
Flash Back :
Fernandez dan Mateo kini berada di gedung besar milik pengusaha kaya Italia juga, yang juga sekaligus pemilik klub besar di Italia. Dia berniat ingin menjual saham klub sepak bolanya, makanya dia mengadakan lelang saham di kantornya sekarang.
Fernandez juga di undang oleh Ferdian Felippe keturunan Italia Perancis. Dia pengusaha kaya yang memegang dua klub sepak bola di Eropa, dan rencananya akan melepas saham klub sepak bola Italia. Makanya dia mengundang para pengusaha kaya, termasuk Fernandez Hugo.
"Apakah tuan Hugo sangat ingin membeli saham itu?" tanya Mateo.
"Ya, Mateo. Aku ingin punya saham di klub sepak bola, karena anakku suka sekali bermain bola dan juga sepak bola. Dari dulu memang aku ingin membeli saham klub sepak bola itu, dan gagal terus karena tuan Ferdian selalu membatalkannya." kata Fernandez.
"Mungkin dia juga mengundang banyak pengusaha kaya juga tuan, jadi saingan anda banyak." kata Mateo.
"Ya, itu tidak bisa di pungkiri. Karena itu tuan Ferdian melelangkan saham terbesarnya itu. Kita bisa bersaing dengan yang lain." kata Fernandez.
Mereka memasuki kantor besar itu, ada juga di dalam gedung tersebut untuk latihan futsal juga. Di dalam gendung terdapat beberapa kantor yang memang mereka gunakan untuk mengendalikan pasar saham juga. Jadi, Ferdian Felippe bisa memantau harga saham di pasar saham dan juga saham miliknya sendiri.
Kini Fernandez dan Mateo sudah di sebuah aula, di mana ruangan aula itu bangak kursi dan juga mikropone untuk berbicara. Fernandez duduk di barisan kedua, petugas memberikan nomor urut kedatangannya dan mencatat namanya. Jika lelang saham di mulai, maka tinggal mengacungkan papan nomor untuk mengenal siapa yang berani menawar.
Kini tempat aula itu sudah ramai, dan kini di penuhi peminat saham klub sepak bola dan juga undangan. Seperti undangan dan peminta memang di batasi pesertanya, karena agar tidak terjadi kericuhan. Dua belas menit, seseorang masuk ke aula itu kemudian duduk di samping Fernandez.
Dia adalah Samuel Rodrigoz, pemilik perusahaan tambang emas di salah satu negara penghasil emas. Dia juga sangat berantusias untuk memliki saham sepak bola milik Ferdian Felippe. Dan kali ini dia akan bersaing memperebutkan saham itu dengan Fernandez Hugo.
Samuel melirik pada Fernandez dengan sinis, kemudian dia menatap lagi ke depan. Petugas sudah memulai acara lelang saham milik Ferdian. Membuka dengan ucapan selamat atas undangan dan juga para peminat, kemudian dia menunjuk pada sebuab layar besar kantor klub sepak bola milik Ferdian itu.
Serta para pemain sepak bola dunia yang belum lama mereka rekrut untuk memperkuat sekuad klub sepak bolanya. Ada juga jajaran dan staf pengurus sepak boa dan juga para seponsor yang ada di bawah naungan perusahaan milik Ferdian, terutama klub sepak bola.
Selanjutnya petugas memberikan tawaran paling rendah lebih dulu. Semua menyimak dengan seksama apa saja aturan main dalam pelelangan tersebut. Samuel justru yang sangat antusias dan selalu mengacungkan papa nomornya meski belum juga di mulai.
"Baiklah, mari kita mulai lelang saham milik tuan Ferdian ini. Saya akan buka dari harga seribu dolar, siapa saja yang ingin lebih dulu dan lebih tinggi tawarannya maka dia pemiliknya. Tentunya dengan ketentuan waktu yang kami berikan." kata petugas itu.
__ADS_1
Semua nampak diam, ada yang beberapa kali mengacungkan papan nomornya, Fernandez sendiri masih terlihat tenang pelelangan itu. Menunggu tawaran tertinggi, baru nanti dia yang akan menawar lebih tinggi.
"Baiklah, saya sebutkan seribu dolar"!
