Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Serangan Jantung


__ADS_3

“Aku mau pergi menemui pengacara bernama Lusia itu, Pa,” kata Theresia tiba-tiba. Ayahnya kaget mendengarnya. “Buat apa kau menemuinya, Nak? Kalau ada masalah, biar pengacaramu saja yang berhadapan dengan orang itu,” nasihat Simon sabar. Dia sampai mengelus-elus dadanya sendiri. Mau berbuat ulah apalagi anakku ini? pikirnya letih.


“Pengacara yang Papa pilihkan untuk There nggak bagus kerjanya Kurang tanggap dan cekatan. Malah si Lusia itu kelihatan lebih cerdas.”


“Ini kan cuma kasus perceraian biasa, Nak. Juga tidak ada harta gono-gini dan perebutan hak asuh anak. Pakai pengacara biasa saja sudah cukup. Seandainya kamu bisa kooperatif sedikit saja, kasusmu ini akan cepat selesai. Mengertilah, There. Papa ini sudah tua. Kenapa tidak kau biarkan papamu ini menjalani masa tua dengan tenang, Nak?” pungkas Simon yang mulai kehilangan kesabarannya.


Theresia tertegun mendengar kalimat-kalimat yang diucapkan ayahnya barusan. Ditatapnya pria tua yang mulai tampak ringkih itu tak mengerti. “Pa,” ucapnya lirih. “Apakah There selama ini sudah membuat Papa susah? There kekanak-kanakkan ya, Pa? Tidak dewasa, tidak mandiri. Karena itukah Papa menjual semua perusahaan? Karena There tidak bisa dipercaya untuk menjalankannya?” cecar putri tunggal Simon itu bertubi-tubi. Ditatapnya sepasang mata sendu ayahnya lekat-lekat sehingga Simon mau tak mau terpaksa mengangguk.


Sang putri sontak bersimpuh di pangkuan orang tuanya itu. Dia menangis tersedu-sedu. Kejengkelan di hati ayahnya perlahan-lahan sirna dan berganti dengan perasaan iba. Ini salahku juga, sesal pria itu dalam hati. Dulu aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga melalaikan anakku yang butuh perhatian dan kasih sayang. Terutama semenjak ibunya meninggal dunia….


“Maafkan There, Pa. There sendiri tak mengerti harus bagaimana. There tidak mau bercerai dengan Mas Jon. Meskipun There tahu dia sudah tak menghendaki There lagi. Tapi There tidak tahu bagaimana harus hidup tanpa dirinya. Sepuluh tahun kami bersama-sama, Pa. Sepuluh tahun!” tangis wanita itu pilu.


“Lalu apa tujuanmu mau menemui pengacaranya? Dia tentu saja akan membela kliennya, kan? Bersikaplah dewasa There. Terima kenyataan. Jonathan sudah menyerah terhadap perkawinan kalian. Sudah menyerah!”


“Dia boleh menyerah, tapi aku tidak! Theresia Hidayat takkan pernah menyerah, Papa. Takkan pernah!”


Lalu dengan sikap gagah wanita itu bangkit berdiri. Dibukanya lemari pakaiannya. Diambilnya sebuah blus lengan pendek berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam. Lalu  dibawanya ke dalam kamar mandi.


Anak itu benar-benar keras kepala, keluh Simon dalam hati. Dia pasti bersiap-siap mau ke kantor pengacara Jonathan. There, There…. Kapan dirimu akan bersikap dewasa, Nak?

__ADS_1


Tak lama kemudian anak perempuannya itu keluar dari dalam kamar mandi. Dia sudah mengenakan blus putih dan celana hitam yang tadi dibawanya. Penampilannya tampak necis.


“Kamu tahu di mana lokasi kantor pengacara itu, There?” tanya ayahnya gemas.


Sang putri mengangguk mantap. “There kan tahu nama lengkap Lusia, Pa. Sudah There cari tadi alamat kantornya di internet. Nggak jauh dari sini, kok. Paling cuma butuh waktu setengah jam untuk ke sana. Daripada sopir nganggur di depan nggak ngapa-ngapain, mending There ajak ke sana.”


“Tunggu Papa ganti baju dulu, ya. Papa mau ikut.”


“Lho,” celetuk Theresia keheranan. “Buat apa Papa ikut? Nggak perlulah. Biar There menemuinya sendiri, Pa.”


“Kalau begitu, apa tujuan kamu kesana? Ayo katakan terus terang.”


“There mau minta dia untuk mengundurkan diri sebagai kuasa hukum Mas Jon. Kalau dia tidak bersedia, There akan memberinya sejumlah uang sebagai kompensasi.”


