Dendam Anak Mafia

Dendam Anak Mafia
105. Morata Terkejut


__ADS_3

Laga pertarungan pun sudah di mulai, semua kembali bersorak ketika dua jagoan keluar dari dalam lorong menuju arena laga. Dave memperhatikan kedua jagoan itu, mereka menatap satu sama lain dengan tatapan sinis. Di sana Dave mengingat bagaimana dulu aroma persaingan dari para pertarung itu ketika sudah memasuki arena laga.


Keduanya pun masuk dalam arena laga yang di tutup rapat dengan jeruji besi. Dulu sewaktu dia bertarung di sana, belum di buat kurungan seperti itu. Mungkin dengan kejadian dulu dia kabur, jadi Morata mengantisipasi agar jagoan yang berlaga tidak bisa keluar dari dalam laga.


Terbukti ketika keduanya masuk, pintu langsung di kunci. Hanya ada wasit dan satu wanita berpakaian seksi sebagai pemegang kartu ronde. Keduanya bersiap di setiap sudut saling berhadapan. Dave terus memperhatikan situasi di tempat itu. Begitu juga Lee, matanya berkeliling melihat setiap sudut tempat itu.


"Dave, bagaimana kamu bisa keluar dari tempat ini waktu itu?" tanya Lee berbisik.


"Dulu tempat arena laga itu belum di buat seperti itu. Masih seperti ring tinju saja, mungkin Morata tidak mau kejadian terulang seperti dulu aku kabur dari tempat ini." kata Dave.


"Hmm, jadi dia mengantisipasi sebelum kejadian itu terulang lagi." kata Lee.


"Ya, dan sepertinya dia juga menjaga setiap sudut tempat ini. Dan setiap pojok ada cctv, agar semua bisa terpantau darinya." kata Dave.


Pertarungan pun segera di mulai. Semua nampak sangat senang, petugas yang meminta uang pada para penonton dan bertanya siapa jagoan mereka yang nantinya menjadi juara di laga judi itu. Dave dan Lee juga menyiapkan uang untuk membayarnya.


Sementara itu, di dalam ruangan Morata di lantai tiga. Dia sedang berbincang dengan kliennya yang ingin juga melihat laga di bawah sana. Mereka juga bermain judi, siapa jagoan andalan mereka.


"Anda pasti untung tuan, ayolah kita bermain." kata Morata membujuk dua kliennya itu.


"Hmm, ini sangat menarik. Tapi sepertinya dua orang itu sangat payah di sana." kata salah satu klien melihat dari layar besar di depannya.


"Mereka pasti menyuguhkan pertarungan yang sangat menyenangkan tuan Park." kata Morata, yang ternyata kliennya itu dari Korea.


"Lihatlah di bangku penonton, kukira mereka berdua untuk maju dan berlaga di arena tarung itu sepertinya sangat menarik. Saya mau dua orang itu yang maju, nanti saya bayar mahal jika mereka mau maju. Sepertinya akan sangat menarik tuan Morata." kata klien satunya bernama Ji Chiang

__ADS_1


"Yang mana?" tanya tuan Park.


"Itu, yang berkacamata hitam dan memakai jas lengkap." kata tuan Ji Chiang menunjuk ke arah Dave dan Lee di layar monitor di depan.


Morata pun melihat ke arah layar monitor, dia memperhatikan dengan seksama. Begitu kacamata Dave di lepas, dia teringat akan Dave. Kemudian dia me mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, kamu sorotkan cctv ke arah dua orang yang berbaju jas dan berkacamata itu. Perbesar kameranya, aku ingin tahu siapa mereka itu." kata Morata pada anak buahnya.


"Baik tuan."


Klik!


Kemudian Morata memperhatikan di layar monitor, pandangannya tidak lepas dari kedua orang yang berpakaian berbeda itu. Dia seperti mengenal salah satunya, dadanya juga berdesir ketika kamera cctv memperbesar Dave dan Lee duduk di bangku penonton. Tangannya mengepal, dia tidak tahu kenapa Dave ada di tempat bangku penonton.


"Nah, itu dia. Sepertinya mereka bisa bertarung dengan temannya itu. Jika mereka yang maju di arena laga itu, saya akan memasang harga besar untuk dia yang berkacamata itu." kata tuan Ji Chiang.


Morata diam saja, dia masih memikirkan kenapa Dave bisa masuk ke tempatnya ini, bahkan dengan mudahnya dan membawa temannya. Apa yang dia cari?


"Tuan Morata, apa anda dengar dengan ucapan kami?" tanya tuan Park lagi.


"Oh ya tuan Park, saya akan beritahu anak buahku untuk meminta kedua orang itu untuk berlaga di arena. Tapi sepertinya setelah laga yang itu dulu tuan Park dan tuan Ji Chiang." kata Morata.


"Baiklah, tapi ingat tuan Morata. Kami sangat ingin kedua orang itu yang berlaga di arena setelah mereka." kata tuan Park.


"Saya keluar dulu tuan Park, saya akan memberitahu anak buahku untuk kedua orang itu maju ke arena laga. Semoga keinginan anda berdua bisa kami sajikan di hadapan anda." kata Morata.

__ADS_1


"Ya, silakan tuan Morata." kata tuan Ji Chiang.


Morata pun beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya. Dia akan memberitahu pada semua anak buahnya agar berjaga dengan ketat selama pertarungan berlangsung. Dia tidak mau terjadi kerusuhan seperti waktu itu.


"Hei kalian, beritahu pada teman-teman kalian untuk berjaga dan awasi kedua penonton yang berbaju jas hitam itu." kata Morata marah.


"Baik tuan."


"Dan tanyakan pada penjaga di gerbang juga pintu masuk tempat ini, kenapa bisa mereka masuk dengan mudah."


"Iya tuan."


"Jangan iya iya saja! Lakukan tugas kalian dengan benar! Aku tidak mau nanti ada kesalahan dan kerusuhan lagi!" kata Morata dengan wajah seperti khawatir.


"Iya tuan Morata, kami akan jalankan tugas dengan baik!" kata dua anak buahnya bersamaan.


"Kalau sampai terjadi kerusuhan, kalia yang akan aku bunuh semua!" katanya lagi mengancam.


Setelah selesai mengultimatum anak buahnya itu, dia lalu pergi ke bagian ruangan rahasia di mana semua senjata dia simpan di sana. Dia harus menyiapkan semuanya, sebelum nanti Dave berbuat kerusuhan lagi. Kecemasannya akan Dave datang lagi dengan keadaan berbeda, dia harus bersiap agar jika Dave menyerangnya, maka dia sudah menyiapkan senjata dan mobilnya di bagian ruang belakang area parkir.


_


_


_

__ADS_1


♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤


__ADS_2