
Aku tadi sempat beberapa kali menunjukkan perasaanku padanya. Apakah dia menyadarinya, ya? pikirnya gadis itu kalut. Aduh, padahal aku bukan gadis bau kencur yang baru pertama kali jatuh cinta. Kenapa masih belum mahir menyembunyikan perasaan di depan orang yang kutaksir, ya? batin Karin membodoh-bodohkan dirinya sendiri.
“Besok kalau belum ada kabar dari karyawati pengelola apartemen itu sebelum jam dua belas siang, aku akan diajak Pak Jon lagi keliling mencari-cari apartemen lain. Senang, sih. Tapi kalau aku keceplosan lagi gimana, ya?” tanya Karin pada dirinya sendiri. Aduh, bingung aku. Diajak pergi takut sikapku menunjukkan rasa sukaku padanya. Nggak diajak pergi hatiku ingin selalu bersamanya.
“Pusing, pusing!” pekik gadis itu seraya memegang kepalanya dan menggeleng-gelengkannya kuat-kuat.
Sementara itu di dalam kamar hotelnya, Jonathan langsung menghapus semua chat WA Theresia yang sebagian besar tidak dibacanya. Pesan-pesan yang sudah telanjur dibaca isinya rata-rata meminta maaf telah berbuat onar di acara perkawinan Rosa dan memohon laki-laki itu untuk pulang kembali ke rumah. Selanjutnya nomor WA istrinya itu diblokirnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
Diambilnya dompetnya di dalam tas kerjanya. Dibukanya dan langsung terlihat foto pernikahannya sepuluh tahun yang lalu. Dipandanginya selama beberapa saat lamanya. Ia dan Theresia tertawa bahagia dalam pesta pernikahan mereka dulu. Dengan berat hati dia berkata dengan suara lirih, “Maafkan aku, Sayang. Tak seorang pun menginginkan kegagalan dalam pernikahannya. Aku sudah berusaha semampuku. Ternyata…aku tetaplah manusia biasa yang mempunyai kelemahan. Selamat tinggal. Semoga kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri setelah perpisahan kita.”
Dikeluarkannya foto tersebut dari dalam dompet. Dirobek-robeknya hingga menjadi potongan-potongan kecil. Tak terasa matanya basah saat melakukannya. Dibuangnya foto kenangannya bersama Theresia yang sudah terkoyak-koyak ke dalam tempat sampah. Dirabanya jari manisnya yang sudah polos tanpa cincin kawin. Cincin emas putih bertahtakan berlian itu hari Sabtu lalu diletakkannya di atas meja rias kamar tidurnya di rumah sekembalinya dari acara pernikahan Rosa. Waktu itu dia segera berkemas-kemas dan membawa seluruh barang pribadinya ke hotel ini. Hotel yang dekat dengan pabrik cat tempatnya sehari-hari bekerja.
Sekarang mata Jonathan bukan sekedar basah. Dirinya menangis terisak-isak teringat akan kenangan-kenangan indahnya bersama sang istri. Lalu dia mulai berdoa secara Katolik. Memohon ampun kepada Tuhan karena terpaksa harus berpisah dengan pasangan hidup yang sebenarnya tidak boleh diceraikan dengan alasan apapun juga….
__ADS_1
***
Theresia menatap nanar pada layar ponselnya. Matanya tampak sembab karena menangis terus setiap hari. Ia juga hanya makan sedikit selama tiga hari terakhir. Susah payah Simon dan Mila membujuknya agar menelan nasi dan lauk lebih banyak. Sang ayah yang cemas akan kondisi kejiwaan putri tunggalnya berpesan kepada istrinya untuk menyembunyikan semua benda tajam di dalam rumah mereka. Ia kuatir kejadian Theresia yang mengancam akan membunuh suaminya ketika Jonathan pertama kali meninggalkan rumah akan terulang kembali.
Namun rupanya anaknya itu tidak lagi berpikir ke arah sana. Sepanjang hari kegiatannya hanya menangis dan berusaha menghubungi Jonathan terus-menerus meskipun tidak dihiraukan sama sekali.
