
Rosa kemudian berinisiatif membuka pembicaraan. "Silakan minum dulu, There," ujarnya sembari menaruh dua buah air mineral gelas tepat di depan tamunya. "Maaf, rumah ini jarang kedatangan tamu dan Karin tinggal sendirian di sini. Jadi cuma tersedia air mineral."
Tamunya menyeletuk sinis, "Berarti suami saya jarang datang kemari, dong? Atau jangan-jangan Karin yang sering datang bertamu di apartemennya?"
Gadis yang namanya disebut itu terkesiap. Wajahnya pucat pasi. Rosa menatapnya iba. Wanita itu merasa keponakannya sedang menghadapi persidangan dengan dirinya sendiri sebagai terdakwa.
Karin menundukkan wajahnya dalam-dalam. Perasaannya campur-aduk. Perpaduan antara rasa bersalah, malu, bingung, dan tak berdaya. Waktu tantenya tadi di telepon memberitahu tentang keinginan Theresia untuk menemuinya, gadis itu sudah mempersiapkan diri untuk dimaki-maki oleh istri sah kekasihnya itu. Karenanya dia diam saja disindir olehnya barusan.
"There," kata Rosa berinisiatif menengahi. "Bukankah tadi kita sudah sepakat bahwa kamu akan berbicara baik-baik dengan Karin? Karena itulah Tante bersedia menemanimu datang kemari. Tolonglah There, kita semua di sini adalah orang dewasa. Marilah kita bicarakan persoalan dengan kepala dingin."
Amarah Theresia meluap seketika. Dia bangkit berdiri dan mengacung-acungkan jari telunjuknya pada wanita itu. "Kau tentu saja membela keponakanmu. Dasar orang tua tidak becus mendidik anak asuh sendiri! Seenaknya saja memintaku bicara baik-baik dengan pelakor ini sementara kau sendiri hanya duduk diam menyaksikan dirinya berbahagia di atas penderitaanku! Kau tahu betapa sakitnya hati ini dikhianati orang yang selama ini kuhormati? Ya, aku dulu sangat menghormatimu, Tante Rosa! Aku mengagumi profesionalitasmu dalam bekerja. Entah bagaimana ayahku bisa membangun bisnisnya tanpa dukunganmu. Tapi ternyata selama ini Papa memelihara seekor harimau di dalam rumahnya sendiri! Harimau ganas yang rupanya menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga Simon Hidayat!"
Rosa ternganga mendengar tuduhan-tuduhan wanita muda itu. Tak disangkanya anak yang dulunya begitu manis dan lucu ini telah berubah menjadi seorang wanita muda yang bengis dan ingkar pada janjinya sendiri. Kalau aku tahu Theresia akan bersikap seperti ini, dari awal aku takkan mau menemuinya di restoran, sesalnya dalam hati. Bagaimana mungkin dia semudah itu menjilat ludahnya sendiri. Dia sudah berjanji padaku akan bicara baik-baik dengan Karin, batinnya kecewa.
__ADS_1
"Bu Theresia," ucap Karin yang tidak tega menyaksikan tantenya dituding-tuding dan dikata-katai dengan kasar. "Saya memang bersalah telah menjalin hubungan dekat dengan suami Anda. Tapi harap Anda ketahui, hubungan kami terjalin setelah kalian berdua berpisah dan mengurus perceraian. Jadi sebenarnya bukan saya yang menyebabkan kehancuran perkawinan Ibu Theresia."
"Lalu siapa yang bersalah dalam hal ini?!" seru Theresia geram. "Sudah melakukan hubungan terlarang dengan suamiku, sekarang kau menuduh bahwa akulah yang menyebabkan hancurnya perkawinanku sendiri. Hah! Mana ada pelakor yang mengakui kesalahannya. Dasar perempuan murahan! Hatimu ternyata begitu culas di balik wajah yang kelihatan polos tak berdosa itu. Begitu caramu rupanya merebut hati suamiku? Dengan berpura-pura lugu, naif, lemah lembut...."
"Saya...saya benar-benar minta maaf, Bu There," kata Karin dengan suara parau. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Sama sekali tak ada niatan dalam hati saya untuk menghancurkan rumah tangga orang lain. Kalau Ibu Theresia memang berpendapat demikian, saya tak bisa berbuat apa-apa...."
