
"Aku tahu apa saja permintaan Theresia padamu, Karin. Dia ingin kamu menikah denganku sepeninggal dirinya. Lalu kita dan Valentina pergi menyusuri klinik-klinik di Tiongkok sesuai data yang dikumpulkannya. Aku yakin kau takkan sanggup menolaknya. Kondisi istriku yang mengenaskan membuat siapapun yang masih punya hati nurani pasti mengabulkan apapun permintaannya. Aku mengerti jika kamu pun demikian. Tapi jika kau keberatan menjadi istriku, tak usah memaksakan diri. Cukup di depan There saja kau berjanji. Tak perlu kau korbankan masa depanmu demi menikah dengan laki-laki tua seperti diriku."
"Cukup!" sela gadis itu seraya menutup mulut Jonathan dengan telapak tangannya. "Aku memang berjanji pada Mbak There. Tapi bukan karena terpaksa. Aku...aku...bersedia melakukannya dengan setulus hati."
"Benarkah itu?" tanya laki-laki itu memastikan. Ekspresi wajahnya mulai melembut.
Karin mengangguk. "Aku bukan sedang berbahagia di atas penderitaan Mbak Theresia, Mas. Hatiku pun miris menyaksikan kondisinya saat ini. Dia begitu kurus dan...ehm...maaf...kelihatan tua. Rambutnya itu tidak asli, kan?"
Jonathan mengangguk mengiyakan. "There sengaja memakai wig supaya Valentina tidak takut melihatnya dengan kepala gundul. Dan dia sendiri juga jadi lebih percaya diri bertemu orang lain."
Karin manggut-manggut mengerti. "Mbak There seorang wanita yang kuat. Tak sekalipun tadi dia mengeluhkan penyakitnya. Hanya masa depan Valentina yang dipikirkannya. Aku sekarang merasa bersyukur sekali telah menyerahkan anakku kepadanya."
"Anak kita," sela Jonathan membetulkan.
Gadis itu tersenyum. "Iya, anak kita...."
Perasaan kedua insan itu kini sama-sama lega. Tak ada sedikit pun rasa curiga ataupun saling tak percaya lagi. Tak terasa mobil Jonathan sampai di depan rumah Karin.
"Kamu masih tinggal sendirian di rumah Bu Rosa ini, Rin?" tanya pria itu ingin tahu.
"Iya. Rumah ini baru selesai dikontrakkan satu bulan yang lalu, Mas. Penyewanya merawatnya dengan baik, sehingga kondisinya siap huni begitu dia keluar. Aku langsung diminta Tante Rosa menempatinya."
__ADS_1
"Oh, pantas."
"Pantas kenapa, Mas?"
"Sekitar dua bulan yang lalu There minta dengan sangat supaya aku mencarimu. Bu Rosa dan Mina bilang kau masih berada di Beijing dan tak ingin diganggu. Tapi hati kecil There mengatakan bahwa kamu sudah pulang ke Indonesia. Dia memaksaku mencarimu kemari. Sayangnya aku melihat keluarga muda dengan dua orang anak kecil menempati rumah ini. Waktu kutanya, katanya mereka sudah lama mengontrak rumah Bu Rosa...."
Karin meringis. "Barangkali waktu itu dianggap Tuhan belum tepat untuk mempertemukan kita, Mas," katanya menyimpulkan.
"Benar," sahut Jonathan setuju. "Akhirnya semua indah pada waktuNya."
Keduanya berpandang-pandangan. Senyuman tulus tersungging di bibir masing-masing.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Mas Jon," ujar Karin bersiap-siap untuk turun.
"Selamat malam."
Kemudian Karin membuka pintu dan turun dari mobil. Dia melangkah ringan menuju pintu pagar rumahnya. Seringan hatinya karena telah berdamai dengan Theresia dan Jonathan. Orang-orang dari masa lalu yang sebelumnya dihindarinya mati-matian.
***
Sesampainya di rumahnya sendiri, Jonathan langsung masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya istrinya tengah tidur lelap di atas pembaringan. Perawat pribadinya melaporkan berita baik.
__ADS_1
"Bu There kelihatan bersemangat sekali setelah bertemu tamunya tadi, Pak. Makan malamnya cepat habis, bahkan minta tambah sampai beberapa kali. Saya menyuapinya sedikit demi sedikit supaya tidak muntah. Tapi beliau tidak sabar sampai akhirnya berinisiatif makan sendiri," cerita perempuan itu dengan wajah berseri-seri.
