Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Theresia Berulah


__ADS_3

Jonathan tercenung mendengar kalimat-kalimat Simon yang menyejukkan hati. Bisakah There mengubah sikap dan perilakunya itu? tanyanya bimbang dalam hati. Hmm…sebenarnya bisa saja kalau dia mau. Dan itu membutuhkan tekad dan upaya yang keras. Barangkali kehadiran Papa sekarang justru bisa memperbaiki segalanya, pikir Jonathan seolah-olah melihat sebuah harapan baru.


“Baiklah. Saya akan menuruti Papa kali ini. Terima kasih sebelumnya sudah menawarkan tempat tinggal untuk saya....”


Simon tersenyum bijak dan menepuk-nepuk bahu menantunya, “Kau ini sudah kuanggap seperti anak kandungku sendiri, Jon. Masa kau tidak bisa merasakannnya?”


Jonathan mengangguk mengiyakan. Ayah mertuanya ini memang selalu bersikap baik dan tak membeda-bedakannya dengan Theresia.


“Maaf, Pa. Kalau boleh…Jonathan mempunyai permintaan yang sepertinya hanya Papa yang bisa menyampaikannya pada There.”


“Apa itu, Nak?”


“There sudah lama tidak berkonsultasi dengan psikiater untuk mengatasi depresinya, Pa. Dia hanya mengandalkan resep obat penenang yang diberikan dokter itu, tapi hanya diminumnya apabila keadaan emosinya sudah akut. Itupun tidak dikonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan, lebih sering dilipatgandakan.”


Simon terkejut. Dia bertanya dengan gamang, “Maksudmu anakku tidak rutin meminum obat yang diresepkan dokter, tetapi justru meminumnya melebihi dosis jika sedang sangat emosional?”


“Betul, Pa. Mungkin itulah sebabnya keadaan mentalnya semakin tidak stabil.”


“Baiklah. Papa akan memintanya agar rutin berkonsultasi dengan psikiater dan meminum obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan.”


“Ada lagi, Pa. Sebenarnya There disarankan untuk mengikuti terapi meditasi guna menyeimbangkan kondisi mental dan kesehatan tubuhnya. Dia sempat menjalaninya selama tiga bulan, tetapi kemudian berhenti total karena merasa jenuh. There lebih suka berkumpul dengan teman-temannya yang sosialita dan hobi pamer ini-itu. Jika dia tidak bisa mengungguli kawan-kawannya itu, maka emosinya kembali menggelegak dan tentu saja ditumpahkan seluruhnya pada saya.”


“Ok, Jon. Aku akan menasihatinya agar rutin kembali mengikuti terapi meditasi dan menghindari pergaulan yang kurang bermanfaat.”


“Maaf lagi, Pa. Bisakah Papa juga mengusahakan agar There melakukan semua yang saya sebutkan tadi secara mandiri? Karena jujur saja saya selalu diminta untuk menemaninya melakukan ini-itu bahkan pada jam-jam kantor.”


Simon mengelus dada dan mendesah panjang. Ternyata benar-benar tidak mudah menjadi pendamping hidup putrinya. Belum tentu dia sendiri sanggup bertahan sebagaimana selama ini selalu dilakukan oleh menantunya ini. “Baiklah, Jon,” katanya memutuskan. “Akan kupastikan anakku menjalaninya sendiri dan tidak mengusikmu pada jam-jam kerja.”

__ADS_1


“Selain itu….”


“Apa lagi, Jon?”


Suami Theresia itu menatap ayah mertuanya dengan sorot mata bersungguh-sungguh. Hati Simon sampai bergetar melihatnya. Dengan nada suara tegas Jonathan berkata, “Kali ini saya bersedia mengurungkan maksud saya menceraikan There demi menghormati Papa dan sekaligus memberikan istri saya satu kesempatan lagi. Betul, Pa. Satu kesempatan lagi. Apabila kelak There kembali berulah dan saya sudah tidak tahan lagi…maka selesailah semuanya.”


Dia berani mengancamku, pikir Simon dongkol. Semua yang kaumiliki saat ini semuanya adalah pemberian dariku! Berani-beraninya anak kemarin sore sepertimu menekan orang yang sudah banyak makan asam garam sepertiku!


Lelaki tua itu memandang pria muda di hadapannya dengan sinar mata berkilat-kilat. Jonathan merasa agak ngeri melihatnya. Aku harus tegas, batinnya membela diri. Agar There benar-benar berubah dan tak lagi merendahkan diriku.


