
"Sudahlah, Sayang," hibur Jonathan seraya memeluk istrinya yang histeris. "Tenangkanlah dirimu. Apappun yang terjadi kita akan selalu bersama-sama. Hentikan menghujat Tuhan. Kita sekarang belum tahu apa rencanaNya. Tapi aku yakin, segala sesuatu akan indah pada waktuNya."
"Kurang apa aku selama ini, Mas? Apa kesalahanku sehingga aku diberi penyakit mematikan seperti ini? Apa dosaku?" isak wanita itu tak henti-hentinya. Tiba-tiba dia terperangah mendengar perkataannya sendiri. Tangannya sampai menutup mulutnya saking terkejutnya. Ya, Tuhan! jeritnya dalam hati. Inikah hukuman atas dosaku pada Karin?
Ingatannya melayang pada gadis yang beberapa tahun lalu diancamnya sampai menangis histeris seperti dirinya saat ini. Karin, gadis yang waktu itu tengah mengandung Valentina, buah cintanya bersama Jonathan.
"Ini karma akibat dosaku pada Karin, Mas," ucapnya lirih. Dia sudah tidak histeris lagi. Tapi air matanya masih mengucur deras. "Tuhan bermaksud memperpendek umurku dengan cara memberiku penyakit ini. TujuanNya untuk menyatukan dirimu dan Valentina kembali dengan Karin."
"Hush! Jangan bicara yang bukan-bukan, Sayang. Bukankah kita sudah berjanji untuk melupakan semuanya?"
"Tapi Tuhan tidak melupakannya!"
Jonathan terhenyak. Dia tak tahu harus bagaimana lagi menenangkan hati istrinya. Sementara itu Theresia masih asyik berceloteh sendiri, "Setiap manusia di dunia ini pasti mengalami hukum tabur-tuai. Kau dan Karin dipisahkan karena telah menjalin hubungan intim di luar nikah. Sedangkan aku harus merawat Valentina karena tanpa sengaja telah membuatnya cacat semenjak masih dalam kandungan. Sekarang aku dihinggapi penyakit kritis supaya umurku pendek dan Karin dapat kembali lagi untuk bersatu denganmu dan Valentina!"
Sang suami mengelus-elus punggung Theresia dengan penuh kasih sayang. "Jangan berpikir terlalu jauh, Sayang. Tahukah kau, kata-katamu barusan membuatku sangat sedih. Seakan-akan apa yang kulakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada artinya bagimu. Aku benar-benar mencintaimu, There. Sudahlah, jangan kausebut-sebut namanya lagi. Dia sudah pergi dari kehidupan kita. Aku akan mendampingimu selama-lamanya...."
"Hingga maut memisahkan kita," sela Theresia tenang. Dia mendesah pedih. "Aku sudah menyadari semuanya sekarang, Mas. Baiklah. Kuterima kondisiku dengan besar hati. Ini harga yang harus kubayar demi bisa terus bersamamu dan Valentina. Tidak apa-apa. Aku bahagia hidup bersama kalian. Suami dan anakku...."
Senyuman tulus tersungging di bibir wanita itu. Dia sudah ikhlas menerima penyakit ganas yang bersarang di tubuhnya. Tahun-tahun terakhir ini meskipun terkadang membuatnya putus asa karena kondisi Valentina yang tak kunjung membaik, namun jiwanya merasa utuh berperan sebagai istri sekaligus ibu. Jauh lebih bahagia dibandingkan dulu ketika masih hidup di rumahnya yang besar di Surabaya berdua saja dengan Jonathan tanpa kehadiran seorang anak.
Aku akan menjalani perawatan dengan sungguh-sungguh ya, Tuhan, tekadnya dalam hati. Demi tetap menikmati kebersamaan dengan suami dan anakku tercinta....
***
Dua tahun kemudian. Seorang pria berusia empat puluhan tampak melangkah memasuki sebuah ruko tiga lantai. Di atas pintu masuk terdapat tulisan yang semuanya berhuruf besar: KURSUS BAHASA MANDARIN.
Seorang resepsionis berjilbab menyapanya, "Selamat datang. Ada yang bisa dibantu, Pak?"
__ADS_1
Pria yang kelihatan sudah tidak bercukur beberapa hari itu menjawab singkat, "Saya mencari Lin Laoshi."
"Oh, Lin Laoshi masih mengajar privat, Pak. Sepuluh menit lagi baru selesai dan langsung jam istirahat. Apakah Bapak bersedia menunggu?" jawab resepsionis itu ramah.
"Baiklah. Saya tunggu saja di sini. Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama, Pak."
