Dendam Anak Mafia

Dendam Anak Mafia
109. Kabar Dari Italia


__ADS_3

Setelah menghancurkan bisnis Morata, kini Dave tinggal pergi ke desa di mana kakek Qin tinggal. Dia ingin menyapanya dan memberikan sesuatu padanya sebagai balas budi dulu pernah menolongnya. Dave sudah berada di mobilnya, dia sengaja datang sendiri ke desa kakek Qin.


Membiarkan Lee dan Liu berlibur sejenak di negaranya sendiri. Atau mungkin mereka berkunjung ke tempat kelahirannya sendiri. Dave mengendarai sendiri dengan bantuan GPS, sesuai arahan di GPS Dave terus melajukan mobilnya.


Tak lupa dia berhenti lebih dulu di toko di pinggir jalan membelikan sesuatu untuk kakek Qin. Dan juga membeli baju serta makanan yang ringan. Setelah di rasa cukup, Dave lalu kembali menaiki mobilnya. Betapa dia sangat senang bisa bertemu lagi dengan kakek Qin, senyumnya mengembang membayangkan kakek Qin senang dia bisa datang mengunjunginya.


Dua jam dari tempat di mana hotelnya, kini Dave akhirnya sampai di desa kakek Qin. Tidak ada yang berbeda dari desa itu dari dulu dia tinggal beberapa hari di desa itu. Masih sama, tidak ada anak laki-laki. Bahkan jarang mereka membangun atau mencari pekerjaan di desanya sendiri.


Dia mencari rumah kakek Qin, ingatannya masih kuat. Dia menelusuri jalanan kecil itu, dan melihat beberapa orang lalu lalang membawa beberapa barang. Ada yang membawa kayu bakar, ada juga yang membawa cangkul dan juga gerobak. Menggembala babi babi untuk di bawa ke rawa-rawa di pinggir hutan mencari makan.


Dave melihat seorang kakek berjalan dengan di bantu tongkat, perawakannya Dave ingat. Bahkan baju yang di pakai pun itu baju yang dia pinjam ketika menginap di rumah kakek Qin. Segera Dave melaju pelan mobilnya mengejar kakek tua itu, dan berhenti di pinggir jalan.


"Kakek Qin." panggil Dave setelah dia turun dari mobil dan menghampiri kakek tua itu.


Kakek Qin menoleh ke arah sumber suara, dia menatap heran dengan laki-laki yang memanggilnya itu. Menatap lama, mencari ingatannya tentang wajah Dave. Tapi dia tidak bisa mengingatnya, dahinya berkerut.


"Kakek Qin mau pulang?" tanya Dave.


"Ya, siapa kamu?" tanya kakek Qin.


"Saya laki-aki yang kakek Qin tolong satu tahun lalu." kata Dave dengan senyum mengembang.


Kembali kakek Qin dahinya berkerut, dia memperhatikan wajah Dave dengan seksama. Ada ingatannya menyembul di otaknya sekarang. Namun, dia tidak berani menebaknya.


"Saya Dave, yang dulu kabur dari dalam hutan dan di tolong oleh kakek Qin." kata Dave mengingatkan kakek Qin itu.


"Dave?"


"Ya, apa kakek sudah ingat?" tanya Dave.


"Ooh, Dave yang kusut itu?"


"Ya, benar."


"Ooh, syukurlah kamu selamat. Kakek pikir kamu di bawa oleh pemilik lahan itu yang kini sudah di bangun bangunan megah. Kakek tidak percaya kamu masih hidup." kata kakek Qin.


"Saya berjanji akan hidup, agar bisa membalas kakek Qin yang telah menolong saya." kata Dave.


"Ooh, Dave. Aku mendengar kamu selamat dan melihat saja sudah senang. Oh ya, terima kasih kamu telah menyuruh anakku pulang. Sekarang dia sedang menggarap sawah kakek." kata kakek Qin.


"Ooh, jika anak kakek Qin kembali. Syukurlah, tapi kiriman dariku apakah sampai?" tanya Dave.

__ADS_1


"Oh ya, itu kiriman uang untukku? Aah, kupikir itu anakku yang mengirim. Tapi dia mengatakan tidak mengirim uang sebesar itu." kata kakek Qin.