“Baiklah, Jon,” ucap Simon akhirnya mengalah. “Persyaratan-persyaratan yang kauajukan semuanya kuterima dan kupastikan dalam waktu tak terlalu lama, Theresia akan berhasil melaksanakannya.”


“Terima kasih banyak, Pa,”


“Sama-sama, Nak. Sekarang pergilah dulu ke rumah Papa. Makan dan beristirahatlah di sana. Biar aku dan Mila yang akan menangani There di sini. Nanti malam kita bisa berbicara lagi di rumah.”


Simon mengangguk dan membiarkan menantunya itu pergi meninggalkannya sendirian di ruang tamu. Pria tua itu mendesah pelan, “Aku sekarang mengemban tugas yang benar-benar tidak mudah. Lebih baik bekerja keras mengurus dua perusahaan sekaligus daripada menasihati putri kandungku sendiri!”


***


“Papa! Mana Mas Jon?” tanya Theresia spontan begitu melihat ayahnya muncul di kamar tamu tempatnya sedang bercakap-cakap dengan ibu tirinya.


“Sudah pergi,” jawab Simon enteng sembari menutup pintu kamar.


“Pergi? Kenapa Papa tidak menahannya?”


Wajah Theresia seketika menjadi pucat pasi. Apa yang harus kulakukan sekarang? batinnya nelangsa. Bahkan ayahku sendiri tak mampu menahan kepergian Mas Jon.

__ADS_1


“There, Papa tadi sudah bicara dengan suamimu….”


“Benar, kan? Dia berselingkuh dengan teman SMA-nya itu? Dia sekarang pasti pergi menemui si Mimin itu! Dasar laki-laki tidak tahu diri. Sudah untung dia menikah denganku yang membuatnya sukses seperti sekarang. Eh, masih berani berselingkuh dengan seorang perempuan murahan!” seru Theresia histeris. Ia lalu menangis tersedu-sedu. Ditutupinya wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya sampai berguncang-guncang saking terpukulnya.


Simon dan istrinya menatap wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu dengan sorot mata prihatin. Beginilah rupanya Jonathan harus menghadapi anakku setiap hati, pikir ayah Theresia menaruh iba. Iba kepada anaknya sendiri maupun kepada menantunya. Ternyata keharmonisan yang ditunjukkan mereka di depanku selama ini hanyalah sandiwara belaka.


Tiba-tiba Theresia meloncat dari atas tempat tidur dan berlari keluar kamar. Simon dan Mila sampai terkejut dibuatnya. “Mau pergi ke mana, There?” tanya Mila sembari berusaha mengejar anak tirinya tersebut. Suaminya sendiri sudah tak mampu berlari akibat kondisi jantungnya yang sudah dioperasi beberapa tahun yang lalu. Laki-laki tua itu berusaha berjalan dengan kecepatan maksimal yang bisa dilakukannya.


Tak lama kemudian Theresia muncul dengan membawa sebuah pisau dapur. Tiga orang pembantu mulai bermunculan menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. “Ya, Tuhan. There!” pekik Mila terperanjat. Simon tak kalah terkejutnya. Tak disangkanya kondisi mental anak semata wayangnya sudah separah ini. Pantas saja suaminya sudah tak tahan hidup seatap dengannya.


Mila tidak berani mendekati anak tirinya itu. Wanita tua itu ketakutan sekali. Pisau dapur yang dipegang There berkilat-kilat di depan matanya. Para pembantu di belakang There juga hanya berani melihat dari jauh.


Simon menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perilaku anaknya yang dianggapnya mulai keterlaluan itu. “Theresia! Apa yang mau kaulakukan dengan pisau itu?”


“Aku mau pergi mencari Mas Jon, Pa. Kalau dia tidak mau kembali ke rumah ini, akan kubunuh dia!”


“Jangan bodoh, Anakku. Memangnya kau tahu suamimu berada di mana?”


“Paling-paling dia menginap di hotel dekat pabrik, Pa. Supaya besok pagi bisa langsung berangkat kerja dari sana.”


“Kan tidak hanya ada satu hotel di daerah sekitar sana, There! Memangnya kamu mau memeriksanya satu per satu.”


“Kenapa tidak?”


Simon mengelus-elus dadanya yang mulai terasa sakit. Mila memperhatikan suaminya dengan perasaan kuatir.


“Anakku, kalau kamu masih menaruh hormat pada papamu ini, tolong letakkan pisau itu. Demi kebaikkanmu sendiri, Nak,” ucap ayah Theresia itu dengan nada memohon.

__ADS_1


__ADS_2