Dendam Anak Mafia

Dendam Anak Mafia
116. Menerima Tantangan


__ADS_3

Mateo, Gustavo dan juga James sudah berangkat lebih dulu sebelum Dave pergi ke gudang yang di tentukan oleh Samuel. Lee dan Liu juga sudah bersiap untuk mengikuti Dave dari belakang. Mereka berdua juga membawa senjatanya, tak lupa juga Liu membawa senjata ninjanya. Suriken dan pedang samurai serta pistolnya.


Sedangkan Lee membawa pistol serta senjata lainnya. Dave membawa revolver dan juga dua pedangnya yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi melawan musuhnya. Dia tidak pernah gagal membunuh atau mengalahkan musuh dengan pedang itu. Dan kini saatnya dia akan berhadapan dengan Samuel yang merasa seperti Javier.


"Bagaimana yang pergi ke laut Liguria?" tanya Dave pada Luca.


"Mereka baru sampai di perbatasan, mungkin malam baru sampai di sana." jawab Luca.


"Kita tunggu Samuel menghubungi dulu Dave?" tanya Liu.


"Tidak Liu, aku akan segera kesana. Kamu dan Lee jaga jarak denganku, agar mereka tidak curiga padamu." kata Dave mengingatkan Liu dan Lee.


"Ya, tentu. Kamu jangan khawatir, gunakan sambungan komunikasi agar bisa tepat aku membantumu Dave." kata Lee.


"Aku akan menggunakannya sampai di dalam mobil saja, selebihnya akan aku tinggalkan di dalam mobil sambungan komunikasinya Lee. Jadi kalian harus mengira saja, jika aku tidak keluar dalam satu jam. Maka kemungkinan aku sedang berduel dengan Samuel." kata Dave.


"Baiklah, ayo kita berangkat. Nanti di perbatasan aku pelankan mobilnya, menjaga jarak denganmu Dave." kata Lee lagi.


"Baiklah, ayo kita memburu pembunuh tuan Hugo." kata Dave.


Kemudian ketiganya segera masuk ke dalam mobil masing-masing. Membawa senjata seperlunya saja, karena mereka hanya butuh senjata tanpa menimbulkan suara jika mau membunuh satu persatu anak buah Samuel.


"Dave, hati-hati." pesan Liu pada Dave.


"Iya, aku pasti bisa mengalahkan Samuel. Kukira orang sombong tidak akan bertahan lama dengan kesombongannya." ucap Dave.


"Ya, dan jangan lengah karena kamu pasti bisa mengalahkan dia Dave. Bisa saja dia berbuat curang nantinya." ucap Liu lagi.


"Baiklah, aku berangkat lebih dulu. Jaga jarak dengan mobilku." kata Dave.


"Ya."


Dave pun masuk ke dalam mobil, begitu juga Liu dan Lee. Mereka menunggu mobil Dave kleuar dari markas, baru beberapa menit Lee melajukan mobilnya dengan pelan. Menjaga jarak dari Dave yang hanya lima ratus meter jaraknya.


Dia juga menunggu telepon dari Mateo, apakah sudah sampai di pelabuhan Portofino Liguria. Sebuah desa nelayan yang terdapat lereng-lereng bukit. Pelabuhan itu terletak di garis pantai Riviera Italia, wilayah tenggara kota Genoa. Pelabuhan lokal yang hanya terdapat kapal-kapal nelayan saja.


Mateo dan Gustavo serta tuan James kini tiba di pelabuhan kecil itu. Mereka mendaratkan helikopternya di sebuah lapangan dekat pantai Riviera. Setelah mereka keluar, baru mereka menuju kapal nelayan untuk menyewa kapal. Menyusul kapal yang di maksud oleh Luca.


"Bagiamana, apakah sudah dapat kapalnya?" tanya tuan James.

__ADS_1


"Gustavo sedang mencarinya, kuharap dia mendapatkan kapal itu. Agar bisa mengejar kapal yang membawa peti tuan Hugo." kata Mateo.


Mereka menunggu, beberapa anak buah Lion King juga di bawa. Untuk berjaga-jaga jika di dalam kapal yang di sewa ada banyak anak buah Samuel. Sepuluh menit Gustavo mencari kapal untuk di sewa, dan akhirnya dia mendapatkannya. Dia berlari menuju Mateo dan tuan James, memberitahu bahwa dia sudah mendapatkan kapalnya.


"Ayo kita berangkat, kapal sudah aku dapatkan dan sudah kubayar sewanya." kata Gustavo.


"Baiklah, kita harus segera mengejar kapal itu." kata tuan James.


"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi Dave lebih dulu. Kalau kita sudah dapat kapal dan akan mengejar kapal yang membawa peti tuan Hugo. Jadi dia bisa langsung menemui Samuel." kata Matoe.


Tuan James dan Gustavo mengangguk, Mateo menghubungi Dave agar jangan khawatir dengan kapal yang membawa peti Fernandez.


"Halo Dave, kami sudah berada di kapal. Mau mengejar kapal yang di sewa anak buah Samuel." kata Mateo.


