
Di dalam mansionnya, Javier selalu merasa khawatir jika ada serangan ke dalam markasnya terakhirnya itu. Meski semua pengamanan ketat, tapi dia tetap saja khawatir akan di serang secara mendadak. Apa lagi Dave, dia yang sangat ingin membunuhnya sudah pasti akan datang padanya.
Paolo melihat sang bos selalu diam di ruangannya itu mengerti tentang kegundahan Javier. Dia berusaha sebisa mungkin untuk mengamankan keadaan mansion. Sistem keamanan canggih juga memang rawan di retas, tapi itu lebih baik jika tidak sama sekali di gunakan.
Tuan Paolo, apakah kita tetap bersiaga setiap waktu?" tanya anak buahnya itu.
"Tentu saja bodoh! Kamu ingin tuan Javier membunuhmu jika kecerobohan kalian itu terjadi? Dia sedang khawatir, jadi tugas kita adalah bersiaga setiap waktu." kata Paolo dengan kesal.
Memang selama markas Black Jack di bumi hanguskan olehnya, Javier selalu merasa khawatir. Bahkan jika ada perlu di perusahaan pegawainya yang datang, atau melalui virtual dalam pertemuan dengan para pengusaha lainnya.
Paolo mendekat padanya, dia membungkuk lebih dulu sebelum memberikan laporan padanya. Tangan Javier mengibas, tanda hormat Paolo selesai. Dia berdiri, belum berani memberitahu apa pun. Hingga Javier mendongak padanya, menatapnya aneh dan penuh selidik.
"Apa yang ingin kamu beritahu Paolo?" tanya Javier.
"Semua sudah lengkap tuan. Anda jangan khawatir, para ninja juga sudah ada dan berjaga di depan mansion." kata Paolo.
"Heh! Apa kamu takut?" tanya Javier.
Paolo diam, dia menunduk saja dengan ucapan bosnya itu. Mengartikan ucapan Javier bahwa dia sendiri yang sedang ketakutan. Namun hanha berucap dalam hati, tidak berani mengatakannya langsung. Dan tidak mungkin mengatakan langsung, bukankah itu sama saja mencari mati?
"Tidak tuan Javier." jawab Paolo akhirnya.
"Bagus. Kamu jangan takut dengan laki-laki itu, aku akan membunuhnya jika dia berani masuk ke dalam mansionku." kata Javier dengan tangan mengepal dengan kuat.
Sorot matanya pun menatap tajam pada sebuah foto besar dirinya yang berdiri tegak dengan baju kebesaran ala kerajaan dulu. Dalam foto itu Javier begitu gagah dan angkuh dengan kedua tangan memegang senjata laras. Dengan sorot mata tajam ke depan.
__ADS_1
Benar-benar foto sempurna jika memang Javier adalah laki-laki berkuasa dan memiliki aura kejam. Paolo ikut menatap foto tersebut, dia menghela nafas panjang. Dan lagi-lagi tatapan Javier padanya membuat aneh.
"Kenapa kamu membuang nafas panjang seperti itu? Apa kamu takut aku akan mati hah?!" ucap Javier penuh kekesalan.
"Tidak tuan, hari sudah larut malam. Anda tidurlah, biarkan saya dan anak buah yang menjaga anda malam ini dan seterusnya." kata Paolo menenangkan bosnya yang sedang gelisah itu.
"Hah! Kamu benar, aku tidak perlu takut. Semua sistem keamanan sangat canggih terpasang di mansionku. Juga anak buah yang banyak dan kuat serta tangguh bersiap melawan mereka yang mau membunuhku. Kalau begitu, kamu harus berjaga terus Paolo. Juga siapkan helikopter di rooftof atas mansionku." kata Javier memerintahkan Paolo.
"Apa anda akan pergi tuan?" pertanyaan biasanya, tapi entah kenapa bagi Javier itu sebuah ledekan.
"Aku tidak akan pergi seperti pecundang Paolo! Aku hanya memerintahkanmu untuk berjaga!" teriak Javier dengan marah dan mata melotot.
Membuat Paolo menunduk, merasa bersalah bertanya seperti itu. Javier bangkit dari duduknya dan mendorong dada Paolo dengan kuat, hingga laki-laki itu mundur ke belakang.
"Iya tuan, maafkan saya." kata Paolo membungkuk bersalah.
"Sudahlah, aku ingin istirahat. Kamu harus berpatroli di setiap sudut mansion ini. Periksa semua anak buahmu, apakah mereka ada yang mau berhianat padaku dengan memberikan informasi keadaan pengamanan di mansionku." kata Javier lagi.
"Baik tuan, saya akan laksanakan." jawab Paolo.
Javier lalu berlalu meninggalkan Paolo yang masih berdiri di tempatnya semula. Dia menatap kepergian sang bos yang sedang gelisah itu. Terlihat nyata kegelisahan Javier di mata Paoli, karena dia tahu bagaimnan keadaan bosnya. Sudah selama puluhan tahun bersamanya.
_
Sementara itu, James bersiap menyusup masuk ketika nanti Dave membuka sistem keamanan di mansion Javier. James dan anak buahnya sudah bersiap masuk dengan melalui pagar bagian belakang. Dari sana memang sangat mudah untuk masuk.
__ADS_1
Dave sudah memberi aba-aba agar James masuk nanti setelah nanti dia memberitahunya. Sedangkan Liu masih menunggu perintah selanjutnya. Dia juga bersiaga dengan ke empat temannya.
"Apa di dalam sana para ninja juga banyak Dave?" tanya Liu.
"Kukira cukup untuk kamu lawan Liu, ada dua puluh orang jika mereka tangguh pasti bisa kamu lumpuhkan." kata Dave.
"Hmm, baiklah. Kukira di bagi beberapa orang untuk melawan mereka. Aku sudah siapkan senjata yang langsung melumpuhkan mereka." kata Liu.
"Baguslah, nanti aku akan menghubungimu jika keadaan sudah terkendali." kata Dave.
"Ya, dan kamu masuk bagaimana?" tanya Liu.
"Paman Luca yang akan mengoperasikan dari markas. Hanya memberi petunjuk saja jika sistem keamanan itu sudah terbuka. Yang terpenting aku masuk lebih dulu, nanti aku akan merusak sistem itu. Baru nanti anak buah tuan Hugo yang menyusul akan masuk lagi membantu kita setelah sistem sudab bisa terbuka bebas." kata Dave.
"Ya, baiklah."
Dave lalu memeriksa kembali laptopnya, alat penghubung pada James pun sudah terkontak dan kini Dave memulai meretas sistem keamanan di mansion Javier. Mereka masuk ketika semua orang sudah terlelap tidur, meski penjagaan itu memang ketat sekali.
_
_
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤
__ADS_1