
Jalan pagi kali ini membuat Dave senang, dia berjalan santai meski dia harus waspada akan ada mendadak musuh menyerang Fernandez Hugo. Dia berjalan sambil matanya menatap sekeliling, beberapa orang tampak biasa saja. Jadi Dave pun masih tenang dan waspada tetap di tingkatkan.
Dia mencari tempat aman untuk menghubungi Mateo, jika dia sudah berada kembali di Italia. Dave mrngambil ponselnya dan segera menghubungi Mateo, menatap sekeliling apakah ada orang lain yang mengikuti atau mengawasinya.
Rombongan Fernandez juga, terlihat santai. Lima orang anak buah dan juga Lee sebagai bodyguardnya. Dave pun mencari nama Mateo di kontak teleponnya, setelah ketemu dia pun segera menghubungi Mateo.
Tuuut
Sambungan telepon pun masuk, tak lama langsung tersambung.
"Halo, tuan Dave?"
"Mateo, kamu di mana?" tanya Dave dengan senang hati.
"Kenapa anda bertanya seperti itu? Anda baik-baik saja?" tanya Mateo.
"Aku sudah berada di Italia, Mateo." kata Dave dengan senang hati.
"Waah, anda sudah berada di Italia? Apa anda baik-baik saja? Dengan siapa anda ke Italia?" tanya Mateo lagi.
"Tentu saja dengan tuan Fernandez Hugo, dia harus menyelesaikan urusannya di Italia. Satu anak perusahaannya itu sedang di goncang, jadi harus datang ke Italia. Aku baru tahu kalau taua Hugo sudah punya keluarga, kami ada di luar sambil berolah raga." kata Dave.
"Apa anda sudah mengatakan pada tuan Hugo?" tanya Mateo.
"Belum Mateo, kupikir ini terlalu dini. Aku takut dia mengira aku mengada-ada. Bercerita dengan temanku saja, rasanya belum berani aku lakukan. Mateo?"
"Kenapa tuan Dave?"
"Aku ingin bertemu denganmu. Bisa kita bertemu , Mateo?" tanya Dave.
Berharap Mateo bisa menemuinya, dia juga ingin bertemu Luca. Namun, dia bingung juga bagaimana mengatakan pada Fernandez Hugo kalau dia ingin menemui seseorang.
"Tuan Dave, nanti saya hubungi lagi jika kita bisa bertemu. Keadaan saya dan Luca sekarang sangat berbeda, mereka selalu mengawasi kami berdua. Jadi untuk saat ini anda tetaplah jadi bodyguard tuan Hugo. Saya takut jika pertemuan anda dan saya akan menambah kecurigaan mereka. Maafkan saya tuan Dave, saya tidak bisa sembarangan bertemu dengan siapa pun. Saat ini saya dan Luca sedang di awasi ketat." kata Mateo.
Membuat Dave semakin kecil saja bagi Javier, tangannya mengepal kuat. Bukan hanya perusahaan ayahnya, tapi anak buah papanya yang setia benar-benar mereka cari. Mereka ingin menghabisi semuanya tanpa sisa.
"Tuan Dave?" Mateo bicara.
"Mateo, apa kamu tahu kabar tentang paman Fabio?" tanya Dave penasaran.
__ADS_1
"Mereka sudah mati tuan, Javier benar-benar mencoba memberantas siapa saja yang berhubungan dengan tuan Alehandro. Dan maaf, kami tidak bisa menyelamatkan mereka." kata Mateo.
Dave kembali mengepalkan tangannya, dia benar-benar marah. Semua yang berhubungan dengan keluarganya ternyata sudah terendus dan di musnahkan semuanya. Dave diam, dia memejamkan matanya.
Lee, dari jauh tampak memperhatikan apa yang di lakukan oleh Dave. Ada kemarahan di wajah Dave. Dia lalu mendekat pada Dave, setelah dia memberitahu pada pengawal lain agar menjaga Fernandez Hugo.
Lee mendekat pada Dave, dia ingin tahu kenapa Dave seperti itu. Dia juga melihat Dave sedang menghubungi seseorang. Dave menoleh dan tampak kaget melihat Lee mendekat padanya. Dengan cepat menarik nafas dan mengakhiri sambungan teleponnya.
"Mateo, aku tutup dulu teleponnya. Ada temanku datang." kata Dave.
"Iya tuan Dave."
Klik!
Dave menutup teleponnya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya bertepatan Lee sudah duduk di sampingnya. Lee menepuk pundak Dave dan bertanya padanya.
"Kamu menelepon siapa?" tanya Lee.
"Pamanku, dia memberi kabar kalau saat ini tidak bisa menemuiku." kata Dave dengan wajah sedih.