Simon luar biasa terkejut mendengar pernyataan putri tunggalnya tersebut. Ya Tuhan, beginikah sikap keturunan keluarga Hidayat yang selama ini dikenal akan reputasi baiknya? pikirnya getir. Mengulur-ulur proses perceraian dengan menghalalkan segala cara. Menyuap pengacara lawan agar mengundurkan diri sehingga kasus ini tak kunjung selesai!


“Kau…kau benar-benar memalukan, Theresia Hidayat! Memalukan!” teriak laki-laki itu. Amarahnya memuncak. Ditamparnya wajah anaknya berkali-kali. Tak dipedulikannya Theresia yang menangis-nangis memohon ampun.


Mila yang mendengar suara ribut-ribut langsung masuk ke dalam kamar anak tirinya untuk melihat apa yang tengah terjadi. Alangkah terkejutnya dia melihat Theresia berlutut memegang kaki ayahnya sambil menangis-nangis minta ampun. Sementara Simon menjambak rambut anaknya sambil berteriak-teriak, “Perempuan macam apa kau, Nak?  Begitu memberati pria yang sudah tak sudi bersamamu. Dimana harga dirimu, hah?! Jangan permalukan aku sebagai ayahmu. Kau ini wanita yang berpendidikan tinggi, tapi perilakumu seperti orang yang tak memiliki etika, tata krama, dan kehormatan! Ibumu di akhirat akan kecewa sekali melihatmu seperti ini, There! Kecewa sekali….”

__ADS_1


Mila berusaha menenangkan suaminya yang bagaikan kesetanan, “Sudah, Mas. Kasihan There kau perlakukan seperti itu. Dia sudah dewasa, bukan anak kecil lagi.”


“Justru karena dia sudah dewasa, tapi kenapa perilakunya seperti balita?! Bisanya menangis marah-marah kalau tidak berhasil memperoleh keinginannya. Anak ini harus dihajar biar sadar, Mila. Biar sadar! Aaarrggghhh….”


Tiba-tiba rasa nyeri yang teramat sangat menyerang dada kiri Simon. Saking sakitnya dia sampai melepaskan rambut Theresia dan hampir jatuh tersungkur kalau saja tidak ditahan oleh Mila. Pria tua itu itu kehilangan kesadarannya diiringi kegaduhan suara istri dan anaknya yang panik luar biasa….


***


“Semua ini salahku, salahku!” isak Theresia. Ayahnya terkena serangan jantung. Sekarang dia tengah ditangani dokter spesialis jantung papan atas di rumah sakit. Sejak tadi Theresia dan Mila duduk menunggu di depan ruang emergency.


Istri Simon itu sangat sedih. Firasatnya mengatakan bahwa kondisi suaminya kali ini sangat berat. Dia teringat waktu tadi di rumah pria itu sempat merasakan dada kirinya sakit dan dengan panik mencari-cari obat. Untung aku segera datang dan menemukan obatnya, kata wanita tua itu dalam hati. Keadaannya membaik setelah itu. Tapi bodohnya aku membiarkan dirinya menemui Theresia sendirian. Seandainya saja aku berkeras menemaninya waktu itu…. Pertengkaran di antara mereka setidaknya dapat kucegah dan Mas Simon takkan terkena serangan jantung…., sesalnya dalam hati. Air mata kembali menitik membasahi pipinya yang mulai berkerut.


“Tante, apakah tidak sebaiknya Papa kita bawa saja ke rumah sakit tempatnya dioperasi dulu di Malaysia?” usul anak sambungnya tiba-tiba.


Mila menjawab lirih, “Kita tunggu saja hasil pemeriksaan dokter, There. Takutnya kondisi papamu belum memungkinkan untuk dibawa ke luar negeri.”


Theresia terdiam. Pikiran dan hatinya benar-benar kacau. Ingin sekali dia bertemu Jonathan sekarang. Berlindung dalam pelukannya yang hangat dan menangis tersedu-sedu di dadanya yang  bidang.


Tiba-tiba pintu ruang emergency dibuka. Kedua wanita itu sontak berdiri dan menghampiri dokter yang bertanggung jawab menangani Simon. Pria berusia sekitar empat puluhan itu berkata bahwa pasien sudah sadar kembali. “Tapi mohon maaf, Ibu-ibu sekalian. Kondisinya sangat parah. Kami sudah mengupayakan yang terbaik. Tapi kita harus menerima kenyataan. Kondisi Bapak Simon tinggal menunggu waktu….”

__ADS_1


__ADS_2