"Heheh. Tidak besar kakek, hanya gaji pertamaku bekerja aku kirimkan pada kakek Qin. Kupikir kakek membutuhkan uang, jadi aku kirim gaji pertamaku untuk kakek Qin." kata Dave berbohong.


"Terima kasih Dave. Oh ya, ayo kita ke rumahku. Tapi maaf rumahku masih seperti dulu." kata kakek Qin.


"Tidak apa, saya senang kakek masih bisa kenal denganku." kata Dave.


Kakek Qin tersenyum, dia melangkah untuk pergi menuju rumahnya yang sebentar lagi sampai. Dave mengikuti dari belakang dan akan memarkirkannya di depan rumah kakek Qin. Sekaligus memeberikan barang-barang yang dia beli sewaktu di jalan dan persiapan di hotel.


_


Satu harj Dave menginap di rumah kakek Qin, dia juga membantu anak kakek Qin membajak ladangnya yang agak jauh dari rumah kakek Qin. Banyak sekali anak laki-laki kakek Qin bercerita tentang ayahnya dan juga ketika bekerja di kota.


Sedang duduk bercengkrama, ponsel Dave berbunyi. Di sana tertera nama Mateo, dahi Dave berkerut. Lalu dia menjawab telepon Matoe itu.


"Halo paman, ada apa?" tanya Dave.


"Dave, apa kamu sudah selesai?" tanya Mateo.


"Ada apa paman? Sepertinya paman sangat cemas." tanya Dave.


"Apa yang terjadi dengan tuan Hugo?!" tanya Dave menegang otot-otot di lehernya.


"Pulang saja dulu. Paman sudah kasih tahu Liu dan Lee agar segera pulang. Di sini sedikit ada masalah." kata Mateo.


"Baiklah, aku akan segera kembali ke Italia." kata Dave masih dengan rasa penasarannya.


"Ya, dan berhati-hatilah Dave."


"Iya paman."


Klik!


Sambungan telepon terputus, Dave memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celananya. Namun, kembali ponselnya berbinyi. Lee yang menelepon.


"Halo Lee?"


"Kamu di hubungi paman Mateo?" tanya Lee.


"Ya, baru saja. Kita harus segera pulang ke Italia Lee."

__ADS_1


"Ya, aku dan Liu sedang membeli tiket pesawat. Kamu pulanglah ke hotel lebih dulu, nanti kita pulang sama-sama." kata Lee.


"Tidak perlu Lee, kalian pulanglah lebih dulu. Saya akan menyusul, karena perjalanan membutuhkan waktu lama. Jadi jangan membuat paman Mateo menunggu. Nanti kabari aku jika sudah jelas ada apa di sana." kata Dave.


"Baiklah, cepatlah menyusul Dave."


"Ya."


Klik!


Dave memasukkan kembali ponselnya, dia lalu menghampiri kakek Qin dan anaknya yang kini menatapnya heran. Dengan wajah datar, Dave mberjongkok di depan kakek Qin.


"Kakek, saya harus kembali. Pekerjaan saya belum selesai." kata Dave pada laki-laki tua itu.


"Pekerjaan?"


"Ya. Pekerjaanku berat, jadi saya harus kembali."


"Bisakah kamu membawa anakku untuk bekerja, ikut denganmu." pinta kakek Qin.


"Tidak kek, pekerjaanku jauh di Eropa sana. Dan jika anak kakek ikut bekerja denganku, siapa yang akan menjaga kakek nantinya." kata Dave.


"Tapi anakku ingin bekerja."


"Begini saja, nanti saya akan kirim uang pada kakek. Gunakan kakek itu untuk modal pekerjaan anak kakek Qin. Nanti saya minta nomor rekeningnya." kata Dave.


"Hmm, baiklah. Dan kapan akan kembali?"


"Saat ini juga, karena saya harus kembali ke Makau lebih dulu dan langsung memesan tiket pesawat. Kemudian langsung terbang ke Italia." kata Dave.


"Baiklah, kakek berterima kasih dengan oleh-oleh yang kamu bawa." kata kakek Qin.


Setelah bersalaman dan berpelukan, Dave kembali menaiki mobilnya. Dia akan mengendarai mobilnya dengan cepat agar bisa langsung pulang ke Italia dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Fernandez Hugo.


_


_


_


♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤

__ADS_1


__ADS_2