Pria yang sorot matanya tampak sayu itu lalu memperhatikan keadaan sekeliling ruang tunggu itu dengan seksama. Ada beberapa foto yang dipajang di dinding ruangan yang bercat putih. Foto-foto murid-murid dan guru-guru lembaga kursus tersebut. Diamatinya wajah-wajah itu satu per satu, tapi tak ditemukannya sosok orang yang dicarinya.
"Maaf, Mbak. Sepertinya saya tidak melihat foto Lin Laoshi."
"Oh iya, Pak. Itu foto-foto lama. Lin Laoshi belum mengajar di sini waktu itu."
"Apakah beliau guru baru?"
"Begitulah, Pak. Baru sekitar enam bulan beliau mengajar di sini."
"Betul, Pak. Lin Laoshi lulusan S1 sastra Tionghoa di Beijing."
Tiba-tiba muncul seorang perempuan setengah baya berjilbab dari dalam ruko. "Saya sudah selesai. Pulang dulu ya, Mbak," pamitnya pada resepsionis.
"Baik, Bu. Hati-hati. Oya, apakah Lin Laoshi masih berada di dalam ruangan kelas, Bu?" tanya si resepsionis pada wanita yang rupanya adalah murid privat Lin Laoshi.
"Iya, Mbak. Beliau masih menulis-nulis gitu di dalam."
"Oh, baik. Terima kasih, Bu," jawab perempuan muda itu. Lalu dia berpaling pada tamu pria yang menunggu sejak tadi. "Boleh tahu siapa nama dan keperluan Bapak? Akan saya beritahukan pada Lin Laoshi."
__ADS_1
Laki-laki itu langsung menjawab, "Nama saya Bernard. Om'nya Lin Laoshi."
"Baik. Tunggu sebentar ya, Pak. Saya info ke beliau dulu. Permisi."
Pria itu mengangguk. Diperhatikannya resepsionis yang melangkah meninggalkan ruang tunggu tersebut. Sementara itu murid Lin Laoshi tersenyum ramah kepadanya.
"Lin Laoshi keponakannya Bapak rupanya," celetuk wanita setengah baya itu. "Orangnya baik dan sabar sekali mengajar bahasa Mandarin, Pak. Terutama bagi orang yang sama sekali nol seperti saya. Sekarang jadwal beliau penuh sekali setiap hari."
"Syukurlah Bu, kalau begitu," sahut pria itu singkat. Dia tersenyum penuh hormat.
"Mudah-mudahan Lin Laoshi awet bekerja di sini ya, Pak. Setidaknya sampai saya mahir berbahasa Mandarin. Hehehe...."
"Amin, Bu. Nanti saya sampaikan pada keponakan saya."
Perempuan itu mengangguk lalu pamit pulang. Pria itu kembali sendirian. Tak berapa lama kemudian si resepsionis muncul kembali. Kali ini ada seorang wanita muda berambut lurus panjang bersamanya.
Tamu pria yang mengaku sebagai pamannya berdiri sambil mengangguk. "Halo, Karin," sapanya sambil tersenyum. Sorot matanya yang semula sayu berubah menjadi berbinar-binar melihat orang yang dicarinya kini hanya berjarak satu langkah di depannya.
Lin Laoshi yang ternyata adalah Karin tercengang melihat laki-laki itu. Untuk apa dia datang kemari? tanyanya dalam hati. Dan bagaimana dia bisa tahu aku bekerja di sini?
"Boleh aku bicara berdua denganmu, Karin?" pinta orang itu dengan nada suara memohon. Tatapannya menyiratkan bahwa tujuan kedatangannya ini penting sekali.
Entah mengapa Karin tergerak untuk menganggukkan kepalanya. Gadis itu berkata singkat, "Mari ikuti saya."
Tanpa basa basi lagi Karin langsung membalikkan tubuhnya. Ia berjalan cepat masuk ke dalam. Tamu prianya mengangguk pada resepsionis yang memandanginya keheranan, lalu segera menyusul Karin di depannya.
Ternyata gadis itu membuka pintu ketiga di bagian kanan. Ketika tamu itu memasukinya, ruangan sudah terang benderang. Karin sendiri tengah berdiri menyalakan AC dengan remote control yang dipegangnya.
__ADS_1
"Ternyata ini ruangan kelas tempatmu biasa mengajar, Rin. Bagus juga. Bersih dan rapi," puji tamunya berbasa-basi.
Karin menatapnya dingin. Kedua tangannya disilangkan di depan dada. "Maaf, aku tidak punya banyak waktu , Mas Jon. Katakan saja apa tujuanmu sebenarnya datang kemari. Dan bagaimana kau bisa tahu aku bekerja di sini?"