"Baiklah paman, aku sudah di jalan. Dan sebentar lagi juga sampai di gudang Samuel berada." kata Dave.


"Ya, berhati-hatilah."


"Iya paman."


Klik!


_


Dave kini berhenti di depan sebuah gudang kosong. Tampak sepi terlihat dari luar, dia melihat GPS Lee sudah berada tidak jauh dari gudang itu. Tak lama, seorang keluar dari gudang tersebut. Melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang ikut dengan Dave. Dia menatap tajam pada Dave yang terlihat santai.


"Masuklah, tuan Samuel sudah menunggumu. Dia sudah siap membataimu tuan." kata anak buah Samuel dengan angkuh dan sinis.


"Oh ya? Kukira mungkin bosmu yang akan aku bantai sampai tubuhnya hancur." kata Save dengan santai.


"Kita lihat saja, apakah kamu yang akan di bantai sampai mampus atau bosku yang akan membuatmu menderita." katanya lagi dengan pongah.


"Hmm, tidak ada pilihan lain ya? Baiklah, kemana saya harus menemui bosmu?" tanya Dave.


"Ikutlah denganku." katanya.


Dave pun mengikuti kemana anak buah Samuel melangkah, dengan tenang dan bersiaga Dave melihat sisi kanan kiri banyak anak buah Samuel menatapnya tajam. Dalam benaknya dia menghitung berapa jumlah orang-orang di dalam gudang tersebut. Jika Lee dan Liu masuk, mereka bisa menyerang dengan mudah .


Tapi itu ada di luar gudang, di dalam ternyata lebih banyak lagi. Mungkin Samuel ingin menunjukkan kekuatannya sebagai mafia baru yang ingin menantang Dave berduel. Namun begitu, Dave tidak merasa takut.

__ADS_1


Dia terus mengikuti kemana anak buah Samuel membawanya. Dan pada sebuah ruangan luas kosong, Dave berhenti. Dia melihat Samuel membawa tombak di tangannya, sambil menatapnya dengan sinis. Dave maju, dia berjalan dengan tenang mendekat pada Samuel kemudian berhenti di sekitar jarak sepuluh meter.


"Bagus, kamu akhirnya datang juga Dave Nino Alehandro." kata Samuel dengan pongahnya.


"Jadi seperti ini wujud dari seorang Samuel Rodrigoz itu?" kata Dave dengan tenangnya.


Dia memperhatikan apa yang di bawa Samuel dan juga sekitarnya. Anak buah Rodrigoz ternyata banyak juga, namun bergitu dia tidak takut menghadapinya.


"Hahah! Kamu baru tahu siapa aku?" tanta Samuel.


"Hmm, ya. Aku bahkan tidak tahu seperti apa kemampuanmu. Kukira kamu hanyalah pecundang yang hanya menantang seorang Dave si pemberani." kata Dave.


Membuat Samuel menggeram kesal, dia mengeratkan pegangannya pada tombaknya. Tanpa di duga, dia menjulurkan tombak itu ke arah Dave dengan cepat. Namun Dave lebih cepat lagi menghindar, dia menghindar ke kiri dengan memutar tubuhnya.


Pedang yang dia bawa belum dia keluarkan, dia ingin tahu sejauh mana Samuel bisa melawannya. Namun dugaan Dave tidak meleset, Samuel hanya mampu menggunakan senjata apinya. Dave memencet tombol di jam tangannya, memberitahu pada Lee bahwa di dalam dia sedang berduel dengan Samuel.


Tapi, di dalam anak buah Samuel sangat banyak. Maka dari itu, Dave membutuhkan bantuan Lee dan Liu untuk membekuk para anak buah Samuel. Samuel sendiri kini kembali beruel dengan Dave, dia menggunakan pedang yang berada di sana.


"Aku merasa aneh denganmu tuan Samuel, kenapa anda menantangku untuk datang berduel denganku. Kukira anda akan kalah olehku." kata Dave ketika mereka saling berdiri menatap.


"Hahah! Aku hanya ingin melihat sejauh mana kamu melawanku, melawan senjataku yang canggih. Kudengar kamu bisa menangkis senjata api dengan pedangmu itu dengan cepat." kata Samuel.


"Oh ya, jadi anda ingin tahu kecepatan pedangku?" tanya Dave.


"Hemm, bisa di buktikan." kata Samuel.


"Baiklah, tapi jangan harap nanti kamu akan selamat dari mata pedangku tuan Samuel Rodrigoz." kata Dave.


Dia bersiap untuk mengambil kedua pedangnya, di pegang tepat di depan wajahnya dan matanya mengarah kedepan. Samuel mengambil senjata apinya yang menurutnya sangat canggih. Dave bukannya tidak tahu jenis apa yang di gunakan oleh Samuel dan secepat apa pelurunya melesat ke arahnya.


Dor! Dor! Dor!


Dor! Dor! Dor!


_


_


_

__ADS_1


♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤


__ADS_2