
Tak lama kemudian mobil Mercedes Benz berwarna hitam itu sampai di depan pintu gerbang berwarna hitam yang berdiri kokoh. Seorang petugas sekuriti mengangguk dan memberi hormat pada Jonathan yang membuka kaca jendela. Tak lama kemudian laki-laki berkumis tebal dan berbadan tegap itu menghubungi seseorang melalui walkie-talkie. Beberapa saat kemudian pintu gerbang terbuka lebar secara otomatis.
Mobil Jonathan langsung meluncur masuk ke dalam. Pintu gerbang otomatis menutup kembali. Dada Karin mulai berdebar-debar. Akhirnya aku sampai juga ke rumah ini, batinnya gundah. Untuk bertemu dengan musuh bebuyutanku. Tapi kali ini dia tak bisa bersikap arogan dan sewenang-wenang lagi. Sebaliknya dia justru akan memohon ampun atas dosa-dosanya.
Sontak Karin menggigit bibirnya. Tapi...bukankah aku sendiri juga bersalah kepadanya? batinnya pilu.
***
"There, lihat siapa yang datang!" kata Jonathan begitu memasuki kamar tidurnya.
Jantung Karin berdegup kencang menyaksikan pemandangan di hadapannya. Seorang wanita bertubuh kurus kering dan berambut pendek tampak duduk bersandar di atas tempat tidurnya yang besar. Benarkah itu Bu Theresia? batinnya terkesima. Gadis itu hampir saja tak mengenali wanita yang dulunya begitu cantik, terawat, dan bertubuh sintal itu.
Theresia yang sekarang begitu pucat dan cekung wajahnya. Tubuhnya bagaikan tulang berbalut kulit. Tulang-tulang di lehernya kelihatan begitu menonjol saking kurusnya. Rambut hitamnya yang berpotongan bob tepat di bawah kuping tampak tidak alami. Karin menyadari bahwa itu adalah rambut palsu. Barangkali dia sengaja memakainya supaya penampilannya kelihatan sedikit lebih segar.
Benar sekali kata Mbak Mina, pikirnya setuju. Siapapun yang melihat keadaan wanita ini sekarang pasti takkan sanggup menolak permintaannya.
Wajah Theresia yang semula tampak layu tiba-tiba berseri-seri tatkala menyadari siapa tamu istimewa yang datang mengunjunginya. "Karin," ucapnya sambil tersenyum ramah. "Kamu akhirnya datang juga. Terima kasih. Terima kasih."
Hati Karin berdesir menyaksikan kehadirannya disambut dengan sukacita oleh perempuan yang dulu amat membencinya ini. Didekatinya Theresia. Dia lalu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. "Halo, Bu Theresia. Apa kabar?" sapanya canggung.
Gadis itu terperangah saat Nyonya Jonathan itu bukannya menyalami tangannya, melainkan menciuminya sambil menangis. "Terima kasih banyak kau sudah bersedia datang kemari, Karin. Sebenarnya akulah yang harus menemuimu. Aku berhutang maaf padamu...."
Wanita yang tengah mengidap penyakit mematikan itu menangis tersedu-sedu. Karin tak kuasa menahan perasaannya. Dia duduk di atas tempat tidur dan merengkuh kepala Theresia di dadanya. Dielus-elusnya punggung wanita itu guna memberikan penghiburan.
__ADS_1
"Sudahlah, Bu There. Lupakanlah semuanya. Tak usah diingat-ingat lagi hal-hal yang tak menyenangkan. Kedatangan saya kemari bukan untuk mengungkit-ungkit masa lalu, melainkan untuk memberi support supaya Ibu lekas sembuh."
"Kau tahu penyakitku ini sudah tak ada harapan untuk disembuhkan, Karin. Aku sudah menerimanya dengan ikhlas. Yang kukuatirkan cuma nasib Mas Jon dan Valentina. Oya, kamu sudah bertemu dengan anakmu?"
Karin menggeleng pelan. Perasaannya berkecamuk tak karuan. Dia tak tahu harus bagaimana berhadapan dengan anak kandungnya.
"Mas Jon," ucap Theresia sembari memandang ke arah suaminya. "Tolong ajak Valentina kemari. Kita perkenalkan dia pada Karin."
"Baik, Sayang. Tunggu sebentar, ya," jawab Jonathan seraya membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar.
Setelah sosoknya menghilang dari balik pintu, Theresia meminta suster pribadinya meninggalkannya. "Ada hal penting yang harus saya bicarakan berdua saja dengan tamu saya, Sus. Nanti kalau Bu Karin ini sudah pulang, silakan Suster masuk kembali kemari."
