
Yang kemarin belum selesai
Arin dan Dr Bara masih menikmati makanan mereka sambil berbincang- bincang. Mereka tidak menyadari kalau dari kejauhan ada tiga orang sedang memperhatikan mereka berdua, walaupun sebenarnya tidak yakin juga kalo itu Arin .Mereka tidak mengenali baju yang Arin pakai. Tentu saja karena baju Arin baru.Masih menerka- nerka itu Arin apa bukan.
"Ram ...itu kakak lo bukan si . Mirip tapi baju yang dipakai bukan, kayaknya Arin tidak punya baju seperti itu." Fian memicingkan mata mengamati Arin dan Bara.
"Iya juga ... siapa tau baju baru...tapi memangnya lo sampai sedetail itu tahu sama baju yang biasa dipakai Arin ya ." Nando manggut-manggut. telunjuknya dia letakkan di dagu seperti orang yang sedang berpikir .
'Bukan hapal , sedikit banyak taulah baju yang biasa Arin pakai .Lo aja yang ga perhatian sama teman , tiap hari kan kita ketemu. Bagaimana si bambang." Fian agak sewot diledeki Nando terus. Nando hanya tertawa pelan.Pengennya si ngakak tapi karena ini rumah sakit dia tahan.
"Tapi benar kok bang ..kak Arin setau gue ga punya baju seperti itu . Atau memang baju baru ya ... tapi beli kapan ya.." saut Rama membenarkan ucapan Fian.
" Memang kalo beli sesuatu harus laporan lo dulu ya Ram..." Nando menimpali ucapan Rama.
" Malah berdebat soal baju kalian berdua.... Perhatikan tu ..semua tingkahnya Arin banget. Dia melihat kesini...ngumpet ...ngumpet. Arin kan ..benar ." Fian semakin yakin kalo itu Arin.
Ya mereka bertiga adalah Fian ,Nando dan Rama. Sore ini mereka mau mencari Arin yang dari pagi tidak kelihatan.Perkiraan mereka mungkin Arin sudah di rumah sakit lagi karena hari sudah sore. Karena Arin pasti mau menemani bunda menunggui Ayah.
"Kita tunggu saja sampai mereka selesai makan . Kita tunggu di bangku situ aja yuukk ." ajak Nando.
" Oklah ayo kak. Gue juga penasaran. Paling bentar lagi mereka selesai makan nya."
Fian mendahului melangkah menuju bangku panjang yang disediakan di koridor rumah sakit. Matanya masih melihat ke arah di mana Arin duduk .Ada perasaan tidak rela melihat Arin duduk dengan cowok lain. Tapi dia tepis .Karena saat ini didalam pikiran Fian hanya sekolah dan belajar. Memang Arin istimewa di hatinya. Saat ini Fian hanya ingin mengganggap Arin sebagai seorang sahabat . Tidak lebih . Entah kalo nanti . Arin memang sahabat terbaiknya selain Nando . Arin teman yang baik dalam keadaaan apapun , baik itu suka maupun duka. Apapun akan Arin lakukan untuk menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Akhirnya Arin dan Bara selesai makan juga . Arin membungkus beberapa makanan buat bunda karena dipaksa Bara. Mereka berdua berjalan keluar kantin.
"Pak dokter...Arin ke ruangan ayah dulu ya. Terima kasih buat semuanya. Sampai membungkus segala kan jadi enak aku hehehe.. Besok aku pasti akan datang sesuai kesepakatan kita."Ucap Arin yang tersenyum malu merasa tidak enak karena telah banyak merepotkan.
"Iya Arin..aku tunggu ya .Ingat tentang hutang itu. Jadi kamu harus datang ya. Jangan terlambat Ok." Bara menekankan kata hutang agar Arin menepati janjinya. Karena besok pertemuan terakhir mereka.Lusa pagi-pagi sekali Bara sudah terbang ke Amerika untuk meneruskan studinya .
"Pasti .. pasti Arin akan memenuhi janji Arin pak dokter. Arin pasti datang . Pak dokter juga jangan telat. Jangan salahkan aku nanti kalau pak dokter telat ku anggap lunas hutang nya hehehe.." canda Arin dengan semangat.Dia harus datang karena dia harus tau dengan cara apa dia akan membayar semua utangnya pada Pak dokter, yang akan diberitahukan pak dokter besok. Sebenarnya Arin sangat penasaran dengan apa yang akan pak dokter katakan besok Tapi dia memang harus bersabar.
