Dendam Anak Mafia

Dendam Anak Mafia
104. Berhasil Menyusup


__ADS_3

Dave sudah mendapatkan kelompok anak geng motor jalanan dan juga anak jalanan. Dia mengumpulkan mereka di suatu tempat dan di beri aharan oleh Dave. Mungkin nanti di antara mereka akan ada yang di berikan senjata bagi yang bisa menggunakan senjata, namun Dave tidak mau sembarangan memberikan senjata.


Dia berpikir, mereka akan seenaknya menggunakan senjatanya jika tujuannya sudah berhasil. Jadi Dave tidak mau kelompok geng motor juga anak-anak jalanan itu lebih arogan di jalanan.


"Mereka sudah di kumpulkan Dave, lalu bagaimana memerintahkan mereka?" tanya Lee.


"Kita atus strategi dulu, mereka banyak yang mengendarai motor. Kupikir aku lebih dulu datang kesana dengan kalian bertiga." kata Dave.


"Bagaimana jika mereka tidak datang? Konyol kita mati di sana." kata Lee.


"Baiklah, Liu yang akan mengarahkan mereka. Kukira anak buah Liu juga bisa mengatur mereka." kata Dave.


"Ya, kamu jangan khawatir Dave. Aku dan empat anak buahku akan mengarahkan mereka nanti setelah dapat perintah darimu." kata Liu.


"Baiklah, sekarang rencana sudah matang. Kita akan datang besok sore." kata Dave.


"Di mana tempat markas Morata itu?" tanya Lee.


"Di tengah hutan, kita akan ke sana sore hari. Karena biasanya jika sore banyak sekali yang datang dan menonoton pertarungan judi itu." kata Dave lagi.


"Hmm, ini kupikir sangat menegangkan." kata Lee.


"Santailah Lee, anak buah Morata tidak sebanding dengan apa yang kamu bisa. Hanya dia bisa merekrut banyak petarung itu karena uangnya banyak. Anak buahnya memang banyak, tapi kupikir kita bisa membuat mereka kalangkabut."


"Baiklah, ayo kita beristirahat. Liu besok pagi bisa menyiapkan semua senjata untuk mereka yang di perlukan saja. Yang lain tugasnya hanya membuat penonton rusuh." kata Dave.


Setelah perundingan itu, kini waktu sudah begitu larut. Setelah pulang menemui kelompok-kelompok yang akan di ikut sertakan dalam penyerangan itu, kini waktunya beristirahat.


_


Sore yang di tunggu, semua nampak bersiap sesuai tempatnya masing-masing. Di pimpin oleh Liu dan empat anak buahnya, dan Dave pun sudah berangkat lebih dulu ke tengah hutan di mana markas tempat judi tarung berada. Tempat itu memang luas sekali, jadi antara gerbang masuk dan tempat laga bertarung sangat jauh.

__ADS_1


Dave masuk dengan baju yang biasa orang-orang mau bertarung. Sehingga tidak di curigai sebagai penyusup. Sampai di gerbang itu, benar saja mereka berdua di periksa satu persatu. Di lihatnya wajah Davs dan Lee agar mereka bisa mengenali jika terjadi sesuatu.


"Kalian dari mana? Wajah kalian sepertinya bukan orang Makau." kata penjaga itu.


"Kami dari Italia, ingin ikut berlaga di dalam sana." kata Dave.


"Hmm, apakah kalian sudah mendaftar pada tuan Morata? Karena hari ini yang berlaga semua jagoan kampung." kata penjaga itu.


"Sudah, kemarin kami mendaftar melalui orang-orang yang menampung kami." kata Dave.


"Tapi, mobil kalian sepertinya bukan orang sembarangan. Apa kalian adalah suruhan intel?"


Kali ini satu penjaga lebih waspada pada Dave dan Lee. Mereka melihat mobil yang di tumpangi oleh keduanya memang tidak sama dengan para petarung yang ikut daftar ingin bertarung di markas Morata.


"Kalian salah, untuk apa kami membantu intel. Kami hanya bersenang-senang saja ikut bertarung." ucap Lee agar tidak di curigai terlalu lama.


