
Malam hari, Liugi pulang setelah dia mabuk-mabukan dengan anak buahnya di markas Lion King. Dia sudah di ingatkan oleh Gustavo agar jangan pulang ke rumahnya, tapi dia memaksa. Apa lagi dia sedang mabuk, jadi Gustavo menyuruh anak buahnya untuk mengantar Liugi pulang.
Sesampainya di rumahnya, Liugi pun masuk setelah beberapa kali membuka pintu yang terkunci dengan susah payah. Dia masuk ke dalam rumah, keadaannya gelap. Hanya lampu di depannya yang terang menyorot padanya.
Liugi mendekat dengan sempoyongan, dia ingin mematikan lampu terang yang silau itu. Tapi baru satu langkah, dia seperti ada yang memukul bagian tengkuknya. Liugi pun tersungkur jatuh dan pingsan.
Satu orang di depannya maju, tersenyum sinis pada Liugi yang tidak sadarkan diri itu. Meludah di bagian kepalanya dan menginjak punggungnya.
"Kamu harus jadi umpanku untuk mendatangkan anak Alehandro itu. Aku semakin penasaran, seberapa hebat dia sehingga kamu terkalahkan oleh anak setan itu. Cuih!"
Setelah berkata seperti itu, meludah kembali di wajah Liugi. Dia menyuruh anak buahnya membawa Liugi dan mengikat kedua tangannya. Gannero keluar dari rumah Liugi, dia juga menyuruh pada anak buahnya itu membakar rumah Liugi.
Setelah semuanya sudah keluar dan mengikat Liugi, salah satu anak buah Gannero menuangkan bahan bakar minyak kemudian menyulutkan api ke genangan bahan bakar. Api pun membesar dan merambat sampai ke atas.
Rumah Liugi terbakar, mobil-mobil Gannero dan anak buahnya segera pergi dari rumah Liugi yang terbakar. Mereka kembali ke markas sementara tinggal di kota Roma.
_
Gubrak!
Liugi di lempar ke dalam kamar pengap dan gelap, dia di sana di biarkan tergeketak tanpa dipan sebagai alas untuk tidurnya. Mulutnya masih di tutup juga matanya, dia menggeram berusaha untuk melepaskan dari ikatan di mulut juga tangannya.
"Sialaan! Beraninya dengan menculik aku, Gennaroo!" teriak Liugi dengan mulut tertutup.
__ADS_1
Tubuhnya di gerakkan, matanya masih di tutup dengan kain. Jadi dia tidak bisa melakukan apa pun. Mulutnya masih di ikat kain, sehingga teriakannya pun hanya mampu sampai tembok. Tidak bisa menembus tembok, bahkan sampai di telinga Gennaro.
Sementara itu, Gennaro sedang menikmati minuman anggurnya. Dia ingin bersenang-senang sebelum rencana besar akan dia lakukan. Menjebak Dave dengan mengumpan Liugi. Tapi sebelumnya dia akan menyiksa Liugi lebih dulu sebelum bertemu dengan anak Alehandro itu.
"Tuan, Liugi terus berteriak-teriak di dalam kamar itu." kata penjaga yang menjaga kamar tempat menyekap Liugi.
"Biarkan saja, sebelum dia aku siska dan mati di tanganku biarkan dia berterika sepuasnya. Aku tidak peduli dia mengumpatku bahkan mencaci makiku." kata Gennaro.
Dia menenggak kembali minuman beralkohol tersebut, dia lalu meminta pada anak buahnya untuk memanggil wanita penghibur dan menemaninya minum.
"Kamu panggil wanita untukku. Aku ingin bersenang-senang dengannya malam ini." kata Gennaro.
"Baik tuan."
"Baik tuan."
Setelah mendapat perintah dari bosnya, anak buahnya keluar dari kamar Gennaro. Sedangkan Gennaro menelepon seseorang, dan siapa lagi kalau bukan Javier.
"Halo tuan Javier."
"Ada apa kamu meneleponku?"
"Aku mau melaporkan kalau umpan sudah ada di tempatku." kata Gennaro.
__ADS_1
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan pada laki-laki penghianat itu?" tanya Javier.
"Aku akan menyiksanya lebih dulu, lalu memanggil anak itu ke gedung kosong di pinggir kota. Aku akan menyiapkan semua anak buahku untuk berjaga. Anak Alehandro itu pasti akan datang untuk menolong Liugi." kata Gennaro.
"Heh! Cerdik juga, tapi aku tidak mau mendengar kegagalan darimu untuk menangkap anak Alehandro tersebut."
"Anda jangan khawatir tuan, aku akan membunuhnya. Jika Black Jack sudah bergeral, maka orang-orang akan semakin ketakutan. Termasuk anak Alehandro tersebut." kata Gennaro dengan penuh percaya diri.
"Baiklah, lakukan apa yang menurutmu itu baik. Bunuh dia sebelum dia mendekat padaku dan mencariku." kata Javier lagi.
"Ya tuan."
Klik
Gennaro menutup sambungan teleponnya, kemudian meletakkan ponselnya di meja. Dia menenggak lagi minuman anggurnya, dan berbarengan dengan masuknya anak buahnya membawa dua wanita penghibur dengan pakaian seksi dan ketat hingga tubuh bagian belakangnya tampak terlihat.
Kedua wanita itu tersenyum menggoda pada Gennaro dan mendekatinya dengan langkah gemulai. Kemudian duduk di sisi kanan kiri Gennaro, sedangkan anak buah yang membawa wanita penghibur itu keluar setelah membungkuk hormat pada bosnya.
_
_
_
__ADS_1
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