Jonathan tersenyum senang. "Syukurlah kalau begitu," jawabnya singkat. "Saya mau mandi dulu, Sus. Terus menengok Valentina. Sus jaga istri saya sebentar, ya."
"Siap, Pak Jon."
Laki-laki itu lalu mengambil baju ganti di dalam lemari. Dibawanya masuk ke dalam kamar mandi yang tembusan dengan kamar tidurnya. Setelah membersihkan tubuhnya dan memakai baju santai, dia keluar dari kamar mandi. Didekatinya istrinya sejenak. Theresia masih tidur. Napasnya terdengar begitu teratur.
Mudah-mudahan tidurnya panjang kali ini, harap laki-laki itu. Biasanya dia suka terbangun karena rasa sakit yang mendera kepala dan sekujur tubuhnya.
Kemudian Jonathan beranjak keluar kamar. Dia berjalan pelan menuju ke ruang tidur putrinya. Dibukanya pintu kamar Valentina perlahan. Dalam keremangan tampak sosok tubuh putrinya yang terbaring di atas ranjang. Didekatinya anak semata wayangnya itu. Dikecupnya pelan dahinya yang mulus. Gadis kecil itu mengerang pelan tapi tetap tertidur.
Jonathan tersenyum. Damai sekali rasanya menyaksikan dua perempuan yang dicintainya tertidur pulas malam ini. Ditengoknya bawah ranjang putrinya. Bi Sum rupanya juga sudah tidur, cetusnya dalam hati. Sejak Theresia dirawat intensif di kamarnya enam bulan yang lalu, putri mereka terpaksa tidur di kamarnya sendiri. Bi Sum diminta Jonathan untuk menemaninya setiap malam. Dahulu Valentina selalu tidur bertiga dengan kedua orang tuanya.
Sang ayah mendesah. Masa-masa itu begitu indah. Tatkala setiap malam putri tercintanya tidur di tengah-tengah antara dirinya dan Theresia. Valentina kelihatan tenteram sekali berada dalam lindungan kedua orang tuanya. Setelah dia terlelap, Jonathan dan istrinya terkadang berkasak-kusuk untuk bermesraan di sofa ataupun di dalam kamar mandi. Waktu itu penyakit Theresia belum separah sekarang. Mereka masih dapat melakukan hubungan suami-istri meskipun tidak se-menggebu-gebu dulu.
Pun laki-laki itu tidak mengeluh. Bahkan dia seringkali merasa tak tega. Namun penolakannya justru membuat sang istri merasa rendah diri dan bersedih. Akhirnya diluluskannya keinginan Theresia dan mereka pun hanyut dalam hubungan intim yang penuh kasih sayang.
Jonathan tersenyum mengingat kenangan indah itu. Betapa akhirnya dia menyadari cintanya pada sang istri begitu dalam. Terkadang dia heran sendiri bagaimana bisa mencintai Theresia dan Karin pada saat yang bersamaan. Barangkali itulah kelemahannya sebagai seorang laki-laki. Namun tak pernah terbersit dalam hatinya untuk memiliki dua wanita itu sekaligus. Satu saja sudah cukup.
Setelah puas menengok Valentina, laki-laki itu kembali ke dalam kamarnya sendiri. Dimintanya perawat pribadi istrinya untuk beristirahat di kamar belakang. Dia akan tidur bersama Theresia. Begitulah kebiasaannya setiap malam. Tak ingin dilewatkannya momen memeluk sang istri sepanjang malam.
__ADS_1
"I love you, There," bisiknya lembut di sisi telinga istrinya. Dia lalu berbaring di samping wanita itu dan memeluk pinggangnya dari belakang. Sentuhannya membuat sang istri terjaga. Dia membalikkan tubuhnya menghadap suami tercinta dan bertanya, "Kamu sudah kembali, Mas Jon?"
Jonathan tersenyum. Dibelai-belainya pipi Theresia mesra. Entah kenapa istrinya begitu cantik di matanya saat ini. Meskipun kepalanya gundul pelontos. Rambut palsunya selalu dilepas saat tidur. Pagi hari setelah mandi, baru dipakainya lagi untuk berjaga-jaga kalau Valentina tiba-tiba masuk ke kamar mencari ibunya. Theresia tidak ingin anaknya ketakutan melihat kepalanya yang sudah tak berambut akibat efek negatif kemoterapi. Valentina hanya diberitahu ibunya sedang sakit dan perlu banyak istirahat. Itu saja.