
Sampai di rumah Fernandez, ketiganya masih saling diam. Tidak ada yang mau membicarakan tentang kejadian di vila Javier. Sampai sang supir merasa heran dengan ketiga orang tersebut, ada apa dengan mereka bertiga? Pikir sang supir.
Dave, Lee dan juga Liu masuk ke dalam rumah tanpa bicara apa-apa. Martin sang penjaga rumah Fernandez juga heran, namun dia melihat wajah Dave yang datar kemudian masuk ke dalam kamarnya tanpa menyapanya.
"Dave kenapa Lee?" tanya Martin.
"Biarkan dia menenangkan diri lebih dulu. Mungkin pikirannya sedang kacau karena telah membunuh Javier." jawab Lee.
"Jadi, dia berhasil membunuh Javier?" tanya Martin.
"Ya, dan biarkan dia istirahat sesuka hatinya. Aku yakin dia butuh menenangkan hatinya." kata Lee lagi.
"Hmm ya, baiklah." ucap Martin.
"Aku juga mau istirahat. Tidak ikut bertarung tapi rasanya melelahkan sekali." kata Lee.
"Mungkin karena kamu melihat temanmu membunuh dengan sengaja di depan matamu." kata Martin.
"Tapi aku bertarung sering juga membunuh dengan senjataku. Dave juga seperti itu, kenapa rasanya berbeda?"
"Karena dia memang sengaja ingin membunuh orang paling jahat di dunia mafia. Sudahlah, jangan pikirkan itu. Lebih baik kamu istirahat saja." kata Martin.
"Ya baiklah, mungkin dengan tidur bisa menghilangkan lelahku." ucap Lee lagi.
Dia lalu pergi menuju kamarnya, ingin beritirahat. Tidur adalah pilihan tepat untuk memulihkan tenaganya. Sementara itu, Dave sudah berada di atas ranjangnya. Duduk di tepi ranjang sambil menunduk dalam, ada kesedihan di hatinya.
Ingatannya melayang pada kedua orang tuanya juga kakak perempuannya, Caroline. Dia terisak, sudah puluhan tahun dia tidak menangis, dua kali ini dia menangisi keluarganya itu.
"Aku sudah membalaskan dendam pa, ma. Aku sudah membunuh Javier dan anak buahnya. Hik hik hik." gumam Dave.
Dia kini berani menangis kencang, sudah lama dia tidak menangis kencang. Bukan, bukan berarti dia menangis karena lemah. Tapi dia merasa puas dendamnya sudah terbalaskan.
Dave mengusap air matanya, baju yang terkena noda darah Javier tidak dia lepas. Di rebahkan tubuhnya lalu memejamkan matanya. Hati dan pikirannya kini lelah, dia butuh istirahat dengan tenang. Lama dia tidak istirahat dengan tenang dan nyaman, karena selalu di bayangi oleh rasa dendam yang belum terbalaskan.
Sementara itu, Liu sedang menerima telepon dari Mateo.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Dave, Liu?" tanya Mateo di seberang telepon. Dia menghubungi Liu setelah semua selesai.
"Dia sudah membunuh Javier." kata Liu.
"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Mateo lagi.
"Dia diam saja. Mungkin dia butuh menenangkan hati dan pikirannya. Sekarang sedang istirahat di kamarnya." kata Liu.
"Aku tahu itu, dia pasti sedikit kaget. Meski dia selalu menginginkan balas dendam pada Javier, tapi hatinya sebenarnya mengingkari akan pembunuhan. Namun rasa marahnya pada laki-laki itu karena membunuh keluarganya. Aku juga marah ketika Javier dan anak buahnya membantai keluarga tuan Alehandro." kata Mateo.
"Lalu, sekarang selanjutnya bagaimana?"
"Pulanglah dulu ke Italia. Nanti kita bicarakan selanjutnya bagaimana. Tuan James juga menunggu Dave berikrar akan janjinya itu." kata Mateo.
"Janji apa?" tanya Liu.
"Dia berjanji akan menyatukan para mafia di negara pizza ini, dan akan menggantikan papanya sebagai mafia. Itu yang di inginkan tuan James dan Dave mengatakan itu, mungkin dia juga menginginkan sebagai mafia juag. Entahlah, apa itu mafia? Suatu pekerjaan yang menurutku sudah bergeser maknanya menjadi konotasi buruk." kata Mateo.
"Itu hanya orang-orangnya saja, Mateo. Jika di artikan dari makna sesungguhnya itu penjaga wilayah agar tidak di ganggu orang asing. Tapi makin kesini maknanya jadi lain, lelah memikirkan semua itu." kata Liu.
"Aku tidak tahu, menunggu kondisi Dave membaik. Kupikir dia butuh liburan juga." kata Liu.
"Ya, kamu benar. Baiklah, aku tutup teleponnya."
"Ya, Mateo."
Klik!
Liu meletakkan ponselnya di nakas, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Seperti Lee, dia juga lelah pikiran. Jadi butuh istirahat.
_
Dua belas jam Dave di dalam kamar, tidak keluar dari kamarnya. Hingga Lee dan Liu cemas dengan keadaan Davs yang sejak kedatangannya dari Nevada masuk kamar dan belum keluar sekali pun. Di panggil oleh Liu berkali-kali tidak di jawab, bahkan sama Lee juga tidak menjawab.
"Bagaimana dia, Lee?" tanya Liu khawatir.
__ADS_1
"Dia tidak menjawab. Pintunya juga di kunci, apa di telepon saja?" kata Lee mengusulkan.
"Hmm, ya. Sebaiknya Dave di telepon." kata Liu.
Liu menelepon di ponsel Dave, tersambung namun tidak ada jawaban. Liu sekali lagi menelepon Dave, tetap tidak di jawab. Dia menghela nafas panjang.
"Tidak ada jawaban." kata Liu.
"Duduklah dulu di kursi meja makan tuan Liu dan Lee. Kita makan lebih dulu, aku yakin Dave itu baik-baik saja. Jangan khawatirkan dia." kata Martin.
"Baiklah, ayo kita makan saja. Kupikir Dave bukan seorang laki-laki lemah yang harus meratapi penyesalan karena telah membunuh orang yang dia benci." kata Lee.
"Kamu benar Lee, aku bukan laki-laju lemah yang harus mendekam di dalam kamar karena rasa penyesalan telah membunuh Javier." kata Dave keluar dari kamarnya dan ikut dengan Lee dan Liu.
"Dave, kamu sudah lebih baik?" tanya Lee.
"Ya, tidurku nyenyak sekali. Sampai lupa dengan tubuhku yang belum makan dan masih memakai baju yang penuh noda darah Javier." ucap Dave.
"Bagus Dave, kukira kamu akan menyesalinya."
"Tidak. Aku sudah merasa puas telah membunuh Javier. Tinggal satu lagi yang ingin aku lakukan." kata Dave.
"Apa itu Dave?"
"Kita makan dulu, perutku sudah minta di isi. Kukiran nanti cacing-cacing di perutku juga akan berubah jadi seorang pembunuh karena tidak segera di isi."
"Hahah!"
_
_
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤
__ADS_1