
Pembicaraan tentang saham di ruangan Ferdian Felippe sudah berlangsung. Kini tinggal tanda tangan saja, Fernandez sudah mentrasfer uang sebesar harga lelang yang dia tawarkan di acara lelang itu.
"Terima kasih tuan Hugo, anda memang pemenang lelang saham kali ini." kata Ferdian.
"Ya, saya sangat senang tuan Felippe. Anak saya yang menyukai sepak bola. Jadi saya membelinya untuk anak saya, tuan Felippe." kata Fernandez.
Setelah tanda tangan selesai, kini keduanya bersalaman. Serah terima sudah selesai dan kini Fernandez dan Mateo pun keluar dari kantor Ferdian Felippe. Kini keduanya akan langsung pulang ke markas. Di perjalanan mereka tidak tahu jika ada yang membuntuti dari belakang.
Namun akhirnya, Mateo menyadari kalau sekarang mobil mereka ada yang mengikuti dari belakang. Dia mencoba untuk beralih tempat, membelokka arah jalannya. Membuat Fernandez heran kenapa Mateo membelokkan arahnnya.
"Mateo, ada apa? Kenapa kamu membelokkan mobilnya" tanya Fernandez heran.
"Kita di ikuti tuan Hugo." jawab Mateo melihat ke arah kaca spion mobilnya masih di ikuti oleh mobil merah.
Fernandez pun melihat ke belakang, benar saja. Ada mobil merah mengikuti mobilnya. Dengan cepat dia menyuruh Mateo melajukan mobilnya agar bisa menghindar dari mobil merah itu.
"Siapa mereka?" tanya Fernandez.
"Saya tidak tahu tuan. Apakah ada musuh yang anda tidak tahu?" tanya Mateo.
"Aku merasa tidak punya musuh, tapi entah jika baru saja terjadi." kata Fernandez.
"Saya rasa mereka mengikuti dari kantor tuan Ferdian." kata Mateo.
"Benarkah? Siapa mereka?" tanya Fernandez sambil berpikir sewaktu di gedung pelelangan saham itu.
"Mungkinkah itu anak buah tuan Samuel?"
Kali ini pertanyaan Mateo masuk akal juga, Fernandez mengingat waktu itu Samuel sangat kesal ketika saham itu jatuh padanya. Dia lalu menghela nafas panjang.
"Mungkin kamu benar, ayo kita langsung ke markas. Kita harus menghindar dari kejaran mereka." kata Fernandez.
Mateo pun melajukan mobilnya dengan kencang, dia menyiapkan senjata apinya. Begitu juga dengan Fernandez, untuk persiapan jika mereka menyerang secara mendadak. Namun semakin kencang mobil Mateo mobil merah yang mengikutinya semakin mengejarnya.
Bahkan mereka juga menembaki mobil Fernandez. Tentu saja Mateo membalas tembakan mereka, begitu juga dengan Fernandez.
Dor! Dor! Dor!
__ADS_1
Dor! Dor! Dor!
Baku tembak kembali terjadi, hingga di kilo meter seratus lima puluh mereka terus saling baku tembak. Hingga tak sadar, mobil Mateo di tabrak dari depan oleh mobil boks besar dari arah samping kanan. Dan akhirnya mobil itu terseret hingga beberapa meter. Kemudian menabrak sebuah pohon besar.
Duaar! Braak!
Mobil membentur pohon besar, kap mobil depan terbuka dan mengeluarkan asap. Dengan cepat Mateo dan Fernandez segera keluar dari dalam mobil. Menyelamatkan diri sebelum mobil itu meledak dan terbakar.
Beberapa menit setelah keluar dari dalam mobil, benar saja. Mobil tersebut meledak dan terbakar, untungnya berkas penanda tanganan saham klub sepak bola di ambil dengan cepat.
Duaar! Duaaar!
Mateo dan Fernandez menghindar. Mereka berdua merasa lega karena selamat dari kebakaran itu. Tapi ternyata bahaya belum selesai mengintai, ketika mereka berdiri dua orang mendekat dan memukul tengkuk bagian belakang Mateo dan Fernandez dengan keras.
Sehingga keduanya pun jatuh terkulai, tidak sadarkan diri. Satu orang mengambil berkas itu dan membawanya masuk ke dalam mobil. Salah satu membawa Fernandez masuk ke dalam mobil hitam. Sedangkan Mateo di biarkan tergeletak di tanah, tapi sebelum pergi salah satu dari mereka menyelipkan sebuah kertas ke dalam saku jas Mateo.
