Dendam Anak Mafia

Dendam Anak Mafia
82. Serangan Dari Atas


__ADS_3

"Menyerahlah Luciano!" teriak Gustavo menodongkan senjatanya pada Luciano.


Anak buah Gustavo juga sudah membekuk anak buah Luciano yang tadi melawan. Gustavo pun mendekat masih menodongkan senjatanya ke arah Luciano. Luciano pun tersenyum sinis, lalu dia berputar dan dengan cepat mengarahkan senjatanya pada Gustavo dan menembakkannya cepat.


Dor! Dor! Dor!


Gustavo dengan cepat menghindar, dan dia juga menembakkan senjata pada Luciano. Saling beradu tembakan hingga memekikkan telimga, Luciano mengganti senjatanya dengan laras panjang AK74 dan menembakkannya pada Gustavo. Semua senjata yang dia ambil itu di gunakan.


Banyak anak buah Gustavo yang terkena tembakan sasaran Luciano. Dia menembak dengan membabi buta ke berbagai arah. Senjata artileri pun dia ambil dari tangan anak buahnya yang kebetulan sedang menembakkan keluar.


"Keluarlah kamu Gustavo! Kamu takut kan dengan senjataku ini hah?!" teriak Luciano.


Dia sudah tidak peduli dengan keadaan markas yang sudah hancur karena banyak tembakan dan juga granat yang meledakkan markasnya itu. Jika memang dia harus mati di tangan Gustavo, maka dia harus bisa mempertahankannya lebih dulu.


Gustavo diam di tempat persembunyiannya, dia tidak berani keluar sebelum serangan peluru dari Luciano selesai. Bukan apa-apa, dia lebih memilih untuk menggunakan otaknya dari pada harus terjebak dalam permainan Luciano yang sedang kalap itu.


Sedikit demi sedikit dia menghindar dan mencari cara agar bisa keluar dari serangan Luciano.


"Dia ternyata banyak juga senjatanya." gumam Gustavo.


Merangkak menuju sebuah ruangan yang terlihat tertutup. Matanya melihat ruangan itu, ternyata gudang persenjataan milik Black Jack. Dengan cepat Gustavo masuk, kebetulan pelurunya sudah hampir habis. Dan kini dia akan memgambil beberapa senjata api dan juga granat.


Suara dentuman senjata saling beradu, membuat Gustavo segera mengambilnya beberapa saja. Lalu keluar lagi dengan mengendap dan segera mencari Luciano. Matanya tajam menatap setiap sudut ruangan, dan dia melihat Luciano yang sedang bersembunyi.


Senyum Gustavo mengembang, dia lalu melancarkan tembakan ke arah Luciano. Dan Luciano tentu saja kaget, dia ingin beristirahat tapi kembali di serangnya secara bertubi-tubi.


"Kurang ajar! Bangsat!"


Dor! Dor! Dor!


Dor! Dor! Dor!


Baku tembak kembali terdengar antara Luciano dan Gustavo. Keduanya pun terus menembak satu sama lain, menghindar lari dan bersembunyi kesana dan kemari. Luciano kehabisan peluru, dia bersembunyi dan menyiapkan peluru kembali.

__ADS_1


Hingga satu anak buah Gustavo tahu jika Luciano sedang bersembunyi, dia pun menembakkan pada Luciano dan mengenai lengannya.


"Aaargh! Sial! Siapa itu!"


Tembakan yang dia pegang pun terlepas, wajahnya menoleh ke arah anak buah Gustavo yang menembak tadi. Dengan cepat dan tatapan tajam padanya, Luciano pun mengambil senjatanya dan mengarahkannya pada anak buah Gustavo.


Dor! Dor! Dor!


Tiga tembakan mengenainya, Luciano menembak dengan kesal karena kini tangannya terkena peluru. Dan kekuatannya pun melemah, darah mengucur dari balik baju di lengannya. Dia sedikit meringis karena pelurunya benar-benar tembus hampir menyentuh tulangnya.


"Sial! Kenapa aku begitu lengah tidak melihat dia di sana." ucap Luciano.


Dia pun kembali mengendap keluar dari sana, bersembunyi dari tembakan yang menyasar. Suara tembakan sudah tidak tersengar lagi, anak buah Luciano sudah kalah. Dan kini Luciano lari masuk ke dalam markas, di mana ada ruangan kecil. Di sana dia bersembunyi untuk mengeluarkan peluru yang menempel di lengannya.


"Kurang ajar Javier! Dia tidak mengirimkan bantuan untukku, benar-benar adik laknat!" ucap Luciano kesal.


Dia bersandar di sebuah tong besar, tubuhnya melemah karena peluru itu benar-benar membuatnya sakit ke seluruh tubuhnya menjalar dengan cepat.


Sementara itu, Gustavo bersiap untuk pergi. Dia mendapat kabar jika serangan dari udara akan di lancarkan ke markas Black Jack dari anak buah Javier. Entah mereka mau membantu atau ingin membumi hanguskan tempat itu sesuai perintah bosnya.


Berapa helikopter yang datang?!"


"Entah, tapi ada dua helikopter. Sebaiknya kita menyingkir dari tempat ini!"


"Baiklah! Ayo kita pergi dari sini, semua yang masih tersisa perintahkan untuk meninggalkan markas Black Jack. Kukira Luciano juga akan mati sendiri, karena tadi lihat dia sudah terkena tembakan." kata Gustavo.


"Ayo tuan!"


Gustavo dan anak buah yang masih tersisa pun segera pergi. Anak buah Black Jack juga rupanya mendengar itu dan hanya beberapa orang saja, mereka pun segera menyingkir dari markas Black Jack.


Dan benar saja, beberapa menit kemudian. Helikopter milik Javier pun datang mengitari fi atas markas Black Jack. Seseorang yang di utus kesana pun menghubungi bagian di bawah, memastikan Luciano sudah pergi.


"Halo? Halo?"

__ADS_1


Tidak ada jawaban, orang berada di helikopter itu terus menghubungi bagian komunikasi di markas Black Jack. Namun, tidak ada jawaban. Dia menoleh ke arah temannya yang sudah bersiap menembakkan martil dan bazoka di sebelah kanan kiri pintu helikopter.


"Bagiamana ini?! Tidak ada jawaban dari bawah!"


"Hubungi tuan Paolo, selanjutnya apa?!"


"Baik!"


Dia pun menghubungi Paolo yang memerintahkan mereka.


"Tuan Paolo, sepertinya di markas sudah tidak ada orang. Tuan Luciano tidak ada!"


"Kamu hanguskan semuanya! itu perintah tuan Javier!"


"Baik tuan!


"Kita serang markas itu, sepertinya sudah tidak ada orang." katanya.


Lalu tanpa menunggu komando lagi, dua orang yang memegang martil dan bazoka itu meluncurkan serangan. Beberapa kali dentuman keras ketika suara peluru bazoka menembus bangunan markas Black Jack. Lima kali serangan bazoka itu terus mengarah pada markas dari atas.


Luciano pun terkejut, dia kaget tiba-tiba di serang dari atas. Dengan sisa tenaganya dia pun melihat ke atas yang sudah bolong atapnya karena serangan itu. Dia geram dan wajahnya memerah, dia berpikir Javier telah membumi hanguskan dirinya dan juga markas Black Jack tanpa tahu dia masih ada di dalam markas tersebut.


"Javiiiiieeeer! Aaaaaaargh!


Boom! Boom! Boom!


Duaar! Boom! Duar! Duuaaar!


_


_


_

__ADS_1


♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤


__ADS_2