Mila menawarkan diri untuk menemani anak tirinya tidur setiap malam. Theresia yang semasa kecilnya kekurangan kasih sayang orang tua hanya dapat mengangguk pasrah. Dirinya merasa membutuhkan dukungan yang luar biasa saat ini. Mila yang tidak dikaruniai anak kandung berusaha menjadi seorang ibu yang baik. Diciumnya kedua pipi Theresia sebelum tidur dan dipeluknya wanita itu dengan penuh kasih sayang. Hubungan keduanya menjadi semakin erat. Sang anak tiri mencurahkan segenap penyesalannya telah menyia-nyiakan kasih sayang Jonathan selama ini. Mila hanya mendengarkannya tanpa berkomentar sedikit pun. Sekarang waktuku untuk mendengarkan curahan hati Theresia. Bukan menghakiminya, putus wanita bijaksana itu dalam hati.
Saat malam itu Mila memasuki kamar putri angkatnya, dia terkejut sekali melihat wanita yang sedang mengalami depresi itu menghambur ke arahnya dan berteriak histeris. “Tante Mila! Mas Jon memblokir nomorku! Aku sudah tidak bisa lagi menelepon maupun mengirimkan pesan WA padanya. Semua chat-ku cuma centang satu sekarang. Centang satu!”
Tangis Theresia semakin keras. “Semuanya sudah selesai, Tante,” isaknya pilu. “Benar-benar sudah selesai….”
***
__ADS_1
Pada pukul sepuluh pagi keesokkan harinya, Jonathan menerima kabar bahwa penawarannya terhadap apartemen kemarin ditolak oleh sang pemilik. Ternyata orang itu menganggap nominal yang ditawarkan Joshua terlalu rendah. Dia lalu meminta kenaikkan sepuluh juta per tahun.
Sang calon penyewa tersenyum mendengar ulasan karyawati pengelola apartemen yang meneleponnya. Unit itu akan jatuh ke tanganku tak lama lagi, batin pria itu percaya diri. Lalu dia berkata pada sang karyawati agar menaikkan penawarannya sebesar lima juta per tahun. “Ini penawaran terakhir ya, Mbak,” ucapnya menegaskan. “Kalau si pemilik apartemen masih keberatan, berarti kami belum berjodoh. Mohon kabari saya secepatnya. Terima kasih,” pungkasnya penuh wibawa.
“Baik, Pak. Saya akan menginformasikannya pada si pemilik dan mengabari Pak Jonathan segera,” jawab sang karyawati ramah di telepon.
Laki-laki itu menghentikan pembicaraan mereka dan kembali berkutat dengan pekerjaannya. Tiba-tiba dia teringat untuk menelepon pengacara perempuan yang dulu mengurus perceraian Mina. Diraihnya ponselnya dan diteleponnya orang tersebut. Terdengar nada sibuk di seberang sana. Hmm…mungkin lebih baik aku mengirim pesan WA saja terlebih dahulu, putusnya dalam hati.
Halo, Bu Lusia. Perkenalkan, nama saya Jonathan. Saya memperoleh nomor WA Anda dari sahabat saya, Mina Sunyoto, yang pernah Anda bantu tangani kasus perceraiannya. Kebetulan saya sekarang membutuhkan jasa seorang pengacara untuk menangani kasus perceraian saya. Bisakah saya berkonsultasi dengan Anda? Terima kasih banyak sebelumnya.
Jonathan mencermati kalimat-kalimat yang diketiknya di ponsel itu satu per satu. “Sepertinya sudah cukup sopan kata-kataku,” ujarnya meyakinkan dirinya sendiri. “Ok, klik send. Done,” katanya puas.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Diangkatnya dan terdengar suara bersemangat karyawati pengelola apartemen yang menghubunginya lagi. Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan mendengarkan pemberitahuan darinya. Didengarkannya baik-baik ucapan-ucapan perempuan itu sambil sesekali menjawab singkat seperti iya, baik, dan terima kasih.
__ADS_1
Setelah pembicaraannya di telepon selesai, laki-laki itu membuka galeri ponselnya dan mengirimkan soft copy KTP serta Kartu Keluarga ke nomor WA perempuan itu. Dia tadi berkata membutuhkan kedua dokumen pribadi Jonathan itu untuk mengurus akta sewa-menyewa di notaris.
Akhirnya urusan yang satu ini beres juga, batin laki-laki itu lega. Sekarang tinggal menunggu respon dari pengacara bernama Lusia itu. Ah, sudah hampir jam dua belas siang, gumamnya dalam hati melihat jam dinding yang tergantung di tembok ruangannya. Waktunya makan siang. Makan sendiri atau ngajak Karin, ya? pikirnya gamang.