
Mina mendelik sewot pada pemuda yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya itu. "Eh, bukannya merahasiakan, ya. Cuma kita berdua kan lagi masa penjajakan. Selama proses itu segala sesuatu mengenai diri masing-masing dibuka pelan-pelan. Kalau cocok, ya lanjut...."
"Kalau nggak cocok?" timpal Eric sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Ya, sayonara-lah. Kayak kamu sama Karin, kan?"
Karin nyengir menyaksikan pertengkaran kedua tamunya. Dia merasa sedikit terhibur. Namanya jodoh, takkan lari kemana, cetusnya dalam hati. Siapa yang menduga Mbak Mina akan menjalin hubungan dengan mantan pacarku? Benar-benar tak terduga cara kerja Tuhan dalam kehidupan manusia.
"Gimana ceritanya kalian bisa saling kenal?" tanyanya ingin tahu.
Mina menoleh pada Eric. "Kamu aja yang cerita, gih," pintanya manja.
Sang kekasih mengangguk. Ia lalu berpaling pada Karin. "Mina ini teman baik kakak iparku. Dia sering dimintain tolong datang ke rumah untuk merias kakak ipar setiap kali ada undangan pesta. Kalau ketemu gitu, kita suka bercanda. Akhirnya terjadilah deh, cinta lokasi. Hehehe...," jelas pemuda itu cengengesan. Ekspresi wajahnya kelihatan sangat bahagia menceritakan kisahnya berkenalan dengan wanita yang duduk di sebelahnya.
Karin bersyukur mantan kekasihnya itu akhirnya berhasil move-on dari masa lalunya. Cuma memang tak disangkanya ternyata wanita yang berhasil membuat hatinya tergetar lagi adalah Mina, orang yang sudah dianggap kakak sendiri oleh Karin. Jodoh memang bisa datang dari mana saja dan tak terduga, cetus Karin dalam hati. Eric yang selama beberapa tahun terakhir tinggal di rumah kakak kandungnya yang telah menikah akhirnya mendapatkan jodoh teman baik kakak iparnya sendiri.
Semoga hubungan mereka langgeng, doa Karin dalam hati. Sesungguhnya Eric adalah pemuda yang baik, saking mungkin dulu khilaf mengkhianatiku dengan perempuan lain. Ah, dulu dia kuputuskan karena seorang perempuan menuduhnya telah menghamilinya. Sekarang malah aku yang dihamili oleh kekasihku sendiri, sesal gadis itu dalam hati. Karmakah ini? Dulu aku menghakiminya karena telah berbuat tak senonoh sebelum menikah. Ternyata aku sendiri akhirnya melakukannya....
"Karin, lagi mikirin apa? Bumil jangan sering melamun. Bahaya. Mikir yang hepi-hepi aja. Biar janin dalam kandunganmu ikutan hepi," seloroh Mina cengengesan.
Karin tersenyum mendengar ucapan wanita itu barusan. "Selamat ya, Mbak Mina dan Eric. Kalian akhirnya saling menemukan. Semoga hubungan ini langgeng hingga ke jenjang perkawinan," ucapnya setulus hati.
__ADS_1
"Thank you, Rin," sahut Mina lugas. "Sori lho, aku beneran nggak nyangka Eric ini ternyata pacarmu yang dulu. Kupikir namanya aja yang sama. Tapi nggak apa-apa, kan? Toh, kamu sekarang udah ada Jonathan. Dan yang pasti kamu sama Jon dulu dong, yang nikah duluan. Aku sama Eric mah masih lamaaa...."
Gadis di depannya tersenyum getir. Tanpa terasa sepasang mata indahnya berkaca-kaca dan hidungnya memerah. Kedua tamunya sampai melongo keheranan menyaksikan perubahan ekspresinya.
Akhirnya Karin menceritakan peristiwa yang terjadi siang itu di rumahnya.
"Gila! Jahat sekali Theresia mengancammu seperti itu!" seru Mina penuh amarah. Dia langsung mendekati Karin dan memeluk gadis yang tengah kalut itu. "Tenanglah, Karin. Aku dan Eric akan selalu mendukungmu apapun yang terjadi. Perempuan jahat itu takkan kami biarkan menyakitimu."
"Kalau begitu...tolong bantu aku meninggalkan Mas Jon ya, Mbak Mina," pinta Karin sambil mengusap air matanya. "Lebih tepatnya lagi, aku sebenarnya butuh bantuan Eric. Tapi melihat status kalian sekarang, kurasa aku butuh persetujuanmu, Mbak."
Mina melongo. "Apa maksudmu, Rin?" tanyanya heran. "Aku nggak ngerti."
