Dendam Anak Mafia

Dendam Anak Mafia
100. Ingin Membalas Budi


__ADS_3

Malam hari ketiganya kini sudah berada di pesawat jet pribadi milik Fernandez Hugo. Misi balas dendam Dave sudah selesai, kini Dave akan pergi ke Makau. Tepatnya di desa kakek Qin, yang dulu pernah menolongnya dari kaburnya dia dan kejaran anak buah Morata.


Bukan itu saja, ada hal yang ingin Dave lakukan. Namun semua rencananya butuh pembicaraan serius dengan orang-orang di Italia. Lee memperhatikan Dave yang kini kembali bersikap seperti biasa lagi.


"Dave, apa yang kamu pikirkan?" tanya Lee.


"Aku ingin pergi ke Makau, tapi aku butuh orang banyak untuk pergi kesana." jawab Dave.


"Untuk apa?" tanya Lee penasaran.


"Pertama, aku ingin menemui kakek Qin yang dulu pernah menolongku. Apakah dia masih hidup sekarang, aku ingin berterima kasih padanya dan juga memberikan sesuatu yang dia butuhkan." kata Dave lagi.


"Laki-laki tua yang dulu pernah menolongmu sebelum bertemu dengan tuan Hugo?" tanya Lee.


"Ya, kasihan dia. Dia hidup sebatang kara dan dalam keadaan miskin. Ketika aku pergi dia berpesan untuk mencari anaknya dan meminta anaknya itu kembali ke kampung. Saat itu aku tidak bisa menwujudkannya, hanya meminjam uang pada Chen waktu itu pelatih menembakku dan mengendarai mobil." kata Dave.


"Jadi, kamu ingin balas budi?" tanya Lee.


"Begitulah, aku kasihan melihatnya. Dulu aku lihat dia makan seadanya saja, dia terlihat senang ketika aku di tolong olehnya dan tinggal dengannya. Jadi aku ingin melihatnya lagi." ucap Dave.


"Aku tidak keberatan ikut denganmu, tapi apakah tuan Hugo akan kembali menarikku untuk jadi bodyguardnya. Aku tidak tahu." ucap Lee.

__ADS_1


"Itu terserah kamu Lee, aku bisa pergi dengan Liu dan beberapa anak buah Liu yang empat orang itu. Tidak masalah, aku juga butuh orang cukup banyak." kata Dave menerawang jauh ke depan.


"Sepertinya kamu juga ingin melakukan balas dendam lagi di sana."


"Hahah! Tepat sekali." ucap Dave dengan tawa ringannya.


"Itu menarik Dave, kurasa tanganku ini juga butuh olah raga lagi. Hahah!"


"Hahah! Silakan saja, kukira memang kita butuh olah raga berat seperti kemarin. Rasanya gatal tanganmu ingin berolah raga, Lee."


"Ya, tentu. Dan kamu tahu, sejak kamu masuk ke dalam kelompok tuan Hugo. Sering sekali aku berolah raga, ya meskipun memang kadang menemui maut yang cukup berat. Tapi rentang waktu olah ragaku jadi sering ketika kamu masuk dan menjadi pengawal tuan Hugo." kata Lee.


"Hmm, kupikir kamu bisa menjadi petarung saja Lee. Yang di pertaruhkan bagi orang-orang yang bersenang-senang dan berani membayar mahal untuk menjagokanmu."


"Ya, kukira cocok tempat itu untukmu. Hahah!"


"Hmm, boleh juga aku membuka bisnis itu nanti setelah pensiun. Itu juga akan menambah pundi-pundi uangku, jika aku ingin bertarung. Bisa atur jadwal." kata Lee menyambut gurauan Dave.


"Tidak Lee, bisnis seperti itu sangat menyakitkan. Jangan pernah berpikiran mempunyai bisnis judi dengan bertarung antar jagoan dan petarung yang tangguh. Aku pernah di posisi itu dan kamu tahu, Liu adalah guruku dalam mempelajari semua jenis kungfu." kata Dave melirik Liu yang sudah terlelap di bangku joknya.


"Lalu, apa hubungannya kamu dengan Liu juga judi pertarungan itu?"

__ADS_1


"Karena aku harus menjaga Liu agar bisa makan di tempat lain di penjara Morata, aku sampai enam tahun jadi petarung hingga salah satu anak buah yang bertugas memberiku makan dia mengatakan kalau setiap penjara tidak ada tawanan bernama Liu. Dari situ aku merasa di bohongi dan mencari cara agar aku bisa lolos dan kabur. Dan sampai sekarang aku bersama kamu." kata Dave.


"Dan kamu juga ingin membalas budi lagi pada penjaga yang memberimu makan di tempat Morata itu?" tanya Lee menebak.


"Tepat, aku ingin mencarinya dan membebaskannya. Karena aku sudah berjanji padanya jika aku selamat akan mengeluarkan dia juga." ucap Dave.


"Hmm, jadi begitu? Perjalananmu begitu rumit Dave untuk menjadi sekarang." kata Lee.


Keduanya terdiam, dan mulai menguap dan mengantuk. Di jok bangku Liu, Dave dan Lee tidak tahu jika Liu sudah terbangun sejak dia bercerita tentang Morata. Dia mendengar Dave bersedia menjadi petarung hanya demi dirinya agar setiap hari bisa makan.


Bukankah itu sangat mengharukan? Liu menghela nafas berat. Dia belum tahu cerita dari Dave tentang penangkapannya oleh Morata. Dan selama itu kabar Dave seakan hilang jejak.


"Jadi, kamu di bawa Morata di jadikan petarung Dave? Di bohongi bahwa aku juga di tangkap dan tidak di beri makan. Sungguh perjalanan hidup yang sungguh pahit kamu Dave. Selama enam tahun tidak melihat dunia luar. Aku bahkan hidup dengan tenang di Jepang dengan Jakcy." ucap Liu lirih di belakang kursi Dave dan Lee.


Pesawat sudah memasuki regional penerbangan Italia, pilot bersiap mendaratkan pesawatnya sekitar satu jam lagi. Liu kembli tertidur setelah dia memikirkan kehidupan Dave setelah dia berpisah dengannya. Juga Dave dan Lee audah tertidur sejak tadi, kini pilot sedang berkordinasi dengan petugas di bandara untuk menyiapkan landasan pendaratan pesawatnya.


_


_


_

__ADS_1


♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤


__ADS_2