" Ya sudah..aku langsung pulang .sudah sore tadi mama menelpon menyuruh aku langsung pulang. Ingat jaga kesehatan ya Arin..Ingat ya ..jangan terlambat... bye..bye .."
"Siap pak dokter. " Pak dokter dan Arin saling melambaikan tangan.
Akhirnya mereka berpisah. Bara menuju parkiran mobil dan langsung pulang. Sedangkan Arin menuju ruang rawat ayah.
Sementara tiga orang tadi hanya memperhatikan interaksi antara Arin dan Bara dari kejauhan. Arin berjalan melewati mereka bertiga yang pura-pura asyik berbincang .Mereka belum berani menyapa takut salah orang. Setelah memastikan itu Arin apa bukan, barulah Fian berani menegur Arin. Saat Arin tiba di depan mereka barulah mereka berani menegur.
"Arin...lo Arin bukan si ." Fian mendekati Arin melihat dengan seksama. " Iya betul Arin kelihatan beda banget .. baju lo baru ya ..lo dari mana saja si.seharian dicari kemana- mana tidak ada. Panik kita semua tahu." Fian langsung memberondong Arin dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
"Duuhhh yang panik banget ..yang kebingungan yang pake perasaan....cie..cie.." Nando sengaja mengejek Fian.
"Apaan si Ndo ..ga jelas banget.Tapi memangnya lo berdua ga panik ..masa kalian berdua ga panik kalo Arin ilang."
" Dihhh ..apaan si Fian lebay maksimal .Salah minum obat lo. Sejak kapan lo sepanik ini kehilangan gue hahaha..." sebenarnya Arin merasa bahagia karena Fian yang begitu panik mencari dirinya."Ya sudah gue cerita ya .. duduk disini aja ya . dengerin gue ngomong." Arin berlagak serius mau mengerjai mereka. Tapi tidak tega juga. "Sebenarnya gue tadi pagi pingsan. Sejak semalam badan rasanya sudah tidak enak , pas bangun pagi rasanya sakit semua ,suhu tubuh juga naik. Makanya pagi- pagi buru-buru pulang . Takut bunda khawatir dan merepotkan bunda, malah pingsan.Untung masih di lingkungan rumah sakit jadi langsung dapat perawatan gitu."
"Kenapa ga kasih kabar ,telpon gitu apa sms.Bikin orang panik aja ...iya kan Fian...panik kan Fian..." Nando masih saja mengejek Fian.
"Apaan si gaje lo..mang kalian ga panik Arin tiba-tiba tanpa kabar . Kenapa juga ga nelpon ,ga kasih kabar .."Fian menimpali .Dia lega karena sudah menemukan Arin. Sedikit sewot diledeki Nando terus. pengen getok Nando rasanya.
"Maaf baterai low ,pulsa juga habis hehehe...maaf ya bikin sahabatku ini kebingungan."Arin menepuk bahu Fian dengan keras.
"Ariiiin.....sakit tau .lo ya dasar tega banget sama gue .. giliran tadi sama cowok itu mesra banget."
"Cie...cie cemburu ya.." Arin menggoda Fian mencolek-colek bahunya.
"Siapa yang cemburu. lagian ngapain juga cemburu. cuma pengen tau siapa cowok yang tadi makan bareng lo ." Fian masih saja memberi alasan .Dia gengsi mengakui perasaannya.
" Bentar gue terusin dulu ceritanya....brisik banget kalian ..." Arin memukul mereka satu-satu. "Jadi itu dokter yang merawat gue. Baik banget tau orangnya. Seharian gue dirawat .dan Alhamdulillah sekarang udah sehat wal'afiat walaupun bekas luka ini masih agak sakit. Tapi ga apa-apa ini mang salah gue. Biar sebagai pengingat kalo gue ga boleh bergaul dengan kalian lagi."
