
Laki-laki itu di bawa masuk ke dalam gudang, dia di dudukkan di kursi lalu di ikat kedua tangannya. Matanya juga di ikat dengan kain hitam. Dave juga mengikat kaki juga di sejajarkan dengan kaki kursi. Lee tersenyum melihat cara Dave mengikat kaki laki-laki yang baru saja di tangkap itu.
"Kamu pintar Dave." kata Lee memuji Dave.
"Kupikir agar kakinya tidak bisa saling mengadu untuk meloloskan diri." jawab Dave.
Meski itu tidak tahu teori dari mana, tapi menarik juga cara mengikat kaki laki-laki itu. Lee pun duduk di bangku yang sudah rusak, namun bisa di gunakan. Dave pun berdiri di samping Kee sambil bersedekap. Menatap laki-laki yang baru saja mereka tangkap.
"Hmm, dia sepertinya tidak tahu apa-apa Dave." kata Lee.
"Jangan terkecoh dengan sikapnya yang biasa dan tampak bodoh itu." kata Davee menimpali.
"Baiklah, kamu anak buah siapa?" tanya Lee.
Laki-laki itu menatap Lee dan Dave secara bergantian, dan menarik nafas lalu membuang muka ke samping. Ada wajah sinis di sana, dan benar apa yang di katakan Dave. Dia pura-pura bodoh.
"Hei! Jawab bodoh!" teriak Lee.
"Saya tidak tahu apa yang kamu katakan!" ucap laki-laki itu dengan bahasa Italia.
"Waah, Dave. Sepertinya dia tidak bisa bahasa Inggris, dia bicara dengan bahasa apa? Jerman?" tanya Lee.
"Italia, aku sedikit tahu bahasa Italia." kata Dave menatap tajam laki-laki itu.
Dia pikir tidak bisa mengintrogasi bahasa Italia, Dave hanya tersenyum sinis pada laki-laki itu. Lalu berjongkok di hadapannya, berpikir bahwa laki-laki di hadapannya itu seperti sedang menjabaknya agar bicara berbahasa Italia. Dave bangun dan mengelilingi laki-laki yang dia tawan.
Kemungkinan dia sengaja untuk di tahan, Dave meneliti setiap baju yang di pakainya. Memeriksa setiap lekuk tubuh laki-laki itu, namun dia tidak bergerak sama sekali karena memang tangan dan kakinya di ikat.
"Apa yang kamu lakukan Dave?" tanya Lee heran.
"Aku mencari sesuatu yang memang sangat penting. Kukira dia memang sengaja tertangkap oleh kita." kata Dave.
"Maksud kamu apa?" tanya Lee heran.
"Dia sepertinya di tugaskan untuk menyelidiki seseorang." kata Dave.
Lee diam, dia masih belum mengerti apa yang di katakan oleh Dave. Namun, Lee menatap laki-laki yang terikat itu. Meneliti setiap raut wajahnya, ada sebuah kejanggalan memang yang terlihat oleh Lee.
"Lee, kita harus melepas baju yang dia pakai." kata Dave.
"Kenapa Dave? Kita harus mengintrogasinya." ucap Lee.
__ADS_1
"Sebelum di introgasi, cari sesuatu yang membuat dia bicara dengan benar." kata Dave.
"Maksud kamu apa?"
"Sudah lakukan saja, ayo kita lepas bajunya."
Lalu Dave dan Lee melepas paksa baju yang di kenakan laki-laki itu, Dave memeriksa baju yang sudah terlepas. Memeriksa setiap kantongnya secara teliti, dan benar saja. Dave menemukan alat semacam mikrochip berbentuk pipih. Laki-laki itu menatap tajam pada Dave, kakinya berusaha menendang Dave.
Namun, Lee sudah mengikatnya kembali. Dave menatap laki-laki itu dan tersenyum sinis padanya. Tatapan tajam dari laki-laki tawanan Dave dan Lee membuat Dave semakin tertawa.
"Jadi benar dugaanku, dia di beri alat penyadap ini." kata Dave menimang mikrochip itu.
Lee memperhatikan apa yang Dave pegang, dia pun mengambil mikrochip dari tangan Dave. Dia pun ingin membuang dan menginjaknya, tapi Dave mencegahnya.
"Jangan, ini nanti kita cari tahu apa saja yang ada di dalam mikrochip itu." kata Dave.
"Kalian tidak akan menemukan apa-apa dalam mikrochip itu." kata laki-laki itu dengan santai.
"Aku tahu. Alat ini perekam, hanya saja tidak bisa di gunakan sembarangan. Dan aku akan mencari tahunya nanti, sekarang kamu katakan. Siapa yang menyuruhmu?" tanya Dave dengan tatapan tajamnya pada laki-laki itu.