"Seribu seratus dolar!"
Seribu seratus dolar, ada yang lebih besar?"
"Seribu lima ratus dolar"
Seribu lima ratus dolar, ada yang mau menambahkan?"
Para peminat itu terus menawarkan harga saham yang semakin naik dan tinggi harganya. Hingga Samuel menawar dengan harga sepuluh juta dolar. Dan yang lain akhirnya angkat tangan dengan harga yang fantastik itu, membuat Samuel bangga karena tidak ada yang berani menandinginya.
Namun, kebanggaannya terhenti ketika Fernandez menawar dengan cukup fantastis harganya. Yaitu harga lima puluh juta dolar. Membuat semua yang hadir jadi tercengang. Harga yang fantastik dan tidak ada yang berani menawar lagi.
Samuel menatap tajam pada Fernandez, tangannya mengepal keras. Dia sebagai pengusaha tambang emas hanya bisa menawar sepuluh juta dolar, kenapa Fernandez yang hanya sebagai pengusaha di bawahnya bisa menawar harga yang begitu besar.
"Lima puluh juta dolar? Apakah ada yang menawar lebih tinggi lagi?"
"Lima puluh lima juta dolar!" ucap Samuel dengan lantang.
"Lima puluh lima juta dolar? Ada yang lebih besar lagi menawar?"
"Tujuh puluh juta dolar!" teriak Fernandez.
Membuat semua mata memandang pada Fernandez dengan mata melebar. Termasuk Mateo, dia tidak percaya dengan tawaran Fernandez yang begitu besar. Apa lagi Samuel, dia benar-benar di buat malu oleh Fernandez. Mata para pengusaha itu menatap sinis pada Samuel, kenapa tidak bisa menawar lebih tinggi dari Fernandez.
"Tujuh puluh juta dolar? Ada yang lebih tinggi lagi?" petugas itu terus menawarkan.
__ADS_1
"Tujuh puluh juta dolar?"
Sekali lagi petugas menawarkan lagi, dia melirik pada jam tangannya. Sedangkab Ferdian melihat Fernandez dari kantornya di layar monitor hanya tersenyum saja. Ternyata klub sepak bola di tawar Fernandez dengan harga yang fantastik.
"Baiklah, sekali lagi saya tawarkan. Ada yang lebih besar lagi dari tujuh puluh juta dolar? Jika tidak ada, saya akan ketuk palu dengan harga tertinggi tujuh puluh juta dolar."
Masih menunggu, dua menit belum ada yang menawar. Hingga tujuh menit tidak ada yang menawar lagi. Akhirnya saham klub sepak bola jatuh pada Fernandez dengan harga tujuh puluh juta dolar.
"Baik, tidak ada yang menawar lagi. Saya ketuk, saham jatuh di harga tertinggi dengan tujuh puluh juta dolar. Di miliki oleh tuan Fernandez Hugo!"
Tepuk tangan dari beberapa orang yang memberikan ucapan selamat pada Fernandez memiliki saham terbesar tujuh puluh juta dolar. Petugas lelang itu pun menyuruh Fernandez untuk masuk ke dalam ruang kantor Ferdian Felippe.
Dengan Mateo, Fernandez pun mengikuti petugas lelang itu menemui Ferdian Felippe. Sedangkan Samuel Rodrigoz mengepalkan tangannya, dengan tatapan tajam dia pun pergi di ikuti oleh asistennya. Samuel marah pada Fernandez Hugo.
"Tuan Samuel, anda kalah dari laki-laki tua itu." kata asisten Samuel.
"Diamlah, aku kesal sekali pada laki-laki itu. Bagaimana pun aku ingin mendapatkan saham itu dengan cuma-cuma." kata Samuel.
"Tapi anda tadi menawar begitu tinggi." kata asistennya.
"Itu adalah taktikku. Aku akan membuat perhitungan dengannya." kata Samuel.
"Waah, anda sangat cerdik tuan."
Keduanya pun kembali ke kantornya, menyusun rencana untuk mendapatkan saham itu dari Fernandez Hugo. Apa pun akan di lakukan oleh Samuel, pengusaha tambang yang sangat rakus dengan kekayaan itu.
_
_
__ADS_1
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