
Hari pun tiba, Dave masih memikirkan untuk pelariannya itu. Dia harus berpikir cepat dan tepat untuk pelarian nanti, agar dia bisa ada peluang untuk kabur secepatnya dan sejauh mungkin dari kejaran anak buah Morata.
Bruk! Bruk! Bruk!
Pintu kamar pengap Dave di gedor dari luar, Dave diam saja. Dia masih duduk dan melihat pintu yang di gedor dari luar. Tak lama, pintu itu terbuka. Masuk dua orang anak buah Morata, di susul Morata sambil mulutnya menghisap cerutu. Dia mendekat pada Dave dan berdiri tepat di depannya.
Dave hanya menatap datar pada Morata yang juga menatapnya tidak ramah. Kepulan asap dari mulutnya dia buang ke atas lalu mengarah pada Dave lagi. Membuat Dave sedikit terbatuk dan membuang mukanya ke samping.
"Aku tahu yang ada di pikiranmu saat ini Dave." kata Morata.
"Heh! Kamu cenayang?" kata Dave mencibir.
"Bahkan cenayang saja tidak bisa menebak isi kepalaku. Jadi, jangan macam-macam dan jangan berniat untuk kabur dari tempat ini Dave. Kamu masih jadi bintang di arena tarung, kamu terkenal dan jadi bintang." kata Morata.
"Cuih! Tidak ada bedanya aku jadi bintang di arena laga, tetap saja aku berada di tempat pengap seperti ini. Yang mendapatkan uang itu kamu, Morata. Bukan aku." kata Dave mulai geram dengan Morata.
"Hahah! Kamu adalah pundi-pundi uangku Dave. Semakin sering kamu menang, semakin banyak uangku masuk ke dalam kantongku. Lagi pula, gurumu juga sangat berterima kasih karena kamu telah memberinya makanan setiap hari." kata Morata dengan penuh keyakinan.
Dave diam, dia ingin menyangkal. Tapi di urungkan karena demi rencana kaburnya dari tempat yang sangat kejam bagi para petarung di sini. Hanya yang menang saja yang di istimewakan. Bahkan bagi Dave, dia tidak mendapatkan apa-apa.
Awalnya dia rela tidak di beri keistimewaan apa pun demi Liu dan Jacky bisa makan setiap hari. Tapi, dia justru mendengar dari penjaga bahwa kedua orang itu malah tidak pernah ada. Dave sangat geram, dia ingin menyerang Morata dengan membabi buta. Tapi egonya dia tahan karena siang ini Dave harus berhasil kabur dari tempat Morata.
"Berpikir jernih Dave, kamu di sini tidak bisa kabur. Aku tahu kamu ingin keluar dari tempat ini, tapi cobalah jika kamu tidak percaya. Bahwa tempat ini sudah saya perketat penjagaannya agar kamu tidak bisa kabur." kata Morata kembali mengepulkan asap cerutunya ke wajah Dave.
Lalu dia pun pergi dari ruangan Dave, di susul oleh ketiga anak buahnya. Lalu menutup kembali pintu ruangan Dave. Dave pun kembali duduk, dia menghela nafas panjang. Dia kembali berpikir bagaimana bisa kabur, mustahil jika tertangkap lagi kalau Dave harus hafal setiap ruang yang dia lewati.
"Pokoknya, aku harus kabur dari tempat ini." gumam Dave.
"Hei, kamu! Bersiaplah. Setengah jam lagi kamu harus bertarung di arena laga." kata penjaga di luar mengingatkan Dave.
__ADS_1
Dave hanya diam saja, namun seperti biasa dia melempar batu ke arah pintu. Isyarat kalau dia menjawab sudah siap untuk bertarung siang ini.
Klontang!
"Baguslah, kamu ternyata selalu siap untuk bertarung." kata penjaga di luar yang sudah paham akan lemparan batu Dave ke arah pintu.
_
Siang hari, Dave di bawa oleh penjaga untuk ke arena laga. Tidak seperti biasa, dia di borgol lebih dulu baru nanti di tempat arena di lepaskan. Dave heran, kenapa sekarang berbeda? Apa Morata sangat takut dia kabur? Senyuman sinis Dave mengembang, dia pun berjalan dengan tenang. Sambil matanya menatap setiap lorong yang dia lewati.
