Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Bos dan Sekretaris Cantik Pergi ke Mal


__ADS_3

Jonathan jadi gelagapan sendiri. Mati aku! Berdua dengan Karin pergi ke mal? Wah, batinnya deg-degan.


Gadis  yang namanya disebut-sebut justru menyahut dengan ekspresi tak berdosa, “Iya, Pak. Bukankah Bapak tadi sudah mengajak saya?”


Jonathan mati kutu. Ia sudah tak bisa berkutik lagi. Dengan berat hati bos besar itu mengangguk setuju. “Sepuluh menit lagi kita berangkat ya, Karin.”


“Siap, Pak.”


Mudah-mudahan nanti nggak ketemu Bastian atau Mimin di D-Mall, batinnya was-was. Mereka biasanya sore hari sudah ngendon di gym. Beda denganku yang petang hari biasanya baru tiba di sana.


Dia kemudian meraih ponselnya untuk mengecek pesan-pesan yang masuk. Jantungnya berdegup kencang seketika ketika dilihatnya Theresia mengiriminya pesan WA.


[Halo, Mas Jon. Apa kabar?]


Tiba-tiba perasaan rindu yang teramat sangat singgah di hatinya. Segera dibalasnya pesan itu dengan kalimat: [Baik, Sayang. Kamu sendiri gimana kabarnya?]


Pesan terkirim, tetapi belum tertera tanda sudah dibaca oleh istrinya. Jonathan menimbang-nimbang untuk menelepon istrinya langsung. Tapi…aku kok jadi merasa nggak pede bicara dengannya, ya? pikirnya gundah. Ah, biar kutunggu There membalas chat WA-ku saja.


“Saya sudah siap, Pak,” ucap Karin membuyarkan lamunannya.


“Ok, kita berangkat sekarang. Kami pergi dulu, Bu Rosa,” pamitnya kepada sekretaris seniornya.


“Hati-hati di jalan, Pak Jon, Karin,” jawab Rosa dengan perasaan ringan. Untung Karin sudah masuk kerja hari ini, batinnya bersyukur. Jadi aku bisa mengepas baju pengantin dengan tenang.


Diperhatikannya keponakan perempuannya yang berjalan di belakang pimpinan mereka. Semoga kamu betah bekerja di sini, Nak. Belum tentu kamu bisa mendapatkan bos sebaik dan semurah hati Pak Jonathan, gumamnya dalam hati. Kemudian perempuan setengah baya tersebut merapikan berkas-berkasnya dan meninggalkan ruangan meeting yang sudah lengang itu.

__ADS_1


***


Sepanjang perjalanan Jonathan menyibukkan dirinya dengan memeriksa semua pesan WA dan email pada ponselnya sementara Karin duduk tenang di sebelahnya. Tiba-tiba Theresia mengirim pesan lagi: Aku baik-baik saja, Mas. Ini sedang nganggur di rumah. Kamu ada di mana sekarang?


Sang suami tersenyum membaca pesan istrinya. Dia lalu membalas: Aku di mobil sama sekretaris dan sopir. Kami dalam perjalanan ke D-Mall. Mau meninjau pameran proyek apartemen perusahaan kita di sana.


Tak lama kemudian balasan dari Theresia pun muncul: Hati-hati di jalan ya, Mas. Semoga pamerannya berjalan lancar.


Ternyata benar kata Tante Mila, ujar Jonathan dalam hati. Kondisi emosi There semakin membaik. Pesan-pesan WA-nya sejak tadi cukup sopan dan penuh perhatian. Dengan cepat diketiknya pesan balasan buat istrinya itu: Terima kasih, Sayang. Nanti malam aku chat, ya. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan kecapekan.


Tak sampai semenit muncul jawaban dari Theresia: Terima kasih banyak, Mas. Kamu juga.


Kepala Jonathan bagaikan disiram air dingin membaca pesan istriya itu. Terima kasih? batinnya terpesona. Sudah lama sekali rasanya There tak mengucapkan kata keramat itu! Ternyata perpisahan ini benar-benar membawa dampak yang baik bagi kepribadiannya. Mudah-mudahan perkembangan ini tidak akan berhenti sampai di sini saja, doanya dalam hati.


Jonathan mengangguk mengiyakan. Ia tahu ibu sopirnya ini memang sudah lama mengidap penyakit tersebut. Ia bahkan pernah menjenguknya sendiri di rumah sakit.