Tiba-tiba perutnya terasa mual. Dia lalu permisi pergi ke kamar mandi sebentar. Theresia memandanginya dengan tatapan bengis seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat.
Theresia menghela napas panjang. Tante Rosa benar, akunya dalam hati. Percuma aku marah-marah terus. Toh, semuanya sudah terjadi. Papa di surga juga takkan suka melihatku begini. Pakai logika, There. Pakai logika! Baik, Papa. Aku sudah separuh jalan ini. Akan kuturuti nasihatmu....
"Saya minum dulu ya, Tante," ujarnya pada sang nyonya rumah. Rosa mengangguk mengiyakan. Selanjutnya sang tamu mengeluarkan sedotan dari dalam plastik dan menusukkannya pada tutup air mineral gelas di depannya. Hatinya berangsur-angsur tenang setelah meneguk air itu beberapa kali. Suasana kembali hening hingga akhirnya Karin muncul kembali.
Sepasang mata gadis itu tampak sembab. Hidungnya memerah. Kelihatan sekali dia habis menangis. Namun Theresia tak sedikit pun merasa kasihan. Dia justru semakin bersemangat menuntaskan rencananya.
__ADS_1
"Kemarin Mas Jon memintaku untuk mempercepat proses perceraian. Agar dia dapat menikahimu sebelum perutmu semakin besar. Dia takut kau akan menjadi pergunjingan orang karena mengandung tanpa suami," ucap wanita itu sambil menatap nanar gadis yang tertunduk di hadapannya.
Melihat Karin diam saja tak berkomentar, Theresia melanjutkan, "Sekarang aku bertanya padamu, Karin. Apakah kau siap menikah dengan Mas Jon dan menjadi seorang ibu? Tidakkah kau ingin meraih masa depan yang lebih baik daripada menikah dengan seorang pria yang akan menjelang usia empat puluh tahun dan menjadi ibu rumah tangga biasa? Kamu masih muda, cantik, dan berpendidikan tinggi. Masa depan yang indah masih terbentang lebar di hadapanmu dan bisa diraih dengan mudah asalkan kau menginginkannya."
Sang gadis menengadahkan wajahnya. "Saya tidak mengerti maksud Ibu Theresia," sahutnya lugu.
Sementara itu Rosa tiba-tiba merasa ngeri. Dia merasakan sebuah firasat yang tidak enak. Sorot mata dan raut wajah Theresia kini tampak begitu dingin, seolah-olah tak mempunyai perasaan. Namun tante Karin itu tak sanggup berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Dia menyesal sekali telah membawa putri mantan bosnya itu datang ke rumah ini.
"Aku ingin mengajukan sebuah penawaran yang sifatnya win-win solution bagi semua pihak, Karin," cetus Theresia tenang. "Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Papa dan Tante Mila meninggalkanku hidup sebatang kara. Umurku sudah tak muda lagi dan aku yakin kau juga tahu bahwa rahimku mandul. Jadi kuminta kerendahan hatimu untuk menebus kesalahanmu dengan cara...menyerahkan anak yang kau kandung untuk kuasuh bersama Mas Jon!"
Karin terbelalak mendengar permintaan istri kekasihnya itu. Rosa sendiri sampai melongo. Ya Tuhan! pekiknya dalam hati. Apa-apaan Theresia ini? Bagaimana mungkin dia meminta keponakanku menyerahkan darah dagingnya sendiri?
"Kalian berdua jangan kuatir," jelas Theresia kemudian. "Akan kuasuh anak itu dengan baik bagaikan anak kandungku sendiri. Ini solusi yang paling fair bagi semuanya, Karin. Kau menebus kesalahanmu dengan menyerahkan anakmu untuk kuasuh bersama suamiku. Setelah itu dirimu bebas untuk selamanya. Tak ada yang akan menyebutmu sebagai wanita perebut suami orang. Kau akan terlahir kembali sebagai seorang gadis yang tanpa cela dan siap meraih mimpi-mimpimu. Tawaran yang bagus sekali, bukan?"
__ADS_1