Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Kapan Balik ke Rumah, Mas?


__ADS_3

“Ceileee…, romantis banget, yeee….”


Jonathan cuma nyengir menanggapi godaan kawan baiknya itu.


“Duluan, ya. Aku mau turun lewat tangga. Lift-nya udah tertutup. Males nunggu lagi,” ujar laki-laki itu seraya melambaikan tangannya pada Mina.


“Bye, Bro. Sampai ketemu lagi di gym, ya,” balas perempuan itu centil.


Mereka berdua lalu berpisah. Jonathan turun tangga menuju ke kantin sedangkan Mina ngeloyor masuk ke kamar temannya yang dekat lift.


Untung aku berpapasan dengan Mimin di depan lift, gumam Jonathan dalam hati. Coba kalau di depan kamar There. Wah, wah, wah…, suara cemprengnya bisa bikin perang dunia antara aku dengan istriku!


 ***


“Nasi ayam penyetmu sepertinya sedap banget, Mas,” celetuk Theresia sembari memperhatikan suaminya yang menyantap makanannya dengan lahap. Seperti biasa Jonathan memakai tangan dan mulutnya mendesis-desis kepedasan. Istrinya tersenyum geli melihatnya. Diambilnya sehelai tisu di atas bufet yang terletak persis di samping pembaringan. Dia sendiri hanya bisa makan sedikit karena lambungnya belum mampu mencerna makanan dalam porsi besar.


“Stop sebentar makannya, Mas,” ucapnya lembut.


“Oh, kenapa?” tanya suaminya heran.


“Mau menghapus keringatmu,” jawab sang istri seraya mengusap pelipis pria di depannya dengan tisu.


Jonathan terkesima. Dia jadi teringat Karin yang melakukan hal serupa sewaktu makan siang bersamanya tempo hari. Aneh, cetusnya dalam hati. Seharusnya aku tidak boleh memikirkan perempuan lain di saat sedang berduaan dengan istriku. Apalagi kami sudah lama tidak bertemu. Wah, bahaya nih, pikirnya panik.


“Mas Jon kok kelihatan gelisah gitu? Ada apa?”


“Oh, nggak kok, Sayang. Nggak ada apa-apa. Cuma kaget saja melihatmu jadi perhatian begini padaku.”


Theresia tersenyum senang. “Kamu suka nggak kuperhatikan kayak gini, Mas?”


“Suka, dong. Dulu kamu juga sangat perhatian padaku.”

__ADS_1


Sang istri tersentak. “Dulu…,” ucapnya sendu. Matanya menerawang ke langit-langit ruangan. “Dulu kita sangat bahagia ya, Mas? Di awal-awal pernikahan. Waktu belum kepikiran punya anak….”


Tiba-tiba sepasang mata indah wanita itu tampak berkaca-kaca. “Maafkan aku ya, Mas. Selama ini kekecewaanku akibat tidak bisa mempunyai keturunan kulampiaskan padamu. Aku suka mencari-cari perhatian dengan menuntutmu memenuhi permintaanku yang aneh-aneh dan nggak masuk akal. Kamu menderita sekali hidup bersamaku ya, Mas?”


Lalu Theresia menangis sesenggukan. Ia sangat menyesali tindakannya yang selama ini bersikap semena-mena terhadap suaminya. Jonathan terpaku menyaksikan penyesalan istrinya. Akhirnya...There kembali menjadi istri yang manis seperti dulu, batinnya terharu. Dia meletakkan kotak makannya di atas bufet. Lalu dipeluknya wanita yang sedang sakit itu dengan kedua lengannya. Kedua tangannya yang amis dijauhkannya supaya tidak mengenai Theresia.


“Sudahlah, Sayang. Jangan berpikir yang berat-berat. Kamu kan sedang sakit.”


“Apakah kamu mau memaafkanku, Mas? Aku sungguh menyesal telah menyakitimu.”


“Tentu saja, Sayang. Bahkan sebenarnya aku sudah lama memaafkanmu. Kalau tidak, mana mungkin aku datang menjengukmu sekarang.”


“Terima kasih banyak ya, Mas. Kamu baik sekali.”


Jonathan mengangguk pelan. Kemudian secara perlahan dilepaskannya pelukannya.


“Aku cuci tangan sebentar ya, Sayang,” katanya meminta ijin.


“Nggak apa-apa. Supaya aku bisa lebih leluasa memelukmu.”


Theresia seketika tertawa geli. Suaminya lega melihat sang istri sudah ceria kembali. Dia hendak beranjak menuju ke kamar mandi ketika didengarnya suara wanita itu mencegahnya.


“Lanjutkan saja makanmu, Mas. Aku suka melihatnya. Kamu selalu kelihatan lahap sekali kalau sedang makan ayam penyet, soto daging, rawon….”


