
"Apa yang kamu bisa?" tanya Fernandez Hugo menatap Dave datar.
"Saya bisa melindungi anda." jawab Dave pasti dan yakin.
Kembali Fernandez menatap Dave dengan tatapan dingin. Dia meletakkan cerutunya di asbak berbentuk burung elang. Lalu di silangkan tangan di dada dan menatap Dave, ada senyum tipis di bibirnya.
"Apa? Hahah!" Fernandez tertawa keras dengan pernyataan Dave mau melindunginya. Dave diam saja dengan tawa meledek Fernandez padanya.
"Kamu mau seperti bodyguard? Bisa melindungiku kemana saja aku pergi?" tanya Fernandez lagi dengan meyakinkan ucapan Dave tadi.
"Ya, benar sekali. Jika anda berkenan tuan." kata Dave lagi dengan tegas.
"Hmm, menarik. Apa kamu siap mati untukku?" tanya Fernandez lagi.
"Apa anda akan berperang?" tanya Dave.
Dia tahu, status Fernandez dan pekerjaannya itu banyak mengandung bahaya. Makanya dia menawarkan diri, meski sebenarnya belum tahu pekerjaan Fernandez apa. Fernandez masih menatap dingin pada Dave, dia tahu Dave bukan pemuda sembarangan.
"Pekerjaanku mengandung bahaya, banyak sekali yang mengincarku untuk mati. Apa kamu siap untuk menjaga dan melindungiku? Karena setiap bodyguard tidak selamanya selalu setia pada bosnya." kata Fernandez lagi.
"Saya siap tuan." jawab Dave.
"Kamu yakin?"
"Saya yakin sekali."
"Hmm, baiklah. Karena ini permintaanmu ingin melindungiku. Aku juga memberikan konsekuensi untukmu jika kamu membangkang, bahkan berkhianat padaku atau kamu tida cepat tanggap melindungiku ketika aku dalam bahaya. Apa menurutmu jika itu semua kamu lakukan padaku?" tanya Rernandez serius dan dingin menatap Dava.
Dave merasa goyah, namun kembali pada tujuannya sejak awal. Dia ingin membalas dendam pada Javier, dengan cara bergabung dengan Fernandez bahkan jadi bodyguardnya. Akan terasa lebih mudah untuk balas dendam pada pembunuh keluarganya.
"Dave, apa konsekuensinya untukmu jika semua yang aku katakan tadi kamu lakukan?" tanya Fernandez mengulang pernyataannya.
"Anda boleh membunuhku tuan." kata Dave dengan percaya diri.
Fernandez terkejut, dia tidak menyangka jika Dave seberani itu. Tapi memang semua apa yang di katakannya itu sangat berbahaya buatnya, tapi jawaban Dave sangat tegas dan tidak mempertimbangkannya lebih dulu masalah nyawanya sendiri. Apa dia memang memilih jadi seorang yang siap mati?
"Oke, kamu aku terima sebagai bodyguardku. Besok kamu ikut denganku ke Makau. Di sana pekerjaanmu di mulai. Dan aku akan selalu ingat kata-katamu itu, Dave. Sekali saja kamu membuat kesalahan, kamu akan menerima konsekuensi dariku. Aku akan mempertimbangkan hukuman apa dari konsekuensi bentuk kesalahanmu nanti." kata Fernandez tegas.
"Baik tuan, saya siap menjalankan apa katamu." kata Dave.
"Besok siang kamu datang lagi kemari dengan membawa milikmu seperlunya." kata Fernandez lagi.
__ADS_1
"Baik, tuan."
"Kamu boleh keluar dan pulang." kata Fernandez.
Dave membungkukkan badannya tanda hormat. Dia lalu keluar dari dalam tenda dengan tatapan datar Fernandez sampai dia menghilang dari pandangannya. Fernandez menyalakana kembali cerutunya yang sempat mati.
"Hmm, menarik sekali kamu Dave. Aku yakin kamu bukan laki-laki biasa." ucap Fernandez Hugo menghisap cerutunya.
_
Dave bersiap untuk berangkat ke Makau dengan rombongan Fernandez Hugo. Dia hanya mengganti bajunya saja yang di berikan oleh kakek Qin. Karena memang Dave datang ke desa itu tidak mempunyai apa-apa.
"Kamu mau berangkat juga?" tanya kakek Qin.
"Iya kek, terima kasih atas bantuannya selama ini. Dan juga bajunya meski ini kekecilan, heheh." kata Dave.
"Iya, kakek hanya punya baju itu saja yang layak untukmu. Selebihnya baju-baju lusuh dan pada sobek. Tapi kakek tidak masalah pakai baju sobek, heheh." kata kakek Qin.
Dave tersenyum, miris sekali kehidupan kakek Qin. Hidup sendiri tanpa di temani anaknya, karena anaknya itu merantau ke kota dan jarang pulang. Sedangkan istrinya sudah lama meninggal. Jika ada kesempatan bertemu lagi dengan kakek Qin, Dave akan memberikan apa yang di butuhkan kakek Qin sebagai ucapan terima kasih telah membantunya dan merawatnya hingga sembuh.
