
Sementara itu, di markas Black Jack, Luciano sangat marak ketika tahu Lee tidak ada di tempat penyekapan, bahkan anak buah yang menjaga ruang itu pun tidak sadarkan diri. Luciano menendang penjaga yang pingsan itu dengan keras.
"Bangun goblok! Kamu bisa-bisanya tidur dengan seenaknha saja hah?!" kata Luciano masih menendang tubuh penjaga yang pingsan itu.
Tak lama, penjaga itu bangun, memegangi kepala dan menghindar dari tendangan Luciano. Dia melihat siapa yang menendangnya terus menerus itu, kemudia bergegas bangun ketika tahu siapa yang menendangnya lalu berlutut di depan Luciano.
"Maaf tuan, saya tidak tahu kalau ada yang menyusup kemari. Tiba-tiba mereka memukulku sampai pingsan." kata anak buah Luciano itu.
"Hah! Dasar kamu yang goblok! Seharusnya kamu berteriak minta tolong dan melawan! Begitu saja tidak becus!" ucap Luciano dengan marah.
Di tendangnya lagi penjaga tersebut sampai tubuhnya terjungkal ke belakang. Dia pun pergi meninggalkan penjaga yang jatuh karena di tendang olehnya. Jika bukan karena dia kekurangan orang untuk berjaga, sudah pasti penjaga itu akan mati di tangannya karena bekerja tidak beres.
"Kenapa semua anak buahku jadi bodoh semuanya." gumam Luciano dengan kesal.
Dia menunggu di depan, untuk memastikan kelompok Lion King tidak bisa masuk ke markas utamanya itu. Luciano jadi menyayangkan Javier yang membunuh Gennaro dulu, jika tidak adiknya bunuh. Mungkin keadaannya tidak seperti itu.
Luciano menarik nafas berat, mungkin inilah saatnya kekuatan Black Jack tumbang dan akan tinggal nama di kalahkan oleh Lion King. Tapi sebelum kelompoknya tumbang, dia akan bertahan di markasnya. Selang beberapa menit dia melamun, suara ponselnya berbunyi. Luciano mengambilnya dan menjawab telepon dari adiknya itu.
"Ada apa?" tanya Luciano datar.
"Apa mereka semua sudah kamu kalahkan?" tanya Javier.
"Belum, atau mungkin akan kalah jika kamu tidak segera mengirimkan bala bantuan." ucap Luciano lagi masih dengan sikap datarnya.
__ADS_1
"Ck, kamu tahan agar mereka tidak bisa masuk ke wilayahmu bodoh! Begitu saja kamu tidak bisa mengalahkan mereka!" umpat Javier yang cemas jika kakaknya kalah, sudah pasti di serang juga oleh kelompok Lion King dan terutama Dave yang sangat dendam padanya.
"Ck! Jangan menganggapku bodoh Javier! Jika bukan karenamu membunuh Gennaro, aku tidak akan ada di markas Black Jack! Kamu terlalu gegabah membunuh Gennaro!" umpat Luciano yang tidak terima adiknya menganggapnya bodoh.
"Jangan menyalahkanku Luciano! Dia memang pantas mati karena tidak berguna membunuh anak laki-laki itu!"
"Kalau begitu, kamu harus mendapatkan balasan dari anak itu Javier! Nikmatilah kekalahanmu!" teriak Luciano yang juga kesal kenapa Javier malah menyalahkannya.
Klik!
Sambungan telepon di putus oleh Luciano, dia benar-benar kesal dan marah pada adiknya yang begitu sombong. Bahkan dia merasa Javier juga tidak ada apa-apanya dengan anak Alehandro tersebut. Dia lalu pergi dari tempat semula, masuk ke dalam lagi.
Persenjataan yang tadi dia bawa pun masih dia pegang. Di lemparnya ponselnya ke sembarang arah, membuat anal buahnya pun terkejut Luciano kesal pada adiknya. Dia mendekat pada anak buahnya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Ayo kita ke perbatasan, aku tidak peduli Javier mau mengirimkan anak buahnya kemari. Sekarang kita lawan mereka semua." kata Luciano.
Baru saja berkata seperti itu, suara berondongan peluru membuat Luciano dan anak buahnya di sana pun terkejut.
"Dor! Dor! Dor!
Dor! Dor! Dor!
Dor! Dor! Dor!
__ADS_1
Beberapa kali suara tembakan terus berlanjut. Beberapa orang tumbang dan juga banyak yang masuk ke dalam markas Blacl Jack. Luciano pun bersiap untuk membalas serangan tersebut. Dia menembakkan beberapa tembakan dan juga melempar granat keluar markas.
Ternyata Gustavo sudah masuk ke markas utamanya, dia terus menembaki anak buah Luciano. Suara tembakan dan dentuman bom membuat markas Black Jack porak poranda. Luciano beberapa kali melempar granat, dia tidak peduli markas itu hancur karena granat yang dia lempar itu.
Boom! Boom!
Dua kali suara meledak dengan keras. Membuat anak buah Gustavo pun banyak yang tumbang. Tapi tidak dengan Gustavo, dia menghindar jauh. Bersembunyi di balik beberapa bangunan dan juga mobil.
Gustavo pun mengendap, dia ingin masuk ke dalam untuk menyerang Luciano. Dia membawa dua anak buah untuk melindunginya dari serangan anak buah Luciano.
Dor! Dor!
Boom! Boom!
Suara tembakan dan juga bom meledak kembali terdengar. Kini Gustavo sudah masuk ke dalam markas dengan dua anak buahnya. Di depan anak buahnya. Kini mereka masuk ke dalam markas, menyelinap masuk lebih ke dalam. Gustavo melihat Luciano sedang menembakkan senjata ke arah anak buahnya yang berada di luar.
Gustavo menyuruh anak buahnya untuk menyelesaikan dan menghadang dua anak buah yang berada dekat dengan Luciano. Dan kinia Gustavo melangkah maju, dia menodongkan senjatanya pada Luciano yang belum sadar akan kehadirannya.
"Menyerahlah Luciano!"
_
_
__ADS_1
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