"Kok ngomongnya gitu si Rin...terus lo maunya bergaul sama siapa. Sama pak dokter yang tadi gitu .." Fian semakin jengkel .Dia merasa ga enak hati juga karena semua penyebabnya keluarga dia. "Memang sudah ga mau berteman sama gue . Memang salah gue banyak..tapi ga harus bilang gitu juga . Sakit hati gue Arin... ntar gue ngomong sama mama yang sebenarnya. jangan pernah menghindar dari gue atau gue akan pergi jauh." Fian marah mendengar ucapan Arin .Dia tidak rela jauh dari Arin. Fian merasa kalau Arin merasa rendah diri berteman dengan nya.
" Iya ..iya Fian ..lo adalah teman terbaik gue . Udah jangan marah terus . Maaf ya.. Udah yukk ke kamar ayah .Aku mau lihat keadaan ayah.Udah kangen ayah .Semoga Ayah semakin membaik..O iya kata dokter tadi..ayah besok sudah boleh pulang."Arin bangun dari duduknya dan berjalan mendahului mereka bertiga.
"Alhamdulillah ..sudah boleh pulang." kata mereka bertiga bersamaan menyusul Arin.
" Kompak banget ya kalian..."Arin menoleh dan tertawa pelan.
"Iya dong...harus.." Mereka menjawab bersamaan lagi. Dan akhirnya mereka tertawa bersama. Arin tersenyum gembira Inilah arti persahabatan yang sesungguhnya selalu ada dikala susah dan senang. Semoga bisa begini selamanya. Doa Arin dalam hati.
Mereka sampai di ruang perawatan ayah." Rin... aku ga ikut masuk ya . Aku pulang saja sama Nando. Jangan bilang ayah sama bunda kalo aku kesini. Yang penting kamu sudah ketemu. Itu saja alasanku ke rumah sakit, hanya untuk mencari kamu.Bukannya gue tidak ingin menjenguk ayah, tapi hari sudah sore,gue pulang aja ya." Fian dan Nando balik badan untuk pulang.
"Eehhh ... kenapa ga masuk dulu.Apa sama ayah tidak boleh kesini ya." Arin menerka alasan Fian ga mau masuk ke ruangan ayah." Maafin ayah ya , maafin kita semua ya Fian.Lo juga pasti tau alasannya. Semoga keluarga kita berdua bisa akur ya ." Arin dan Fian merasa sedih dengan permusuhan mama Fian kepada keluarga Arin.
" Iya Rin ...semoga mama bisa membuka hati buat berdamai dengan keluarganya lo... Ya udah kita pamit ya .. istirahat yang cukup dan jangan lupa makan.Ntar pingsan lagi lo.."
Akhirnya Fian dan Nando pulang.Arin dan Rama masuk ke ruang rawat ayah.
"Assalamu'alaikum..." Arin dan Rama bersamaan mengucapkan salam .mereka langsung masuk ke kamar.
" Wa' alaikumsalam ...Eeh Arin bagaimana keadaan kamu nak.. kata pak dokter kamu tadi pingsan." Ayah dan bunda bertanya bersamaan. Bunda mengelus bahu Arin dengan lembut, penuh kekhawatiran.
__ADS_1
" Arin sudah tidak apa-apa bunda. Mungkin karena semalam lupa makan , jadi pingsan deh. hehehe... jangan khawatir lagi ayah bunda.Arin sudah tidak apa-apa. Lihat ini Arin sudah dihadapan kalian. ... dan ini aku bawain makanan , tadi beli di kantin " Arin meletakkan satu kantong makanan diatas meja.
" Bagaimana biaya rumah sakit ayah..kita tidak punya tabungan banyak. kira- kira berapa ya Rin dan juga biaya perawatan kamu sehari Rin .Apa sanggup kita melunasinya ." bunda bertanya sambil menerawang ,bunda membayangkan biaya rumah sakit ayah dan Arin pasti banyak Apa sanggup mereka membayar." Bunda ada sedikit tabungan di rumah . Semoga kurang nya tidak banyak ya Rin.,,"
" Iya bund ... bunda tidak usah khawatir..bunda tidak usah memikirkan soal biaya rumah sakit. Insya Allah Arin bisa melunasinya."
"Kamu uang darimana nak...kamu belum bekerja. Jangan bilang kamu berhutang ya...Hutang sama siapa kamu. Ingat jangan sama rentenir ya."
