
Setelah di beri tahu kalau di markas kedatangan dua orang bernama Mateo dan Luca, Fernandez meminta Lee melajukan mobilnya. Dave heran kenapa Fernandez sangat terburu-buru, dia penasaran ada apa sebenarnya?
"Tuan Hugo, apa ada pertemuan penting di markas?" tanya Dave.
"Kamu tahu, di markas kedatangan seseorang yang kamu tunggu Dave." kata Fernandez.
"Oh ya? Mateo?" tanya Dave tidak percaya.
"Ya, dia datang tanpa di duga. Kurasa dia dan temannya itu sangat hati-hati datang ke markas. Makanya dia sampai markas." kata Fernandez.
Dave sangat senang, dia benar-benar ingin bertemu dengan Mateo dan Luca. Tidak sabar untuk bertemu kedua anak buah setia papanya, Alehandro. Lee melihat ke arah Dave, terlihat wajah semangatnya ingin bertemu dengan Mateo dan Luca.
"Kamu senang Dave?" tanya Lee.
"Tentu saja, berapa tahun aku tidak melihatnya. Selama dua puluh satu tahun, aku tidak bertemu dengan pamanku itu. Terakhir kali di rumah paman Fabio, malam harinya aku di bawa oleh Liu ke Tiongkok. Lari dari kejaran anak buah Javier." kata Dave.
"Hmm, sangat lama sekali. Kurasa pamanmu itu akan merasa terkejut melihatmu Dave." kata Lee.
"Ya, aku pun sama. Mungkin sudah tua, makanya dia lebih memilih bersembunyi dari pada harus melawan Javier." kata Dave lagi.
Fernandez hanya menatap Dave yang begitu senang mendengar Mateo dan Luca sudah ada di markasnya. Lalu dia memeriksa ponselnya, mencari tahu indeks saham di bursa saham Italia dan juga Eropa. Saat ini bursa saham masih di kuasai oleh perusahaan Javier yang dapat merebut dari Luca.
Fernandez ingin merebut perusahaan itu, dan waktunya juga sudah tiba. Luca dan Mateo sudah ada di markasnya, dia akan berunding dengan kedua orang tersebut.
Mobil Fernandez sudah memasuki markasnya, Lee memperhatikan kembali wajah Dave yang begitu bersemangat ingin bertemu dengan orang yang pernah jadi anak buah papanya. Mungkin dia laki-laki yang sebenarnya sangat kuat. Entahlah, sejauh ini dia mengenal Dave. Baru kali ini Lee melihat Dave seperti anak kecil yang merindukan ayahnya.
__ADS_1
Wajah tenang itu sebenarnya memendam bara dendam dan juga rindu. Wajah yang tampai santai dan selalu waspada, benar-benar tidak akan pernah tahu isi hati sebenarnya.
Lee memarkirkan mobilnya setelah memasuki gerbang, Fernandez pun segera turun. Di susul oleh Dave dan juga Lee di belakangnya. Meski tidak sabar ingin bertemu dengan Mateo dan Luca, tapi Dave menghormati bosnya berjalan di belakangnya.
"Selamat malam tuan, anda sudah di tunggu di ruangan sana." kata anak buah Fernandez.
"Baiklah, kamu sudah memberi mereka makan?" tanya Fernandez.
"Sudah tuan, dan mereka sedang menunggu anda. Dan juga, Dave." katanya lagi.
"Baguslah. Dave, Lee ayo kita temui tamu kita." kata Fernandez.
"Baik tuan."
Mereka melangkah menuju ruangan di mana Mateo dan Luca berada. Langkah demi langkah terus di lalu, hingga akhirnya mereka sampai di ruangan tersebut. Fernandez berhenti, dia melihat Mateo dan Luca sudah berdiri dan membungkuk hormat pada Fernandez.
Kedua orang itu belum menyadari bahwa Dave ada di sana. Mereka asyik mengobrol dengan Fernandez dan sedikit tertawa kecil dan membungkuk lagi. Baru setelah Fernandez menoleh ke belakang, ke arah Dave. Mateo dan Luca menatap Dave.
Mateo diam, dia melihat wajah Alehandro muda. Majikan yang sejak dia remaja ikut dengannya, mengangguk pada Fernandez lalu mendekat pada Dave dengan perlahan. Ada rasa sedih dan juga bahagia, Mateo menatap Dave.
Begitu juga dengan Dave, dia menatap Mateo tanpa berkedip. Dan tanpa di duga, Dave pun dengan cepat memeluk Matoe dengan erat. Ingin dia menangis, tapi tidak seperti dirinya.
"Paman Mateo, aku merindukanmu." ucap Dave lirih.
Luca mendekat, dia juga senang. Air matanya hampir menetes karena baru melihat Dave lagi. Seperti Mateo, dia juga melihat raut wajah Dave seperti Alehandro muda.
__ADS_1
"Saya juga tuan Dave. Apa anda baik-baik saja?" tanya Mateo sedikit terisak.
Dia terharu bisa bertemu dengan Dave lagi setelah sekian lama, sejak Dave kabur dari Italia menuju Tiongkok. Sejak Dave di culik oleh Morata dia tidak lagi mendengar kabar Dave.
"Hik hik hik, aku baik-baik saja paman. Aku kuat, dan bertekad akan bertemu denganmu serta ingin membalaskan dendam kematian papa pada Javier. Hik hik hik." ucap Dave yang tidak terbendung lagi tangisnya.
Tangisan haru itu mempengaruhi suasana di rauangan itu. Fernandez juga merasa terharu dan juga kasihan pada Dave. Lee? Dia juga tidak bisa menahan air matanya. Meski pertemuan itu bukan antara anak dan ayah.
Tapi Lee tahu bagaimana Dave harus bertahan dari serangan-serangan seorang padanya. Dan cerita dia di jadikan petarung di tempat Morata selama enam tahun. Bisa di bayangkan di tempat itu, di sekap dan hanya di beri makan saja. Bahkan di bodohi jika tidak menang akan ada yang terbunuh.
Dave dan Mateo pun melepas pelukannya, berganti dengan Luca. Lama keduanya berpelukan. Lalu mereka pun duduk di kursi ruangan itu. Fernandez pun ikut bergabung sebentar dengan Dave dan Mateo.
"Tuan Mateo, saya sangat terkejut anda mau datang ke markasku ini." kata Fernandez pada Mateo.
"Ya tuan Hugo, saya memang bertekad ingin bertemu dengan tuan Dave. Maafkan saya kalau tempat anda ini sebagai tempat pertemuan saya dengan tuan Dave." kata Mateo.
"Tidak masalah dan jangan sungkan. Dave anak buahku yang berbeda. Dan kurasa saya memberi waktu pada kalian untuk berbicara. Saya dan Lee akan pergi beristirahat." kata Fernandez.
"Terima kasih tuan Hugo, anda baik sekali." kata Mateo.
Dave pun ikut berterima kasih, dia pun berdiri setelah Fernandez memberinya kesempatan bicara dengan Mateo dan Luca. Serta Lee, dia tersenyum pada Dave lalu keluar dari ruangan itu dengan Fernandez. Beristirahat malam ini, besok harus menemani Fernandez lagi ke kantor klub sepak bola untuk tawar menawar masalah saham klub bola itu.
_
_
__ADS_1
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