Dia sedih karena Fabio juga jadi sasaran Javier juga. Dave menatap Lee yang begitu cemas juga melihatnya tadi, lalu Dave tersenyum pada Lee.
"Kamu terlihat marah tadi, Dave. Kulihat dari jauh." kata Lee.
Membuat Lee semakin aneh, dia menatap Dave yang menerawang jauh. Ada sedih juga kemarahan nampak di wajah Dave. Lee ingin bertanya lagi, tapi sebuah peluru melesat cepat mengarah pada Dave.
Lee menarik tubuh Dave kesamping untuk memghindar. Dan peluru itu pun salah sasaran menancap ke sebuah pohon. Lee dan Dave saling pandang, dan beralih pada seseorang yang tadi dari mana asal peluru itu.
Mata keduanya pun berkeliling dengan tajam, mencari tahu siapa orang yang tadi menembakkan peluru ke arah Dave. Hebatnya lagi, tidak ada suara dentuman senjata yang di tembakkan, jadi susah mencari siapa yang menembakkan pada Dave.
"Dave, siapa dia?" tanya Lee.
"Aku tidak tahu, peluru itu cepat sekali melesatnya. Untung kamu mendorongku, tapi aku tidak sempat melihat dari mana asal peluru itu." kata Dave.
"Di lihat dari arah pelurunya, kemungkinan dari depan kamu Dave. Ayo kita cari dia." kata Lee.
"Tuan Hugo bagaimana?"
"Kalau begitu, kamu yang menjaga tuan Hugo. Biar aku yang mencari orang yang menembakmu tadi." kata Lee.
__ADS_1
"Aku kira kamu saja yang menjaga tuan Hugo, aku yang mencari. Karena jika dia mengincarku, aku takut nanti tuan Hugo yang jadi sasaran juga." kata Dave, Lee tampak berpikir.
"Baiklah, kamu cari ke arah sana Dave. Aku melihat sekilas peluru itu dari sana." kata Lee menunjuk ke depan.
"Baiklah, ayo kita berpencar."
"Aku juga akan waspada Dave, jika kamu butuh bantuanku. Berteriaklah." kata Lee, Dave mengangguk.
Lalu keduanya pun berpencar, mencari siapa pelakunya. Dave terus berjalan ke depan, matanya pun siaga serta tangannya juga sudah memegang senjata api di balik jasnya. Dave berjalan dengan tenang, terus menelusuri jalanan untuk joging.
Hingga pada suatu tempat agak sepi, sengaja Dave melangkah jauh dari tempat semual. Karena dia tahu, dia yang di incar untuk mati. Setiap langkahnya penuh kewaspadaan, matanya pun tajam menatap sudut jalanan.
Ketika dia melangkah pada suatu benda, tiba-tiba dari belakang Dave di serang dengan cepat. Punggungnya di tendang hingga Dave pun tersungkur ke depan. Tidak ada suara sama sekali yang dia dengar, namun secara cepat dan tiba-tiba di serang.
"Hiaaat! Bug! Bug!"
Dave di tendang dua kali, dan jatuh. Dave langsung bangun, dia melihat seseorang kembali menyerangnya. Memakai topi sampai menutup matanya, Dave pun melawan. Dia beberapa kali memukul dan menendang pada lawannya itu, tapi orang itu sangat tangguh.
"Hiat! Bug! Set! Set!"
"Prak! Bug! Set! Set!"
"Gubrak!"
Orang itu terjatuh ketika Dave menyerang dengan menggunakan kungfu, wing chun. Penyerangan jarak dekat. Ternyata, orang yang menyerang Dave tadi tidak bisa kungfu. Dave pun berhenti, dia menatap laki-laki yang tampak tidak terlihat matanya.
Dave penasaran, dia maju kedepan secara perlahan dengan bersiaga dengan mengacungkan senjatanya. Tapi orang itu berdiri dan segera berlari lalu mengambil senjatanya dan mengarah pada Dave.
Dor! Dor! Dor!
Tiga kali dia menembakkan pada Dave, lalu segera berlari. Dave juga membalas tembakan hingga mengenai kakinya, sengaja dia menembak kakinya agar tidak bisa lari jauh. Dave mendekat sambil menodongkan pistolnya, semakin dekat pada orang itu.
Dari arah lain, seseorang menembak Dave dan mengenai lengan Dave. Dave menoleh dan mrnghindar, membalas tembakan itu. Tapi ternyata tidak ada balasan. Dave pun berhenti, dia menoleh ke arah laki-laki tadi, tapi sudah tidak ada.
"Sial! Dia kabur."
_
_
__ADS_1
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