"Baik, Bu Theresia," jawab perawat itu menurut.
"Kau kelihatan semakin dewasa dan cantik, Karin. Tuhan sungguh baik, mengirimmu di saat yang tepat. Aku benar-benar menyesal atas perbuatanku dulu padamu. Maukah kau memaafkanku?"
Gadis itu mengangguk pelan. "Saya juga meminta maaf atas kesalahan saya, Bu There. Mulai sekarang, tak ada masalah lagi di antara kita. Semuanya sudah tuntas," ujarnya tulus.
"Belum tuntas, Karin. Kamu pasti sudah mengetahui keadaan Valentina. Mengenai kedua kakinya yang lumpuh...."
"Mas Jon sudah memberitahu saya, Bu. Saya...saya turut bersedih karenanya."
Theresia menghela napas panjang. "Aku berdosa besar pada anak itu. Kalau bukan gara-gara aku, kau tidak akan mengalami pendarahan sewaktu mengandung dirinya. Kedua kaki Valen akan berfungsi dengan normal sebagaimana anak-anak lainnya."
__ADS_1
"Sudahlah, Bu There. Tak ada lagi yang perlu disesali."
Mata Karin berkaca-kaca sewaktu mengatakannya. Hatinya merasa sedih setiap kali teringat akan cacat bawaan yang diderita sang putri.
"Karin," kata Theresia kemudian. "Tolong buka laci bufet di samping tempat tidurku ini. Ada folder berwarna biru tua di sana."
Gadis itu lalu melaksanakan instruksi wanita yang tengah menunggu ajal itu. Dibukanya laci bufet yang dimaksud. Dia langsung melihat sebuat folder berwarna biru tua. Diambilnya dan diberikannya pada si nyonya rumah.
Theresia mengucapkan terima kasih. Dibukanya satu per satu berkas yang tertata rapi di dalam folder tersebut dan dijelaskannya secara singkat pada tamunya.
"Aku sudah mengumpulkan data-data ini lama sekali. Isinya informasi yang kuperoleh dari internet tentang kasus-kasus cacat bawaan yang menyerupai kelumpuhan pada kaki Valentina. Pasien-pasien ini rata-rata berhasil mengalami kemajuan berkat pengobatan medis yang dikombinasikan dengan terapi-terapi alternatif di Tiongkok. Nama, alamat, dan nomor telepon klinik-klinik medis maupun pengobatan alternatif itu sudah kuketik dan ku-print. Bahkan nama-nama dokter dan tabibnya juga ada. Sayang sekali penyakitku semakin memburuk sehingga tak mampu membawa Valentina berobat ke sana...."
Hati Karin terenyuh mendengar penuturan wanita itu. Dia sudah dapat menerka kelanjutan perkataan Theresia. Betapa banyak berkas yang tersusun rapi dalam folder itu. Bisa-bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan data-data tersebut.
"Apakah kamu sudah menikah, Karin?" tanya Theresia penasaran. Ditatapnya gadis itu dengan sungguh-sungguh.
Karin menggelengkan kepalanya. Namun rupanya pertanyaan Theresia masih berlanjut, "Bagaimana dengan statusmu saat ini? Masih lajang ataukah sedang menjalin hubungan dengan seorang pria?"
Si gadis lagi-lagi menggeleng. Terdengar hembusan napas lega lawan bicaranya. "Kau belum dapat melupakan Mas Jon rupanya," celetuk Theresia. Dia tersenyum manis sekali.
Karin langsung menyela, "Bu There...."
"Hush!" sergah wanita itu sembari memberi tanda agar gadis itu diam. Sorot matanya begitu teduh. Lalu dia berbicara dengan tenang, "Ini sudah takdir, Karin. Kau datang tepat pada waktunya. Kemampuan bahasa Mandarinmu akan sangat berguna bagi pengobatan Valentina. Bersediakah kau bersama-sama Mas Jon menemaninya menjalani pengobatan di Tiongkok? Waktuku sudah tak lama lagi. Diriku bisa dipanggil Yang Maha Kuasa kapan saja. Aku akan meninggalkan dunia ini dengan tenang jika tahu sudah ada istri yang baik buat Mas Jon dan ibu yang penyayang bagi Valentina. Siapa lagi wanita istimewa itu kalau bukan dirimu, Karin?"
__ADS_1
Mata Karin basah. Dia tak tahu harus berkata apa. Bu Theresia sungguh telah berubah, batinnya tersentuh. Dia kini menjadi wanita yang bijaksana.