
Paolo Eldamor dia asisten setia Javier yang kini sedang berhadapan dengan Dave. Setelah dia berusaha melarikan diri dan bisa menghindar dari ledakan granat yang dia lempar sendiri. Nyatanya mobil yang dia tumpangi pun terlempar dari ledakan granat kedua.
Dengan posisi tersungkur dan terbatuk-batuk, kini dia harus berhadapan dengan Dave yang berdiri tegak di depannya dengan wajah tenang sambil membawa pedang di tangannya. Paolo berusaha berdiri dengan menarik tubuhnya untuk tegak dan menatap Dave dengan tajam.
"Jadi, kamu anak dari Alehandro?" tanya Paolo.
"Ya, kita pernah bertemu kan?" tanya Dave dengan tenangnya.
"Cuih! seharusnya aku sudah menduganya waktu itu kamu menatap terus pada tuan Javier adalah ingin balas dendam padanya." kata Paolo.
"Ya, kenapa kamu diam saja? Tapi, bukankah kamu memcari tahu tentangku?" kata Dave lagi.
"Hahah! Ya, kamu benar. Aku mencari tahu siapa kamu. Tapi sialnya anak buahku bahkan tertangkap dan kamu bunuh!" kata Paolo dengan sengitnya.
"Hahah! Jadi, kamu memgakui kecerdikanku bukan?" kata Dave lagi dengan senyum sinisnya.
"Tapi aku tidak akan membiarkanmu dengan mudah membalaa dendam pada tuan Javier!"
"Silakan saja. Kamu mau bertarung denganku dengan apa? Senjata api? Atau pedang? Atau bertarung?"
Paolo menatap tajam pada Dave, dia tidak membawa senjata. Karena senjatanya berada di dalam mobil, Dave memperhatikan apa yang di pikirkan Paolo. Paolo pun mundur, bersiap untuk bertarung melawan Davs. Dave tersenyum, dia pun memasukkan senjatanya di balik kemejanya.
"Buang senjatamu!" kata Paolo.
"Tidak masalah, aku buang senjataku." kata Dave.
Kemudian Dave membuang senjatanya ke samping, Paolo memperhatikan senjata yang di buang oleh Dave. Berharap dia bisa mengambilnya dan menembak Dave, meski tipis kemungkinannya dia akan menang oleh laki-lakinyang sedang menahan rasa marah pada Javier yang telah kabur itu.
Kini, keduanya pun bersiap untuk bertarung. Dave juga bersiap, dia melempar pedangnya di balik punggungnya. Semua nampak bersiap melihat pertarungan Dave dan Paolo. Paolo sendiri sedikit gentar, tapi dia akan mempertahankan harga dirinya sebagai pembela dan pengikut Javier.
"Menyerahlah kamu Paolo!" teriak James yang ada di samping.
__ADS_1
"Jangan mimpi kalian aku akan menyerah begitu saja. Bila perlu kalian maju saja semuanya!" teriak Paolo.
Dave tersenyum sinis, dia tahu Paolo terdesak dan sedang mempertahankan harga dirinya. Tapi dia akan meladeni Paolo sejauh mana dia akan bertahan. Semua anak buah Javier sudah banyak yang terbunuh dan banyak juga yang menyerahkan diri.
"Kamu jangan khawatir Paolo, aku tidak akan menyuruh mereka untuk menyerangmu. Cukup aku saja yang kamu lawan. Atau kamu ingin memilih, siapa di antara lami yang ingin kamu lawan?" tanya Dave.
"Tidak perlu! Aku bisa menghadapimu. Bersiaplah, dan lawan aku!"
"Hmm, baiklah. Persiapkan tenagamu, kamu cari cara untuk mengambil senjata di sana." kata Dave menunjuk pistolnya yang tergeletak agak jauh dari tempatnya berduel itu.
Kini Paolo bersiap, dia memasang kuda-kuda dengan kedua tangan di depan dada. Dave pun sama dengan Paolo, bersiap untuk menyerang. Tapi kini Paolo yang lebih dulu menyerang Dave.
"Hiaaat! Set! Set! Set!"
"Hap! Ciaat! Set! Set!"
Pertarungan Paolo dan Dave berlangsung, baik Liu, Mateo dan juga James melihat keduanya berkelahi dengan seimbang. Dave menyerang Paolo dengan tenang, dia meladeni Paolo seperti seorang guru mengajari muridnya.
Hap! Hap! Set! Set!
Bug! Bug!
"Aaargh!"
Paolo terdorong kebelakang dengan pukulan kuat dari Dave. Matanya menatap tajam pada Dave, mulutnya mengeluarkan darah segar sedikit.
"Cuih! Hanya itu kemampuanmu?!" teriak Paolo.
"Heh! Masih saja sombong. Baiklah, aku akan membuat dirimu terkapar tak bergerak lagi Paolo!" kata Dave dengan dingin.
Dia pun bersiap, kali ini dia akan menggunakan karate dan berpadu dengan geralan kungfu. Segala kekuatan dia kerahkan, bukan karena apa-apa dia ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Paolo. Dalam keadaan hidup atau terluka dan cacat tubuhnya.
__ADS_1
"Hiaat! Ciaat! Set! Hup!"
Dave menyerang lebih dulu, dia menyerang dengan tanpa memberi Paolo untuk menyerang balik, hanya bisa menangkis dan menghindar saja. Dave tidak akan berlama-lama bermain dengan Paolo.
Dan satu pukulan mengarah tepat di pipi Paolo dengan keras, tidak membiarkan itu. Dave pun kembali menyerang Paolo di bagian dada dengan pukulan keras. Membuat Paolo mundur ke belakang dengan cepat dan menabrak mobol yang terjungkal.
Brak!
"Aaaargh!"
Dave berhenti, dia menatap Paolo dengan tatapan tajamnya. Lalu mendekat, namun Paolo kembali bersiap untuk menyerang Dave. Meski bagian dadanya sakit, tapi dia berusaha untuk bisa melawan Dave kembali.
Dave tidak mau memberi peluang pada Paolo menyerangnya lagi. Dia pun kembali menyerang Paolo dengan cepat, dengan pukulan dan tendangan di bagian titik syarafnya. Dia menendang bagian perut Paolo, dan Paolo terpelanting mengenai mobil dengan keras.
Hingga tubuhnya meluruh kebawah, karena tendangan keras itu membuat Paolo tidak bisa berkutik. Matanya terpejam dan kini dia terkapar di samping mobil. Dave mendekat, kakinya dia tempelkan di leher Paolo. Dengan tatapan tajam, tubuhnya pun membungkuk dan berbicara dengan berbisik dan nada sinis.
"Ini akhir riwayatmu, Paolo. Setelah kamu mati, bosmu akan aku kejar kemana pun dia pergi!" ucap Dave.
"Uhuk! Uhuk! Kamu tidak akan bisa menemukan tuan Javier. Uhuk! Uhuk!" ucap Paolo terbata.
"Heh! Kemana pun dia pergi, aku pasti akan menemukannya. Sekalipun dia berada di neraka! Dan kamu tinggal menunggu waktumu saja Paolo, karena kamu yang membantu Javier membantai keluargaku. Semua orang yang membatai keluargaku akan mati di tanganku!" kata Dave dengan wajah kelam dan dingin.
Hawa kematian menyeruak dari dalam diri Dave untuk meneror siapa saja yang membuat Dave marah. Terutama mereka yang pernah membunuh semua keluarganya
_
_
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤
__ADS_1