" Bunda tidak usah khawatir, kemarin Arin sudah bertanya kepada petugas Administrasi dan katanya boleh dicicil pelunasannya."
" Memang bisa Rin.. kamu bohong kali. Masak biaya rumah sakit bisa dicicil . Bunda tidak percaya ..bohong kamu ya.!!"
" Bunda kok ga percaya, kemarin Arin cicil satu juta dulu boleh, terus tadi tiga juta. sisanya besok bunda...bunda tenang saja ya . Kita pasti bisa melunasi semuanya." Arin berusaha menenangkan bunda .Tapi memang benar semua selesai besok setelah Arin bertemu dengan Dr Bara.
" Uang tiga juta dari mana nak..tapi baiklah... bunda percaya Arin. Malam ini kamu pulang ya sama Rama biar bunda saja yang menunggu ayah. Kamu istirahat ,badan kamu pasti masih sakit kan. Rama kamu temeni kakak kamu di rumah ya."
" Kemarin bang Irwan dan bang Toni yang ngasih uang itu bund .. sebenarnya sudah Arin tolak tapi mereka memaksa . ya akhirnya Arin terima." Kemarin memang Arin lupa belum bercerita sama bunda tentang uang itu.
"Siap bunda ..Rama pasti menjaga kak Arin dan kak Nia. Walaupun Rama masih SMP tapi bisa diandalkan bunda." Mereka berempat tertawa mendengar kata- kata Rama . Memang benar walaupun masih SMP tubuh Rama sudah setinggi anak SMA .Dia memang tumbuh dengan baik .
" Ya udah bunda sama Rama makan dulu. Ini makanannya di buka. Biar Arin yang menjaga ayah. " Arin membuka bungkusan makanan dan memberikan kepada bunda satu dan Rama satu.
" Ayah mau makan juga kah. Ini masih ada satu bungkus atau ayah mau cemilan aja " Arin mendekati ranjang.Menawarkan makanan kepada ayah.
" Katanya kamu pingsan tadi ..gimana ceritanya." bunda bertanya sambil makan pengen mendengar cerita yang sebenarnya tentang Arin yang pingsan tadi.
" Jadi gini bund.. sebenarnya pas Arin pamit pulang Arin sudah pusing. karena tidak ingin membuat ayah dan bunda khawatir Arin paksain tetap keluar. Arin pikir istirahat duduk sebentar di bangku koridor pusing Arin bisa ilang .. Taunya malah pingsan .hehehe .." Arin cengengesan biar ayah dan bunda tidak marah.
" Harusnya kamu bilang ke bunda kalo pusing.. kamu pingsan di mana masih di rumah sakit kah?" Ayah dan Rama hanya mendengar kan percakapan an Arin dan bunda sambil Makan.
" Masih bund ..pingsan di depan ruang praktek Dr Bara .Dan yang menolong Dr Bara . Sekarang Arin sudah sehat kok bund ..ayah jangan khawatir lagi. Tadi diinfus dan diberi obat . kata dokter si Ga apa-apa jadi boleh pulang sore ini." Arin meyakinkan kedua orang tuanya bahwa memang keadaan nya sudah baik- baik saja.
" Tadi siang Fian dan Nando kesini sepulang sekolah nanyain kamu. Bunda sudah curiga kalau ada yang terjadi dengan kamu. Sepulang Fian ada dokter berkunjung ke sini dan bilang kamu pingsan. Tentu bunda panik... untungnya ayah pas tidur .Jadi ayah tidak tau."
" Kata siapa ayah tidur bund...ayah mendengar kok percakapan kalian .cuma diem aja . Sebenarnya ayah juga khawatir, karena ayah, kamu banyak mendapatkan luka ."
"Sudah dong ayah ..Arin tidak apa-apa , Arin sudah baik-baik saja .Ini memang salah Arin. Ayah sudah tidak usah di bahas lagi .Yang penting ayah cepet sehat dan kata dokter besok sore ayah sudah boleh pulang." Arin memeluk ayahnya dengan penuh perasaan.Ada dua luka yang dia rasakan. Luka fisik dan luka psikis tentunya.
Semoga Arin bisa melewati nya
Jangan lupa bantu like dan koment
__ADS_1