
"Sudahlah," tukas Mina galak. "Daripada kamu penasaran dan aku juga nggak tenang pacaran sama Eric, mendingan kubuka saja semuanya sekarang!"
Wanita itu menatap serius sahabatnya. Lalu dia berkata, "Theresia mengancam akan bunuh diri di depan Karin dan Tante Rosa kalau gadis itu tidak meninggalkanmu dan memberikan anak kalian padanya!"
"Bohong!" seru Jonathan tidak percaya. Para penghuni restoran sampai menengok ke arahnya. Dia lalu mengucapkan permintaan maaf sambil mengangguk dengan ekspresi malu.
"Syukurin!" kata sahabatnya puas. Jonathan mengernyitkan dahinya. Kok Mimin jadi sentimen sama aku sekarang? pikirnya tak terima.
"Ok-lah, Min. Sekarang tolong ceritakan padaku semuanya. Aku percaya kamu tidak akan berbohong. Aku akan mendengarkanmu baik-baik dan tidak berkomentar lagi."
Wanita di depannya mengangguk setuju. Lalu dia mulai menceritakan kisah yang sesungguhnya terjadi di balik keputusan Karin meninggalkan Jonathan.
***
Setelah mengetahui semuanya dari Mina, Jonathan begitu terpukul. Nafsu makannya hilang seketika. Tak dihabiskannya makanannya. Ia langsung meninggalkan restoran Jepang itu dan pergi ke kantor Rosa untuk memastikan kebenaran cerita sahabatnya.
Mantan sekretarisnya itu terperangah melihat kedatangan Jonathan yang tiba-tiba. Akhirnya dia mengakui bahwa semua yang diceritakan Mina itu benar adanya. Bahkan wanita itu menasihati mantan bosnya tersebut agar melupakan Karin. Keponakannya itu sudah pergi jauh dan lama sekali baru akan kembali.
"Karin sudah berada di Beijing, Pak Jon," akunya terus terang. "Saya menawarinya untuk mengambil kursus bahasa Mandarin di sana. Dengan senang hati dia menerimanya. Sejak dulu dia kan memang suka sekali bahasa Mandarin."
__ADS_1
Jonathan langsung lemas mendengarnya. "Boleh saya minta nomor telepon dan alamat Karin, Bu Rosa? Saya akan pergi mencarinya ke Beijing. Akan saya bawa anak kami bertemu dengan ibu kandungnya."
Rosa menatapnya prihatin. Dengan sendu dia berkata, "Nasi sudah menjadi bubur, Pak Jon. Relakanlah Karin. Hiduplah bahagia bersama Theresia dan anak kalian. Jangan biarkan pengorbanan keponakan saya sia-sia. Dia sudah hidup tenang sekarang. Tolong jangan usik dia lagi. Saya mohon...."
Laki-laki itu terpaku mendengar ucapan memelas bibi Karin itu. Akhirnya ditinggalkannya kantor wanita itu dengan lesu. Rosa menatapnya dari belakang dengan perasaan iba.
***
Theresia tengah asyik bercengkerama dengan Valentina ketika tiba-tiba pintu kamar tidurnya dibuka dengan kasar dari luar. Muncullah sosok suaminya yang menatapnya dengan sorot mata berapi-api.
"Dasar perempuan culas. Jahat! Enyahkan tangan kotormu itu dari anakku!" teriak Jonathan murka. Ingin sekali dihajarnya istrinya ini sampai babak-belur. Tak pernah diduganya Theresia sanggup menipunya dengan begitu keji.
Wajah wanita itu langsung pucat pasi. Dia menyadari suaminya sudah mengetahui perbuatannya. Tapi bagaimana dia bisa tahu? tanyanya dalam hati. Karin dan Tante Rosa tak mungkin memberitahunya.
Theresia diam saja menyaksikan bayi itu dijauhkan darinya. Wanita itu berusaha menyabarkan hatinya. Aku telah berupaya sekuat tenaga hingga sampai pada titik ini, batinnya berusaha tegar. Takkan kulepaskan kebahagiaan ini begitu saja. Akan kupertahankan Mas Jon dan Valentina apapun taruhannya!
"Tega sekali kamu memisahkan anak ini dengan ibu kandungnya, There?" tanya sang suami sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Di mana hati nuranimu sebagai wanita? Atau...jangan-jangan kamu sudah tidak memilikinya?"