"Hah?! Hahah!!!"
Lee memukul laki-laki itu karena tertawa keras sekali. Entah kenapa dia jadi sedikit kesal. Dave pun tersenyum melihat rahang laki-laki itu di pukul oleh Lee.
"Kamu tidak akan bisa mendapatkan jawaban apa pun dariku!" kata laki-laki itu dengan kesal dan tatapan tajam pada Lee dan Dave.
"Hmm, sudah cukup tahu siapa yang menyuruhmu. Aku bahkan tahu siapa dia, dia yang penasaran denganku." kata Dave dengan santainya.
Karena Dave tahu dari bahasa yang laki-laki itu gunakan, bahasa Italia. Jadi kemungkinan yang menyuruhnya itu adalah Javier. Bisa jadi adalah asistennya, karena dari pertemuan waktu itu di coffe shop di Meksiko. Asisten Javier selalu memperhatikan Dave dan bersiaga.
Ternyata memang dia mencurigai Dave, bahwa Dave adalah anak laki-laki yang selama ini di cari oleh bosnya. Entah Javier tahu tentang dirinya atau belum, tapi sejauh ini belum ada pengrusakan apa pun pada bisnis Fernandez Hugo oleh Javier.
Maka sekarang, Dave harus berhati-hati. Belum saatnya orang lain tahu tentang dirinya. Bahkan dia belum mencetitakan siapa dirinya pada Fernandez Hugo. Tapi ternyata, asisten Javier lebih peka pada siapa Dave itu.
"Paolo." ucap Dave menatap datar pada laki-laki tawanannya itu.
Tentu saja itu membuat laki-laki itu berubah mimiknya, lalu membuang muka ke samping. Dave tahu, siapa Paolo. Dia dulu mencari tahu siapa asisten yang pernah datang ke rumah Fabio waktu di Seborga dulu. Dave tahu dari data internet dulu siapa Javier dan asistennya.
Jadi dulu beruntung bisa lolos, dan kini dia menyebut nama Paolo. Sudah tentu memang Paolo yang selalu peka pada orang yang selalu menyangkut dirinya, anak dari Alehandro.
"Paolo siapa Dave? Paolo asistennya Javier?" tanya Lee.
__ADS_1
"Ya, dia anak buah Paolo. Benar kan tuan?" tanya Dave seolah ramah pada pengunjung pada laki-laki tawanannya itu.
Lagi-lagi laki-laki itu pun kaget, dia menatap tajam pada Dave. Lee jadi heran, kenapa Dave bisa menebak kalau Paolo yang menyuruhnya.
"Karena dia bisa bahasa Italia, dan sedang menyelidikiku." kata Dave memberitahu Lee.
"Ooh, jadi begitu. Lalu, kita apakan dia?"
"Kurasa di bunuh lebih baik, orang seperti dia akan tetap kabur dan memberitahu pada bosnya itu." kata Dave.
"Apa sebaiknya kita lepaskan saja, biar saja dia pergi pada bosnya." kata Lee.
"Belum saatnya berperang secara terbuka, Lee. Kurasa memang dia di umpan untuk di bunuh." kata Dave.
"Baiklah."
Dorr!!
Lee langsung menembakkan senjatanya pada bagian dada kiri laki-laki yang mereka tawan itu. Dave tidak menyangka, Lee begitu cepat menuruti ucapannya. Tapi biarlah, lagi pula tidak berguna juga meminta keterangan dari orang itu. Pikir Dave.
Suara dentuman peluru Lee tidak terdengar karena memakai peredam agar tidak menimbulkan suara keras dari tembakan dan menimbulkan kegaduhan di kasino itu.
"Ayo kita ke tuan Hugo lagi, dia mencari kita." kata Lee.
"Ya, baiklah. Kita serahkan chip ini pada bagian IT." kata Dave.
"Ya, dan kamu harus menceritakan kenapa bisa menebak laki-laki itu adalah suruhan Paolo?"
"Hahah, karena dia berbahasa Italia. Paolo orang Italia kan, waktu pertemuan di Meksiko malam itu di coffe shop. Kamu ingat? Dia bahkan selalu menatapku terus, di kira aku akan menyerang bosnya. Hahah." kata Dave.
"Hmm, masuk akal juga."
Lalu keduanya pun membiarkan laki-laki yang dia bunuh terdiam di sana. Nanti ada petugas yang membereskannya dan membaungnya mungkin di laut. Sedangkan Dave dan Lee kembali ke lantai atas ke ruangan Fernandez Hugo berada.
_
_
_
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤
__ADS_1