Dengan dada yang terasa sesak, gadis itu menjawab, "Aku merancang sebuah skenario untuk meninggalkan Mas Jon. Tapi untuk membuatnya percaya bahwa kami sudah tak mungkin bersama, aku butuh bantuan Eric untuk berpura-pura menjadi pacarku lagi."
Bukan cuma Mina yang tersentak mendengar penuturan Karin. Eric yang duduk sendirian di sofa merasa jantungnya seakan berhenti berdetak.
***
Pada waktu yang sama Theresia sedang duduk di sofa ruang keluarganya. Dia tengah menonton saluran televisi asing di TV kabel. Itu merupakan acara talk show komedi Amerika yang sangat terkenal dan merupakan favoritnya.
Dulu dia dan Jonathan suka menontonnya bersama-sama. Tawa mereka biasanya membahana mengisi ruangan berukuran besar tersebut. Kini dia menonton sendirian. Namun pikirannya melayang kemana-mana, tidak fokus pada acara tersebut. Yang terdengar hanyalah suara tawa penonton di TV yang menertawakan aksi kocak sang pembawa acara dan bintang tamu.
__ADS_1
Sepi sekali rumah ini, komentar sang nyonya rumah dalam hati. Dia terkenang akan betapa hidupnya suasana tempat tinggalnya itu tatkala sang suami masih tinggal bersamanya. Terutama di masa awal-awal pernikahan mereka. Setiap hari terasa indah laksana surga.
Dan tahun demi tahun berlalu. Riak-riak kecil maupun besar mereka hadapi. Yang paling parah adalah ketika dia tak mampu menerima kenyataan saat dinyatakan mandul oleh dokter-dokter spesialis kandungan. Harga dirinya hancur, perasaannya terluka. Sejak saat itu sifatnya mulai berubah.
Tolong bantu aku memperbaiki sikap dan perilakuku, Tuhan, doa Theresia tulus dalam hati. Asalkan Kau kembalikan Mas Jon padaku, aku bersedia merendahkan diriku sebagai istrinya. Aku telah melangkah sejauh ini, tak mungkin kembali lagi.
Theresia menghela napas panjang. Maafkan aku, Karin, telah menghalalkan segala cara untuk menekanmu, sesalnya dalam hati. Hal itu terpaksa kulakukan demi mempertahankan rumah tangga yang telah kubina selama sepuluh tahun lebih. Percayalah, kau takkan menyesal menyerahkan anakmu padaku. Akan kuperlakukan dia layaknya hartaku yang paling berharga. Apapun akan kukorbankan demi kebahagiannya.
Mas Jon pun akan kuperlakukan dengan jauh lebih baik dibandingkan dulu. Kepergian dirinya, Papa, dan Tante Mila secara beruntun benar-benar telah membuatku menyadari betapa pentingnya menghargai orang-orang di sekeliling kita.
Papa dan Tante Mila sudah tak mungkin kembali mendampingiku. Tapi Mas Jon masih hidup. Akan kupertaruhkan apapun demi merebutnya kembali, tekadnya bulat.
Terngiang-ngiang di telinganya kata-kata Karin setelah menyanggupi tawarannya tadi siang. "Saya mengorbankan kebahagiaan saya demi mengembalikan kebahagiaan Bu Theresia. Karena itu berjanjilah akan menghargai setiap waktu yang akan Ibu lewati bersama Mas Jon dan anak saya."
Saat itu Theresia langsung mengangguk. "Jangan kuatir. Akan kulakukan yang terbaik demi kebahagiaan suamiku dan anak kalian. Tinggal sebutkan saja berapa nominal yang kau mau. Kutransfer separuh padamu saat ini juga. Dan separuhnya kuberikan saat serah terima bayimu."
Karin menatapnya sambil tersenyum getir. "Anda tak perlu melakukannya, Bu Theresia. Pengorbanan saya tak ternilai harganya. Anggap saja itu untuk menebus kecerobohan saya nekad menjalin hubungan dengan pria beristri."
Seketika itu juga hati Theresia terasa hampa.
***
__ADS_1
Beberapa hari selanjutnya Karin masuk ke kantor seperti biasa. Namun dia sengaja datang lebih pagi dan pulang lebih cepat dari Jonathan. Sehari-hari gadis itu tampak sangat sibuk membimbing salah satu staf administrasi di kantor. Sang kekasih sampai komplain melihatnya tak henti-hentinya bekerja hingga tak sempat diajak makan siang bersama.
"Ngerjain apa aja sih, Sayang? Semua persiapan untuk pameran besok kan sudah kelar," protes Jonathan saat mereka sedang berada berdua saja di dalam ruangan kerjanya. Itupun sulit sekali memanggil Karin datang menemuinya secara pribadi. Baru saat dia tadi memberikan penekanan pada suaranya, gadis itu menurut mengikutinya masuk ke dalam ruangannya.