Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Hari Yang Ditunggu-tunggu Tiba


__ADS_3

“Mau nggak mau harus siap, Min. Aku udah nggak mungkin balikan sama There. Jadi buat apa tetap bekerja di perusahaan itu? Nggak pantaslah.”


“Terus kamu mau kerja apa, Jon?”


“Belum tahu. Aku belum mikir, sih. Masih menyelesaikan tanggung jawabku dulu di perusahaan-perusahaan itu. By the way, aku udah nemu apartemen yang cocok untuk  kutinggali. Udah deal. Tinggal nunggu transaksi di notaris saja.”


“Wow, cepat banget milihnya? Apartemen di mana?”


“Di atas D-Mall. Jadi praktis kalau mau nge-gym sama cari makan. Aku sama Karin baru melihatnya kemarin dan hari ini deal untuk sewa dua tahun.”


“Cieee…, nyari apartemen bareng Karin. Emang mau ditempatin berdua?” goda Mina kenes. Sahabatnya cuma nyengir mendengar komentar perempuan yang suka ceplas-ceplos kalau berbicara itu.


“Aku kan butuh teman untuk tukar pendapat, Min. Pas yang terlihat di kantor Karin ya dia yang kuajak,” kilahnya membela diri.


“Hadeh, nggak usah berdalih. Kayak aku nggak ngerti isi hatimu aja. Hahaha…. Ngomong-ngomong, kamu nggak butuh mobil baru? Mobil lamamu kamu kembalikan juga ke papa mertua, kan?”


“Of course. Kubalikkin semuanya, kecuali uang penghasilanku selama bekerja. Soal mobil, aku udah beli Sigra warna hitam di Bastian. Besok siang anak buahnya disuruh ngirim ke kantorku. Jadi mulai besok, aku udah naik mobil pribadiku sendiri.”


“Kok ambil Sigra, Bos? Turun drastis banget!” komentar Mina mengingat sahabatnya itu biasanya mengendarai mobil mewah yang diimpor dari luar negeri.


Jonathan dengan cuek menjawab tangkas, “Biarin. Duitku udah terpakai buat sewa apartemen dua tahun, jadi aku nggak boleh boros-boros.”


“Lho, emangnya kamu beli Sigra itu tunai?” tanya Mina keheranan. Tumben jaman sekarang orang beli mobil tunai, pikirnya. Mobil yang dipakainya saja dibeli dengan cara mengangsur tiga tahun.


“Yes,” jawab Jonathan mantap.

__ADS_1


“Gile! Banyak banget simpananmu?!”


“Nggaklah. Itu duit hasil kerja keras sepuluh tahun, Min.”


“Kok nggak beli mobil yang bagusan? Kan bisa nyicil. Bastian pasti mau bantu kasih keringanan cara pembayaran. Dia kan manajer pemasaran showroom mobil. Wewenangnya gede.”


Jonathan mendesah sesaat lalu menjelaskan, “Aku lebih suka beli cash, Min. Enak, nggak kepikiran buat lunasin. Lagian mobil mahal biaya perawatannya mahal juga. Kapan dong, aku bisa beli rumah sendiri kalau gaya hidupku konsumtif?”


Mina manggut-manggur setuju. “Benar juga. Pintar lu, Bro. Seneng aku punya teman yang pintar atur keuangan kayak kamu. Siapa tahu bisa nular. Hehehe….”


“Lu sih, duit banyak diabisin buat rambut aja. Dipanjangin, dipendekkin, gonta-ganti warna. Biaya perawatannya gede, kan? Mana bisa nabung?” seloroh Jonathan gemas.


“Eh, Bro. Gua ngoba-nyoba gitu juga buat investasi.”


“Investasi apaan? Kagak kelihatan.”


“Ok deh, ok,” sahut Jonathan mengalah. Percuma berdebat dengan perempuan yang karakternya kuat seperti Mina, pikirnya geli. Nggak akan ada habisnya. Malah banyak waktu yang terbuang.


“Buktinya Karin kudandani tambah cantik kan, waktu tantenya nikah?” cecar Mina meminta pengakuan.


“Iya, iya. Tambah cantik,” aku Jonathan mengiyakan.


“Saking cantiknya sampai hatimu hancur berantakan dia kena dorong Theresia dan jatuh tersungkur! Hahaha….”


“Ih, brengsek, lu!” umpat Jonathan spontan.