Sang suami tersenyum mendengar ucapan istrinya yang seratus persen benar. Dia lalu meraih kotak makannya yang tadi diletakkannya bufet dan melanjutkan santap malamnya. Theresia memperhatikannya sambil berkata, “Aku sudah belajar memasak soto daging dan rawon, Mas. Kapan-kapan kubuatin, ya.”


“Wow! Kamu belajar masak?” tanya Jonathan tak percaya.


Sang istri mengangguk dan tersipu malu. Selama ini dia  tidak  pernah suka dengan segala aktivitas dapur. Untunglah mereka mempunyai Bi Sum yang pintar memasak dan setia bekerja di rumah mereka selama bertahun-tahun.


“Aku belajar memasak soto daging dari Tante Mila. Mas Jon kan paling suka soto buatannya. Terus aku juga belajar bikin rawon dari….”

__ADS_1


“Bi Sum,” sela sang suami dengan penuh keyakinan.


Theresia mengangguk sambil tersenyum lebar. Suaminya senang sekali melihatnya. Wajah sang istri sekarang tampak begitu bersinar dan memancarkan aura kecantikan alaminya.


“Kamu cantik sekali kalau begini, There,” puji Jonathan takjub. Sudah lama sekali dia tidak melihat istrinya tanpa polesan seperti ini. Bahkan di dalam rumah pun Theresia masih gemar berdandan untuk ber-selfie ria supaya bisa di-upload di media sosialnya.


“Hahaha…, cantik apanya? Mas Jon sekedar mau menghiburku saja, kan? Wong aku sama sekali nggak dandan, cuma pakai baju pasien, sedang sakit pula.”


“Kecantikan yang sejati itu terpancar dari aura, Sayang. Bukan dandanan yang menor dan berlebihan.”


“Jadi selama ini dandananku terlalu berlebihan ya, Mas?”


Sang suami diam saja. Dia takut jawabannya akan merusak suasana hati Theresia yang sedang baik. Dia lalu berusaha mengalihkan perhatian dengan melanjutkan aktivitas makannya. Sang istri memutuskan untuk tak bertanya lebih lanjut dan kembali memperhatikan gerak-gerik suaminya yang asyik makan.


Tak lama kemudian nasi ayam penyet itu habis tak tersisa. Theresia menyodorkan sepiring berisi lauk rumah sakit yang belum disentuhnya karena dia tadi cuma mampu menghabiskan semangkuk bubur dan sup. Ada juga semangkuk buah pepaya yang isinya tinggal sedikit.


“Ini dimakan juga lauknya, Mas. Belum kusentuh sama sekali. Buahnya sudah kumakan sebagian.”


Suaminya mengangguk. Dibersihkannya tangannya yang amis dengan sehelai tisu. Kemudian disantapnya habis sisa makanan Theresia tadi. Setelah aktivitas mengisi perutnya selesai dan mencuci tangan di kamar mandi, Jonathan kembali bercengkerama dengan istri tercinta.


“Mas Jon….”


“Iya, Sayang.”


“Kapan Mas Jon…ehm…pulang kembali ke rumah?” tanya Theresia agak malu-malu. Dilihatnya sang suami diam saja tidak bereaksi. Lalu diberanikannya dirinya untuk melanjutkan ucapannya, “Aku…aku berjanji akan tetap menjalani terapi dengan psikiater dan rutin minum obat sesuai dosis, Mas. Juga program meditasi kulanjutkan. Dan aku sudah tidak bergaul lagi dengan teman-teman sosialita….”


Kalimat-kalimat wanita itu terhenti seketika karena tangan suaminya tiba-tiba menutup mulutnya. Sorot mata pria yang sangat dicintainya itu begitu teduh menatapnya. Dada Theresia jadi berdebar-debar.


“Aku percaya kamu akan menepati janjimu, Sayang. Sudah kulihat banyak perubahan dari sikapmu di chat WA maupun sekarang ini. Aku akan pulang kembali ke rumah di hari pertama kamu keluar dari rumah sakit.”


Theresia merasa begitu terharu mendengar pernyataan tulus dari laki-laki di hadapannya. Mengikuti dorongan hatinya, dimajukannya wajahnya hingga dekat sekali dengan Jonathan. Lalu diciuminya bibir suaminya itu dengan penuh kasih sayang. Sang suami membalasnya dengan hangat. Ia berdoa dalam hati agar istrinya dapat terus bersikap menyenangkan seperti ini dan tidak terjadi lagi drama rumah tangga yang dulu membuatnya benar-benar kelelahan secara jasmani dan rohani.

__ADS_1


***


__ADS_2