
Dave mendekat pada Morata yang berusaha untuk bangun. Dia berdiri tepat di depan Morata, masih dengan memegang pedangnya di tangan namun di sembunyikan di belakang punggungnya. Dave masih memperhatikan Morata.
"Uhuk! Uhuk!"
Morata terbatuk, dia berusaha berdiri dan mengambil pistolnya di belakang pinggangnya. Ingin menembakkan ke arah Dave, namun dia tahan.
"Aku datang untuk menghancurkanmu, Morata!" ucap Dave dengan tegas.
"Heh! Siapa kamu, berani sekali melawanku. Bahkan ingin menghancurkanku!" kata Morata menatap Dave, dia sudah berdiri di hapana Dave dengan wajah tegang dan amarah yang sangat besar.
"Majulah jika kamu berani melawanku, Morata!" kata Dave, dia melempar pedangnya satu pada Morata.
"Aku tidak butuh senjata kunomu itu! Bahkan aku punya senjata lebih ampuh." kata Morata dengan cepat mengambil pistolnya dan menembakkannya ke arah Dave.
Sejak Morata tersungkur, Dave tahu Morata menyelipkan pistol di pinggangnya. Jadi, ketika Morata mengacungkan pistol dan menembakkannya ke arahnya. Dave segera menghindar, pedangnya yang jadi tameng peluru melesat ke arahnya. Beberapa kali peluru menghujam ke arah Dave, beberapa gerakan pedang Dave untuk menangkis peluru yang menyasar padanya.
Hingga peluru Morata habis, beberapa kali dia tembakan tapi tidak juga keluar. Dia takjub dengan gerakan Dave yang memainkan pedang dan bisa menangkis peluru yang menyasar padanya dengan cepat. Morata pun mundur, tangannya meraba kesana kemari dan mengambil batu segenggaman tangannya lalu dia lempar ke arah Dave.
"Kamu mau apa anak pecundang?!" tanya Morata melihat Dave semakin melangkah padanya.
Dave berhenti, melempar pedang satunya ke arah Morata. Dia menatap datar pada laki-laki yang kini beranjak senja usianya, namun perbuatannya masih saja sama. Bahkan semakin gila sekarang.
"Bangunlah, aku mengajakmu berduel seperti dulu kamu memanfaatkanku berlaga di arena laga untuk mendapatkan keuntungan selama enam tahun dariku." kata Dave dengan tatapan dinginnya.
Biarlah dia kini membalas dendam pada Morata, karena dia masih saja sombong dan tidak mau membuat bisnisnya berhenti. Berhenti mencari pemuda-pemuda kampung di jadikan petarung, yang akhirnya mereka di sekap bahkan bisa saja di bunuh atau di buang. Seperti dulu Dave yang mengalaminya.
Morata lalu mengambil pedang yang di lempar Dave, dia menatap tajam pada Dave. Kemudian dia pun menyerang Dave secara cepat dengan pedang yang dia ambil tadi.
"Hiaat!"
Trang! Trang! Trang! Wus!
__ADS_1
Trang! Trang Trang! Set! Set!
Dave menghindar dengan cepat, dia meladeni serangan dari Morata dengan sangat mudah. Berkali-kali Morata kewalahan dengan serangan yang di lancarkan Dave, berkali-kali juga dia tersungkur. Matanya menatap tajam pada Dave, membuang ludah kesamping dengan kesal.
"Cuiih! Bangsat kamu! Mau membunuhku hah?!" teriak Morata dengab tatapan geram.
"Bila perlu aku akan membunuhmu." kata Dave dengan wajah dinginnya.
Morata mendengus kesal, dia benar-benar tidak bisa menyelamatkan diri dari Dave yang kini sedang dia hadapi. Yang harus dia pikirkan bagaimana menyelamatkan diri agar Dave tidak membunuhnya. Bersiap untuk lari, namun mau lari kemana.
Saat ini semua di kelilingi oleh semak belukar, dan bisa saja semak belukar itu ada lubang yang dalam. Di sampingnya, Morata menyentuh sebuah kayu sebesar lengannya. Dia ambil dan berjaga untuk di sabetkan pada Dave. Dave pun tersenyum sinis, Morata melihat tangan kiri Dave berdarah.
"Hiaaat!"
Besh!
"Aaargh!"
Dengan cepat Morata melayangkan kayu ke tangan kiri dengan kencang, sehingga kayu itu benar-benar mengenai tangan kiri Dave. Dave meringis, tangan yang tadi berhenti mengalir darahnya sejenak. Kini kembali mengeluarkan darah, Dave masih meringis. Namun kini dia memegang pedangnya dengan kedua tangannya.
Dave kini menyerang Morata dengan benar-benar sekuat tenaga, meski tangan kirinya darah terus keluar. Namun dia tidak akan memberikan kesempatan Morata kembali menyerangnya. Kini Dave terus menyerang Morata tanpa jeda sedikitpun, hingga dia kewalahan.
Set! Wuus! Kraak! Krak!
Set! Set! Krrak!
Brak!
"Aaaargh!"
Morata terpental membentur batu besar, darah segar mengalir dari mulutnya. Dave menatap tajam pada Morata yang kini sudah tidak bisa apa-apa. Hanya matanya saja yang melotot pada Dave. Berhenti di depan Morata, lalu membungkuk.
__ADS_1
"Matilah kamu di sini Morata, belatung yang akan memusnahkan tubuhmu di sini dengan mulut-mulutnya yang menjijikkan itu. Cuih!" ucap Dave.
Dia lalu pergi meninggalkan Morata yang kini tinggal satu nafas saja tersisa di tenggorokannya. Tiga langkah pergi meninggalkan Morata yang sedang sekarat, Dave berjalan menuju motornya yang tergeletak.
Dave lalu menaikinya dan segera pergi meninggalkan Morata yang masih sekarat dan kini sudah tewas dengan tangan mengacungkan ke depan. Tanpa peduli bagaimana Morata tewas, Dave lalu menghubungi Liu.
"Halo, Liu. Kamu ada di mana?" tanya Dave.
"Kami ada di perbatasan. Apa kamu sudah selesai?"
"Sudah. Dia bahkan aku tinggalkan di hutan dan besok pasti di kerubuti oleh belatung pemakan bangkai." kata Dave.
"Apa dia sudah tewas?" tanya Liu.
"Aku pergi dia masih sekarat, tapi beberapa menit dia pasti sudah tewas." kata Dave.
"Aku dan Lee menunggumu di perbatasan Dave."
"Baiklah, aku sebentar lagi sampai. Dan bubarkan mereka yang ikut menyerang markas Morata." kata Dave.
"Ya, dan aku sudah mentransfer uangnya untuk mereka Dave."
"Baguslah. Aku tutup teleponnya."
Klik!
Dave lalu melajukan motornya dengan kencang, tangan kirinya mulai nyeri karena mungkin sudah bengkak di pukul dengan kayu besar yang di bawa Morata. Untungnya tangan kiri yang terluka, jadi dia bisa mengendarai motor masih dengan kecepatan enam puluh kilo meter perjam.
_
_
__ADS_1
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