Dendam Anak Mafia

Dendam Anak Mafia
71. Menyingkirkan Gennaro


__ADS_3

Setelah semua kalah, Gennaro pergi dari gedung kosong itu dengan beberapa anak buahnya yang masih tersisa. Dia benar-benar tidak menyangka jika Dave sangat tangguh. Entah bagaimana Javier tahu jika dia kalah sama Dave.


"Sial! Anak setan itu benar-benar tangguh. Daru dulu tidak ada yang bisa mengalahkanku, kenapa sekarang dia bisa mengalahkanku?!" kata Gennaro dalam mobilnya.


Anak buahnya melirik dari kaca spion, dia berpikir tentang Gennaro,


"Tentu saja anda sudah tua. Tenaga juga sudah berkurang, apa lagi hidupnya hanya minum-minuman dan mabuk saja. Pasti tubuhnya sudah keropos." begitu yang ada di benak anak buahnya yang mengendarai mobilnya.


Mata Gennaro melotot ke arah anak buahnya yang tadi meliriknya sekilas. Dia tahu anak buahnya itu mencibirnya, namun dia tidak mau mengakui jika dirinya sudah tua. Meski pun tua, otaknya masih berguna dan berpikir dengan baik.


Mobil malalu dengan cepat menuju markasnya sementara. Tapi di tengah jalan, mobil Gennaro di hadang dengan cepat oleh mobil yang tadi berlawanan arah. Supir yang mengendarai pun menginjak gas dengan cepat, sehingga Gennaro pun kaget dan kesal pada anak buahnya itu.


"Kenapa kamu berhenti mendadak hah?!" tanya Gennaro.


"Itu tuan, ada mobil hitam yang menghadang jalan kita." katanya sambil menunjuk ke arah depan mobilnya.


Tatapan Gennaro beralih ke arah depan mobil. Sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Gennaro bersiap mengambil senjata apinya untuk berjaga-jaga jika di serang. Lalu keluarlah seseorang yang tampak Gennaro kenal.


"Kamu keluar dari mobil." perintahnya pada Gennaro.


"Mau apa tuan Paolo?" tanya Gennaro yang tak lain laki-laki itu adalah asisten Javier.


"Keluarlah, ikut denganku. Tuan Javier menunggumu di rumahnya." kata Paolo lagi.


Dengan kesal, namun dia menurut apa yang di katakan oleh Paolo. Di masukkannya lagi senjata apinya di balik bajunya, kemudian dia turun dari mobilnya dan menyuruh anak buahnya itu pergi ke markasnya.


"Kamu kembali saja ke markas."


"Baik tuan."


Setelah menyuruh anak buahnya pergi ke markas, Gennaro masuk ke dalam mobil van besar yang tadi menghentikan mobilnya itu. Dia melihat Paolo duduk di depan, sedangkan Gennaro masuk ke bagian tengah.


Di sana ada seseorang yang sedang menghisap cerutunya, dengan memakai baju jas lengkap. Kacamata hitam juga topi ala koboi. Gennaro memperkirakan itu adalah Javier, tapi bukan. Dia adalah Luciano.


Gennaro mengerutkan dahinya, kenapa Luciano yang bersama dengan Paolo. Bukannya Javier, dia masih menatap Luciano dengan heran.


"Jangan heran Gennaro, aku sekarang yang akan memimpin Black Jack. Kamu sudah kalah dari anak itu." kata Luciano,


Membuat Gennaro terkejut dan melototkan matanya. Dia tidak terima jabatan sebagai ketua mafia Black Jack di gantikan oleh Luciano. Luciano menatap balik pada Gennaro.


"Kenapa kamu kaget begitu? Kamu sudah tidak berguna!" ucap Luciano.


"Yang bisa menggantikan aku hanya tuan, Javier tuan Luciano. Anda tidak berhak menggantikan saya!" ucap Gennaro kesal.

__ADS_1


"Tanyakan saja pada Paolo, dia menyuruhmu ikut ke markas akan bertemu dengan Javier." kata Luciano.


"Apa itu benar tuan Paolo?" tanya Gennaro.


"Benar sekali, Gannaro." jawab Paolo.


"Lalu aku? Aku akan jadi apa?"


"Nanti kita lihat, tuan Javier mau apa sama kamu." kata Paolo lagi.


"Ck, sepertinya memang kalian sudah mau menyingkirkanku." ucap Gennaro.


"Kalau sudah tahu, jadi jangan bertanya lagi." ucap Luciano.


Gennaro geram, dia benar-benar di manfaatkan saja dengan kemampuannya. Sekarang justru mau di buang. Tapi sebelum di buang, dia akan bertanya lebih banyak pada Javier. Apa mau dia.


Mobil melaju dengan kencang, Gennaro masih diam di tempat duduknya di mobil. Sesekali dia melirik pada Luciano dan Paolo. Terbersit di benaknya untuk kabur dari mobil tersebut, bisa jadi jika bertemu dengan Javier akan lebih marah lagi padanya.


