Dendam Anak Mafia

Dendam Anak Mafia
91. Melacak keberadaan Javier


__ADS_3

Setelah mengancam Paolo, kini Dave pergi dengan santai. Wajahnya masih terlihat dingin, dia akan mencari Javier kemana dia pergi. Sedangkan Paolo kini sudah lemah, namun dia berusaha mengambil senjata yang tidak jauh darinya.


Tangannya meraba perlahan, dengan sekuat tenaga dia meraih senjata api itu. Dia akan menembak Dave dari belakang sebelum dia pergi lebih jauh. Namun Dave tahu jika Paolo berusaha mengambil senjata itu, mmebiarkannya mendapatkan pistol dan menembaknya.


Benar saja, Paolo sudah meraih pistol tersebut dan menodongkannya ke arah Dave. Justru Davw berbalik dan berhenti. Menatap Paolo yang menodongkan pistolnya padanya. Ada senyum tipis di bibir Dave, dia sengaja berhenti. Memasang badan untuk di tembakkan oleh Paolo.


Tembak saja jika kamu kuat menembakkan senjata itu, Paolo!" kata Dave.


"Sudah pasti kamu akan mati Dave!"


Paolo menarik pelatuknya dengan cepat, tapi gerakan tangan Dave mengambil pistol di belakang punggungnya lalu menembakkan ke arah Paolo. Membuat laki-laki yang sedang sekarat itu pun terkena peluru Dave tepat di bagian matanya.


Dor!


"Aaaargh!"


Darah segar keluar dari kelopak mata Paolo, dia kejang beberapa kali. Dan kini akhirnya meregang nyawa. Dave masih pada posisi menembaknya, lalu menarik tangannya dan berdiri dengan tegap melihat Paolo terkapar, sekarat dan akhirnya meregang nyawa. Semua mata melihat apa yang di lakukan oleg Dave.


Sangat cepat dan benar-benar jitu, tepat sasaran di bagian mata dia menembak Paolo. Kemudian Dave pun berbalik dan pergi, di susul oleh Liu, Mateo dan juga James. Mereka pergi meninggalkan mansion yang sudah berubah jadi lautan manusia yang bersimbah darah serta bergelimpang tanpa nyawa.


Dave pun mengambil sebuah granat, begitu juga Mateo. Menarik sumbu granat tersebut dan melemparkannya ke dalam mansion Javier yang sudah porak poranda.


Duaaarr! Duaaarr!


Dua kali ledakan dahsyat kembali meledak di mansion Javier. Bangunan bergaya klasik di bawahnya itu, kini hampir berbentuk puing-puing dan luluh lantah. Ledakan di mansion Javier membuat orang-orang yang mendengar jadi terkejut, dari arah mansion Javier terdengar ledakan besar.


Dave, Mateo, Liu dan James segera pergi dari mansion Javier. Mereka akan kembali ke markas Fernandez. Dave marah dengan kaburnya Javier setelah tahu mansionnya di serang. Kini dia akan mencari Javier di mana pun dia berada.


Dengan bantuan internet, dia pasti akan menemukan di mana Javier berada saat ini. Dave juga akan meminta Luca untuk melacak keberadaan Javier, seberapa banyak lagi anak buah yang melindunginya. Namun, dia yakin daat ini Javier sedang bersenang-senang.

__ADS_1


"Tunggu saja kehancuranmu, Javier." gumam Dave.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Dave masih diam saja. Membuat Mateo menghela nafas panjang. Dia tahu Dave marah dan kecewa, seseorang yang ingin dia hadapi tidak ada. Kabur entah kemana.


"Kita akan cari di mana dia berada tuan Dave." kata Mateo.


"Ya, sudah pasti paman. Aku akan mencarinya sampai dapat dan membunuhnya juga. Dia tidak bisa lolos dariku." kata Dave dengan wajah begitu dingin.


Mateo tahu, begitu kecewa, kesal dan juga marahnya Dave. Bukan tidak memperkirakan Javier akan kabur, namun memang mereka mempersiapkan dengan baik. Apa lagi kini Paolo sudah tidak ada, Javier akan selalu khawatir dengan kedatangan Dave secara mendadak nantinya.


_


Luca sedang melacak keberadaan Javier di mana dia kabur. Dave benar-benar akan memburunya, karena memang sudah saatnya dia akan membunuh Javier. Dalam hati Dave, tidak ada penyesalan jika Javier sudah mati di tangannya, justru jika Javier masih hidup atau mati di tangan orang lain. Dia yang merasa menyesal dan marah.


"Bagiaman paman Luca? Apa bisa di lacak, kemana Javier pergi?" tanya Dave tidak sabar.


"Bisa, hanya saja agak lama tuan Dave. Anda harus bersabar, aku sedang mencari di mana dia tinggal sekarang." kata Luca.


Lee menghampiri Dave yang sedang duduk melihat layar monitor. Tangannya yang masih di gendong karena di gips, menepuk pundak Dave. Dave menoleh padanya, Lee tersenyum.


"Sambil menunggu tuan Luca melacak keberadaan Javier, tunggu aku sembuh. Aku akan ikut mencari Javier denganmu, membantumu membalaskan dendammu padanya." kata Lee.


Dave pun tersenyum, memegang tangan Lee yang masih di pundaknya. Dan kemudian mengangguk cepat. Keduanya kini kembali menatap layar monitor yang menampilkan beberapa alamat dan tempat setiap penduduk dengan menggunakan gugol maps.


"Di Italia tidak di temukan tuan Dave, kemungkinan dia kabur keluar negeri." kata Luca.


"Apa dia pergi Amerika?" tanya Lee.


"Coba paman cari dia di negara Amerika." jata Dave.

__ADS_1


"Hei Dave, kamu ingat jika pesta besar di Las Vegas itu adalah di kasino Javier?" tanya Lee.


"Ah, ya benar. Kemungkinan dia pergi ke Las Vegas. Paman Luca, lacak dia di kasino miliknya. Kemungkinan dia di sana bersembunyinya." kata Dave dengan wajah bersemangat.


"Baiklah. Tapi aku merasa aneh dalam perutku." kata Luca.


"Kenapa paman?"


"Dia ingin bertemu dengan makanan-makanan. Cacing-cacingnya sedang berprotes. Jadi dia butuh makanan, agar konsentrasi pelacakan bisa terwujud." kata Luca dengan bahasa kiasannya. Lee dan Dave saling diam, mengerutkan dahinya lalu tertawa bersama.


"Hahah!"


"Baiklah paman, aku akan buatkan makanan untukmu dengan segelas susu hangat." kata Dave.


"Hei, aku bukan anak kecil tuan Dave! Yang harus minum susu setiap mau tidur. Buatlah minuman yang menyehatkan lainnya." kata Luca protes pada Dave.


"Baiklah paman, aku akan buatkan secangkir cokelat panas. Tunggu sebentar ya."


"Tambahan satu Dave, untukku." kata Lee.


"Oke, baiklah."


Dave pun beranjak dari duduknya dan pergi menuju dapur yang ada di ruangan bagian belakang. Dia akan membuat wafel dan juga secangkir cokelat hangat untuk Luca, Lee dan dirinya. Bersikap santai sejenak untuk mendapatkan kejernihan pikiran.


_


_


_

__ADS_1


♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤


__ADS_2