Dia mencari celah dan di mana bisa kabur. Hingga sampai di arena laga, Dave menatap sekeliling. Dia juga mendongak ke atas, ada suatu ruangan khusus yang di tutup dengan kaca. Dave melihat di dalam ruangan itu Morata, meski jaraknya jauh tapi dia memastikan Morata di sana memperhatikannya.
Kembali Dave tersenyum sinis, ternyata setiap hari Morata melihatnya dalam bertarung. Benar-benar Dave di jaga dan di awasi dengan ketat.
"Kamu siap untuk bertarung siang ini?" tanya penjaga yang membawanya itu.
"Tentu saja, kamu pikir hari ini akan berbeda?" tanya Dave.
"Memang siapa lawanku kali ini?" tanya Dave penasaran.
"Dia di datangkan dari luar. Dia pandai setiap ilmu bela diri, apapun itu. Jadi, kamu harus bisa mengalahkan dia jika tidak Morata akan menggantungmu." kata penjaga itu menakuti Dave.
Dave tidak peduli, dia tetap bersikap tenang. Dia pun kini duduk di temptnya seperti biasa. Danatng orang yang bertubuh tegap dan gagah, memanh tidak seperti biasanya. Lawan Dave kali ini terlihat sangat tangguh.
"Hadirin sekalian, inilah jagoan baru kita. Jhon Lau, dia akan melawan juara bertahan Dave. Apakah Dave akan kalah oleh Jhon Lau? Atau bahkan Jhon Lau yang menang pertarungan kali ini!" teriak promotor itu.
"Huuuuu!"
Teriakan meremehkan Jhon Lau dari penonton, membuat Jhon Lau terseyum lebar. Dia menatap Dave yang bersikap tenang menatapnya juga. Dan promotor itu mempersilakan wasit untuk naik, dan kedua petarung pun ikut naik. Dave masih bersikap tenang, dia sedang berpikir untuk kabur saat ini juga.
__ADS_1
Wasitpun memberi pengarahan sebentar, lalu lonceng tanda mulai pertarungan pun di bunyikan. Dave memasang aba-aba, dia menatap Jhon Lau. Mencari cara bagaimana mengalahkannya, tidak. Dave tidak berharap menang kali ini. Dia hanya berpikir keras bagaimana bisa kabur.
Teng!
Dave maju, satu kali ronde tidak mengapa dia bertahan. Jhon Lau pun bersiap, dia memasang ancang-ancang menyerah Dave. Dave maju menyerang lebih dulu dengan sebuah tendangan mengarah ke punggung Jhon Lau. Namun, kaki Dave bisa di tepis cepat olah Jhon Lau.
Kini keduanya pun terlibat pertarungan mempertahankan agar bisa menang, Dave memukul bagian dada Jhon Lau. Tapi Jhon Lau kembali bisa menangkis serangan Dave. Pertarungan sengit dan seru oleh penonton meneriaki Dave.
Kali ini suara itu terpecah, ada juga yang mendukung Jhon Lau. Membuat penonton fanatik Dave pun menatap tajam pada peneriak Jhon Lau. Mereka saling tatap tajam, dan kini mulai saling mendorong pundak. Lalu, tak lama keributan terjadi.
"Hei! Kalian sedang apa?" tanya para penjaga itu.
"Dia yang memulai lebih dulu!" teriak pendukung Dave.
"Hei, saya hanya mendukung jagoan baruku! Apa salah?!"
"Salah! Yang juara tetap Dave!"
"Hahah! Jangan mimpi kamu!"
Kali ini para pendukung Dave fanatik pun menyerang pendukung Jhon Lau. Kegaduhan pun terjadi, sekarang yang ramai justru di area penonton. Mereka pun saling memukul dengan benda apa pun, sampai penjaga semua turun tangan untuk melerai para penontong yang ribut itu.
Tak membuang kesempatan, Dave menendang dan memukul Jhon Lau dengan keras hingga Jhon Lau tersnungkur. Dia lalu berlari ke arah pintu masuk para penonton dengan cepat. Keadaan masih gaduh, para penjaga itu masih menenangkan dengan memukuli penonton yang melawan penjaga.
Sedangkan Dave terus berlari mencari jalan menuju keluar. Dia berpapasan dengan penjaga dan menyerangnya beberapa kali. Dave pun bisa melalui para penjaga meski dia harus berkelahi lebih dulu.
_
_
__ADS_1
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