Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Simon Akhirnya Tahu


__ADS_3

“Jadi begitulah, Pa,” pungkas sang menantu mengakhiri laporannya. “Semua kewajiban saya sudah selesai. Untuk sementara Karin dapat membantu Papa ataupun There kalau ada yang kurang dimengerti.”


Dahi Simon berkerut seketika. “Untuk sementara?”


Lawan bicaranya mengangguk. “Karin juga mengajukan pengunduran diri. Tapi kepala HRD memintanya untuk bertahan selama tiga bulan ke depan, Pa. Karena departemen HRD masih harus mencari penggantinya terlebih dahulu. Karin tidak keberatan menunggu.”


“Kenapa dia mau berhenti juga? Bukankah belum lama bekerja di sini? Dia keponakan Rosa, kan?”


“Betul, Pa. Karin keponakan Bu Rosa. Dia hampir dua bulan bekerja di sini.”


“Lalu apa alasannya dia resign?” cecar Simon agak emosional. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres


Jonathan berusaha menjawab dengan tenang, “Katanya dia tidak begitu betah bekerja di perusahaan sebesar ini. Sebelumnya gadis itu bekerja di sebuah distributor kertas yang merupakan perusahaan kelas menengah.”


“Omong kosong. Cepat panggil dia sekarang! Biar kutanyai langsung gadis itu,” perintah Simon sewot.


Sang menantu mengangguk patuh meskipun dalam hati dia kurang menyukai reaksi ayah mertuanya itu. Kita kan tidak dapat memaksa orang lain terus bekerja kalau dirinya sendiri sudah tidak betah, batinnya dongkol. Dengan berat hati laki-laki itu melangkah keluar ruangan. Beberapa saat kemudian dia sudah kembali bersama seorang gadis bertubuh tinggi langsing dan berpakaian formal.


Ini rupanya keponakan Rosa, komentar Simon dalam hati begitu berhadapan langsung dengan  Karin. Aku tidak begitu mengenalinya karena di acara pernikahan tantenya dulu dia mengenakan gaun pesta dan didandani begitu cantik.


Sekarang pun kecantikannya masih memancar, meskipun dengan make-up tipis. Penampilannya mengingatkanku pada Rosa dulu ketika datang melamar pekerjaan di sini. Begitu naif namun percaya diri, gumam Simon dalam hati.


“Selamat siang, Pak Simon,” sapa Karin sambil menganggukkan kepalanya memberi hormat. Nyalinya agak mengerut menyaksikan aura kewibawaan yang memancar dari raut wajah  pemilik perusahaan tempatnya bekerja ini. Mantan bos tantenya selama dua puluh satu tahun.

__ADS_1


“Hmm…, Karin. Kamu keponakan Rosa, kan?” tanya laki-laki tua yang masih tampak gagah itu lugas.


“Betul, Pak Simon,” jawab Karin takut-takut. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Jonathan yang berdiri di belakangnya ingin sekali merengkuh gadis itu untuk melindunginya. Ia tidak suka melihat cara ayah mertuanya memandang Karin. Seperti hakim yang akan menjatuhkan hukuman pada terdakwa, pikirnya geram.


Simon sama sekali tak mempersilakan sekretaris Jonathan itu duduk. Dia justru menatap tajam gadis itu seolah-olah hendak menunjukkan kekuasaannya.


“Kudengar dari Jonathan, kamu juga mengundurkan diri. Benarkah bagitu?”


“Benar, Pak Simon.”


“Apa alasannya?”


“Saya merasa kurang betah bekerja di perusahaan sebesar ini, Pak.”


Simon mendelik mendengar jawaban naif keponakan mantan sekretarisnya itu. Ia mendengus jengkel,  lalu berkata, “Anak muda sepertimu biasanya suka bekerja di perusahaan besar karena masa depannya lebih terjamin. Gaji lebih tinggi, pengalaman kerja lebih dihargai,  jenjang karir lebih luas, dan lain-lain. Tapi kamu kok malah melepaskan pekerjaan yang diidam-idamkan banyak orang hanya karena kurang betah?” tanya pria tua itu menyudutkan. “Alasan apa itu? Kamu ini sebenarnya serius mau bekerja atau tidak?”


“Kamu belum menjawab pertanyaanku barusan, Karin,” tegas Simon semakin menyudutkan. Sang gadis lalu mengangkat wajahnya perlahan-lahan dan memandang pria tua itu dengan sinar mata lugu.


“Saya serius bekerja di perusahaan ini, Pak Simon. Bahkan saya rela meninggalkan perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya untuk pindah kemari. Tetapi dengan berjalannya waktu ternyata saya…saya merasa kurang tepat menggantikan posisi penting Tante Rosa di sini….”