"Aku punya masih punya hari nurani, Mas Jon," jawabnya berusaha tenang . "Justru karena itulah, kuputuskan untuk mengadopsi anak ini. Daripada dia lahir sebagai anak di luar nikah, kasihan masa depannya kelak. Dan aku juga mengabulkan permintaan ibunya agar menamainya Valentina. Aku bahkan menyayanginya sepenuh hati layaknya anak kandungku sendiri. Apakah kau tak dapat merasakannya?"
__ADS_1
Jonathan memandang istrinya putus asa. "Kenapa tak kau lepaskan aku saja, There? Kau dulu berkata telah merestui hubunganku dengan Karin...."
"Istri mana yang rela melepaskan suami yang sangat dicintainya, Mas? Istri mana?!" sergah Theresia histeris. Wanita itu sudah tak tahan lagi . Diluapkannya kekesalannya. "Kau telah menjalin hubungan dengan perempuan lain sebelum resmi bercerai denganku! Dipandang dari segi hukum manapun, kaulah yang bersalah karena telah berselingkuh!"
"Bukankah kau yang sengaja mengulur-ulur perceraian kita?!' seru Jonathan tidak terima. "Seandainya dari awal kau tidak melakukannya, kita pasti sudah lama resmi bercerai dan aku bebas menjalin hubungan dengan wanita manapun!"
"Justru itulah yang tidak kukehendaki!" teriak Theresia semakin histeris. Air matanya mulai jatuh bercucuran. Didekatinya suaminya. Jonathan mundur menjauh. Dia menatap istrinya jijik.
Wanita itu akhirnya bersimpuh sambil menangis di bawah kaki suaminya. Laki-laki itu terkejut melihat sang istri merendahkan dirinya sedemikian rupa.
"Kau pikir dengan begini aku akan merasa kasihan dan memaafkan kesalahanmu?!" cetus Jonathan sengit. "Tahukah kau, aku justru semakin memandang rendah padamu. Akan kubawa Valentina meninggalkan rumah ini dan mempertemukannya dengan ibu kandungnya!"
"Jangan, Mas Jon. Jangan!" seru Theresia panik. Didekapnya erat-erat kedua kaki suaminya. "Kumohon jangan lakukan itu. Please.... Kau tahu sekali betapa aku sangat menyayangi Valentina. Dia buah hatiku, Mas. Hidupku takkan berarti tanpa dirinya...."
Tiba-tiba terdengar suara si bayi menangis keras dalam gendongan ayahnya. Jonathan berusaha membujuknya. Namun tangisan anaknya semakin keras. Saat itu dimanfaatkan oleh Theresia untuk bangkit berdiri. Dengan berlinang air mata ia menawarkan diri untuk menggendong bayi perempuan itu.
Jonathan terpaksa mengalah. Dia tak sampai hati melihat anaknya menangis terus-terusan. Ajaib sekali. Begitu didekap Theresia, bayi berambut halus dan berwajah rupawan seperti ibu kandungnya itu langsung diam. Rupanya dia merasa nyaman berada di dekat wanita yang selama dua puluh empat jam selalu bersamanya itu.
Sang ayah tak bisa berbuat apa-apa. Terngiang-ngiang ucapan Mina di telinganya, "Karin selama ini tinggal bersama seorang pembantu di Sidoarjo. Dia menyewa rumah kecil di sebuah perumahan kelas menengah. Aku dan Eric sering mengunjunginya. Tante Rosa apalagi. Bahkan seminggu sebelum hari perkiraan lahir Valentina, Tante Rosa ikut tinggal di rumah itu menemani keponakannya."
__ADS_1
Hati Jonathan bagaikan teriris sembilu mendengar cerita Mina. Dia merasa telah menjadi seorang laki-laki yang bodoh. Dengan mudahnya dapat ditipu oleh Karin dan Theresia.
"Kamu tahu, Jon?" kata Mina kemudian. "Malam saat Karin memutuskan hubungan kalian di rumahnya dengan berpura-pura pacaran lagi dengan Eric, aku sebenarnya ada di sana juga waktu itu. Aku menguping pembicaraan kalian di balik tembok ruang tamu. Hampir menangis aku mendengarmu frustasi karena percaya anak kalian sudah digugurkan oleh Karin. Ingin rasanya waktu itu aku keluar dan berteriak bohong! Tapi Eric mencegahku. Katanya aku harus menghormati keputusan Karin. Akhirnya aku diam saja. Dan hatiku kembali terkoyak ketika tak lama setelah kepergianmu Karin mengalami pendarahan. Ia sampai dirawat di rumah sakit selama dua hari. Untungnya dia beserta janinnya tidak apa-apa. Dokter bilang Karin cuma terlalu stres."