
Setelah hampir tiga tahun menikah, semakin terbukti kesetiaan Mila terhadap suaminya. Simon sering mengikutsertakannya dalam berbagai hal. Laki-laki berusia enam puluh tahun itu sangat menghargai pendapat istrinya tersebut. Oleh karena itulah, ketika Theresia tadi meneleponnya sambil menangis terisak-isak, laki-laki tua itu langsung mengajak Mila ikut serta pergi ke rumah putri tercintanya.
Sekarang ia dan Jonathan duduk di sofa ruang keluarga untuk membahas persoalan yang terjadi. Dengan tanpa malu-malu akhirnya suami Theresia itu menceritakan segala hal yang terjadi dalam rumah tangganya selama setahun terakhir.
Dahi Simon sampai berkerut mendengarkan ceritan menantunya tersebut. Tak disangkanya putri tunggalnya sanggup bertindak sewenang-wenang terhadap suaminya sendiri. Ia menyadari bahwa anaknya itu memang sangat manja, terutama sejak ibu kandungnya meninggal dunia sewaktu Theresia masih berusia sepuluh tahun.
Simon yang tak sempat mendidik anaknya karena terlalu sibuk bekerja mempercayakan pengasuhannya begitu saja kepada seorang pembantu setengah baya yang belum pernah menikah dan kurang memahami cara mendidik seorang anak perempuan dengan baik. Beberapa tahun kemudian pembantu tersebut akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja karena usianya yang semakin tua. Theresia yang sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja kemudian menjadi semakin berkuasa di rumahnya sendiri dan tak mengerti bagaimana cara memperlakukan seorang laki-laki dengan semestinya. Ayahnya selalu mengabulkan keinginan-keinginannya dengan tujuan supaya gadis itu tidak mengganggunya terus-menerus dengan rengekan-rengekan manjanya.
Beberapa pemuda sempat hadir dalam kehidupan Theresia yang secara fisik memang sangat mempesona, tapi semuanya hanya sanggup bertahan menjalin kasih dengannya dalam hitungan bulan. Hingga akhirnya Jonathan muncul dan membuat gadis cantik itu benar-benar jatuh cinta. Putri tunggal Simon itu mulai menurunkan egonya demi mempertahankan hubungannya dengan pemuda yang berasal dari keluarga sederhana tersebut.
Simon menaruh harapan besar Jonathan dapat membuat karakter Theresia semakin membaik ke depannya sehingga ia tidak mau menunda-nunda pernikahan mereka. Syukurlah impiannya menjadi kenyataan. Sikap dan perilaku Theresia perlahan-lahan membaik. Ia mulai mampu menghargai orang lain. Oleh karena itulah ayahnya akhirnya mulai memikirkan keadaaannya sendiri. Laki-laki tua itu menjalin kembali hubungannya yang dahulu kandas dengan Mila dan bahkan akhirnya menikahinya secara resmi. Dalam hati Simon merasa sangat bersyukur di masa tuanya hidupnya terasa lengkap secara lahir dan batin.
Hingga kemudian Theresia mengatakan padanya bahwa beberapa dokter di luar negeri memvonis dirinya mandul. Perasaannya sebagai seorang ayah turut berduka mendengar kabar tak menggembirakan itu. Namun dengan bijaksana lelaki yang sudah banyak makan asam garam kehidupan itu menasihati putrinya agar mengadopsi anak saja. Buah hatinya itu menolaknya mentah-mentah dengan alasan takut tidak sanggup menyayangi anak angkatnya dengan sepenuh hati layaknya darah dagingnya sendiri.
Sebagai orang tua yang menghargai pemikiran anaknya, Simon memutuskan untuk tidak memaksakan kehendaknya itu. Tahun demi tahun pun berlalu dengan damai. Tak pernah terlihat ataupun terdengar keributan terjadi di antara anak dan menantunya. Sampai tiba-tiba setengah jam yang lalu Theresia meneleponnya sambil menangis tersedu-sedu. Anak perempuannya itu mengadukan suaminya yang berselingkuh dengan perempuan lain dan mau angkat kaki dari rumah. Tanpa banyak bertanya, Simon langsung mengajak istrinya pergi mengunjungi putrinya yang sedang dilanda masalah besar itu.
Untunglah rumah mereka tidak jauh jaraknya meskipun berbeda komplek. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke rumah Theresia dengan mengendarai mobil.
__ADS_1
“Jadi kamu benar-benar tidak berselingkuh dengan perempuan bernama Mina atau Mimin itu, Jon?”
