamu merasa kurang sreg, kurasa nggak apa-apa ditambahi nama depan yang kau suka. Misalnya Cindy Valentina, Monic Valentina...."
"Valentina Aditya!" seru Jonathan mengambil keputusan. Nama Valentina dipakainya dengan tambahan nama keluarganya. "Arti nama itu bagus. Aku suka. Lagipula nggak ada salahnya kita menghormati permintaan ibu kandung anak ini. Bagaimanapun juga kita harus berterima kasih atas pengorbanannya. Apakah kamu sudah memberikan kompensasi materi kepadanya, There?"
Sang istri termangu. "Aku sudah menawarkan sejumlah uang yang besar untuk biaya melahirkan dan adopsi. Tapi...sang ibu dan keluarganya dengan tegas menolak pemberianku, Mas."
"Oya?" tanya Jonathan terperangah. Dia tahu istrinya ini bukan orang yang pelit. Apalagi demi mempunyai anak yang selama ini sangat didambakannya. Theresia pasti telah menyiapkan sejumlah dana yang nilainya fantastis demi menebus bayi ini. Tapi kok malah ditolak oleh ibu kandung dan keluarganya sendiri? Bukankah kehidupan mereka sangat prihatin? Aneh.
"Keluarga Valentina cuma minta agar kita mengasuhnya dengan baik dan penuh kasih sayang seperti anak kandung sendiri, Mas," jawab Theresia lirih.
__ADS_1
Diam-diam wanita itu menelan ludah. Dia teringat pada ekspresi wajah Karin tadi siang saat menyerahkan Valentina kepadanya.
"Saya sudah melaksanakan tugas dengan baik, Bu Theresia," ucap gadis itu tegar. Wajahnya masih agak pucat. Tatapan matanya begitu bersungguh-sungguh. "Tolong jaga anak ini baik-baik. Kalau boleh, saya mau mengajukan dua buah permintaan," katanya lirih. Ditatapnya Theresia dengan sorot mata memohon.
"Akan kupertimbangkan, Karin," jawab wanita di depannya acuh tak acuh. Dia masih takjub menimang bayi mungil dalam pelukannya.
"Pertama...kalau boleh, berikan nama Valentina pada anak ini. Artinya kasih sayang. Karena dia lahir sebagai buah cinta kasih orang tuanya."
Theresia hampir naik pitam mendengar ucapan gadis itu. Buah cinta kasih? Cuih! Berani-beraninya kau mengatakan hal itu di depanku, Perempuan Murahan! maki wanita itu dalam hati.
Namun berusaha ditahannya amarahnya. Dia tak boleh mengacaukan semuanya. Si bayi yang diidam-idamkannya telah lahir dan kini telah berada di tangannya. Sebentar lagi dia akan membawanya pulang ke rumah. Akan diperkenalkannya bayi ini pada suaminya sebagai anak adopsi mereka.
"Lalu permintaan saya yang kedua adalah, tolong biarkan Valentina memakai anting-anting emas itu sampai dia besar. Kalau sudah tidak cukup, saya mohon Bu Theresia bersedia menyimpannya. Berikan pada anak saya nanti saat dia sudah dewasa. Meskipun dia tak mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, namun saya ingin menyertainya melalui anting-anting itu...."
Karin meringis mendengar ucapan agak meninggi wanita itu. Dia lalu berkata lirih, "Valentina dan rasa sakit yang saya derita benar-benar tak ternilai harganya, Bu Theresia. Sudahlah. Tak perlu beri saya apa-apa. Tepati saja janji Ibu untuk mengasuh anak saya dengan baik. Sekarang tolong tinggalkan tempat ini sebelum saya menjadi semakin sedih."
Theresia akhirnya beranjak meninggalkan kamar tempat Karin dirawat itu sambil membawa bayi dalam gendongannya. Perasaannya berkecamuk tak karuan. Terbersit sedikit perasaan bersalah dalam sanubarinya karena telah memisahkan bayi tak berdosa ini dengan ibu kandungnya.
Tapi aku tak punya pilihan lain! tukasnya dalam hati membela diri. Hanya ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan perkawinanku dengan Mas Jonathan.
"There, There.... Kamu kok melamun, Sayang? Mikirin apa?"
Pertanyaan Jonathan seketika menyadarkan Theresia dari lamunannya. Dia lalu tersenyum manis dan memandangi suaminya penuh cinta.
__ADS_1
"Aku terpukau dengan kebaikan Tuhan pada kita, Mas," jawabnya ceria. "Benar-benar kubersyukur atas anugerahNya yang bertubi-tubi. Mempersatukan kita kembali, memberkati perkawinan kita dengan kehadiran anak ini.... Apa lagi yang dapat kuminta padaNya? Semuanya terasa sudah sempurna, Mas. Sungguhsempurna!"
Sang suami mengangguk setuju. Dia sendiri merasa sangat terharu dengan kebaikan Sang Pencipta. Meskipun jalan yang harus dilaluinya untuk mencapai kebahagiaan ini sangat berlika-liku, namun hasilnya sungguh sepadan.
Dikecupnya dahi Theresia penuh kasih. Lalu pasangan suami-istri itu saling berangkulan mesra. Mereka menatap bahagia Valentina yang tengah tidur nyenyak dalam dekapan ayah kandungnya....
***
"Wah, selamat ya, Bro. Sudah jadi papa sekarang. Bravo!" seru Bastian seraya menyalami sahabatnya. "Pantas sekarang jarang nge-gym. Jadi ayah siaga rupanya. Hehehe...."
Jonathan terkekeh. "Jadi papa ternyata memang nggak gampang. Tengah malam aku harus bergantian dengan There memberi Valentina susu. Minumnya banyak sekali anak itu. Cepat lapar pula. Tiap dua setengah jam pasti nangis minta susu. Diapernya juga cepat penuh."
"Hahaha..., jadi kamu mau juga mengganti diaper anakmu, Jon? Luar biasa! Dahsyat, Man."
"Lha, memang dulu kamu nggak pernah melakukannya, Bas?"
"Pernah. Tapi jarang sekali. Dulu aku kan masih marketing biasa yang mengejar omzet penjualan terus setiap hari, Jon. Pulang-pulang badanku sudah kecapekan banget. Pengasuhan anak-anak kupercayakan sepenuhnya pada istri yang dibantu asisten rumah tangga. Beda denganmu yang baru punya anak setelah kondisi finansial mapan. Jadi bisa menikmati suka-dukanya mengasuh seorang bayi. Hehehe.... Ngomong-ngomong, kok kalian nggak mempekerjakan baby sitter saja? Biar nggak terlalu repot."
"There nggak mau," jawab Jonathan jujur. "Dia bilang ingin benar-benar menikmati suka-duka menjadi seorang ibu. Meskipun tidak mengandung dan melahirkan sendiri, istriku itu benar-benar menyayangi Valentina dengan sepenuh hati, Bas."
"Syukurlah kalau begitu," celetuk seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
Jonathan menoleh.
__ADS_1