__ADS_1


“Huahaha…, pertama kali ini aku dimaki bos besar, deh! Sana makan mie instanmu.  Nanti keburu dingin. Oya, jangan lupa pesanku tadi kalau kamu ditanya-tanya Lusia tentangku, ya. Thanks a lot and bye….”


“Lho, tunggu!” seru Jonathan terkejut. Tapi terlambat. Terdengar nada tut panjang sekali pertanda sambungan telepon sudah dimatikan oleh orang di seberang sana.


“Dasar cewek aneh,” ucapnya pada dirinya sendiri sambil geleng-geleng kepala. Diletakkan ponselnya di atas bufet. Lalu dia menghampiri dua cup mie instannya yang sejak tadi diam menunggu. “Sudah agak dingin,” keluhnya sebal. “Ya udahlah, daripada kelaparan.”


Lalu dia menyantap makanan favorit sejuta umat di kala kepepet itu dengan lahap. Sementara pada saat yang sama, Mina di rumahnya membaca kembali pesan WA yang tadi sore dikirimkan Lusia padanya.


Temanmu yang bernama Jonathan tadi datang kemari untuk berkonsultasi tentang perceraiannya. Aku bersedia menjadi pengacaranya karena dia adalah sahabatmu. Apa kabar, Mina? Apakah kamu masih belum memaafkanku? Tidak bisakah kita bersahabat baik sebagaimana dirimu dengan Jonathan?


Mina memutuskan untuk menghapus pesan WA tersebut. Diklik-nya logo bak sampah pada ponselnya dan seketika pesan itu lenyap tak berbekas. “Kau tak bisa kusamakan dengan Jonathan,” ucapnya pelan. “Dia sahabatku sejak SMA dan aku mengenal betul karakternya. Dia takkan pernah memanfaatkanku saat berada dalam keadaan terpuruk. Sedangkan dirimu…hanyalah pengacara yang kubayar untuk menangani kasus perceraianku. Aku tak tahu apa-apa tentang dirimu yang sebenarnya. Hatiku merasa tak aman bersamamu semenjak kau bermaksud mencium bibirku saat kondisiku sedang rapuh. Jadi sebaiknya kita tak usah berhubungan lagi walaupun hanya sekadar teman baik!”


Lalu diletakkannya ponselnya di atas meja dan wanita itu pun bersiap-siap untuk beristirahat.


***


Akhirnya pada hari yang telah ditentukan, Jonathan melakukan serah terima jabatannya kepada Simon, ayah mertuanya. Sehari sebelumnya dia sudah berpamitan dengan seluruh karyawannya di developer properti. Direktur utama tersebut mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang terjalin dengan baik selama ini serta memohon maaf atas segala kesalahan yang telah sengaja maupun tidak sengaja diperbuatnya.


Para karyawan merasa kehilangan atas kepergian bos yang tegas, disiplin, namun murah hati tersebut. Sebenarnya mereka sudah heran lagi karena desas-desus tentang perceraian Jonathan dan Theresia sudah menyebar ke segenap penjuru perusahaan. Hanya saja ketika sang pimpinan secara resmi menyatakan pengunduran dirinya, tak pelak banyak karyawan yang merasa kehilangan.


Jonathan mengadakan jamuan sederhana pada acara perpisahannya di perusahaan pengembang properti tersebut. Selanjutnya keesokan harinya giliran ia mengadakan acara yang sama di pabrik cat. Reaksi para karyawan di sana serupa dengan di perusahaan properti sehari sebelumnya, merasa terharu dan kehilangan pimpinan yang baik.


Ketika para karyawan sedang asyik menikmati jamuan yang disediakan Jonathan dalam acara perpisahannya, laki-laki itu menyelinap keluar untuk menemui sang ayah mertua di dalam ruangan kerjanya.


Tanpa berbasa-basi lagi, Jonathan mengulas secara singkat laporan-laporan yang diserahterimakan pada Simon. Sang ayah mertua mendengarkannya dengan seksama. Sesekali laki-laki yang sudah banyak pengalaman itu bertanya tentang beberapa hal dan dijawab dengan lugas oleh sang menantu.

__ADS_1


Simon menatap pria muda di hadapannya dengan perasaan kehilangan. Seandainya aku tidak memandang Theresia, ingin rasanya Jonathan kugaji untuk tetap mengurus perusahaan-perusaahaanku, ucapnya dalam hati. Dia telah bekerja dengan sangat baik dan dicintai para karyawan. Dimana lagi aku mencari seorang direktur yang bertanggung jawab seperti dia?


__ADS_2