"Biarkan kami masuk, karena laga pertarungan akan segera di mulai." kata Dave.


"Ini, hanya untuk sekedar membeli minuman untuk kalian. Dan biarkan kami masuk." kata Dave.


Tanpa membuang waktu, penjaga itu pun mengambil uang yang di berikan oleh Dave. Setelah uang di terima, mobil Dave sudah bisa masuk dan melaju menuju markas Morata. Sudah terdengar suara sorak sorai di dalam markas di sana.


Lee sampai mengerutkan dahinya, memandang Dave yang diam seperti mengingat bagaimana keadaan di dalam sana. Lee tidak bertanya, perubahan wajah Dave yang dingin kini sepertinya dia sudah siap untuk bertemu dengan Morata. Dia mengambil kacamata hitam dan memakainya.


Mobil memasuki area parkir basemen, sebuah gedung yang sangat luas dan bertingkat. Di atas adalah tempat di mana Morata memantau setiap pertarungan yang ada di bawah. Masuk lebih dalam, penjara yang sangat pengap dan banyak sekali ruang isolasi bagi petarung yang handal seperti dia sengaja di sembunyikan agar tidak bisa kabur.


Lee dan Dave sudah keluar dari dalam mobil, dia menghubungi Liu sebelumnga agar segera bersiap untuk segera berangkat sebelum mereka menyadari akan di serang. Dave dan Lee masuk dengan prosedur dari para penjaga, di periksa apakah orang-orang yang ingin masuk membawa senjata atau tidak.


"Serahkan senjatanya." kata penjaga itu.


"Ini senjata mainan. Lihatlah." kata Dave memperlihatkan senjata yang dia pegang.

__ADS_1


Penjaga itu hanya sebentar melihat senjata itu lalu Dave masukkan lagi ke balik jasnya. Begitu pun Lee, dia tersenyum sinis, tapi rupanya penjaga itu tidak bisa di bohongi. Mereka menarik lagi Dave dan Lee untuk segera keluar dari ruangan itu.


Dave memberi isyarat pada Lee, dan Lee pun mengerti. Dia mengajak dua penjaga itu untuk berunding, memberinya beberapa lembar uang agar dia bisa membungkan kedua penjaga itu. Sangat alot bernegosiasi, namun akhirnya Lee berhasil membungkam mereka dengan uang beberapa lembar.


Dave dan Lee masuk dengan santai ke dalam rauangan luas yang di keliling banyak penonton. Suara riuh rendah penonton yang akan menyaksikan para jagoan petarung berlaga di dalam arena. Dave dan Lee mencari tempat duduk, di sana dia mau melihat situasi lebih dulu.


Dave sengaja mencari tempat agar bisa terlihat oleh kamera cctv yang di lihat oleh Morata. Dia yakin Morata hafal dengannya, jadi Dave memancing Morata bisa memanggilnya.


"Ada cctv Dave di ujung sana." kata Lee.


"Biarkan saja, aku sengaja agar bisa terlihat oleh Morata. Kupikir dia akan terkejut dengan kehadiranku di sini." kata Dave.


"Tapi apakah Liu sudah siap di sana dengan para kelompok itu sudah siap?" tanya Lee.


"Sudah. Dia sudah bergerak menuju kemari. Kamu tenang saja, bukankah kita sudah biasa menghadapi mereka? Apa kamu takut?" tanya Dave seolah mencibir Lee.


"Siapa yang takut. Aku tidak takut, ayo siapa yang lebih tangguh dariku. Kita berduel di arena sana." kata Lee seolah tertantang dengan ucapan Dave.


"Sudahlah, kita lihat saja. Aku hanya ingin berhadapan dengan Morata langsung, kamu hanya bersiap untuk menghadapi anak buahnya saja." kata Dave.


"Baiklah, kita tunggu seberapa lama dia menyadari kedatanganmu." kata Lee.


Keduanya kini duduk, hanya diam saja tidak ikut bersorak seperti mereka yang senang akan jagoan mereka bertanding.


_


_


_


♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤

__ADS_1


__ADS_2