“Sama sekali tidak, Pa. Saya sendiri tidak mengenalinya ketika bertemu kemarin di bioskop. Dugaan itu sama sekali tak beralasan. There hanya mengada-ada.”
“Baiklah. Aku percaya padamu, Jon. Lalu sekarang kamu mau pergi ke mana?”
“Saya mau menginap di hotel dekat pabrik, Pa. Jadi besok pagi bisa langsung pergi ke kantor. Ada masalah yang harus segera diselesaikan.”
Jonathan lalu menceritakan masalah di pabrik cat. Ayah mertuanya mengangguk-angguk tanda mengerti. “Apakah kamu sudah mempunyai gambaran bagaimana cara menyelesaikannya, Jon?”
“Saya akan memikirkannya nanti kalau sudah tenang di hotel, Pa. Saat ini saya belum dapat berpikir tentang apapun selain….”
Jonathan menatap laki-laki itu dengan sorot mata memohon pengertian. “Maafkan Jonathan, Pa. Saya sudah berusaha keras untuk mempertahankan perkawinan ini. Setahun ini saya dimaki-maki, dipukuli, dipermainkan, dan diperlakukan secara semena-semena oleh There. Suami mana yang tahan harkat dan martabatnya diinjak-injak oleh istrinya sendiri? Kesabaran saya sudah mencapai batasnya….”
Simon menepuk-nepuk bahu menantu kesayangannya dengan penuh pengertian. Ia menyadari siapa yang benar dan salah dalam hal ini. Oleh karena itu dirinya harus berhati-hati agar kata-kata dan sikapnya nanti tidak semakin memperkeruh keadaan.
“Papa memahami perasaanmu, Jon. Papa juga seorang suami. Kita mempunyai harga diri yang harus dihormati oleh istri sendiri.”
__ADS_1
“Terima kasih banyak atas pengertian Papa.”
“Tetapi satu pertanyaanku…kenapa kalian berdua selama ini tidak pernah memberitahuku tentang depresi yang dialami There?”
Jonathan menelan ludahnya. Ia merasa sedikit bersalah. Dengan suara parau, lali-laki itu menjawab, “There tak ingin seorang pun mengetahui hal itu, Pa. Malu katanya. Saya terpaksa berjanji untuk merahasiakannya.” Kemudian laki-laki itu tertunduk malu. Untuk Bastian aku membuat pengecualian. Kuceritakan padanya kondisi istriku apa adanya. Hal itu terpaksa kulakukan karena aku membutuhkan teman untuk curhat. Supaya akal sehatku masih tetap terjaga, ucapnya membela diri dalam hati.
Simon terbelalak mendengar jawaban menantunya barusan. “Aku ini ayah kandungnya, Jon!”
“Benar, Pa. Tapi There menguatirkan kondisi jantung Papa.”
“Keadaanku sudah jauh lebih baik sekarang, Jon. Mila merawatku dengan sepenuh hati.”
“Syukurlah, Pa. Jonathan turut merasa senang mendengarnya.”
Ayah kandung Theresia itu menghela napas panjang. Disentuhnya kembali bahu kekar menantunya.
“Jon, apakah perkawinan kalian sudah benar-benar tidak bisa diselamatkan? Sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek, Nak. Cobalah pertimbangkan baik-baik.”
__ADS_1
Ekspresi wajah dan nada suara sedih ayah mertuanya membuat hati Jonathan jatuh iba. Ia menyadari bahwa Simon menyayanginya tak ubahnya bagaikan putra kandungnya sendiri. Memang terkadang dia masih datang mengecek kondisi perusahaan-perusahaannya. Namun wewenang untuk mengambil keputusan dipercayakannya sepenuhnya kepada menantunya ini. Kepercayaan yang sempat membuat para pegawai senior merasa iri hati. Namun lama-kelamaan prestasi Jonathan menjadi pembuktian atas kemampuannya dan berhasil membungkam suara-suara tidak puas yang seabelumnya bergaung di kantor.
“Papa mohon, kamu jangan melihat keburukkan istrimu saja. Ingat-ingatlah kebaikkannya selama ini. Dia telah berusaha mati-matian untuk memberimu anak. Perjuangannya sampai ke beberapa negara menemui dokter-dokter untuk menjalani berbagai program kehamilan dan para terapis alternatif untuk mengikuti aneka terapi yang tidak nyaman, kumohon menjadi bahan pertimbanganmu juga, Nak. Mengingat karakternya yang manja dan tidak mau hidup susah, semua penderitaan itu dijalaninya demi membahagiakan dirimu, Jon….”