Dendam Anak Mafia

Dendam Anak Mafia
77. Persiapan Luciano


__ADS_3

Lee terus di cambuk hingga babak belur dan sudah tidak sadarkan diri. Begitu tahu Lee sudah pingsan, anak buah Luciano menghentikan cambukannya pada Lee. Luciano juga menatap tajam ke arah Lee yang sudah lunglai tak berdaya, penuh dengan darah yang mengalir di sekujur tubuhnya yang lebam dan merah serta membiru akibat cambukan anak buah Luciano itu.


"Cuih! Seperti itu saja sudah lemah! Bawa dia ke dalam ruangannya lagi, dua jam kemudian jika tidak bangun juga siram dengan air garam!" ucap Luciano dengan puas melihat Lee sudah tidak berdaya itu.


"Baik tuan." kata anak buahnya.


Dua orang melepas ikatan Lee yang di gantung, mereka lalu membawa Lee dengan menyeret kedua lengan Lee dan di masukkan ke dalam ruangan untuk menyekap Lee. Dengan di geletalkan begitu saja, Lee tidak sadar dengan sekujur tubuhnya berdarah membiru dan bengkak.


Luciano merasa puas telah menyiksa Lee dengan mencambuknya beberap puluh kali. Sampai dia pingsan karena darah sudah banyak yang keluar dan tubuhnya pada lebam. Di hisapnya cerutunya dengan pelan, menikmati rasa enaknya cerutu Kuba yang terkenal itu.


"Tuan Luciano, ada laporan dari anak buah yang ada di perbatasan. Kalau ada tiga mobil asing yang memasuki wilayah Sesilia." kata pengawalnya.


Luciano menoleh dan menatap tajam pada pengawal itu. Dia berdiri dan mendekat padanya. Pengawal itu menunduk takut, dia mundur beberapa senti. Tapi tangan Luciano langsung menangkap kerah bajunya.


"Mobil siapa itu, hah?!" tanya Luciano masih menatap tajam pada pemgawal yang memberi laporan.


"Belum di ketahui tuan, tapi sepertinya itu mobil asing dari kelompok Lion King." kata pengawal itu merasa takut.


"Huh! Kelompok Lion King! Baiklah, sambut mereka semua, itu pasti Gustavo yang ingin menyelamatkan Lee. Huh! Pengecut juga si Dave itu, mengutus Lion King untuk menyelamatkan temannya. Hadapi mereka! Suruh semuanya bersiap dan menyambut kedatangan mereka!" ucap Luciano langsung memerintah anak buahnya itu.


"Siap tuan Luciano!"


Pengawal itu pun pergi dari hadapan Luciano. Sedangkan Luciano pun kembali duduk di kursinya sambil menyesap ceritu Kubanya itu. Memikirkan bagaimana nanti dia berhadapan dengan Gustavo dan anak buahnya.

__ADS_1


"Jadi, anak Alehandro itu tidak datang menyelamatkan temannya?" gumam Luciano.


Dia pun bangkit dari duduknya, keluar dari ruangan menuju ke ruang persenjataan. Di sana dia mengambil beberapa senjata besar dan juga revolver. Ada juga pedang kecil dia siapkan jika itu di perlukan untuk menyerang musuh yang dekat.


Setelah mengambil beberapa senjata, Luciano pun keluar lagi. Dia pergi menuju di markas depan dan menyuruh anak buahnya mempersiapkan penyambutan para kelompok Lion King yang datang ke markasnya.


"Kalian bersiaplah, ambil senjata masing-masing. Jangan sampai mereka masuk ke wilayah kita ini." kata Luciano memerintahkan anak buahnya untuk bersiap.


"Baik tuan!"


Mereka bersiap dan berjaga sssuai dengan posisinya masing-masing. Beberapa orang sibuk mengambil senjata dan juga perlengkapan seperti berperang. Memang markas Black Jack itu persenjataan sangat lengkap, semua senjata di pasok oleh Luciano dari pabriknya sendiri.


Biasanya senjata-senjata itu dia jual pada para pemberontak di negaranya atau para separatis negara untuk memberontak. Dan kini dia pasok juga ke markas Black Jack. Luciano sedang berjaga di depan gerbang, seolah menunggu kedatangan kelompok Lion King yang menyerangnya ke markasnya sendiri.


"Sepertinya hanya beberapa mobil tuan. Dan tidak terlalu banyak, anak buah kita juga sedang memantau di bagian udara. Apakah mereka juga datang dengan helikopter juga untuk menterbu markas kita." kata anak buah Luciano sebagai tangan kanannya.


"Bagus, pantau terus mereka. Sekaligus deteksi semuanya, berapa orang yang datang ke markas kita. Berani sekali mereka datang jika sendirian. Apa lagi anak Alehandro itu, dia benar-benar cari mati." ucap Luciano.


Setelah berkata seperti itu, ponsel Luciano berbunyi. Tampak tertera nama adiknya yang menelepon, Javier. Luciano mendengus kesal, namun dia pun menjawab telepon Javier itu.


"Halo?"


"Kamu tahu mereka datang ke markas Black Jack?" tanya Javier.

__ADS_1


"Ya, aku sedang menyambut mereka semua. Berani sekali mereka masuk ke wilayahku." kata Luciano.


"Kamu tahu, dia itu sangat berani dan bersemangat untuk membunuhmu Luciano!" ucap Javier.


"Kita lihat saja, siapa yang akan mati lebih dulu. Dia datang ke sarang buaya yang siap melahap tubuh-tubuh mereka dan mencincangnya." kata Luciano.


"Hahah! Bertindaklah cerdik Luciano, aku tidak akan mengampunimu jika sampai mereka datang ke markasku juga." kata Javier di seberang sana.


"Hah! Jika begitu, jangan menghubungiku kalau hanya untuk membodohiku Javier!" ucap Luciano geram.


"Hahah! Tenang saja kakakku tercinta, aku pasti akan membantumu. Semuanya sudah aku pantau dari sini, tapi kamu harus bisa membereskan mereka semua. Jangan sampai predikat ketua mafia Black Jack jadi hilang taringnya seperti Gennaro!"


"Cukup! Aku tidak butuh pidatomu. Adik sialan!"


Klik!


Luciano geram dengan adiknya itu, dia menelepon hanya untuk meledeknya saja. Luciano pun menyuruh anak buahnya berjaga lebih waspada, dia tidak mau adiknya selalu meremehkannya dalam bekerja.


_


_


_

__ADS_1


♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤


__ADS_2