"Saya berangkat dulu kek, siang ini harus ke Makau dengan juragan yang punya lahan itu." kata Dave tidak memberitahu siapa Fernandez.
"Ya pergilah, jaga diri baik-baik. Jika kamu bertemu anakku, tolong ingatkan dia untuk pulang dan mengirimiku uang." kata kakek Qin.
"Huan Shi, katanya dia bekerja di sebuah pabrik di kota. Kakek tidak tahu pabrik apa." kata kakek Qin.
"Iya, nanti jika saya dapat gaji pertama. Saya akan kirim uang untuk kakek Qin." kata Dave.
"Jangan repot-repot, kamu sendiri tidak punya uang. Gunakan saja uangmu untuk kebutuhanmu sendiri, biar kakek minta sama Huan Shi saja." kata kakek Qin lagi.
"Tidak apa, hanya sebagian saja tidak akan membuat saya kekurangan. Baiklah kek, saya berangkat dulu. Jaga diri kakek ya." kata Dave.
"Iya, sama denganmu. Kamu juga harus jaga diri, karena di kota terlalu keras persaingan hidupnya. Berbeda dengan di desa."
"Iya kek."
Dave pun memeluk kakek Qin, dan setelah itu dia pun pergi ke tenda di mana Fernandez berada dengan jalan kaki. Kakek Qin hanya menatap kepergian Dave dari jauh hingga tak terlihat karena belok di tikungan. Wajah sedih kembali dia rasakan, baru beberapa hari tinggal dengan Dave. Tapi sekarang harus berpisah lagi.
Sedangkan Dave berjalan cepat menuju tenda tempat Fernandez menunggunya. Dia akan mengingat kebaikan kakek Qin dan membalasnya. Jauh tempat itu dari rumah kakek Qin, tapi Dave bisa dengan cepat sampai di sana meski berjalan kaki saja.
"Kamu di tunggu sama tuan Fernandez." kata mandor yang kemarin menerimanya bekerja.
__ADS_1
"Iya, saya tahu." kata Dave.
"Beruntung kamu bisa ikut tuan Fernandez ke kota dan bekerja dengannya di sana." ucap mandor itu lagi.
Dave hanya tersenyum saja, lalu masuk ke dalam tenda. Di luar ada tiga mobil sedan berwarna hitam menunggu pemiliknya menaikinya. Dave pasti akan naik di salah satu mobil itu, pikir Dave.
"Kamu sudah siap menjadi bodyguarku sekarang?" tanya Fernandez.
"Tentu, tuan."
"Kamu bisa menembak?" tanya Fernandez lagi.
"Belum mahir, tuan." jawab Dave.
"Aah, sayang sekali, tapi tidak apa. Nanti anak buahku di sana akan membantumu belajar menembak dengan baik. Tapi sebelumnya, aku memberimu kesempatan satu kali untuk mempertimbangkan lagi keinginanmu, kamu bisa mengurungkannya." kata Fernandez untuk meyakinkan Dave.
"Tidak, sudah bulat keinginan saya tuan." kata Dave yakin.
Fernandez diam, dia lalu tertawa lebar membuat anak buah di belakangnya heran. Dave sendiri diam karena dia tahu tawa Fernandez itu adalah tawa ejekan. Tapi Dave tidak peduli, dia ingin kembali ke Italia dengan keadaan berbeda. Dia yakin, Fernandez ini punya pengaruh besar di Italia dan dunia bisnis lainnya.
"Baiklah, cukup satu kali aku memberimu kesempatan. Selanjutnya kamu harus menepati janjimu, jika kamu tepati bahkan menghianati. Hukumannya adalah di bunuh." kata Fernandez dengan menatap tajam pada Dave.
Ada aura lain pada wajah Fernandez yang Dave lihat. Aura kegelapan di sana, dia melihat wajah Fernandez seperti seorang mafia jahat dan siap membunuh siapa pun musuhnya. Dave menunduk sedikit untuk mengusir rasa takut yang dia lihat di wajah Fernandez.
"Mulai sekarang, kamu siap membunuh siapa pun yang akan menghalangi semua keinginanku Dave. Kamu siap mati untukku?"
"Tentu tuan, sejak kemarin saya katakan. Apa itu belum cukup untuk meyakinkanmu tentang jawabanku?" kata Dave dengan tegas.
"Oh ya, aku hanya mengetesmu. Baiklah, ayo kita berangkat. Ada pekerjaan yang harus aku lakukan di kota." kata Fernandez.
Lalu dia pun pergi dari hadapan Dave, di susul oleh anak buahnya di belakang. Dave pun menyusul, dia mengikuti kemana Fernandez pergi.
Satu kesalahan yang Dave lakukan, dia terlalu berani mengatakan siap untuk jadi bodyguard. Dia belum mahir membawa dan menggunakan senjata, juga mengendarai mobil. Fernandez tidak masalah, yang dia butuhkan keinginan kuat dari Dave.
Dia bisa menyuruh orang untuk memberikan pelajaran itu, pikirnya. Karena dia tahu, ada sebuah maksud tersembuyi pada Dave kenapa dia begitu yakin ingin menjadi bodyguardnya.
_
_
_
__ADS_1
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