“Kenapa begitu? Apakah pekerjaanmu di sini jauh lebih berat dibandingkan di perusahaan sebelumnya?”


“Bu…bukan begitu, Pak Simon. Bukan begitu…,” jawab Karin ketakutan. Tubuhnya mulai bergetar. Ternyata mantan bos Tante Rosa ini keras orangnya. Hebat sekali tanteku itu sanggup menghadapinya selama dua puluh tahun lebih, batinnya galau. Atau…jangan-jangan karena itulah Tante tetap bisa profesional dalam bekerja. Tidak sampai jatuh hati pada pimpinannya yang galak ini.

__ADS_1


Tiba-tiba gadis itu merasa geli sendiri dengan pikirannya barusan. Tanpa sadar bibirnya mengulas sebuah senyuman tipis yang segera ditangkap oleh penglihatan Simon.


“Apa yang kamu tertawakan?” tanya pria tua itu garang.


Karin terkejut bukan kepalang. Tubuhnya oleng dan hampir terjatuh kalau saja tidak segera ditangkap oleh Jonathan yang berdiri di belakangnya. “Kamu tidak apa-apa, Karin?” tanya laki-laki itu panik. “Wajahmu pucat sekali.”


Simon terbelalak menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ya, Tuhan! Apa aku tidak salah lihat? batinnya terluka. Menantuku kelihatan begitu menguatirkan keadaan sekretaris yang belum sampai dua bulan bekerja untuknya! Ada apa ini sebenarnya? Masa Jonathan menjalin hubungan terlarang dengan pegawainya sendiri?


Sementara itu Karin yang merasa malu segera melepaskan diri dari pelukan Jonathan. “Saya tidak apa-apa, Pak,” sahutnya singkat sambil bergerak menjauh dari pria yang akhir-akhir ini menghiasi mimpi-mimpinya itu.


Jonathan yang menyadari kecerobohannya di depan mertua juga segera menjauh dari gadis itu. Dia lalu berpura-pura menegur Karin, “Kalau ditanya atasan, jangan melamun apalagi sampai tertawa. Itu sangat tidak sopan.”


“Ma…maaf, Pak Jonathan,” jawab Karin terbata-bata.


“Minta maaflah pada Pak Simon, bukan pada saya,” tegur Jonathan sekali lagi.


Sang gadis mengangguk. Ia lalu mengucapkan permintaan maaf kepada Simon. Suasana menjadi hening seketika. Simon yang tengah duduk bagaikan hakim di kursi kerjanya memperhatikan sikan pria dewasa dan gadis muda yang berdiri di hadapannya.


Selama ini tak pernah terdengar desas-desus Jonathan menjalin hubungan istimewa dengan perempuan lain. Perkara perpisahannya dengan There tempo hari itu murni akibat kesalahpahaman anakku sendiri terhadap suaminya, pikirnya berusaha menganalisa keadaan. Tetapi barusan di depan mataku sendiri kulihat menantu kebanggaanku ini memeluk sekretarisnya agar tidak terjatuh. Dirinya kelihatan begitu panik dan sangat menguatirkan gadis ini. Apakah di antara mereka telah terjalin hubungan yang tak semestinya?


Tiba-tiba rasa muak menyelinap dalam hati ayah kandung Theresia itu. Bagaimanapun juga Jonathan masih sah secara hukum berstatus sebagai menantunya. Tak selayaknya dia memperhatikan wanita yang bukan istrinya sendiri! pikir Simon geram.


Dia lalu menatap Karin dengan tajam dan bertanya dengan nada tinggi, “Gadis muda, kalau dirimu merasa tidak  pantas menggantikan posisi Rosa sebagai sekretaris direktur utama di perusahaan ini, lalu siapa pegawai di sini yang menurutmu pantas?”

__ADS_1


Karin terkejut. Tapi lalu dia menyebutkan sebuah nama di departemen akunting. Simon menganggukkan kepalanya lalu berkata tegas, “Kalau begitu, pergilah sekarang dan bawa orang itu ke meja kerjamu. Lakukan serah terima seluruh pekerjaanmu padanya sekarang juga. Lalu segera bereskan barang-barangmu dan pergilah meninggalkan kantor ini untuk selama-lamanya!”


Baik Karin maupun Jonathan terperanjat mendengar keputusan Simon yang tiba-tiba itu. Jonathan berusaha menengahi, “Papa, apakah tidak sebaiknya dipertimbangkan dulu keputusan ini? Karena kepala HRD sendiri meminta Karin untuk tetap tinggal sampai diperoleh penggantinya….”


__ADS_2