Tak lama, mobil pun berhenti di markas utama. Yaitu rumah Javier yang sangat mewah juga di lengkapi fasilitas mewah. Ada juga kasion, tempat olah raga, kolam renang. Juga tempat perjudian dan kamar-kamar khusus untuk memuaskan nafsu dengan wanita-wanita sewaan.


Mereka memasuki halaman luas, dan berhenti di parkiran. Gennaro masih tenang, jika seandainya dia akan di marahi Javier. Maka dia akan melawan, begitu pikirnya. Karena selama ini apa yang di capai oleh Javier itu berkat bantuannya. Bahkan membantai keluarga Alehandro juga dengan bantuannya.


Ketiga orang itu masuk ke dalam rumah mewah itu, memasuki lorong yang di sisi kanan kiri itu kamar-kamar para anak buah. Mereka naik lift ke lantai tiga, lalu masuk ke dalam ruangan yang sangat luas. Sedikit perabotan, karena tempat itu memang di khususkan untuk berunding bahkan sesekali untuk menyiksa anak buah yang gagal dalam sebuah penyerangan.


Perasaan Gennaro sudah tidak enak, dia di bawa ke ruangan itu. Tangannya sudah bersiap untuk menembakkan jika di perlukan. Paolo dan Luciano menyuruh Gennaro masuk lebih dulu.


"Apa yang mau dia tanyakan padaku?" tanya Gennaro.


"Kamu masuk saja, nanti juga tahu sendiri jika sudah masuk!" kata Luciano dengan keras.


Membuat Gennaro semakin kesal kepada kakak bosnya itu. Terlalu banyak tingkah dan selalau ceroboh. Itulah pemikiran Gennaro tentang Luciano.


Gennaro pun masuk, dia mendorong pintu tersebut dengan model kupu-kupu. Besar dan berat pintu tersebut, sehingga harus dengan kekuatan ekstra jika harus mendorong lebih lebar pintunya. Dia masuk lebih dalam, pintu di tutup oleh Paolo dan Luciano.


Gennaro masuk lebih dalam, dia melihat Javier sedang duduk di kursi berputar sambil memegangi senjata apinya dan mengelusnya dengan kain kecil. Dengan tenang dan melirik Gennaro yang mendekat padanya.


"Anda memanggil saya tuan Javier?" tanya Gennaro.


"Ya. Katakan, kenapa kamu gagal hah?!" tanya Javier


"Itu karena anak setan itu terlalu pintar." jawab Gennaro.


Dor! Dor!

__ADS_1


"Bukan itu yang ingin aku dengar! Kamu bahkan membunuh Liugi., dia tidak penting. Tapi Dave, seharusnya kamu jangan banyak bermain-main dengannya!" teriak Javier, dengan menembakkan dua kali ke arah Gennaro.


"Anda belum berhadapan dengannya tuan, dia sangat cerdik!"


"Kamu itu seorang ketua mafia, tapi kenapa otakmu tidak bekerja dengan baik Gennaro!"


Gennaro diam, dia menunduk merasa terhina di marahi oleh Javier. Gigi-giginya bergemeretak, dia marah, namun dia masih sabar untuk menjelaskan pada Javier.


"Lalu, apa yang akan anda lakukan pada anak setan itu?!" tanya Gennaro, dia ingin tahu apa rencana selanjutnya.


"Pertama, bawa temannya itu ke hadapanku. Aku yakin jika temannya di bawa, dia akan mencariku." kata Javier.


"Siapa?"


"Lee, siapa lagi."


"Ooh, ya. Laki-laki itu adalah teman yang sangat dekat dengan anak setan tersebut."


"Kamu tidak becus, sebaiknya kamu harus pergi dari Black Jack!" kata Javier.


"Jadi, anda masih percaya dengan saya?" tanya Gennaro.


"Siapa bilang?"


"Tadi anda menyuruh saya untuk menculik temannya." kata Gennaro.


Javier mendekat, dia lalu memutar-mutar senjata apinya. Berjalan menuju Gennaro yang berdiri di depannya. Lalu berkata di depan wajah Gennaro.


"Aku tidak menyuruhmu membawa temannya, tapi yang sekarang aku lakukan adalah membunuhmu Gennaro!"


Dor! Dor! Dor!


Dor! Dor! Dor!


Javier menembaki Gennaro di beberapa titik vital. Dia menembak kedua lutut, pergelangan tangan, dadanya dan terakhir di kepalanya. Ke enam tembakan itu langsung saja membuat Gennaro tumbang, tidak sempat mengambil senjatanya untuk melawan Javier.


Gennaro pun ambruk dengan mata melotot dan mulut melebar. Memandangi Javier dan tangannya mengacungkan ke arah Javier yang tersenyum sinis padanya.


"Mampus kamu, tidak berguna!"


_


_

__ADS_1


_


♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤


__ADS_2