“Terima kasih, Pak,” kata sang sopir lega.


Sesampainya di parkiran D-Mall, Jonathan segera turun dari mobil dan meminta kunci mobil dari sopirnya. Tak lupa ia menyelipkan tiga lembar uang kertas seratus ribuan ke dalam tangan pegawainya itu. “Buat bantu biaya pengobatan ibumu,” katanya pelan.


“Terima kasih banyak, Pak Jon.”


“Sama-sama.”


Karin diam saja melihat sikap murah hati bosnya itu. Dia sudah sering mendengar cerita dari tantenya tentang kepedulian Jonathan terhadap kesejahteraan bawahan-bawahannya. “Kamu harus bekerja dengan sebaik-baiknya, Rin. Jangan perhitungan terhadap jam kerja. Pak Jonathan orangnya sangat fair, kok. Beliau tak segan-segan memberi ganjaran lebih pada karyawan yang berdedikasi. Oleh karena itulah Tante tidak rela pekerjaan ini dialihkan pada orang lain. Soalnya di luar sana susah sekali memperoleh pimpinan sebaik Pak Jonathan.”

__ADS_1


Waktu itu Karin hanya mengangguk saja menuruti perkataan bibinya. Dia tahu perempuan yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri itu tidak akan memberinya hal yang buruk. Oleh karena itulah gadis itu bersedia mengundurkan diri dari pekerjaannya demi menggantikan posisi Rosa sebagai sekretaris Jonathan.


Pasangan bos dan sekretaris itu melangkah masuk ke dalam mal yang sudah terlihat agak ramai. Mereka naik ke dalam lift dan langsung menuju ke aula di lantai tujuh, tempat diadakannya pameran properti se-Jawa Timur.


Keduanya memasuki ruangan pameran yang sangat luas dan terdiri dari berbagai booth yang menampilkan promosi properti unggulan masing-masing. “Selamat sore, Pak Jonathan. Wah, kami merasa terhormat sekali Bapak menyempatkan datang di hari pertama pameran. Terima kasih banyak, Pak,” sapa seorang laki-laki bertubuh tinggi dan berperawakan sedang. Usianya sekitar awal empat puluhan. Sambil tersenyum lebar, ia mengulurkan tangan mengajak Jonathan bersalaman.


“Halo, Pak Albert. Saya dengar dari Bu Rosa bahwa sudah ada tambahan dua unit apartemen yang terjual. Selamat, ya. Tim Bapak solid sekali,” puji Jonathan seraya menerima uluran tangan pria di hadapannya.


“Terima kasih, Pak Jon. Semua itu karena support Bapak yang menyetujui rancangan budget promosi kami. Padahal proposal itu sempat ditentang oleh bagian accounting. Untung Pak Jon mementahkannya dan bersedia memberi kami kesempatan untuk membuktikan hasilnya.”


“Produk kelas premium sewajarnya dipromosikan secara premium juga. Bukankah begitu, Pak Albert?”


Kepala marketing divisi properti tesebut mengangguk-angguk membenarkan pernyataan bosnya. Kemudian Jonathan memperkenalkannya pada Karin dan meminta Albert untuk menjelaskan sekilas tentang proyek properti mereka pada sekretaris barunya itu. Pria itu menerangkan dengan semangat apartemen yang dipasarkannya lalu memperkenalkan Karin pada anggota-anggota timnya.


Tak terasa waktu satu setengah jam telah berlalu. Pameran semakin ramai oleh pengunjung. Jonathan dan Karin pun berpamitan pada Albert serta seluruh anggota tim marketingnya. Sang direktur dan sekretarisnya itu lalu melangkah menuju ke arah pintu keluar hingga tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki berteriak nyaring, “Karin!”


Gadis yang dipanggil menoleh ke arah suara itu berasal. Seketika raut wajahnya berubah menjadi dingin.


“Karin, apa kabar?” tanya pemilik suara yang rupanya seorang pemuda keren yang usianya sebaya dengan sang sekretaris.


“Baik. Sori, aku sedang bekerja sekarang. Nggak bisa ngobrol lama,”tukas gadis itu ketus.


“Oh, kamu ikut pameran juga? Memasarkan properti apa?”


“Bukan. Aku cuma menemani bosku meninjau booth proyek propertinya. Sori, Ric. Aku duluan, ya.”

__ADS_1


__ADS_2