Mobil yang membawa Fernandez pun pergi meninggalkan Mateo. Lima menit, mobil polisi. Mereka lalu mengevakuasi Mateo dan di bawa ke rumah sakit. Menghubungi seseorang yang ada di kontak terakhir panggilan Mateo.
"Halo?"
"Mateo?"
"Oh, baiklah pak polisi. Saya segera kesana."
Klik!
Polisi segera melaporkan kejadian itu ke kantor polisi dan memberikan keterangan bahwa terjadi kecelakaan tunggal, yaitu menabrak pohon besar.
Sementara itu, Luca segera pergi ke rumah sakit yang di sebut oleh polisi itu. Dia cemas kenapa Mateo bisa mengalami kecelakaan. Lalu, di mana Fernandez? Kenapa polisi itu tidak memberitahu di mana Fernandez? Hanya menyebutkan Mateo saja di telepon itu.
Dia pergi sendiri, karena terburu-buru dia pergi tanpa membawa apa pun. Dia hanya takut dan ingin bertanya kemana Fernandez perginya. Kenapa tidak bersama dengan Mateo.
"Ada apa sebenarnya, kenapa hanya Mateo yang ada di sana? Kemana tuan Hugo?" gumam Luca dalam mengendarai mobilnya.
Setengah jam perjalanan, dia akhirnya sampai di rumah sakit St. Carlos. Luca memarkirkan mobilnya dan langsung menuju ke dalam ruang darurat. Mencari Mateo dengan kasus kecelakaan tunggal seperti apa yang di infokan oleh polisi.
Setelah menemukan di mana Mateo, kini Luca segera mencari kamar rawat inap Mateo. Dia menemukannya, masuk ke dalam kamar itu. Mateo masih belum sadar, Luca pun duduk di depan bangsal. Dia tidak sabar ingin tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya.
__ADS_1
Sepuluh menit akhirnya Mateo sadar dari pingsannya. Dia memang di perban bagian kepala dan juga tangan karena benturan mobil yang menabrak pohon besar dan berusaha keluar menyelamatkan diri dari mobil yang tertabrak.
"Kamu sudah sadar?" tanya Luca pada Mateo.
"Aku di rumah sakit?" tanya Mateo memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Ya, polisi yang membawamu ke rumah sakit. Polisi juga yang memberitahu kalau kamu kecelakaan. Bagaimana kejadiannya? Dan kemana tuan Hugo" tanya Luca penasaran.
"Aah, aku gagal menyelamatkan tuan Hugo. Mereka mungkin membawa tuan Hugo, entah siapa mereka. Kenapa mereka mengincar tuan Hugo?" kata Mateo heran.
"Jadi kamu tidak tahu di mana tuan Hugo?" tanya Luca.
"Sebenarnya aku curiga pada seseorang yang waktu pelelangan saham itu. Kamu tahu tuan Samuel Rodrigoz?" tanya Mateo.
"Ya, kenapa dia?" tanya Luca.
"Waktu pelelang saham itu, tuan Hugo dan tuan Samuel berebut ketat. Tuan samuel menawar tertinggi dengan harga lima puluh lima juta dolar, tapi tuan Hugo justru menawar lebih tinggi lagi. Tujuh puluh juta dolar, itu sudah pasti membuat dia marah. Aku yakin tuan Hugo di bawa oleh anak buahnya entah kemana, dan berkas penanda tanganan kepemilikan klun sepak bola itu juga tidak ada." kata Mateo.
"Mungkin saja memang dia pelakunya." kata Luca.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Mateo.
"Apa kita harus menyuruh tuan Dave kembali?" tanya Luca.
"Bisa juga, tapi apakah dia sudah selesai urusannya?"
"Aku tidak tahu, jika harus tuan Dave lagi yang menghadapi anak buah Samuel. Akan sangat mudah, dia bisa menghadapi Samuel dan mengembalikan tuan Hugo pada kita." kata Luca.
Mereka terdiam, belum tahu bagaimana mereka bertindak. Dalam diamnya, Mateo melihat dalam saku jasnya terdapat sebuah surat terselip. Dia lalu mengambil surat itu dan membacanya.
"Temui aku di gudang kosong, kalian akan menemui Fernandez Hugo dalam keadaan hidup atau mati, jika cepat datang. Maka dia akan selamat, tapi jika terlambat kalian akan melihat Fernandez Hugo dalam keadaan tinggal nama saja."
Begitu isi surat yang di ambil oleh Mateo, Luca mengambil surat dari tangan Mateo lalu membacanya. Dia terkejut, di sana tertera nama Samuel Rodrigoz sebagai orang yang menulis surat tersebut.
_
_
__ADS_1
_.
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