Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Perkawinan Kita Sudah Selesai, There


__ADS_3

Sang istri tidak peduli. Dia lalu memberondong Mina dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan, “Saudari Mina, terus terang saya heran. Kenapa semenjak pertemuan di gedung bioskop dulu itu Anda selalu mengikuti kemana pun Mas Jonathan pergi? Entah di gym, restoran, bahkan di acara kawinan seperti ini Anda muncul juga. Bukankah Anda sudah tahu bahwa Mas Jonathan itu sudah menikah? Ya saya ini istri sahnya!”


Mina cuma melongo mendengar kata-kata Theresia yang seakan-akan mengecapnya sebagai perempuan pengejar suami orang. Dia lalu menatap Jonathan dengan heran. “Bro, katamu istrimu sudah membaik kondisi kejiwaannya. Tapi kulihat kok nggak, ya. Malah semakin menjadi-jadi!” ucapnya dengan lidahnya yang tajam. Hatinya geram dipermalukan oleh istri sahabatnya itu di depan orang banyak.


“Dasar perempuan kurang ajar!” seru Theresia seraya maju ke depan hendak mendorong Mina. Namun upayanya itu dihalang-halangi oleh Karin. Akhirnya dia sendiri yang terkena dorongan istri bosnya hingga jatuh tersungkur.


Jonathan terkejut sekali melihatnya. Dia bermaksud menolong sekretarisnya itu tapi dilihatnya Mina sudah melakukannya. Laki-laki itu kemudian berbalik dan berkata keras pada istrinya. “Ayo pulang!”


Segera ditariknya tangan Theresia dan memaksanya berjalan keluar ruangan. Tak dipedulikannya puluhan pasang mata para tamu yang menyaksikan perilaku kasarnya itu. Sesampainya di pintu keluar, dilihatnya Simon dan Mila menghadangnya. Ayah mertuanya itu menatapnya dengan prihatin. “Kenapa kautarik-tarik tangan istrimu seperti itu, Jon? Kasihan, dia kesakitan.”


“Papa, tolong...,” desis sang putri ketakutan. Belum pernah seumur hidupnya dia diperlakukan sekasar ini oleh suaminya. Di depan umum pula!


Jonathan menghela napas panjang dan menyerahkan tangan sang istri kepada Simon. “Papa, Jonathan benar-benar minta maaf. Ini saya kembalikan Theresia sama Papa. Saya benar-benar sudah tak tahan lagi menghadapi kondisi kejiwaannya yang tidak stabil. Saya akan pulang untuk berkemas dan pergi untuk selamanya. Kewajiban di kantor akan segera saya selesaikan dan laporkan secara detil pada Papa satu minggu lagi,” ucapnya dengan tegas. “Saya minta maaf atas segala kesalahan yang saya perbuat selama ini. Terima kasih atas semua jerih payah Papa dan Tante Mila untuk mempersatukan saya dengan Theresia kembali. Tapi mohon maaf, akhirnya saya memutuskan untuk menyerah. Perkawinan kami sudah tak tertolong lagi….”


Tanpa ba-bi-bu lagi, pria yang sudah mencapai batas akhir kesabarannya itu meninggalkan istri, ayah, dan ibu mertuanya yang hanya bisa terpaku memandangnya melangkah menuju ke halaman parkir gereja. Beberapa saat kemudian terdengar suara isak tangis Theresia yang begitu menyayat hati.


***


“Maaf, Pak Jon. Apakah keputusan Bapak untuk bercerai sudah tidak bisa dipertimbangkan lagi?” tanya Karin ketika bertemu bosnya dua hari kemudian di kantor. Dia bingung sekali kenapa kesalahpahaman yang terjadi di acara prasmanan pernikahan tantenya sampai berujung pada perceraian sang bos dengan istrinya.

__ADS_1


Jonathan tidak menjawab pertanyaan sang sekretaris. Dia malah bertanya apakah gadis itu tidak apa-apa ketika terjatuh akibat dorongan Theresia. “Oh, saya tidak apa-apa, Pak. Cuma terjatuh biasa, kok. Lagipula sebenarnya Bu Theresia kan bukan bermaksud mendorong saya. Salah saya sendiri kenapa mencoba menghalanginya mendorong Mbak Mina….”


“Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa. Tolong sampaikan maafku pada Bu Rosa sudah membuat kisruh di acara pernikahannya. Aku benar-benar menyesal.”


Sang sekretaris tersenyum manis dan menyahut, “Tante nggak apa-apa kok, Pak. Malah dia dan Om Bernard tidak tahu-menahu karena sedang berada di toilet waktu itu.”


“Hah?! Keduanya barengan ke toilet?”


“Barengan tapi masuk sendiri-sendiri di toilet pria dan wanita, Pak. Sepanjang acara mereka kan ngempet buat ke kamar kecil. Hehehe….”


Sang bos terkekeh geli. Ini pertama kalinya dia tertawa semenjak kejadian memalukan di acara pernikahan Rosa dua hari yang lalu. Sepulang dari sana, dia langsung mengemasi semua barang pribadinya dan menginap di hotel bintang empat yang tak jauh dari pabrik catnya. Seharian dia menenangkan dirinya di sana. Berdiam diri di dalam kamar hotel sambil menonton televisi. Tak dihiraukannya telepon maupun pesan WA dari Theresia maupun Simon. Hanya chat WA Mimin yang dibalasnya. Itupun cuma sekali. Dia meminta maaf atas perilaku istrinya dan berkata butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Sahabatnya itu mengerti dan tidak menghubunginya lagi hingga saat ini.


Esoknya hari Minggu. Jonathan mulai keluar kamar menikmati makan pagi. Ia lalu berlatih di pusat kebugaran yang terdapat di  hotel. Sesekali dilihatnya ponselnya. Istrinya  masih menelepon dan mengirimkan chat WA berkali-kali, tapi Simon sudah tidak lagi. Theresia meminta maaf atas sikap cemburunya terhadap Mina dan berjanji takkan mengulanginya lagi. Berulang-kali dia menulis kata-kata I love, you…I’m so sorry…Please, don’t leave  me…, dan lain sebagainya. Namun tak sedikitpun hati Jonathan terketuk oleh pesan-pesannya yang bernada memelas.


Setelah pesan itu terkirim, langsung dimatikannya ponselnya. Ia lalu beranjak meninggalkan gym dan memutuskan untuk berenang guna menyegarkan pikirannya.


Sekarang hari Senin dan dia berangkat ke pabrik cat seperti biasanya. Staf-stafnya yang sedang berbincang-bincang tampak menghentikan akitivitas mereka dan menyapanya dengan sopan. Barangkali mereka sedang menggosipkan kejadian memalukan di gereja itu. Suaraku juga cukup keras waktu bilang pada Papa mau bercerai dari There. Barangkali ada yang mendengar ucapanku dan menjadikannya bahan gunjingan di kantor, tebaknya dalam hati.


Ya sudahlah, mau gimana lagi. Toh waktuku bekerja di sini tinggal seminggu lagi. Selanjutnya aku akan melakukan serah-terima langsung dengan Papa. Setelah itu aku bebas menentukan jalan hidupku sendiri, pikirnya lega. Nanti sehabis makan siang aku akan menemui pengacara untuk menggugat cerai Theresia di pengadilan.

__ADS_1


“Karin, bisakah kamu carikan tiga orang pengacara yang kredibilitasnya cukup bagus di kota ini dan belum pernah berhubungan dengan perusahaan kita?”


“Siap, Pak. Kapan Bapak membutuhkannya?”


“Siang ini waktu jam makan siang.”


“Baik. Laki-laki atau perempuan nggak masalah ya, Pak?”


 “Laki-laki saja.”


“Siap.”


Lebih baik laki-laki, pikir Jonathan. Supaya tidak baperan. Capek aku hidup penuh drama, keluhnya dalam hati. Diteguknya teh tawarnya. Kepalanya terasa lebih ringan kini. Tiba-tiba  dia merasa harus mengatakan sesuatu pada sekretarisnya ini.


“Karin,” ucapnya hati-hati. “Aku mau menjawab pertanyaanmu tadi.”


“Pertanyaan yang mana, Pak?”


“Yang tentang keputusanku untuk bercerai….”

__ADS_1


“Oh, itu….”


Sikap duduk Karin kini menjadi tidak tenang.


__ADS_2